
Rania masuk ke sebuah restoran yang ada di hotel. Dia menemui kliennya yang sudah menunggu dirinya. Rania sesekali melihat Dio yang memang menunggunya saat menjelaskan pada Kliennya.
"Dia tidak pulang? Syukurlah kalau begitu. Semoga saja setiap hari seperti ini terus," gumam Rania.
Sudah hampir 1 jam Dio menunggu Rania, tapi dia masih sabar menunggunya. Dio memerhatikan Rania dari jauh. Dia sangat kagum dengan Rania, karena dari dulu hingga sekarang dia tidak pernah menyerah untuk meraih mimpinya. Mungkin termasuk mimpinya untuk memiliki dirinya dan mendapat cinta dari dirinya.
"Dari dulu kamu tidak pernah berubah, Ran. Kamu tidak pernah menyerah dengan suatu keadaan walau keadaan itu sangat sulit dan menyakiti dirimu," gumam Dio dengan menatap Rania dari jauh.
Rania sudah selesai menemui kliennya. Dia menghampiri Dio yang sedang menikmati kopi hitamnya dengan mengecek email dari kantornya.
"Dio, aku sudah selesai," ucap Rania sambil duduk di sebelah Dio.
"Sudah? Kamu tidak ingin pesan minuman lagi?"
"Tadi sudah minum, kebanyakan minum nanti kembung, Dio. Ayo antar aku ke kantor. Evan sudah menungguku di kantor dari tadi," ucap Rania.
"Oke," ucap Dio dengan sedikit berat karena mendengar nama Evan.
Dio berjalan di belakang Rania. Dia memerhatikan langkah anggun Rania di depannya. Rania memang memiliki tubuh yang proposional. Dia tinggi, cantik, anggun, berkulit putih. Dan, tidak heran jika semua pria ingin menjadi kekasihnya dari dulu. Hingga Dio harus bersaing dengan beberapa siswa laki-laki saat dulu SMP.
"Dia cantik, dia wanita yang sempurna. Memiliki banyak harta, tapi kenapa dia mau dan hanya diam saat aku memarahinya. Dan, itu semua karena wanita. Yaitu, Najwa. Aku terlalu banyak menyakitinya hanya karena aku marah saat ingat dengan kejadian waktu dulu," gumam Dio sambil berjalan mengekori Rania.
Dio dan Rania sudah masuk ke dalam mobilnya. Dio sengaja memutar lagu-lagu yang berhubungan dengan dirinya dan Rania saat masa SMP dulu. Rania hanya diam, mendengar dan meresapi semua lagi yang di putar Dio. Tak terasa air mata Rania menetes saat mendengar lagu yang sering ia nyanyikan dulu dengan Dio.
Dio melirik Rania yang sedikit menyeka air mata yang sudah hampir lolos dari sudut matanya. Dio tahu, apa yang Rania rasakan. Dio juga tahu kalau Rania hingga sekarang masih mencintainya. Namun, tidak untuk Dio. Dia benar-benar sudah melupakan Rania. Bahkan rasa cinta itu sudah tidak ada sama sekali di hatinya. Hanya cinta untuk Najwa yang sekarang bersemayam dalam hatinya.
"Dio, bisa ganti dengan lagu yang lain?" tanya Rania.
"Boleh, Mau lagu apa?" jawab Dio seraya bertanya pada Rania.
"Terserah kamu, tapi jangan lagu yang ini," ucap Rania.
"Kamu itu lucu, minta ganti tapi terserah. Mau lagu apa?" tanya Dio lagi.
"Udah matiin saja, ah," jawab Rania sambil mematikan lagunya.
Dio hanya tersenyum pada Rania. Dia tahu, kalau Rania menahan air matanya karena mendengarkan lagu yang ia putar tadi. Dio semakin tidak mengerti, di saat bersama Rania dia merasa nyaman.
"Ah, mungkin saja karena aku merasa bersalah dengan dia. Tidak mungkin rasa ini tumbuh lagi. Maafkan aku, Ran. Aku tidak tahu, kenapa aku tidak mencintaimu lagi," gumam Dio.
