THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 125


__ADS_3

♥️"Kakak beradik memang begitu jail dan menyebalkan. Namun, itulah cara mereka untuk menunjukkan rasa kasih sayangnya." ♥️


Hari terus berganti, begitupun bulan dan tahun. Najwa sudah memiliki adik laki-laki, kehidupan Arsyad dan Almira menjadi lebih sempurna memiliki Rafi, adik Najwa. Sekarang Najwa berusia 6 tahun dan Rafi 4 tahun. Umur mereka selisih 2 tahun.


Rafi senang sekali dengan kakaknya, Najwa kakak yang sangat penyayang, jago mendongeng seperti umminya.


Shita, dia juga sudah di karuniai dua anak, Farrel dan Zahrana. Farrel berusia 5 tahun dan Zahrana berusia 2 tahun. Sedangkan Arsyil memiliki Dio dan Shifa, anak kembar yang sangat lucu dan kompak kalau sedang berdebat. Dio dan Shifa berusia sama dengan Najwa, hanya berbeda bulan saja. Annisa dua kali keguguran saat hamil kedua dan ketiga, dan hingga sekarang belum hamil lagi.


Hari ini mereka berkumpul semua di Villa milik Andini. Bayu dan keluarganya juga berkumpul bersama. Bayu memiliki empat cucu. Rayhan memiliki dua anak Ozil berusia 7 tahun dan Alia berusia 4 tahun. Sedangkan Rachel dia baru memiliki satu anak yaitu Alisa yang usianya sama dengan anak ke dua Rayhan. Villa Andini sangat ramai, semua anak-anak bermain dengan gembira dan bahagia. Najwa dari tadi sibuk dengan boneka-boneka nya yang untuk di jadikan bahan mendongeng.


Arsyad mendekati anak perempuannya, Najwa memang dekat sekali dengan Abahnya, Dio anak Arsyil juga lengket sekali dengan Arsyad, jika di tanya Rico, Dio anak siapa, pasti jawabnya Anak Abah Arsyad. Kadang Arsyil gemas dengan tingkah laku Dio yang selalu meniru gaya Pakdenya.


Dio mengikuti Arsyad yang sedang mendongeng dengan Najwa.


"Pakde…." Dio memeluk Arsyad dari dan bergelayut di punggung Arsyad.


"Iya, ada apa, mau ikutan Kak Najwa mendongeng? Sini duduk samping pakde." Arsyad menarik Dio agar duduk di sampingnya. Mereka melihat Najwa mendongeng dengan sangat lucu.


Almira sedang membuatkan puding untuk anak-anak, Rafi dan Shifa sangat menyukai puding buatan Almira, dia paling lahap sekali kalau makan puding buatan Almira.


"Budhe….lagi buat puding ya?"tanya Shifa yang tiba-tiba ke dapur menghampiri Mira.


"Iya, Shifa mau?"tanya Mira.


"Mau dong, kan Shifa suka sekali dengan puding buatan Budhe."ucap Shifa.


"Oke, sebentar lagi puding nya jadi, nunggu dingin ya, ayo ke depan."ajak Mira.


"Ummi….." Rafi berlari ke arah Almira dan memeluknya.


"Ada apa, jangan lari-lari. Kamu terengah-engah kenapa, Raf?"tanya Mira sambil berjongkok di hadapan putranya


"Rafi mau minum. Habis main bola dengan Farrel dan Kak Ozil."ucap nya sambil terbata-bata karena nafasnya belum teratur.


"Sebentar ummi ambilkan minum, duduklah di sini." Almira mendudukan Rafi di kursi mini bar yang ada di dapur Villa.


"Minumlah, jangan lari-lari lagi, panggil Farrel dan Kak Ozil, sudah sore mandi dulu."ucap Almira pada Rafi dengan mengacak rambut Rafi dan menurunkan Rafi dari kursi.


"Iya, nanti Rafi panggil, tapi Rafi mau main bola lagi. Dah…ummi…" Rafi berlari lagi ke halaman Vila, Almira ke depan bersama Shifa.


"Bude, ajari Shifa menulis."pinta Shifa.


"Menulis? Menulis apa, sayang?"tanya Almira.


