THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 5 "Kegelisahan Raffi" The Best Brother


__ADS_3

Najwa dan Dio berjalan beriringan keluar dari butik Najwa. Najwa menitipkan butiknya pada Asisten pribadinya. Dio dan Najwa masuk ke dalam mobil Najwa. Sebelumnya Dio sudah mengabari rumah kalau akan terlambat pulang, karena akan menemui temannya dulu dengan Najwa. Ya, orang di rumah tahu, kalau Dio pulang ke butik Najwa dulu. Karena Arsyad dan Raffi juga sibuk tidak bisa menjemputnya. Annisa juga, dia harus menyiapkan pesta kecil untuk anaknya yang baru pulang dari Berlin. Dan, itu menjadi kesempatan Dio, untuk bisa pulang dengan Najwa.


^^^^^


Mereka turun dari mobilnya, setelah sampai di sebuah taman yang indah. Taman yang berada persis di belakang bangunan bertingkat, tempat mereka dulu menempuh pendidikan semasa SMA. Ya, masa paling indah bagi mereka, dan yang membuat mereka melintas di jalan yang salah, mencintai sesama saudara, jelas hubungan ini adalah hubungan yang salah.


Dio menggenggam tangan Najwa menuju ke bangku kosong di depan taman dan danau buatan. Air danau yang hijau serta bunga yang waran-warni membuat suasana menjadi sedap dan segar untuk dipandang. Dio menyandarkan kepala Najwa di bahunya dan mengusapnya dengan sayang.


Dio sebenarnya tahu apa yang abahnya rencanakan dengan ayahnya Rania. Dio tahu ini akan terjadi, suatu hari nanti akan ada perjodohan antara dirinya dan Rania. Dio meraskan Najwa menutupi sesuatu dalam dirinya. Pasalnya, dia selalu saja membahas Rania, selalu saja bicara tentang Rania yang benar-benar tulus mencintainya.


"Najwa, ada yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Dio.


"Tidak, memang aku menyembunyikan apa?" Najwa balik bertanya pada Najwa.


"Soal Rania?" tanya Dio lagi.


"Rania? Untuk apa aku menyembunyikan soal Rania," jawab Najwa.


"Najwa, aku tahu, Rania sangat mengharapkan ku dari dulu. Tapi, aku hanya menganggap dia teman saja, tidak lebih dari itu," ujar Dio.


"Iya, aku tahu itu, Dio." Najwa teringat lagi akan kata-kata abahnya yang akan menjodohkan Dio dan Najwa.


"Pulang, yuk," ajak Najwa.


"Aku masih ingin bersama kamu di sini," jawab Dio.


"Ini sudah hampir lewat makan siang, Dio. Kasihan bunda yang sudah memasak makanan kesukaanmu dan menunggu kamu lama pulangnya," ujar Najwa.


"Yang masak Rania, kan?"tanya Dio.


"Kamu tahu?" Najwa balik bertanya pada Dio.


"Ya, Rania tadi mengirim chat denganku," jawab Dio.


Dio menghadapkan wajah Najwa pada dirinya, Dio memosisikan duduknya dengan mengahadap Najwa. Dia mengangkat wajah Najwa yang dari tadi menunduk. Dio memandangi wajah Najwa yang sangat sendu.


"Wajah kamu akhir-akhir ini selalu sendu, seperti tidak ada gairah untuk tersenyum," ucap Dio sambil mengusap pipi Najwa.


"Itu karena aku merindukanmu, Dio," ucap Najwa dengan mengurai senyumannya.


"Rindu? Kenapa harus sesendu ini, jika hanya sekadar merindu?" ujar Dio.


"Karena merindukanmu itu sakit, Dio. Hanya bisa merasakan hadirmu dalam bayang, kadang di dalam mimpi pun terlihat samar," jawab Najwa.


"Apa sesakit itu merinduku, Nawja?" Dio bertanya lagi dan hanya anggukan kepala yang Najwa berikan sebagai jawaban.


