
“Habibi,” panggil Ainun yang masih berada di pelukan Habibi.
“Iya, Ainun,” jawab Habibi.
“Besok antar aku ke makam ummi, ya?” pinta Ainun.
“Iya, besok aku antar. Sekalian kita pergi melihat-lihat gaun pengantin untukmu,” ucap Habibi.
“Di butik bunda?” tanya Ainun.
“Kamu maunya di mana? Aku menuruti kamu, mau di bunda atau di teman Nuri,” jawab Habibi.
“Bunda sebenarnya sudah menyiapkan gaun untukku, dan aku tidak tahu seperti apa gaunnya,” ucap Ainun.
“Ya sudah, ke butik bunda saja, kamu tidak apa-apa, kan?” tanya Habibi.
Ainun hanya menganggukkan kepalanya saja. Mau bagaimana lagi, Ainun tidak enak hati dengan bundanya kalau dia sampai mencari gaun lain di butik lainnya. Apalagi bundanya sudah menyiapkan gaun untuk dirinya.
Ainun masih menyandarkan kepalanya di dada Habibi. Dia merasakan kenyamanan yang berbeda sekali, di bandingkan dulu dengan Dio. Habibi mengusap lembut kepala Ainun. Dia sangat menyayangi dan mencintai Ainun lebih dari apapun. Habibi selalu takut pernikahannya gagal lagi. Oleh sebab itu, dia ingin cepat-cepat menikahi Ainun.
“Aku mencintainya, aku mohon, Ya Allah, persatu kan aku dengan wanita yang ada di pelukanku ini. Aku sungguh ingin membahagiakan dia. Ingin menjadi imam yang sempurna untuknya, meski kesempurnaan hanya milikMu. Jangan ada kegagalan pernikahan lagi dalam hidupku, cukup dengan wanita itu saja, yang benar-benar sudah menghancurkan hidupku,”gumam Habibi.
Tak terasa cairan bening jatuh di pipi Habibi. Dia menyekanya karena tidak ingin di ketahui Ainun kalau dirinya menangis. Namun, dia tidak bisa menghentikan tangisnya. Tangis bahagia, karena wanita yang ia cintai menerima lamarannya dan bersedia menikah dengannya dalam waktu dekat ini.
Ainun merasakan tangannya terkena tetesan air. Dia mendongakkan kepalanya ke atas melihat Habibi. Ainun melepaskan pelukannya dan mengusap pipi Habibi yang sudah basah karena air matanya.
“Kok kamu nangis? Kenapa?” tanya Ainun.
“Aku bahagia, aku bahagia akan menikah denganmu. Jangan pernah tinggalkan aku, Ainun.” Habibi memeluk Ainun lagi dan mengeratkan pelukannya.
“Jangan menangis, nanti gantengnya hilang,” ucap Ainun sambil mengusap punggung Habibi.
“Tuh, kan...” ucap Habibi dengan suara serak.
“Lihat aku.” Ainun melepas pelukan Habibi dan memegang kedua pipi Habibi. Dia menatap Habibi dengan lekat.
“Jangan pernah takut, aku tidak akan meninggalkanmu, justru aku yang harusnya takut, takut kamu kecewa dengan aku, lalu kamu meninggalkan aku,” ucap Ainun.
“Jangan bilang seperti itu.”
“Ya sudah jangan nangis. Kayak anak kecil kamu. Kan gantengnya hilang.” Ainun mengusap air mata Habibi dan mencium pipinya.
Demi apa, Habibi merasa menemukan kehidupan baru. Dia berjanji pada dirinya sendiri dan pada Ainun untuk tidak akan pernah menyakiti atau meninggalkan Ainun.
^^^^
Dua minggu terasa begitu cepat berlalu. Malam ini, di kediaman Arsyad sudah tertata pelaminan megah untuk acara pernikahan Najwa dan Akmal besok pagi. Semua di sibukkan dengan kegiatannya masing-masing.
Najwa dari kemarin memang jarang sekali keluar kamar. Dia keluar kamarnya jika ada yang ingin dia ambil saja. Setelah prosesi upacara Siraman yang di laksanakan tadi sore, Najwa lebih suka menghabiskan waktu di kamar dengan bertukar kabar dengan Akmal.
Tempat tidur Najwa penuh dengan barang-barang bawaan dari Akmal. Baru saja, tamu dari pihak laki-laki pulang, setelah tadi di laksanakan acara seserahan. Najwa menata tempat tidurnya kembali, karena penuh dengan kotak seserahan dari Akmal.