"Menulis cerita, kata Bunda, Bude kan jago nulis."ucapnya.


"Iya, nanti bude ajari, panggil Kak Najwa, suruh mandi dulu, kamu juga mandi, sudah sore."ucap Mira.


"Oke." Shifa berlari ke arah Najwa dan Abahnya, di sana juga ada Dio saudara kembarnya.


"Kak Najwa, sudah Sora mandi dulu, di suruh bude."ucap Shifa.


"Sana mandi dulu, lanjutin nanti mainnya, Dio juga belum mandi kan?"tanya Arsyad.


"Iya."jawabnya sambil sibuk bermain miniatur motor balap dari ayahnya.


"Sudah tinggalin dulu mainannya, sana mandi gantian denagn Kak Rafi."ucap Arsyad.


Dio berlari memanggil Farrel, Rafi dan Ozil yang sedang bermain bola. Mereka berlari kembali masuk dalam Vila, Rico yang masih duduk santai di temani secangkir kopi bersama Bayu, dia melihat cucu-cucunya berlari ke arahnya.


"Kalian, jangan lari-lari, cepatlah mandi, bau asem sekali badanmu."ucap Rico.


"Zil, mandilah, kamu kalau sudah main bola lupa waktu."ucap Bayu.


"Iya, kek."ucap Ozil sambil berlari.


"Opa…opa…Rafi main bolanya sudah jago kaya kak Ozil."ucapnya


"Farrel juga."ucapnya tak mau kalah


"Ya sudah kalian mandi sana, sama Oma."ucap Rico.


Farrel dan Rafi berlari masuk ke dalam Vila, dia segera melepas kaos yang melekat pada tubuhnya dan membuang ke segala arah. Shita yang melihatnya hanya menggerutu kesal dengan menggendong Zahrana.


"Farel."panggil Shita sambil menunjukan kaos yang tercecer di lantai.


"Ehh…maaf mah."ucap nya sambil memunguti kaosnya.


"Kamu kebiasaan sekali, terus Rafi ikut-ikutan Farrel?"tanya Shita pada Rafi yang juga menaruh kaosnya di sembarang tempat.


"Iya tante, ini Rafi ambil."ucap Rafi sambil tersenyum ala Pepsodent dengan menunjukan giginya.


"Huh…kebiasaan sekali Farrel, harusnya di ingetin terus." Shita menggerutu kesal.


"Ada apa dengan Farrel, mah.?"tanya Vino yang sudah ada di belakang Shita


"Itu pah, tadi lepasin baju mau mandi, di buang ke sembarang tempat."ucap Shita yang masih agak kesal.


"Namanya juga anak-anak, jangan marahi dia."ucap Vino.


"Masa iya aku marahi Farrel, pah, ya tidak lah, aku negur saja tadi. Biar dia bisa rajin dan disiplin, pah."ucap Shita.


"Ya sudah, jangan cemberut dong, sini Rana biar dengan ku." Vino mengambil Rana dari gendongan Shita


"Ayo ikut papah." Rana langsung mau di gendong papahnya.


Rico melihat Dio yang sedang asik bermain miniatur motor balapnya. Dia mendekati cucunya dan mencium pipinya yang Chubby.


"Dio, kamu menyuruh kakak-kakak mu mandi, tapi madih bermain motor balapmu saja."ucap Rico


"Iya, sebentar lagi opa. Bagus ya opa motornya? Nanti Dio mau jadi pembalap."ucpanya dengan lucu


"Ini pasti milik ayahmu."ucap Rico.

__ADS_1


"Iya, Dio di kasih ayah."ucapnya dengan tangan yang sibuk menggerak-gerakkan motor balapnya.


"Dio, mandi ayo, kamu yang lain sudah mandi, kamu masih saja mainan motor balapmu." Annisa menyusul Dio di teras.


"Mandi sama bunda."pinta Dio.


"Iya, ayo mandi sama bunda." Annisa mengajak Dio mandi.


"Ayo bunda gendong." Annisa menggendong Dio dan menggelitik perutnya.