"Pupus lah sendu dalam wajahmu, aku di sini, kau tak perlu merindu lagi, Najwa. Aku ada di dekatmu lagi, mulai hari ini." Dio mencium kening Najwa.


Najwa tidak bisa berkata apa-apa, hanya air mata yang Najwa berikan sebagai ungkapan rasa takut yang sudah menjalar dalam dirinya. Najwa tau, ini adalah saat terakhirnya menjalin hubungan dengan Dio. Dia tidak mungkin menentang apa kata abahnya.


"Kenapa menangis? Kamu cengeng sekali." Dio mengusap air mata Najwa yang sudah mengalir deras di pipi Najwa.


Dio mencium lembut bibir Najwa yang dari tadi membungkam tak bisa mengatakan apa-apa. Mereka hanyut dalam suasana itu. Hingga lama Dio mencium bibir Najwa, melepaskan rindu yang sudah menggunung di dalam dirinya.


"Aku mencintaimu, Najwa," ucap Dio di sela-sela ciumannya.


"Hmmmm…aku juga mencintaimu Dio," balas Najwa.


"Mungkin ini terakhir kamu mencium ku Dio. Dan, ini yang terakhir aku memelukmu, karena kamu akan menjadi milik wanita lain, kita tidak akan bersama Dio," gumam Najwa


Najwa semakin mengimbangi ciuman Dio yang semakin dalam itu. Hingga dia tidak sadar, apa yang ia lakukan dengan Dio adalah kesalahan yang sangat fatal. Bahkan mereka melupakan dosa di antara mereka. Mereka masih menautkan bibir mereka yang enggan melepaskan. Dio sadar saat Najwa menepis tangannya yang mulai menyentuh apa yang seharusnya tidak di sentuh olehnya.


"Dio, jangan seperti ini…!" Najwa menepis kasar tangan Dio yang sudah menempel dan memegang keras dadanya.


"Maaf, Najwa. Maafkan aku," ucap Dio dengan memeluk Najwa.


"Ayo, pulang, jangan ulangi seperti itu lagi, Dio." Najwa berkata dengan berlinang air mata.


"Iya maaf, jangan menangis, maafkan aku." Dio menghapus air mata Najwa.


Dio menggenggam tangan Najwa dan berjalan beriringingan menuju ke mobil untuk segera pulang ke rumah. Mereka berbagi cerita di dalam mobil, selama 2 tahun tidak bertemu. Sesekali mereka juga bercanda dan Dio tetap berlaku romantis pada Najwa.


Di rumah Arsyad, semua sudah berkumpul menunggu kedatangan Dio yang dari tadi tak kunjung datang, mereka menelepon Dio dan Najwa, tapi tak ada jawaban dari Dio maupun Najwa. Raffi yang sedikit khawatir kakaknya akan melakukan hal yang macam-macam dia terlihat cemas dan menghubungi Najwa terus-menerus.


"Kak Najwa, angkat dong, kakak sedang apa dengan Dio, jangan buat aku khawatir, mereka tak sekhawatir aku, kak. Karena hanya aku yang tahu hubungan terlarang kakak dengan Dio," gumam Raffi sambil terus menerus menelepon Najwa.


Belum ada jawaban dari Najwa maupun Dio. Raffi semakin khawatir mereka melakukan macam-macam di luar kendali mereka. Raffi tau, cinta yang terlarang pasti akan menjerumuskan mereka ke hal-hal yang semestinya tidak mereka lakukan.


"Jangan sampai kalian melakukan hal yang tak semestinya kalian lakukan, Kak Najwa. Itu bukan menyelesaikan suatu masalah, itu justru akan memperkeruh keadaan. Kalian dari keluarga baik-baik dan terpandang. Jangan karena keegoisan dan cinta, kalian akan mencoreng nama baik keluarga kita. Ingat itu, kak. Siapa Abah kita dan opa kita." Raffi yang geram dengan kakaknya mengirim pesan seperti itu pada kakaknya.