Mereka sudah sampai di kantor Rania. Dio ikut turun mengantar Rania masuk ke dalam kantornya. Entah kenapa dia penasaran sekali dengan kedekatan Rania dan Evan. Sehingga dia berniat untuk mengantar Rania masuk ke dalam.
"Mau apa ikut ke dalam?" tanya Rania sambil berjalan di samping Dio.
"Ingin saja, tidak boleh?" jawab Dio.
"Boleh," ucap Rania.
Terlihat Evan sudah menunggu Rania di depan ruangannya. Rania langsung menyapa Evan yang kala itu sedang duduk di sofa. Dio mencegah Rania yang mau menghampiri Evan. Dia mengajak Rania masuk ke ruangannya dan ingin berbicara pada Rania.
"Ran, bisa kita bicara sebentar?" tanya Dio.
"Iya," jawab Rania.
"Kita bicara di dalam, ya?" ajak Dio.
"Emmm, baiklah," jawab Rania.
"Van, aku tinggal sebentar, ya?" ucap Rania pada Evan.
Evan hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja saat Rania pamit dan masuk ke dalam ruangannya bersama Dio. Dio menggandeng tangan Rania dan masuk ke dalam ruangan Rania.
"Mau bicara apa, Dio?" tanya Rania.
"Emmm … tidak apa-apa, cuma mau tanya nanti akan pulang jam berapa," jawab Dio.
"Hmmm … aku pulang agak sore, sehabis ashar," jawab Rania.
"Oke nanti aku jemput, baik-baik di kantor. Ingat kata Abah, kamu harus hati-hati dengan Evan," ucap Dio.
"Oke," jawab Rania.
"Ya sudah aku pulang,"
"Iya, hati-hati, Dio. Terima kasih sudah mengantar aku," ucap Rania.
"Iya, sama-sama." Dio meninggalkan ruangan Rania.
Rania mengernyitkan dahinya dan tersenyum menatap punggung Dio yang pergi dari ruangannya. Rania mengekori Dio yang pergi dari ruangannya.
"Kenapa kamu ikut keluar?" tanya Dio.
"Mau menemui Evan," jawab Rania.
"Oh … temui dia, ingat pesan Abah," ucap Dio lagi
"Iya, sudah sana pulang, hati-hati," ucap Rania.
"Iya, iya, mau ketemu kekasihnya suaminya di usir,"
__ADS_1
"Itu kamu Dio,"
"Sudah jangan bahas ini." Dio pergi dengan menatap Evan yang sedang duduk di sofa depan ruangan Rania.
Rania duduk menemui Evan. Setelah sedikit mengobrol Rania mempersilakan Evan masuk ke dalam ruangannya untuk membicarakan pekerjaannya. Evan duduk di depan Rania dengan tatapan penuh tanda tanya. Semua itu karena Rania terlihat seperti kurang vit. Mata pandanya terlihat, dan sedikit pucat.
"Kamu sedang sakit, Rania?" tanya Evan.
"Tidak, aku sehat-sehat saja, Van," jawab Rania.
"Kantung matamu menghitam, tidak seperti biasanya, kamu juga agak pucat. Apa pengantin baru kebanyakan begadang?" ucap Evan.
"Ya, seperti yang kamu bilang itu, nanti juga kamu merasakan kalau sudah menikah," ucap Rania.
"Sudah jangan bahas ini, mana dokumen yang mau kamu berikan?" tanya Rania dengan mengalihkan pembicaraan.
"Ini, Rania." Evan memberikan dokumen yang ia bawa pada Rania.
Rania memeriksa dokumen dari Evan, dia membacanya dengan teliti. Saat sedang membacanya, Rania merasakan pusing sekali, pandangannya kabur. Dia menghentikan membaca dan memegang kepalanya.
"Kepalaku pusing sekali, duh ini kenapa jadi muter semua," gumam Rania dengan memegangi kepalanya.
"Ran, Rania.…kamu baik-baik saja, kan?" tanya Evan.
"Iya, baik-baik saja, Evan," jawab Rania.
"Wajahmu pucat sekali, Ran," ucap Evan.