Dia melihat gaun pengantin yang masih terpasang di manekin. Gaun yang sangat cantik, tentunya gaun itu gaun buatan bundanya. Dan, bersyukur sekali Habibi juga menyukai modelnya.
(P.O.V NAJWA)
Besok aku akan menikah. Aku akan sepenuhnya milik Habibi. Aku belum bisa membahagiakan abah, tapi aku sudah harus menjadi istri. Ya, besok pagi aku akan menjadi istri dari seorang Dokter yang bernama Rafqi Akmal Habibi.
Aku tidak menyangka, pertemuan tidak sengaja itu, membuat kami semakin mengenal lebih dekat. Habibi adalah malaikat tak bersayap untukku. Dia begitu baik, tutur katanya selalu lembut. Beruntung sekali aku akan menjadi istrinya. Aku yang sudah kotor, aku yang sudah rusak ini, rasanya selalu tidak pantas untuk bersanding dengan Habibi.
Namun, Habibi selalu saja memberi nasihat kepadaku. Dia terus membantuku menghilangkan rasa trauma dan takut pada diriku. Aku hanya perempuan yang lemah. Yang lemah jika mengingat suatu kenangan yang menyakitkan hati. Ya, kenangan bersama Dio. Kekasihku dulu, yang juga adik sepupuku.
Cinta memang terkadang tidak memakai logika, hingga aku buta akan segalanya. Aku beruntung bertemu dengan lelaki sebaik Habibi, jadi aku selalu bisa tertawa dan merasa aku layak di miliki oleh laki-laki lagi.
Habibi seperti sudah tidak sabar ingin segera menikahi ku. Aku tahu, dia di Budapest meninggalkan pekerjaannya, jadi dia ingin sesegera mungkin menikahi ku. Aku tidak bisa menolaknya, karena aku memang mencintai Habibi. Aku mencintainya, hingga aku selalu percaya apa yang Habibi katakan.
__ADS_1
Aku tahu dia pernah memiliki masa lalu dengan wanita sebelum aku. Tapi, aku tidak peduli dengan itu. Jika tidak mengganggu di kehidupan kami, untuk apa aku bahas masa lalu Habibi. Kecuali, masa lalu Habibi mengganggu jalan untukku bahagia dengan Habibi. Kalau tidak mengganggu aku tak mempermasalahkannya. Biarkan masa lalu Habibi menjadi miliknya dan di simpan di tempat yang layak.
Karena, satu yang aku inginkan. Aku ingin hidup bersama Habibi untuk menggapai masa depan bersama. Membangun rumah tangga bersama Habibi. seseorang yang mampu membuatku mengerti apa arti cinta sesungguhnya.
^^^^^
(P.O.V HABIBI)
Besok hidup baruku akan di mulai. Aku akan menikahi Ainun. Wanita yang sudah berhasil mengalihkan duniaku. Wanita yang membuat aku bisa merasakan cinta lagi, dan membuka hatiku kembali. Wanita yang menyadarkan ku, bahwa masih banyak di luar sana yang mempunyai masa lalu karena cinta.
Ainun, wanita yang aku temui di depan mini market milik Opa. Mini market yang berada di depan rumah sakit milik papah. Opa sengaja mendirikan sebuah mini market di depan rumah sakit. Pertemuan tidak sengaja tapi sungguh unik. Sejak pertemuan itu, aku tidak bisa melupakan Ainun. Dan, aku selalu berharap agar bisa di pertemukan kembali dengan dirinya.
Rencana Allah memang indah, kami di pertemukan kembali, dengan luka di dalam diri Ainun. Aku tidak menyangka, wanita selemah lembut dia bisa melakukan hal bodoh karena cinta. Ya, cinta memang membutakan segalanya.
Seperti aku dengan wanita itu. Aku rela menghabiskan waktuku untuk dia. Menghabiskan semua waktu dan materiku hanya untuk membahagiakan dia. Sebuah apartemen mewah aku berikan untuknya. Hingga ia ingin cepat-cepat menikah, aku pun menurutinya. Setelah hari pernikahan kami tinggal menghitung hari saja. Dia memutuskan untuk mengejar cita-citanya, melanjutkan pendidikannya di Belanda.