"Raf, kamu sudah menghubungi mereka?"tanya Arsyad.


"Sudah, abah. Mereka sedang di jalan," ucap Raffi dengan berbohong.


"Ya Allah, karena mereka aku bohong dengan Abah," gumam Raffi.


Tak lama kemudian Dio dan Najwa datang. Raffi bernapas lega sekali, karena tak sia-sia dia berbohong dengan abahnya. Dio turun dari dalam mobil, Najwa sudah turun dari mobil terlebih dahulu. Mereka bersikap layaknya kakak-adik lagi saat di depan keluarganya.


"Bunda…" Dio langsung memeluk Annisa dan menciumnya berkali-kali, Dio melepas rindunya pada Annisa.


"Dio…" Shifa menarik tubuh Dio dari bundanya dan Dio langsung memeluk saudara kembarnya itu.


"Kak Shifa, cie calon pengantin," ledek Dio sambil memeluk dan mencium Shifa.


Shifa memang Minggu depan akan dilamar oleh Fattah. Akhirnya Shifa mengiyakan untuk segera dilamar Fattah, dia berpikir untuk apa menunda ibadah, kalau bisa dan siap dilakukan dengan segera.


"Hmmm..Iya. Doakan kakak, semoga Kak Fattah minggu depan jadi melamar kakak," ucap Shifa.


"Itu pasti, sayang. Do'akan aku juga agar cepat menyusul," ucap Dio sambil memeluka Shifa.

__ADS_1


"Pasti, Do'a kakak yang terbaik untukmu,"ucap Shifa.


"Sebenarnya, aku tidak setuju kamu di jodohkan dengan Rania, tapi mau bagaimana lagi, keputusan Abah sepertinya tidak bisa di ganggu gugat," gumam Shifa dengan memeluk Dio.


Dio memeluk Arsyad setelah memeluk Shifa dan bundanya, juga memeluk Rico dan Raffi. Mereka berkumpul semua, hanya 1 yang belum Dio sapa, yaitu Rania. Dio tahu keberadaan Rania, tapi dia enggan menyapanya. Akhirnya dia terpaksa menyapa Rania.


"Hai Ran," sapa Dio.


"Hai Dio," jawab Rania agak gugup.


Entah kenala dia gugup dengan Dio, tidak seperti biasanya. Dia benar-benar canggung menyapa Dio, mungkin karena Dio terlalu dingin sikapnya dengan Rania.


"Ayo, masuk, tuh bunda sama Rania sudah memasak kesuakaan kamu, Dio," ucap Arsyad.


"Oke aku akan cicipi, masakan kamu, benar kamu bisa masak, Rania?" tanya Dio.


"Emmm…diajari bunda," jawab Rania.


"Bunda?" tanya Dio dengan mengernyitkan dahinya


"Maksudku Tante Nisa, Dio. Maaf aku dari tadi manggil bunda, jadi terbiasa sampai siang ini," jawab Rania.


"Oh…aku kira," ucap Dio sambil melangkahkan kakinya ke dalam.


Najwa melihat kedekatan Rania dengan abah dan bundanya, membuat hati Najwa sedikit tidak baik-baik saja. Tapi, biarlah, dia tepiskan rasa itu. Najwa memanggil Mas Joko untuk menurunkan koper Dio dari mobil dan membawa masuk ke kamarnya.


Mereka menikmati makanan yang sudah disiapkan Annisa. Dio benar-benar kangen denagn masakan bundanya itu, selama kurang lebih 2 tahun tidak makan masakan bundanya.


"Ini enak sekali, bunda," ucap Dio sambil mengunyah makanannya.


"Jangan gugup makannya, nanti tersedak," ujar Annisa.