"Aku tidak apa-apa, Van. Ini aku pelajari dulu ya, Van. Sudah jam 10 aku mau sholat Dhuha dulu, kalau sudah tidak ada kepentingan, kamu bisa kembali ke kantormu," ucap Rania dengan merasakan kepala yang semakin pusing dan kunang-kunang.
Evan meninggalkan ruangan Rania dengan sedikit cemas pada keadaan Rania. Tapi, Evan tahu, jam 10 adalah jadwal dia untuk sholat Dhuha dan tidak bisa di ganggu, jadi Evan menuruti apa kata Rania. Dia keluar dari ruangan Rania dan kembali ke kantornya.
Evan melihat mobil yang ia kenal masih berada di depan kantor Rania. Dan seorang laki-laki yang bersandar di depan mobil tersebut dengan memegangi ponselnya.
"Dio masih di sini? Kenapa dia santai sekali, apa dia tidak ke kantor? Lebih baik aku memberitahukan dia kalau Rania sepertinya kurang sehat hari ini," gumam Evan sambil berjalan ke arah Dio.
Dio melihat Evan akan menghampirinya. Dio memang sengaja menunggu Evan keluar dari kantor Rania. Karena dia juga memikirkan apa yang abahnya katakan, kalau Evan adalah orang yang licik. Dan, Dio juga bertanya pada bundanya, soal dahulu opanya Evan mendekati almarhum eyang uti nya. Ya, ibu dari Annisa.
"Apa benar dia licik? Aku harus tahu, dia mendekati Rania karena mencintai Rania, atau hanya karena menginginkan sesuatu dari Rania. Aku tidak mencintai Rania. Namun, benar kata Abah, setidaknya aku menjaga Rania dari orang-orang yang akan menjahatinya. Ya, meski aku juga jahat dengan dia, karena melukai hatinya," gumam Dio.
Dio menatap Evan yang semakin mendekatinya. Evan sudah berada di depan Dio. Mereka saling menatap.
"Ehem…" Evan berdehem di depan Dio.
"Kamu masih di sini, Dio?" tanya Evan.
"Rania sepertinya sedang tidak enak badan, sebaiknya biarkan dia istirahat di rumah," ucap Evan yang membuat Dio mengernyitkan dahinya.
"Dari mana kamu tahu dia sedang tidak enak badan?" tanya Dio.
"Seharusnya kamu lebih tahu, karena kamu suaminya, Tuan Dio," jawab Evan sambil berlalu meninggalkan Dio.
"Tunggu," ucap Dio yang berhasil menghentikan langkah Evan.
"Apalagi? Aku ingatkan, Tuan Dio, jangan buat istri anda kelelahan. Ya, kalian pengantin baru, lihat Rania hari ini pucat sekali wajahnya. Apa anda tidak memperhatikannya? Atau anda memang menyiksanya, supaya dia sakit?" ucap Evan dia langsung pergi meninggalkan Dio.
Dio mencoba mencerna ucapan Evan. Tak menunda waktunya, Dio langsung masuk kembali ke dalam kantor Rania. Dia berjalan agak cepat menuju ke ruangan Rania.
"Astrid, Rania masih di dalam?" tanya Dio.
"Iya pak, mungkin sedang sholat," jawab Astrid.
"Aku masuk, ada barang Rania yang tertinggal di mobil," ucap Dio.
"Oh, iya. Silakan, pak," ucap Astrid.
Dio segera masuk ke dalam ruangan Rania. Dia melihat Rania tidak ada di dalam. Mungkin sedang di tempat sholat. Dio berjalan mendekati tempat sholat di ruangan Rania. Benar Rania sedang Sholat Dhuha. Dio akhirnya menunggu Rania selesai sholat. Dio mendekati meja kerja Rania. Dia melihat bingkai foto di meja kerja Rania. Dia mengambilnya dan melihat foto itu. Foto Rania bersama dirinya yang masih memakai seragam putih biru.
"Dia masih menyimpan foto ini? Sebesar itukah cintamu padaku, Rania? Maafkan aku, aku terlalu dalam menggores luka di hatimu. Aku benar-benar sudah tidak bisa mencintaimu, Rania," ucap Dio dengan lirih.
