THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 54 "Dinner Romantis"


__ADS_3

Mereka bersiap untuk makan malam bersama. Arsyad sudah selesai memakai kemeja dengan warna yang senada dengan baju Annisa. Arsyad menggunankan jeans, dia terlihat tampan dan lebih muda, tidak seperti biasanya. Arsyad mendekati istrinya yang sedang menata jilbabnya dengan tuspin. Annisa terlihat anggun dengan gamis yang Arsyad pilihkan.


Annisa melihat suaminya yang memandangnya dari kejauhan lewat cermin di depannya. Annisa terpukau dengan ketampanan suaminya itu yang ia baru sadari malam ini.


"Tampan sekali dia, wajahnya begitu fresh, dan terlihat sangat muda sekali, inikah yang tadi di katakan dia, kalau hifuo itu banyak warna dan banyak rasa? Mungkin Kak Arsyad sedang merasakan muda kembali saat bersamaku,"gumam Annisa dalam hati.


Arsyad mendekati istrinya yang sepertinya sudah selesai berdandan. Dia memeluk Annisa dari bekalang dan mencium pipinya. Arsyad mencium aroma khas parfum Annisa yang manis sekali. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada Annisa.


"Istriku canti sekali,"ucap nya sambil membalikan tubuh Annisa menghadapnya.


"Kakak juga tampan sekali." Annisa mencium kilas bibir suaminya.


Arsyad ingin membalasnyan namun Annisa menjauhkan wajahnya dari wajah Arsyad.


"Kenapa menjauh? Gak mau?"tanya Arsyad.


"Bukan seperti itu, kak. Katanya mau makan malam? Dan sudah di tunggu di luar kan dengan pelayan. Ini sudah satu jam, kakak,"ucap Annisa.


"Masih kurang 10 menit, please. Kakak ingin mencium kamu sebentar saja,"pinta Arsyad dengan manja seperti anak kecil yang ingin sesuatu tapi tidak di turuti ibunya.


"Baiklah." Annisa mengiyakan dan tanpa aba-aba Arsyad langsung melahap habis bibir Annisa yang manis itu.


Mereka memperdalam ciumannya hingga terdengar nyaring kecapan mereka di dalam kamar. Annisa memberi jeda ciumannya karena merasakan pasokan oksigennya mulai berkurang. Annisa menghirup oksigen sebentar dan melanjutkan ciumannya dengan Arsyad. Annisa sunggu pandai mengimbangi Arsyad yang semakin liar dalam berciuman. Tangan Arsyad mulai nakal dan menyentuh bagian sensitif di tubuh Annisa.


"Hmmpp…kakak….jangan seperti ini, udah 10 menit, ayo keluar." Annisa menghentikan tangan Arsyad yang mulai menyusup ke dalam baju Annisa dan sudah sedikit menyentuh di area dada Annisa.


"Aahhh…iya, ayo," ajak Arsyad gugup karena dia masih merasakan detak jantungnya yang masih berantakan karena hasratnya kembali naik.


"Kak, celanamu,"ucap Annisa sambil menunjukan ke arah celana Arsyad.


"Hmmm…ini nih, sekarang gak bisa menyentuh kamu sembarangan, Annisa. Menyentuh kamu sebentar saja sudah ketat seperti ini,huh,"ucapnya sambil kembali menata napas dan detak jantungnya agar beraturan kembali.


"Dulu saja, di sentuh gak bisa bangun, giliran Sekaran sentuh dikit langsung seperti itu,"ucapnya


"Ini semua karena kamu, Annisa. Kamu yang membuat ini berfungsi lagi sebagaimana mestinya. Ayo ah keluar, lama-lama gak jadi makan malam, yang ada makan kamu lagi, Nisa,"ucap Arsyad sambil menggandeng Annisa keluar dari kamarnya.


"Ya sudah, ayo keluar,"ajak Arsyad.


Mereka berjalan beriringan menuju halaman samping Vila yang sudah di siapkan Arsyad untuk makan malam romantis dengan Annisa. Annisa begitu terkejut, melihat suasana romantis di tengah-tengah taman. Terlihat meja dengan dua kursi itu di hiasi lilin dan mawar putih. Serta sebuket bunga mawar yang segar di meja tersebut.