Setelah merka menikmati makanannya, mereka semua bersantai di ruang tangah, bercanda seperti biasanya. Dio duduk di sebelah Najwa, dan di sebelah Najwa adalah Rania. Seperti biasa Dio menganggap Najwa layaknya seorang kakak di depan mereka semua, tapi tidak bagi Raffi. Raffi yang sudah tahu hubungan mereka dia melihat kedekatan mereka bukan saudara lagi, melainkan sepasang kekasih.


"Ran, ini enak banget sumpah, kamu bisa buat ini?" tanya Najwa setengak tidak percaya


"Ya, aku sering di ajari ibuku membuat kue, Najwa. Apa ini benar enak?"tanya Rania.


"Iya, enak sekali, coba saja cicipi," ujar Najwa.


"Aku tidak suka sebenarnya dengan kue, aku hanya suka membuat saja, Najwa," ucap Rania.


"Yah, kamu kebiasaan sekali, suka membuat sesuatu, tapi kamu tidak menyukainya, konyol," sahut Shifa.


"Yah, kamu tahu sendiri, kan. Ya sudah aku coba kue buatanku seperti apa rasanya." Rania mencicipi kue buatannya.


Najwa tak henti-hentinya mengunyah kue yang di buat Rania itu. Dia terus menikmati kue yang ada di dalam toples.


"Makan terus." Dio mengembil kue dengan mulutnya yang baru saja di ambil Najwa dan akan memakannya.


"Dio…! Kebiasaan kamu! Ambil sendiri dong," tukas Najwa.


"Aku malas ambil, maunya diambilin," ucap Dio.


"Dah jangan berdebat, ambilin lagi, Kak Najwa," titah Dio.


"Idih, nyuruh-nyuruh," ucap Najwa.


"Ya sudah, pelit kamu," ucap Dio agak kesal.


Najwa tahu, Dio hanya ingin disuapi Najwa, Najwa segera mengambilkan kuenya.


"Ini." Najwa memberikan kuenya pada Dio.


"Aaaa…." Dio membuka mulutnya dan Najwa menyuaapinya dengan sedikit kesal.


"Ada-ada saja kamu, ah… jangan membuat mereka semua curiga, Dio," gumam Najwa.


Dio tiba-tiba menyadarkan kepalanya di pangkuan Najwa. Najwa kaget dengan ulah Dio yang seperti itu.


"Lagi makan malah rebahan," ucap Najwa.


"Kebiasaan tuh, anak," tukas Shifa.


"Suapi lagi, kak." Dio membuka mulutnya dan Najwa menyuapi Dio lagi.


Najwa membiarkan Dio tidur di pangkuannya dengan bermain ponselnya. Najwa sibuk mengobrol dengan Rania dan Shifa. Rania sedikit heran dengan kedekatan Dio dan Najwa yang seperti layaknya sepasang kekasih.


"Mereka dekat sekali, seperti sepasang kekasih," gumam Rania sambil memerhatikan tangan Dio yang terus menggenggam tangan Najwa dan menaruh di atas dadanya.


Dio tidak mempedulikan semuanya. Lagipula semuanya hmjuga sibuk dengan obrolan masing-masing. Rania melihat kedekatan Dio dan Najwa merasakan sesak dalam dadanya. Rania pamit pulang karena sudah semakin sore, dan sudah mendapat pesan dari ayahnya.


"Abah, bunda, opa, Rania pulang dulu," pamit Rania.


"Mau di antar Dio?"tanya Arsyad.


"Abah, Dio ingin istirahat, lihat saja, aku darintadi saja rabahan gini, capek sekali, Abah," ucap Dio. Memang Dio sedikit, makanya dari tadi rebahan di pangkuan Najwa.


"Rania pakai taksi saja, Abah, Dio biar istirahat dulu," ucap Rania.


"Ya sudah Abah pesankan taksi," ucap Arsyad .


"Rania sudah pesan, Abah," jawab Rania.