Dio meletakan bingkai foto itu. Dia melihat sebuah buku agenda milik Rania yang terbuka. Dia melihat tulisan tangan Rania di dalam halaman yang terbuka di buku agenda milik Rania. Dia membaca sekilas halaman yang terbuka itu.
"Hari Ketiga. Iya, ini hari ketiga aku menikah dengan orang yang aku sayangi, bahkan aku cintai. Namun, dia mencintai sahabatku. Entah kenapa dia seperti membenciku. Aku tidak tahu, kenapa dia membenciku. Semenjak aku membalas surat dari dirinya dulu, dia menghindari ku. Dan, hingga saat ini, aku tidak tahu apa sebabnya. Biarkan cinta ini aku simpan sendiri untuk suamiku. Aku tidak akan menyerah untuk menjadi yang terbaik bagi suamiku."
Dio langsung meninggalkan meja kerja Rania, karena dia takut Rania melihat dia sedang berada di meja kerjanya. Dio duduk di sofa menunggu Rania keluar dari tempat Sholat. Dio membaca buku yang ada di rak buku yang berada di samping sofa. Ada banyak buku tentang bisnis di rak buku, juga ada beberapa novel di sana.
Saat sibuk membaca, Dio mendengar wanita menyapanya. Siapa lagi kalau bukan Rania. Wanita yang sekarang sudah menjadi istrinya itu keluar dari tempat Sholat.
"Kamu ke sini lagi?" tanya Rania.
"Iya, kamu baik-baik saja, kan?" jawab Dio seraya bertanya.
"Ya, seperti yang kamu lihat, Dio," jawab Rania.
Dio menatap intens wajah istrinya yang tidak pernah berubah aura manis dan cantiknya itu sejak ia mengenalnya dulu. Dio melihat raut wajah Rania yang memang terlihat pucat dan kantung mata yang menghitam.
"Benar kata Evan, dia sedang tidak baik-baik saja," gumam Dio.
"Ran, wajah mu kok puc .... Rania….!" ucapan Dio terhenti, karena Rania tiba-tiba jatuh pingsan.
__ADS_1
Rania tersungkur di lantai, wajahnya pucat sekali. Dio menggendong Rania dan merebahkan Rania di sofa. Dio memegang telapak tangan Rania, terasa dingin sekali. Dia mengambil kayu putih di kotak obat, beruntung perlengkapan P3K sangat komplit di ruangan Rania.
"Rania … kamu kenapa bisa seperti ini, sih?" ucap Dio lirih.
Dio mengusapkan minyak kayu putih di hidung Rania, dia membuka jilbab Rania dan membuka kancing baju Rania sebelah atas, agar sedikit longgar.
"Ran, bangun, Ran. Kamu kenapa, sih? Di bilangin tidak usah ke kantor, malah ke kantor," ucap Dio lirih.
Rania belum sadar dari, Dio masih setia di samping Rania, mengoles leher dan dada Rania dengan kayu putih. Dio menatap wajah Rania, dia mengusap kepala Rania.
"Dia istriku. Aku baru pernah menyentuhnya. Mengusap keningnya, saat tiga hari yang lalu aku cium setelah aku mengucap janji suci di depan ayahnya, di depan penghulu, dan di depan para saksi. Kenapa aku tidak bisa mencintainya lagi seperti dulu? Apa aku bisa bertahan dengannya tanpa rasa cinta? Sedang aku dengan Najwa selamanya tak bisa menikah?" Dio mencium kening Rania. Dia mengusap lembut kepala Rania.
Dio mengusapkan minyak kayu putih lagi di hidung Rania. Rania mengerjapkan matanya. Perlahan dia membuka matanya, menyesuaikan cahaya di dalam ruangannya.
"Dio…" ucap Rania lirih, saat melihat Dio berada di sampingnya.
"Hai … kamu kenapa bisa pingsan?" tanya Dio.
"Pusing sekali kepalaku, Dio," jawab Rania.
"Ke dokter, ya? Lalu istirahat di rumah," ucap Dio.