Dia dan orang tuanya mengembalikan semua yang aku berikan. Undangan yang sudah disebarkan ke rekan kerja opa, papah, dan mamah, juga teman-temanku semuanya sia-sia. Gedung, cathring, dan tiket untuk bulan madu semua di gagalkan. Papah, mamah, dan opa harus menanggung malu dengan semua rekan-rekannya yang sudah menerima undangan. Aku pun sama. Duniaku seakan runtuh waktu itu. Aku terpuruk, aku tidak ada semangat untuk hidup, hingga aku sadar, mamah sakit-sakitan juga karena masalah ini.
Aku bangkit, karena aku harus jadi penguat mamah waktu itu. Akhirnya dengan keterpurukan itu, aku dapat meraih mimpiku menjadi Dokter Spesialis Anak. Tepat sehabis aku wisuda. Allah memanggil mamah. Aku tutup semua luka. Aku tidak akan mengingat itu lagi. Dalam waktu dua tahun, aku bisa melupakan wanita itu. Setelah itu, aku berjanji, akan melupakan dia selamanya. Setelah kemarin aku melihat gaun miliknya di lemari rumah Opa, aku menyuruh pelayan untuk membakarnya.
Ainun sosok wanita seperti mamah. Dia sangat lemah lembut dalam bertutur kata, dia juga sosok wanita yang kuat dan tegar. Dialah Ainun, wanita yang besok akan aku nikahi.
Aku tahu, dia masih ada trauma dan rasa takut akan masa lalunya dulu. Aku akan berusaha membantu dia untuk melupakan semua itu. Aku akan menjadi suami yang harus selalu menjaga dan menyayanginya, seperti abah menyayangi Ainun.
^^^
Arsyad duduk di tepi ranjang, melihat istrinya menghapus make up-nya. Karena tadi Annisa habis di rias untuk melakukan upacara siraman Najwa, dan menyambut tamu seserahan dari keluarga Akmal. Arsyad masih mengingat masa-masa indah bersama putri kecilnya dulu. Iya, dia mengingat masa-masa indah dengan Najwa.
Arsyad tidak menyangka, putri kecilnya dulu, kini sudah menjadi seorang wanita cantik, dan besok akan di peristri seorang dokter. Doa yang Arsyad panjatkan pada sang pemilik segalaNya, akhirnya terjwab sudah. Dia sudah menemukan laki-laki yang benar-benar sempurna untuk anak perempuannya.
“Abah kok belum tidur?” tanya Annisa.
“Abah belum bisa tidur, Bunda,” jawab Arsyad.
“Tidak terasa Najwa akan menikah. Rasanya baru kemarin aku menimang dia. Dan, sekarang dia akan menikah,” ucap Arsyad.
“Semoga Akmal benar-benar menjadi imam yang baik untuk Najwa,” ucap Annisa.
“Aamiin... Abah percaya, dia akan menyayangi Najwa dengan tulus, seperti abah menyayangi Najwa.”
“Itu pasti, Abah. Ya sudah, abah istirahat.”
Arsyad sebenarnya masih sedikit berat melepas Najwa. Tapi dia terus berpikir baik, agar besok semuanya berjalan dengan lancar.
^^^^
Hari yang di tunggu-tunggu keluarga Alfarizi akhirnya datang juga. Terutama untuk Najwa dan Akmal. Hari ini, adalah hari di mana Akmal akan mengucap janji sucinya dia hadapan abah dari calon istrinya dan penghulu serta para saksi.
Pagi ini, semua keluarga dan tamu undangan yang untuk menyaksikan ijab qobul sudah berkumpul di ruang tengah yang di jadikan ruangan khusus untuk ijab qobul. Najwa sudah terlihat cantik dengan balutan gaun berwarna putih, dan hiasan di kepalanya.
“Kakak....” Raffi dan Arkan memeluk Najwa.
“Jadilah istri yang taat dengan suami. Bahagialah, karena kamu berhak bahagia, kak. Doaku selalu menyertaimu,” ucap Raffi.
“Kak, selamat, semoga Kak Najwa bahagia,” ucap Arkan.
Dio melihat Raffi dan Arkan memeluk Najwa. Dia hanya berdiri di ambang pintu menyaksikan keharuan mereka. Dio tidak enak hati jika dia ikut bergabung. Dia tahu, Najwa belum mau bertatap muka lama dengan dia. Dan, sejak kemarin dia ada di sini, Najwa selalu menghindari dirinya.Dio akhirnya memutuskan untuk pergi dari depan kamar Najwa.
“Dio, kenapa pergi. Kamu tidak mau mengucapkan selamat atau apa pada kakakmu?” tanya Najwa.