"Kak, kita makan malam di situ?"tanya Annisa sambil menunjuk ke arah meja di tengah halaman samping vila.


"Iya, mau kan?"tanya Arsyad.


"Mau, cantik sekali dekorasinya,"ucap Annisa.


"Kamu suka?"tanya Arsyad.


"Suka sekali, terima kasih, kak,"jawab Annisa.


"Iya, ayo ke sana,"ajak Arsyad.


Arsyad menggandeng tangan Annisa, mereka berjalan melewati karpet merah menuju ke meja tersebut. Annisa bahagia sekali, dia hari ini benar-benar di perlakukan Arsyad bak Puteri raja.


"Duduklah, sayang. Ini untukmu." Arsyad memberikan sebuket bunga mawar merah segar untuk Annisa.


"Terima kasih, sayang." Annisa mencium mawar pemberian dari suaminya.


Mereka menikmati makan malam romantis. Seusai makan malam, Arsyad memberikan kejutan lagi untuk Annisa. Dia mengambil kotak kecil di saku celananya. Dia membuka kotak tersebut dan mengambil isinya. Kotak itu berisi cincin betahtakan berlian, yang baru saja ia pesan tadi. Beruntung toko perhiasan langganannya buka hingga malam. Dan Arsyad memilihkan cincin limited edition untuk istrinya.


"Kakak, itu apa?"tanya Annisa yang melihat suaminya mengambil cincin dari kotak kecil itu.


"Sini, kemarikan jari manismu," pinta Arsyad.


Annisa menjulurkan tangannya, dan Arsyad menyematkan cincin itu ke jari manis Annisa sebelah kanan, diatas cincin kawin mereka. Iya, jari manis sebelah kiri Annisa masih ada cincin kawin pemberian Arsyil. Annisa merasa tidak enak dengan Arsyad karena masih memakai cincin kawin dari mendiang suaminya.

__ADS_1


"Sebentar aku lepas cincin ini, kak,"ucap Annisa.


"Jangan, kakak tumpuk saja di sini dengan cincin kawin kita kemarin,"ucap Aryad.


"Kakak, aku gak apa-apa melepas cinicin ini, memang seharusnya ini aku lepas dan aku simpan. Berikan kotak itu,"pinta Annisa.


Annisa melepaskan cincin kawin dari Arsyil dan meletakan cincinnya di kotak cincin tadi.


"Sekarang sematkan cincin tadi di sini, kak," pinta Annisa.


"Baiklah." Arsyad menyematkan cincin yang ia beli tadi di jari manis kiri Annisa.


"Cantik sekali, kak. Terima kasih, kakak,"ucap Annisa.


"Iya, cantik, seperti kamu, kamu suka?"tanya Arsyad.


"Suka sekali,"ucap Annisa dengan senyum bahagia mengembang di wajahnya.


Seorang pelayan mendekati Arsyad dan Annisa. Mereka hanya memberitahu Arsyad kalau semuanya sudah siap. Entah apa yang sudah di siapkan Arsyad lagi untuk Annisa malam ini.


"Tuan, semuanya sudah siap," ucap pelayan itu.


"Iya, terima kasih, "ucap Arsyad.


Arsyad mengajak Annisa kembali ke kamarnya, entah apa lagi yang sudah di siapkan Arsyad untuk istrinya.


"Ke kamar yuk, Nis, di sini semakin dingin," ajak Arsyad.


"Iya, kak,"ucap Annisa.


"Nis, masih sakit pangkal pahamu?"tanya Arsyad.


"Sudah mendingan, kak. Apa kakak mau lagi?"tanya Annisa.


"Emm…boleh kalau kamu mau, dan benar-benar tidak sakit,"ucap Arsyad.


"Dasar anak nakal." Arsyad berkata sambil mengejar istrinya.