"Ini anak bunda yang malas sekali kalau mandi, seperti ayahnya saja." Annisa terus menggelitik perut Dio


"Ampun….Bunda…iya, Dio gak malas mandi lagi deh, janji."ucap Dio dengan gelak tawanya yang riang


"Janji?"tanya Annisa dengan menunjukan jari kelingkingnya.


"Iya bunda janji." Dio menautkan jari key ke jari kelingking bundanya.


"Cium bunda."ucap Nisa sambil mengarahkan pipinya ke depan bibir Dio.


"Muuaach…love you bunda."ucapnya dengan memeluk erat Annisa


"Love you too, sayang." Annisa mencium pipi Dio dan membawanya ke kamar mandi.


Arsyil melihat kedekatan Dio dengan Annisa dia tersenyum dari balik pintu kamar mandi dan melihat Annisa sedang memandikan Dio.


"Ihh…jorok baru mandi, tuh yang lain sudah pada cakep, anak ayah baru mandi."ucap Arsyil dari balik pintu.


"Biarin, ayah juga jarang mandi weekkk…"ucap Dio sambil menjulurkan lidahnya dengan lucu.


"Kata siapa? Ini ayah sudah ganteng, sudah mandi dari tadi."ucap Arsyil yang masih berada di depan pintu kamar mandi.


"Kata bunda."ucap Dio dengan tertawa pada Annisa.


"Ehh…. Bundanya ya yang ngajarin, awas nih bunda, nanti ayah kasih hukuman buat bunda." Arsyil mengacak-acak rambut Nisa yang masih mengelap badan Dio dengan handuk.


"Hmm paling hukumannya ringan. Ayo sayang pakai baju kamu dulu. Jangan mainan terus."ucap Nisa pada Dio yang langsung mengambil mainannya.


Annisa memakaikan baju Dio, dan setelah itu merapikan rambut Dio dengan sisir. Setelah selesai Dio langsung pergi meninggalkan kamarnya. Annisa masih duduk di tepi ranjang, sambil memasukan baju kotor Dio dan Shifa ke dalam keranjang pakaian kotor.


Arsyil memeluk Annisa dari belakang dan mencium pipi Nisa. Itu kebiasaan Arsyil pada Nisa jika anak-anaknya sedang bermain di luar kamar.


"Syil, kamu itu kebiasaan ya."ucap Nisa.


"Iya, dengan memelukmu, kekuatan dan semangatku jadi bertambah lagi." Arsyil membalikan tubuh istrinya dan merengkuhnya kembali.


"Nisa, terima kasih sudah menemani ku sampai detik ini. Aku sangat mencintaimu."ucap Arsyil sambil mengeratkan pelukannya pada Annisa.


"Iya, sayang. Aku tidak tau, jika aku tak bersamamu, Syil. Live You too." Annisa melepas pelukan Arsyil dan mencium bibir Arsyil dengan lembut. Arsyil membalas ciuman Annisa dan memperdalam ciumannya. Annisa yang merasa pasokan oksigen nya habis, dia menjeda sementara ciumannya dengan Arsyil.


"Nis, aku ingin."ucapnya.


"Kunci pintunya."ucap Nisa. Arsyil segera mengunci pintu kamarnya dan melakukannya dengan istri tercintanya.


Semua keluarga sudah berkumpul di meja makan untuk makan malam, tinggal Arsyil dan Nisa yang belum muncul.


"Tidak tau, Oma."ucap Dio.


"Paling di kamar,Bu. Mereka kalau di sini kan hobinya di kamar."ucap Rico. Semua sudah paham, kalau Arsyil dan Nisa memang seperti itu, mereka lebih suka berlama-lama di dalam kamarnya.


Arsyil dan Nisa keluar menuju ke meja makan. Rico mulai meledek anak bungsunya dan menantu kesayangannya. Memang Rico sangat menyayangi Annisa, lebih dari menyayangi Mira dan Vino.


"Gempur terus, jam segini rambutnya masih basah. Kapan keringnya, Nis. Kasihan istrimu kecapean, Syil."ucap Rico sambil menyenggol lengan Arsyil.


"Apaan sih, pah. Tuh, kasian Nisa kan pipinya jadi merah."ucap Arsyil.