"Dio, pekerjaanku masih banyak sekali," ucap Rania.
"Jangan membantah," ucap Dio sambil berjalan ke arah dispenser mengambilkan air putih hangat untuk Rania.
"Minumlah." Dio membantu Rania bangun dari tidurnya dan memberikan air putih pada Rania.
"Ayo kita ke dokter, lalu pulang," ajak Dio.
"Dio, aku sudah tidak apa-apa. Sudah biarkan aku kerja," ucap Rania.
"Jangan membantah, Rania. Ayo pulang." Dio memaksa Rania untuk pulang.
"Tapi, Dio,"
"Sudah, aku bilang kamu harus pulang dan istirahat, Rania. Ayo pulang." Dio mengambil tas milik Rania.
"Ran, ini ponsel kamu aku masukin ke tas, ya?" ucap Dio sambil memasukan ponsel Rania ke dalam tas milik Rania.
"Iya, ya sudah aku pulang," ucap Rania.
"Ayo." Dio memapah Rania untuk keluar dari ruangannya.
"Mau aku gendong?"
"Gak, aku bisa jalan sendiri, Dio,"
"Oke, ya sudah aku papah kamu, berjalan ke luar," ucap Dio.
"Astrid, urus semua pekerjaan istriku, dia tidak enak badan, dan harus pulang," ucap Dio pada Astrid.
"Istriku? Betapa bahagianya aku mendengar Dio menyebut aku istrinya," gumam Rania.
"Baik, Pak," jawab Astrid.
Dio membantu Rania berjalan dengan pelan. Rania memang terlihat lemah sekali saat ini. Dia semakin pucat wajahnya. Dio yang melihatnya tidak tega sekali, dan tanpa aba-aba Dio menggendong Rania.
"Dio, lepaskan, turunkan sekarang!" Rania meronta saat Dio menggendongnya.
"Diam! Jangan berisik, kalau tidak mau aku lempar!" tukas Dio di depan wajah Rania.
"Galak," ucap Rania dengan kesal.
"Makanya diam!" tukas Dio.
Dio menggendong Rania dari depan ruangannya hingga ke parkiran mobilnya. Semua karyawan Rania melihat Rania yang di gendong suaminya. Rania malu, karena semua melihatnya.
"Ran, ternyata berbobot juga kamu, ya?" ucap Dio.
"Tidak usah mengeluh! Salah sendiri main gendong-gendong saja," tukas Rania.
"Gak usah ngegas, lagi sakit saja bisa-bisanya ngegas," ucap Dio.
"Aku pusing Dio, sudah jangan berdebat," ucap Rania.
Dio membukakan pintu mobilnya dan menyuruh Rania masuk ke dalam. Dio menghidupkan mesin mobilnya, lalu melajukannya menuju ke klinik dekat kantor Rania.
Sesampainya di rumah Dio memapah Rania menuju kamarnya. Dia meletakkan obat yang tadi diberikan oleh dokter saat periksa.
"Ingat pesan dokter, kamu harus istirahat dulu. Jangan kecapean, Ran," tutur Dio.
"Iya, terima kasih, Dio," ucap Rania.
Dio melangkahkan kakinya keluar dari kamar Rania. Dia mengambil kunci mobilnya dan bergegas pergi dari rumah. Rania melihat dari jendela kamarnya, mobil Dio melaju kencang keluar dari halaman rumahnya. Entah Dio akan pergi ke mana saat ini Rania tidak tahu.
"Pasti mau menemui Najwa. Hmm … biarlah, memang kalau sudah cinta ya seperti itu," ucap Rania lirih.
Rania merebahkan tubuhnya. Dia masih merasa pusing kepalanya. Memang semalam Rania kurang tidur. Dia hanya tidur 1-2 jam saja semalam. Dia bangun jam 03.00 untuk Sholat malam seperti biasanya hingga waktu subuh dia tidak tidur lagi. Lalu seusai sholat subuh dia memasak, dan setelah itu menyetrika baju-bajunya. Rania memejamkan matanya karena media merasa mengantuk setelah meminum obat dari dokter.
__ADS_1