THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 81 "Pergi Dari Rumah"


__ADS_3

Sesak sekali rasanya dada Shifa saat ini. Harus kembali melihta bundanya karena terpisah dari orang yang sangat ia cintai. Shifa ingin sekali menumpahkan kesedihan dalam hatinya. Tapi, dia tidak mau melihat bundanya sedih karena Shifa ikut sedih. Shifa juga tidak menyangka, opa yang ia sayangi, Tante yang ia kagumi, ternyata menggoreskan luka pada hati bundanya. Orang yang sangat Shifa sayangi.


"Aku tidak membenci opa maupun tante, tapi aku kecewa pada kalian, kalian akan menyesal, jika kalian tau bunda sekarang sedang hamil. Shifa kecewa dengan kalian,"gumam Shifa


"Dan Kak Najwa, kakak seharusnya tidak ikut terhasut dengan mereka, kakak boleh marah dengan bunda, tapi tidak seperti itu caranya. Walau bagaimana pun, bunda juga ibu sambung kakak, yang harus kakak hormati juga." Shifa sedikit geram dengan Najwa yang melarang dia memanggil Arsyad dengan sebutan Abah.


Tak terasa Annisa menghabiskan satu buah apel yang Shifa berikan tadi. Annisa mengatur hatinya lagi, dia beranjak dari tempat tidurnya, setelah ia merasa sedikit kuat untuk menata bajunya ke dalam koper. Dia menangis saat membuka lemari pakaian dan menampakan baju-baju Arsyad tergantung di sana. Seketika ingatannya tentang suaminya muncul kembali, dia mengambil baju milik Arsyad dan memeluknya hingga dia menangis sesegukan dan duduk di bawah. Tak peduli ada Kevin, Dio, dan Shifa di depannya.


"Bunda, bunda jangan seperti ini, katanya bunda kuat, kita hadapi ini bersama, bunda. Bunda mau bawa baju-baju abah?" Dio memeluk Annisa dan menenangkan Annisa dalam pelukannya.


"Maaf sayang, iya, bunda kuat. Maafkan bunda. Iya ibu akan membawa pakaian favorit Abah,"ucap Annisa.


Annisa kembali menata baju-bajunya sambil menangis tiada henti hingga sesegukan. Dio dan Shifa membantu bundanya untuk mengemasi baju-bajunya.


"Bisa tinggalkan bunda sebentar, bunda ingin menuliskan surat untuk Abah," ucap Annisa.


"Iya, bunda," jawab Dio dan Shifa.


Mereka keluar membawakan koper milik Annisa, dan Kevin segera memasukan koper milik mereka ke dalam mobil. Annisa menuliskan surat untuk Arsyad. Dan jika nanti dia terbangun dari komanya, dia bisa membaca surat dari Annisa. Namun, Annisa bingung harus menitipkan surat itu pada siapa, tidak mungkin Kevin. Tapi, Annisa tak peduli, dia tetap menuliskan surat untuk Arsyad.


Dio dan Shifa menunggu bundanya keluar dari kamar di ruanga tengah. Terlihat Najwa dan Raffi pulang bersama Rayhan dan Vino. Najwa masuk ke dalam rumah bersama Raffi. Dia melihat Shifa dan Dio yang sedang duduk di ruang tengah dengan tatapan sinis.


"Opa bilang kalian harus pergi dari sini!" seru Najwa.


"Iya kita akan pergi dari sini, tanpa Kak Najwa suruh," ucap Dio dengan santai.


"Lalu kenapa masih di sini?"tanya Najwa dengan nada tinggi.


"Kak, kakak tega ya, sama bunda. Kakak yang mati-matian menyuruh bunda menikah dengan Abah, tapi kakak seperti itu. Kakak egois!" tukas Shifa.

__ADS_1


"Itu kesalahan dalam hidupku, andai saja aku tak memaksa Abah menikahi bunda kalian, Abah tidak seperti ini, kalian puas melihat Abah seperti itu,hah?" kelekar Najwa dengan meneteskan air mata.


"Najwa, kamu jangan berkata seperti itu!" seru Rayhan.


"Om, mereka membuat abah sakit," ucap Najwa.


"Najwa sayang, kamu jangan seperti itu, tidak baik, Dio dan Shifa masih saudara kamu, nak," tutur Vino.


"Mereka jahat, membuat Abah seperti ini, harusnya bunda mereka yang berada di sana, bukan Abah!" seru Najwa.


Mereka terus berdebat. Iya, Najwa dan Shifa terus berdebat masalah orang tua mereka, meski Dio dan Raffi melerainya. Bahkan Vino dan Rayhan melerai Najwa dan Shifa. Mereka tetap saja beradu mulut.


Setelah selesai menuliskan surat untuk Arsyad, Annisa keluar dari kamarnya, dia mendengar keributan di luar. Annisa mendekatinya, dia melihat Najwa yang sedang mengungkapkan kekecewaannya pada Annisa.