"Syil, kamu tuh sama seperti papahmu, Om Bayu jadi ingat dulu, waktu Om Bayu akan menikah dengan Tante Iva, Arsyad masih kecil, di titipin sama Om Bayu dan Tante Iva, ehhh…dia malah enak-enakan sama ibumu. Kan ngeselin. Untung Arsyad anaknya pendiam, dan lengket sekali sama Tante dan Om."ucap Bayu sambil melirik Rico yang hampir tersedak saat makan.


"Udah jangan buka-buka aib orang lah, Bay."ucapnya.


"Hayo….kan ketahuan belangnya."sahut Arsyad.


"Yah, kan papah pernah muda seperti kalian ini. Seperti tidak merasakan saja."ucap Rico.


"Terus sekarang mau gitu lagi, pah?"sahut Arsyil


"Sudah tua papah mu ini, mending mainan sama cucu-cucu papah, ya kan Bu?"tanya Rico.


"Iya lah, masa iya mau seperti itu lagi. Giliran kalian saja sana, iya kan Va?"tanya Andini pada Iva.


"Iya lah, kita sudah tua, saatnya menikmati masa-masa indah bersama cucu ya, Ndin."ucap Iva.


"Sudah, kita makan dulu, katanya mau pada nonton? Shita punya film baru."ucap Shita.


"Film apa, kak?"tanya Nisa.


"Film Korea."ucapnya


"Jiaaahhh….udah tua nonton Drakor terus."tukas Arsyil.


"Biarin, memang mau film apa? Horor?"tanya Shita.


"Boleh tuh, kakak punya?"tanya Arsyil.


"Sudah, kalian jadi ribut masalah film. Boleh nonton kalau anak-anak sudah tidur."tukas Arsyad.


Seusai makan malam, mereka sibuk sendiri-sendiri, anak-anak juga berkumpul bersama dan bermain bersama. Andini dan Rico juga Iva dan Bayu menemani cucu-cucu mereka bermain.


Arsyad mengajak Almira keluar dari Villa, dia menuju teras Villa dan duduk di lantai sambil menikmati suasana malam di Villa.


"Kita duduk di gazebo sana, yuk."ajak Arsyad. Mira mengangguk dan Arsyad segera menggandeng tangan istrinya. Mereka duduk di gazebo di halaman Villa Andini. Mereka menatap ke arah langit memandang bintang yang bertaburan di langit. Almira menyandarkan kepalanya di bahu Arsyad


"Mas."panggil Almira dengan lirih.

__ADS_1


"Iya, ada apa?"tanya Arsyad.


"Mas, jika nanti aku tiada, apa kamu akan menikah lagi?"tanya Mira.


"Ehh….kok bilang seperti itu? Jangan bilang seperti itu, sayang."ucap Arsyad sambil mengangkat wajah Istrinya.


"Kenapa? Kematian itu hal yang pasti, mas."ucapnya.


"Tapi tidak begitu juga dong, sayang. Jangan bicara seperti itu lagi "ucapnya


"Sudah jawab dulu."


"Gak mau, aku gak mau pokoknya."tukas Arsyad


"Gak mau apa?"tanya Almira.


"Aku tidak akan menikah lagi, walaupun kamu lebih dulu di panggil Tuhan."tukas Arsyad.


"Jangan seperti itu, walaupun kamu menikah lagi, kamu akan tetap berkumpul denganku di surga nanti, dan dengan istri setelah aku juga."tutur Mira.


"Kamu bilang apa sih, sayang. Sudahlah jangan bicara seperti itu lagi, please…"ucap Arsyad.


"Iya…iya… aku tidak bicara lagi. Sudah dong jangan cemberut."ucap Mira sambil mencium pipi suaminya.


Mereka berdua menikmati malam di gazebo sambil bercerita tentang hari-hari yang ia lalui bersama selama ini.


"Kamu tau, sayang. Aku melihat Dio seperti Arsyil waktu kecil. Dia sangat suka dengan dunianya sendiri. Sama seperti ayahnya."ucap Arsyad.


"Iya kah?"tanya Mira.


"Iya, dulu waktu Arsyil kecil, jika ditanya mau jadi apa, pasti dia jawab mau jadi pembalap, sama seperti Dio juga seperti itu. Dan lihat saja, wajahnya sama persis dengan Arsyil."ucap Arsyad.