Annisa sudah sampai di kamar, dia membuka kamarnya. Annisa begitu terkejut melihat kamarnya di sulap menjadi suasana romantis sekali. Dengan napas yang masih terengah-engah karena berlari, dia berhenti sejenak mengatur napasnya dan melihat pemandangan romantis di kamarnya. Arsyad masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya juga menguncinya.


"Kamu suka, sayang?"tanya Arsyad sambil memeluk Annisa dari belakang dengan napas yang terengah-engah.


"Kakak, ini kakak yang merencanakan?"tanya Annisa.


"Iya, sayang, duh….kamu bikin kakak seperti ini, jangan lari-lari lagi, ya,"ucap Arsyad dengan napas yang tak beraturan.


"Iya kakak, aku ambil air wudhu dulu, ya,"ucap Annisa.


Dia tau suaminya melakukan ini semua karena suaminya menginginkannya lagi, begitupun dirinya. Annisa tidka tau, kenapa sekarang semakin sensitif sekali ketika di sentuh Arsyad. Darahnya mengalir sangat cepat, degub jantungnya tak beraturan, dan gairahnya semakin memanas.


"Dia bisa membuatku berkali-kali melakukannya tanpa lelah, dan aku menikmati itu, kenapa aku sekarang sensitif seperti ini? Baru tersentuh sedikit saja, aku langsung ingin melakukannya, dan itu membuatku semakin memanas,"gumam Annisa sambil mengambil baju tidur di lemari dan bathrobenya.


Annisa masuk ke kamar mandi, dia membasahi tubuhnya untuk menghilangkan keringat dan mengambil air wudhu. Annisa mengganti bajunya dengan baju tidur yang sexy dan sedikit transparant. Annisa memoles wajahnya dengan makeup natural. Dia keluar dari kamar mandi, dan melihat suaminya yang sudah memakai kaos yang agak ketat dan memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sexy.


"Sudah,?" tanya Arsyad.


"Sudah, sana kakak ambil air wudhu.


Arsyad mengambil air wudhu di kamar mandi, pikiran nakal mulai muncul setelah dia selesai mengambil air wudhu. Annisa menyalakan lilin yang ada di bawah tempat tidur itu satu persatu. Hingga membentuk sebuah simbol love. Annisa tersenyum bahagia melihatnya, dia tak menyangka suaminya yang angkuh dan pendiam akan seromantis ini. Annisa kembali ke tempat tidur yang di penuhi kelopak bunga mawar merah dan seprei putih yang mungkin baru saja di ganti pelayan, karena baunya masih sangat harum sekali.


"Ternyata benar apa yang di tuliskan Kak Mira di bukunya. Seseorang yang cuek memiliki sisi romantis tersendiri, dan saat jiwa romantis itu muncul, maka akan mengalahkan segalanya. Iya, inilah Kak Arsyad, suamiku yang angkuh, sombong, pendiam, dan cuek. Dan ternyata,dia sangat romantis sekali,"gumam Annisa sambil mencium setangkai bunga mawar merah yang ada di tempat tidurnya.


Arsyad keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kaos ketatnya dan celana pendeknya. Dia mendekati Annisa yang sedang duduk di tepi ranjang. Annisa bangun dari duduknya, dia menyambut suaminya dengan senyuman manisnya. Arsyad merangkul pinggang Annisa. Dia mulai mencium bibir Annisa dan membuka tali bathrobe Annisa hinnga Bathrobenha terjatuh ke lantai.


Terlihat tubuh Annisa yang sexy di balut dengan gaun tidur mini yang transparan dan membuat gairah Arsyad semakin meninggi. Arsyad mencium bibir Annisa semakin dalam, dan ciuman itu merambat hingga ke leher jenjang Annisa. Arsyad meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di leher Annisa. Hingga dia menurunkan kepalanya dan menemukan sesuatu yang sangat ia sukai. Arsyad bermain di sana, menikamati setiap inci apa yang ia mainkan. Leguhan Annisa muncul beriringan dengan kecapan bibir Arsyad.