"Najwa..! Ini semua kecelakaan, nak. Iya seharusnya bunda yang berada di rumah sakit bukan Abah, bunda mohon, jangan hitamkan hatimu, nak. Kamu harus mengerti keadaan ini," ungkap Annisa pada Najwa.


Raffi menatap Annisa yang menangis dan memeluk kedua anaknya. Annisa mengisyaratkan pada kedua anaknya untuk segera pergi meninggalkan rumah sekarang. Annisa tidak berani menyapa Raffi karena dia tau, Raffi juga kecewa pada dirinya. Dia tidak mau ada keributan, apalagui keributan dengan orang yang Annisa sayangi. Annisa melangkahkan kakinya untuk pergi dari rumah Arsyad dengan merangkul kedua anaknya. Mereka melewati Raffi yang dari tadi hanya terdiam. Wajah polos Raffi yang sangat mirip dengan Arsyad, menunduk ke bawah saat Annisa melihatnya.


"Bunda……" panggil Raffi sambil menangis terisak dan suara Raffi terdengar oleh Annisa, Shifa, dan Dio.


Annisa menoleh ke arah Raffi yang sudah menghadap ke arah Annisa. Annisa berjalan memeluk Raffi yang terus menangis. Annisa memeluk Raffi dengan erat dan Raffi membalas pelukan hangat Annisa. Rayhan dan Vino hanya bisa diam dan menyeka air matanya yang keluar dari sudut matanya. Vino dan Rayhan tidak tau harus bagaiamana. Karena mereka tau Rico seperti apa orangnya.


"Bunda….maafkan Kak Najwa, Opa, dan Tante Shita. Maafkan mereka, maafkan Raffi juga, tidak bisa menahan bunda tetap di sini. Dio, Shifa, maafkan kamu semua," ucap Raffi sambil menangis sesegukan.


"Tidak ada yang salah dalam masalah ini, sayang. Jangan menangis lagi, ya. Titip Abah, jaga Abah dan kakakmu, bunda pamit ya sayang,"ucap Annisa, dia menciumi wajah Raffi


"Bunda, apa Raffi boleh bertemu bunda, Dio, dan Shifa kalau Raffi kangen,"ucap Raffi.


"Boleh, sayang, kamu boleh menemui kami," ucap Annisa.

__ADS_1


"Oh, ya, bunda titip surat ini, berikan pada Abah, saat Abah sudah bangun jangan sampai yang lain tau, ini rahasia. Raffi mengerti, kan?"


"Iya, bunda. Raffi mengerti. Raffi sayang bunda." Raffi memeluk Annisa dengan erat lagi.


"Bunda juga sayang Raffi, sudah bunda pergi dulu ya, sayang. Jaga dirimu baik-baik, dan jaga kakakmu,"ucap Annisa.


"Iya bunda,"


"Kak Raffi, kami pamit," ucap Dio dan Shifa. Mereka juga saling memeluk sebelum Dio dan Shifa pergi.


Raffi hanya memandangi mereka yang pergi dari rumahnya. Raffi tidak tau harus bagaimana. Dia mengerti kalau semau ini adalah murni kecelakaan. Raffi tidak menyangka semua menyalahkan wanita sebaik Annisa yang sekarang menjadi ibu sambung baginya.


"Maafkan Raffi bunda, Raffi sayang bunda," gumam Raffi.


Semua yang melihat hanya bisa meneteskan air mata, dan rumah ini menjadi sepi lagi. Tak ada canda dan tawa dalam rumah Arsyad.


"Aku tak menyangka Vin, Om Rico seperti itu," ucap Rayhan dengan menyeka air mata yang keluar di sudut matanya.


"Aku juga. Sifat Shita tidak berubah, dia selalu menggunakan emosinya saat menyimpulkan sesuatau. Aku bingung Ray, harus bagaimana. Kasihan Annisa, apalagi Dio dan Shifa, dia pasti membatin dengan sikap papah dan Shita," ucap Vino.


"Bujuklah Shita, agar bisa membuka hatinya, aku dan papah juga akan mencoba membujuk Om Rico," tutur Rayhan.


"Iya, itu pasti, tapi kita harus fokus dengan keadaan Arsyad dulu, Ray," ucap Vino


"Iya, Vin. Aku tak bisa membayangkan, bagaimana nanti kalau Arsyad bangun Annisa tidak di sisinya. Dan aku yakin, yang pertama kali ingin di lihatnya adalah Annisa. Ya, walaupun seperti yang di katakan dokter tadi, kalau Arsyad nanti kemungkinan akan sulit mengingat. Tapi, aku harap diagnosa dokter meleset, dan Arsyad baik-baik saja," jelas Rayhan.


"Iya, Ray. Kita berdoa, semoga saja semuanya baik-baik saja," ucap Vino.


Vino dan Rayhan menyuruh Raffi untuk mengganti bajunya dan bersiap makan malam. Vino menemani Raffi dan Najwa malam ini, karenan Shita daj Papah mertuanya harus menemani Arsyad di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2