"Kamu senang ya, mas. Punya banyak saudara, Sedangkan aku, aku anak satu-satunya dan Abah juga ummi juga anak satu-satunya. Hidupku sepi sekali, sama seperti Annisa."tutur Mira.


"Kamu bersyukur masih ada ummi dan Abah, kalau Nisa, dia hanya punya Arsyil dan kami."ucap Arsyad.


"Kamu pernah bertengkar dengan adik-adik mu?"tanya Mira.


"Jarang sih, tapi kalau jail sama Shita dan Arsyil pernah."ucapnya.


"Kakak beradik memang begitu jail dan menyebalkan. Namun, itulah cara mereka untuk menunjukkan rasa kasih sayangnya."imbuh Arsyad.


"Semoga Najwa dan Rafi sama seperti kamu dan adik-adik mu, selalu akur dan saling menyayangi."ucap Mira.


"Lalu, saat dulu kamu mencintai orang yang sama dengan Arsyil?"tanya Mira dengan mengedipkan matanya manja dan mengurai senyuman yang menggoda.


"Kamu tanya apa, sih? Kalau masalah itu jangan ditanya."ucapnya.


"Kenapa?"tanya Mira


"Itu semua adalah rasa yang salah, mana ku tau kalau Nisa itu kekasih Arsyil. Aku hanya sebatas kagum saja dengannya, dia mahasiswa yang lain dari mahasiswa lainnya, dia sederhana, yah…seperti itu."ucap Arsyad sambil menatap wajah Almira yang sudah berubah menjadi datar.


"Tuh…kan tanya sendiri tidak enak sendiri hatinya. Makanya jangan tanya seperti itu."imbuh Arsyad.


"Ih…siapa yang tidak enak hati, sih. Aku kan sedang mendengarkan suamiku berbicara."ucap Mira.


"Hmm…tapi wajahmu berubah datar seperti itu." Arsyad mencium kening Mira dan mengusap lembut pipinya.


"Terus, kamu sama Lukman dulu bagaimana?"tanya Arsyad.


"Kamu kok tanya itu?"


"Gantian dong, kan kamu juga tanya aku seperti itu."ucap Arsyad.


"Aku dan Lukman, dulu aku sama Lukman hanya dijodohkan saja oleh pakde, tapi aku yang menolaknya, sebelum dia melanjutkan untuk melamar aku."jelas Mira


"Kenapa menolak? Lukman bukannya pria idaman setiap wanita?"tanya Arsyad.


"Aku menolak karena laki-laki yang sekarang berada di sampingku, menemaniku hingga saat ini. Aku tau, aku bukan yang pertama di hati kamu, tapi aku bahagia, bisa berada di hatimu hingga saat ini."jelas Mira.


"Benar karena aku?"tanya Arsyad.


"Harus berapa kali aku bilang, mas. Iya karena kamu, karena Arsyad, suamiku."ucap Mira sambil mengeratkan pelukannya pada Arsyad.


Arsyad juga memeluk istrinya sangat erat, demi apapun wanita yang berada di sampingnya saat ini, adalah wanita yang benar-benar ia cintai. Wanita yang benar-benar merubah hidupnya, merubah rasa cinta untuk Annisa hingga bisa benar-benar mencintai Almira.


"Ayo masuk, sudah malam, kasihan Najwa dan Rafi, dia pasti sudah mengantuk."ajak Arsyad.


Mereka masuk kembali ke dalam Villa, dan melihat anak perempuannya masih mendongeng di depan semua yang ada di dalam Villa, ternyata hanya Arsyad dan Mira yang tidak menyaksikan Najwa sedang membawakan sebuah dongeng.


Najwa selesai membawakan sebuah dongeng "kupu-kupu dan kumbang" dongeng Favoritnya yang dia karang sendiri.


"Yeay…anak Abah, sudah jago sekali rupanya."ucap Arsyad sambil bertepuk tangan, dan di ikuti dengan yang lainnya.


Almira dan Arsyad mendekati putrinya, mereka memeluk dan mencium pipi Najwa.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


♥️ happy reading ♥️


__ADS_2