“Ah... aku hanya takut mengganggu kalian saja,” ucapnya.
“Kemarilah Dio,” ucap Raffi.
Dio masuk ke dalam kamar Najwa, dia duduk di samping Arkan, tanpa melihat Najwa, dia mengatakan sesuatu pada Najwa.
__ADS_1
“Kak, selamat menempuh hidup baru. Setelah Akmal selesai mengucapkan ijab qobul nanti, dan semua saksi berkata sah, kakak sudah sah menjadi miliknya. Jadilah istri yang taat pada suami, sudah saatnya Kak Najwa bahagia. Maafkan Dio, yang selalu membuat kakak di hantui dengan kesalahan. Lupakan yang sudah terjadi. Kakak harus bahagia,” ucap Dio.
“Terima Kasih, Dio,” ucap Najwa.
“Ya sudah, Akmal sudah datang, kakak keluar. Raffi, Arkan, gandeng Kak Najwa keluar, ada bunda dan Abah opa di depan kamar,” ucap Dio.
Najwa kelaur dari kamarnya, dai berjalan diapit oleh Arkan dan Raffi. Lalu dia di sambut oleh Rico.
“Cucu opa cantik sekali, kamu akan jadi seorang istri, nak. Taatilah suamimu, karena suamimu adalah surgamu,” ucap Rico.
“Iya opa,” jawab Najerwa.
Rico mendudukan Najwa di samping Arsyad. Rasa gugup benar-benar menghinggapi Najwa dan Akmal saat ini. Najwa berada di hadapan Akmal.
“Silakan mempelai wanita, jika akan ada yang di sampaikan pada ayahnya sebelum ijab qobul kami mulai,” ucap penghulu yang berada di samping Arsyad.
Najwa mengambil microphone, dia mengatur napasnya sebelum mengucapkan sesuatu pada abahnya. Ya, dalam istilahnya, pamit saat akan melaksanakan ijab qobul.
Bismillahirrahmanirrahim.
Abah, Najwa pamit sebagai anak perempuan abah. Kini waktunya telah tiba bagi Najwa untuk segera jadi istrinya.
Abah, pada akhirnya, hidup mengharuskan Najwa untuk mengenal satu lagi lelaki terbaik selain abah. Lelaki itu yang kemudian akan menggantikan segala tugas dan tanggung jawab abah untuk membimbing Najwa atas dunia dan akhirat. Lelaki itu yang akan menyandang status sebagai suami Najwa, dan dia adalah lelaki kedua yang akan kucinta setelahmu, Abah.
Dan, masa itu seperti tidak lagi bisa ditunda. Hari ini akhirnya datang juga, hari di mana Najwa harus menemui abah demi restu menuju masa depan dan hidup baru. Hari di mana Najwa berharap jika dia akan bisa seperti abah yang menjaga dan menyayangi Najwa dengan tulus, tanpa pamrih.
Abah, tugas abah hampir selesai. Kini sudah waktunya aku datang demi restu untuk jadi seorang mempelai. Waktu yang kurasa begitu cepat berlalu membuat aku sadar jika sebentar lagi tugas abah hampir selesai. Tugas untuk membesarkan dan membimbing Najwa akan segera berganti dengan harimu yang tak akan lagi memiliki beban karena aku. Ya, kini waktunya sudah tiba. Waktu di mana Najwa harus datang demi sebuah restu untuk menjalani hidup di dunia yang baru, bersama keluargaku. Najwa sadar, langkah Najwa tak akan jadi seringan ini untuk melaju jika bukan karena restu yang diberikan abah untukku.
Abah tak usah khawatir, lelaki itu selalu kubawa dalam doa agar dia bisa seperti abah. Menyayangi dan menjaga Najwa dengan tulus. Kalau sampai hari ini abah masih khawatir tentang lelaki yang akan menjadi pendamping hidup Najwa, maka abah tak perlu lagi merasakannya. Sebab, lelaki itu sudah selalu kubawa dalam doa agar dia bisa seperti abah, menyayangi dan menjaga Najwa dengan tulus.
Meski Najwa selalu membawanya dalam doa, tapi abah tetap jadi juaranya. Abahlah yang masih selalu berada di urutan pertama dalam doa dan segala harap baik yang Najwa panjatkan. Najwa selalu berharap jika setelah ini, tak akan ada rasa yang berubah di antara kita. Najwa tak akan pernah bisa menukar kasih yang sudah abah berikan dengan apapun yang lainnya.