Tak lama kemuadian taksi yang di pesan Rania datang. Rania pamit dan pulang dengan perasaan yang tidak menentu. Dia masih terbayang kedekatan Najwa dan Dio.


"Kok sesak sekali rasanya melihat Najwa yang dekat sekali dengan Dio. Seperti sepasang kekasih yang sedang melepas rindunya. Mereka bukan saudara kandung, wajar aku berpikir seperti ini. Dan, kedekatan itu aku sudah melihatnya sejak SMA," gumam Rania.


Tak terasa air mata Rania menetes begitu saja membasahi pipinya. Dia tau, Dio tidak pernah menyukainya, tapi Rania sangat mencintainya, hingga dia menolak Evan, pengusaha muda yang kaya raya dari Singapura. Demi mendapatkan secebis hati Dio, dia rela menolak cinta Evan yang begitu tulus padanya.

__ADS_1


^^^^^


Sudah 3 hari Dio di rumah, setiap hari Dio selalu antar jemput Najwa saat Najwa ke butik. Mereka selalu berangkat kerja bersama yang membuat Raffi begitu miris melihat kedekatan mereka yang semakin menjadi. Raffi menghentikan langkah kakaknya yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Kak Najwa mau berangkat dengan Dio lagi?" tanya Raffi.


"Iya, mau dengan siapa lagi, dia tidak mau pakai mobil sendiri," jawab Najwa.


"Kak, jangan terlalu seperti itu, aku takut kakak sakit hati," ucap Raffi.


"Hmm…aku yang sakit hati, Raff. Bukan kamu,"jawab Najwa.


"Kamu yang sakit hati, aku juga merasakan, kak." Raffi mencoba berbicara baik-baik dengan kakaknya agar tidak terlalu dekat lagi dengan Dio. Karena Raffi tau, setelah Shifa di lamar Fattah, mereka akan segera menjodohkan Dio dengan Rania.


"Raff, aku tau, aku tidak akan bisa bersatu dengan Dio. Abah akan menjodohkan Rania dan Dio dalam waktu dekat ini, Raff. Aku hanya ingin merasakan detik-detik terakhirku bersama Dio, Raffi. Kakak harap kamu mengerti," ucap Najwa.


"Iya, aku tau itu, kak. Aku hanya pesan dengan kakak, jaga diri kakak, jangan sampai kakak korbankan segalanya untuk Dio. Dan tolong, jangan buta karena cinta. Cukup berikan hati kakak, biar hati kakak yang sakit, asal raga kakak tidak ikut sakit juga. Kak, sebaik-baiknya wanita, adalah yang bisa menjaga kehormatannya," tutur Raffi.


"Kamu anggap, kakak menyerahkan semua untuk Dio? Kakak juga sadar itu, Raffi. Kakak tidak mungkin menutup mata arena itu semua. Kakak sadar ini salah, kakak salah mencintai adik sepupu kakak sendiri. Raf, percaya dengan kakak, kakak bisa menjaga ini semua," ucap Najwa.


"Aku pegang janji kakak. Jangan buat Abah, opa, dan bunda kecewa karena kakak dan Dio. Kakak tahu keluarga kita seperti apa, kan? Tidak ada yang berpacaran sejauh ini, kecuali kakak dan Dio. Aku tahu Dio seperti apa, kak. Dan aku sebagai adik kakak, aku berhak khawatir dengan kakakku. Karena aku adik laki-laki, kakak." Raffi semakin berani, menantang hubungan kalanya dengan Dio.


"Sudah aku tidak mau berdebat dengan kamu, Raff." Najwa berjalan keluar menemui Dio yang sudah mau berangkat ke kantor.


"Kak Najwa, aku semakin tidak tahu apa yang ada di pikiran kakak. Aku sayang Kak Najwa. Tolong kak, lepaskan Dio, aku tidak mau kakak jatuh ke jurang yang penuh dosa." Raffi mengepakan tangannya di depan kamarnya. Rasanya ingin sekali menghantam dinding yang ada di depannya, melihat kakaknya yang semakin nekat berhubungan dengan Dio.