__ADS_1


Mereka menanggalkan pakaiannya satu per satu, dan membuang ke segala arah. Arsyad menandu tubuh Annisa ke tempat tidur, dia mulai bermain dengan apa yang ia suka hingga Annisa berkali-kali melepaskan hasratnya. Jari jemari Arsyad berhasil melepaskan hasrat Annisa berkali-kali. Kini Arsyad mulai menindih tubuh Annisa, dengan sigap Annisa menerima dan menikmati apa yang suaminya lakukan.


"Kak….Ars….."laguh Annisa dengan memanggil Arsyad.


"Iya, sayang. Keluarkan jika sudah tak tahan,"ucap Arsyad lirih di telinga Annisa.


Annisa berkali-kali mencapai puncak, hingga Arsyad menyusulnya dan menggerakan dengan cepat sesuai keinginan Annisa.


"Annn…niiss…" Annisa menggigit bibir bawahnya saat mendapat serangan Arsyad yang begitu dahsyatnya.


Mereka melakukan berulang kali, tapi Annisa masih saja menggoda suaminya yang membuat Arsyad terbangun lagi karena sentuhan nakal istrinya.


"Kakak…."ucap Annisa manja dengan menenggelamkan wajahnya di dada Arsyad seusai bermain untuk ke tiga kalinya.


Annisa bermanja di dada suaminya hingga Arsyad merasakan darahnya memanas lagi. Dia membawa Annisa di atas tubuhnya. Annisa tau apa yang harus di lakukan Annisa di atas suaminya. Dia memanjakan suaminya hingga Arsyad menikmati setiap gerakan Annisa di atasnya.


"Kakak…."panggil Annisa manja.


"Iya, sayang, kamu nyaman dengan seperti ini?"tanya Arsyad dengan napas terengah-engah.


"Iya, nyaman sekali, apa kakak nyaman?"tanya Annisa.


"Iya, teruskan, sayang. Kakak mencintaimu, Annisa,"ucap Arsyad pada Annisa.


"Annisa juga mencintai , kakak,"balas Annisa.


Annisa semakin bersemangat berada di pangkuan Arsyad. Deru napas mereka menyatu di beningnya malam dan dinginnya malam. Suara deritan tempat tidur semakin keras, saat Arsyad bergantian memegang kendali dari Annisa.


"Annisa……."ucap Arsyad dengan menghentakkan gerakannya.


"Ka….kak….hmmm.." Annisa kembali melepaskan hasratany bersamaan dengan Arsyad.


Entah apa yang merasuki mereka hingga mereka mencoba berbagai variasi dalam bercinta. Dan mereka merasa nyaman saat melakukannya.


Hari sudah semakin larut, bahkan jam dinding sudah menunjukan waktu pukul dua dini hari. Entah berapa kali mereka memadu kasih. Mereka tak henti-hentinya menyalurkan hasrat mereka.


Annisa dan Arsyad memakai piyamanya. Mereka berdua sudah kelelahan sekali. Annisa tidur di samping Arsyad dan memeluknya. Annisa masih merasakan sakit dan perih pada miliknya. Namun rasa itu tidak sesakit tadi siang.


"Apa kamu merasakan sakit dan perih lagi, sayang?"tanya Arsyad.


"Tidak terlalu sakit, Mungkin sudah terbiasa, jadi aku tak sakit,"jawab Annisa.


"Ya sudah tidurlah, sini kakak peluk." Arsyad memeluk Annisa denahn erat dan mencium kepala Annisa. Mereka tidur dengan pulas setelah berjam-jam bermain di tempat tidur.


.


.


.


.


.


.


.


♥️happy reading♥️


mohon maaf, author sibuk sekali kemarin, dan ini baru sempat up. mohon pengertiannya ya sayangku. masih sedikit sibuk, karena mungkin masih suasana lebaran yang terlockdown ini.😁


Jangan lupa Like nya ya...budayakan Like sebelum/sesudah membaca.


Jangan lupa jug Votenya. sekali lagi saya sebagai Author mohon maaf, karena baru sempat up. mungkin kalian mengira aku ini PHP in kalian. padahal benar lho, kalau author sibuk syekali 😁😁

__ADS_1


ehh...malah curhat. ya sudah selamat membaca. Author up 2 bab. mohon konsisten untuk like dan votenya ya...😘😘😘


__ADS_2