Ucapan terima kasih memang tak akan cukup untuk membalas semua yang sudah diberikan abah untuk Najwa. Tapi, percayalah ada yang lebih dari itu di dalam hatiku. Sedari Najwa masih ada dalam kandungan ummi dan sampai saat ini, sudah ada banyak hal yang abah berikan untuk Najwa. Sebab itu, Najwa sadar betul jika ucapan terima kasih tak akan pernah cukup untuk membalas semua yang sudah diberikan abah untukku. Meski begitu, percayalah jika ada sesuatu yang jauh lebih dari kata terima kasih di dalam hatiku. Hanya saja aku tak sanggup mengungkapkannya, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih atas segala sesuatu dan segalanya.
Meski akhirnya ada lelaki lain yang Najwa cinta, tapi percayalah jika abah adalah sebenar-benarnya cinta bagiku. Najwa harus mengakui jika akhirnya ada lelaki lain yang Najwa cintai selain abah. Tapi, Najwa jamin, jika rasa yang Najwa punya untuknya tak akan jadi lebih besar dari rasa yang Najwa ciptakan untuk abah. Karena itu, percayalah jika abah adalah memang sebenar-benarnya cinta bagi Najwa. Abah adalah cinta pertama dalam cerita dan hidup Najwa. Abah cinta pertamaku yang tak akan bisa digantikan dengan apapun.
Abah, maaf untuk segala sesuatu yang belum bisa Najwa wujudkan untuk abah. Maaf jika kali ini kata pamit harus kuucapkan dengan lantang saat kita bertemu. Abah, Najwa pamit. Pamit dan meminta sepaket restumu untuk aku membangun keluarga baru.
Rasanya memang masih ada banyak hal yang belum bisa Najwa wujudkan untuk abah. Dengan begitu, dari hati yang dalam Najwa haturkan maaf. Maafkan Najwa, lantaran Najwa belum bisa membahagiakan abah seutuhnya. Sekali lagi, maaf jika dalam pertemuan kali ini ada kata pamit yang harus kuucapkan dengan lantang di antara kita.
Najwa pamit, Abah. Najwa pamit untuk kemudian memulai dan membangun hidup baru bersama dia. Najwa meminta restu abah dan meminta dari hati yang paling dasar agar abah mau menikahkan Najwa dengannya. Ya, dengan Akmal, lelaki yang sudah memintaku di hadapanmu beberapa waktu lalu. Dan, inilah waktunya, hari ini sudah tiba. Hari di mana Akmal akan menjawab dengan gagah ‘saya terima nikahnya’ dalam genggaman tangan abah. Hari di mana abah mengantarkan aku sampai di gerbang kehidupan yang sebenarnya. Terima kasih, Abah.
Najwa mengucapkan pamitnya dengan berderai air mata. Semua tamu dan para saksi serta keluarga ikut terbawa suasana haru saat Najwa mengucapkan pamit ingin menjadi seorang istri.
“Satu pesan abah, berbaktilah pada suamimu, abah ikhlas melepasmu untuk Akmal. Dia lelaki yang baik, dan abah percaya akan menjaga, menyayangimu, dan mencintaimu dengan tulus,” ucap Arsyad.
“Iya abah,” ucap Najwa.
“Bagaimana, bisa di laksanakan sekarang ijab qobulnya?” tanya penghulu.
“Iya, pak,” jawab Arsyad.
Akmal menjabat tangan Arsyad. Arsayd mengucapkan ijab qobul, dan Akmal dengan lantang, lancar dan tegas menjawabnya.
“Bagaimana para saksi?” tanya Penghulu.
“SAH.” Semua saksi mengucapkan kata sah dengan serentak.
Hari ini, Najwa dan Akmal sah menjadai suami istri. Najwa duduk di samping Akmal. Akmal menyematkan cincin kawin di jari manis Najwa lalu mencium keningnya. Begitu sebaliknya, Najwa menyematkan cincin kawin di jari manis Akmal dan mencium tangan Akmal.
“Terima kasih, Ainuu. Aku mencintaimu,” ucap Habibi.
“Aku juga mencintaimu.” Dengan di hadapan penghulu, Habibi mencium kening dan bibir Ainun dengan kilas.
Semua bahagia melihat Najwa menikah dengan lelaki sebaik Akmal. Ini menjadi kebahagiaan yang tak ternilai harganya untuk Arsyad dan semua keluarganya.
__ADS_1