^^^^^


Malam harinya di rumah Arsyad. Mereka berkumpul di runag tengah seperti biasanya. Dio duduk di samping abahnya. Dia akan menyampaikan sesuatu kepada abahnya.


"Abah, Dio besok mau touring," pamit Dio.


"Dengan siapa?" tanya Arsyad.


"Biasa teman, Abah sama bunda mau ikut?" tanya Dio.


"Gak mau ah, capek touring, tuh ajak Raffi, Shifa, atau Najwa," ucap Arsyad.


"Ayo Abah, ikut," ajak Annisa.


"Abah besok mau bersepeda sama Reno," ucap Arsyad..


"Yah, Abah." Annisa merajuk pada suaminya yang tidak mau diajak touring.


"Sayang, besok kita bersepeda saja, Anna juga ikut," ajak Arsyad.


"Papah juga mau ikut," sahut Rico.


"Yah, gak mau ada yang di ajak touring, apa bunda aja yang touring sama aku?"tanya Dio.


"Tidak, Abah tidak ikut, kok," tolak Annisa.


"Kak Raffi, ikut yuk?" ajak Raffi.


"Aku mau nemenin Shifa ke taman baca. Besok ada event di sana," tolak Raffi.


"Tinggal bilang aja, ingin berduaan dengan Kak Najwa, pakai acara ajak-ajak kita," gumam Raffi.


"Ajak Rania, sana." Arsyad menyarankan mengajak Rania.


Dio tau Rania besok ada pekerjaan yang tidak bisa ia tinggal. Karena besok dia harus ke luar kota menemui kliennya selama 2 hari. Dio tahu, karena Rania baru saja pamit dengan Dio hari ini akan berangkat ke luar kota menemui klien selama 2 hari.


"Rania sedang ke luar kota, Abah. Kalau tidak aku sudah ajak dia," ucap Dio.


"Kamu kok tahu?" tanya Najwa dengan nada yang sedikit cemburu.


"Pasti dia cemburu," gumam Dio.


"Iya, aku tahu, karena dia baru saja pamit lewat chat," jawab Dio.


"Oh…" jawab Najwa.


"Roman-romannya ada yang sedang cemburu," gumam Raffi melihat wajah Najwa yang tidak baik-baik saat ini.


"Kak, temani touring besok, ya?"pinta Dio pada Najwa.


"Hmmm…boleh," jawab Najwa


"Memang Dewi Fortuna selalu berpihak pada mereka untuk melancarkan aksinya berpacaran," gumam Raffi.


"Oke," ucap Dio.


"Kalian besok hati-hati, menginap atau tidak?"tanya Arsyad.


"Tidak tau Abah, aku maunya langsung pulang, kalau misal kondisi yang memaksa kita harus menginap ya menginap," jawab Dio.


"Memang rutenya mau ke mana?"tanya Arsyad.


"Teman-teman sih, mintanya ke Ungaran, Abah, tapi sepertinya kau, dan itu butuh penginapan, juga," jawab Dio.


"Ya sudah, mau ke mana pun, yang penting hati-hati," ucap Arsyad.


"Jangan jauh-jauh, nak," ucap Annisa.


"Iya bunda," jawab Dio.


"Denger tuh, jangan jauh-jauh," imbuh Raffi.


"Iya, iya," ucap Dio.

__ADS_1


"Gawat, kalau mereka sampai menginap, kakakku akan bagaimana? Aku tahu, mereka berdua saja, tidak bersama teman-temannya. Aku harus bagaimana ini?" gumam Raffi.


Dio ke kamarnya menyiapkan perlengkapan untuk touring, begitu juga Najwa. Akhirnya Dio bisa mengajak pergi Touring berduaan bersa Najwa besok pagi. Raffi semakin gelisah memikirkan Kakaknya yang semakin dekat dengan Dio.


__ADS_2