THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 131


__ADS_3

Annisa dan Arsyil pergi keluar mengelilingi komplek, mereka lama sekali tidak jalan bersama memakai sepeda motor setelah mempunyai Shifa dan Dio. Apalagi setelah Annisa keguguran dua kali, Arsyil sangat hati-hati sekali menjaga Annisa. Arsyil memegang tangan Annisa yang melingkar di perutnya dan mencium tangan Nisa seperti anak muda yang sedang menikmati masa pacaran.


"Ih…kayak ABG aja kamu, Syil."ucap Nisa sambil memeluk erat suaminya.


"Sekali-kali Nis kayak gini, coba kapan kita terakhir berboncengan seperti ini? Sudah lama kan tidak seperti ini?"tanya Arsyil.


"Iya sih, terus ini mau ke mana mas ojol yang ganteng?"tanya Annisa sambil menggoda suaminya.


"Idih…manggilnya ojol lagi."tukas Arsyil.


"Kita ke supermarket ya, beli jajan aja."imbuh Arsyil.


"Oke."ucap Nisa, dia kembali memeluk erat Arsyil dari belakang.


♥️Arsyil♥️


Dia wanitaku, wanita yang aku cintai dan tak kan pernah terganti. Annisa, ibu dari anak-anakku, seseorang yang sangat berarti untukku, aku sangat bahagia memilikimu.


Aku tidak tau jika saat itu aku mengalah memberikan Annisa untuk kakak ku yang sangat aku cintai juga. Mungkin aku tidak akan mencintai wanita lagi, dan menunggu Annisa menjadi seorang janda. Iya, aku dulu pernah berfikir seperti itu, jika aku tak bisa memiliki Annisa. Diantara wanita yang pernah singgah di hati aku, hanya Annisa yang spesial di hati aku.


Bukan karena fisik atau kecantikannya, aku mencintai Annisa karena dia sosok wanita yang mandiri walaupun dari keluarga yang berada. Kalau cantik, mungkin masih banyak wanita yang lebih cantik dari Annisa yang dulu jadi pacarku. Untung saja Kak Arsyad dulu mengalah denganku, kalau tidak aku tidak tau sekarang akan seperti apa. Hubungan aku dengan kakak ku juga mungkin tak sedekat ini lagi. Kak Arsyad juga selalu care dengan kami, ya meskipun dia membatasi mengobrol dengan Annisa, itu semua karena dia menghargai aku dan istrinya. Apalagi Kak Mira sosok wanita yang sangat pencemburu sekali.


Kami sudah sampai di supermarket yang kami tuju, aku langsung memarkirkan sepeda motor di depan supermarket dan mengajak Annisa masuk ke dalam. Annisa berjalan di depanku dan mata dia langsung mengarah ke freezer. Iya dia suka sekali dengan es krim. Dia langsung mengambil es krim banyak sekali.


"Untuk kita berdua saja, jangan beli banyak-banyak."aku menhentikandia mengambil es krim, karena aku tau, dia pasti membelikan semua yang ada di rumah. Dan, kakak iparku, iya Kak Mira, dia sangat trauma dengan Es Krim.


"Kenapa untuk kita saja? Aku ingin beli untuk semua yang di rumah papah."ucapnya sedikit kecewa.


"Ambil dua saja untuk kita, lalu kita makan di depan, tuh kan ada kursi di depan, nanti aku ceritakan."ucapku.


Annisa menuruti aku, tapi dia masih agak kecewa karena aku melarang dia membeli es krim, dan anak kami juga suka sekali makan es krim. Akhirnya Annisa mengambil cemilan banyak sekali untuk di bawa pulang. Kami sudah selesai belanja, aku mengajak Annisa duduk sebentar di depan supermarket sambil menikmati es krim berdua.


"Kenapa kamu melarang ku membeli es krim, Syil?"tanya Nisa yang penasaran kenapa aku melarangnya.


"Emmm…sebenarnya aku tidak mau cerita masalah ini, karena ini terlalu privasi sekali menurutku, tapi karena kamu istriku yang sangat aku cintai, dan aku tak mau membuat seseorang kembali mengingat masa lalu yang sungguh menyayat hatinya, aku akan menceritakannya pada mu, tapi janji, jangan bilang kepada siapapun."ucap ku pada Nisa.


"Iya, sayang. Mau cerita saja lama sekali pembukaannya."tukas Nisa.


"Biar enak, sayang. Jangan langsung ke intinya, kan kamu juga suka yang seperti itu, kalau langsung ke intinya nanti manyun aja mulut kamu."ledek ku pada Nisa.


"Kamu itu tambah ngawur aja bicaranya, Syil. Cepat cerita."ucap Nisa yang sudah tak sabar menunggu aku cerita.


"Gini, Kak Mira, dia trauma jika melihat es krim, jadi aku melarang kamu membelinya."ucapku pada Nisa.

__ADS_1


"Kak Mira? Trauma gimana? Dan yang menyebabkan trauma seperti itu apa, Syil?"tanya Nisa semakin penasaran.


Akhirnya aku menceritakan semua apa yang membuat Kak Mira bisa trauma dengan Es krim. Annisa meneteskan air matanya saat aku menceritakan itu.


"Ya Allah, kasihan sekali Kak Mira, pantas kemarin saat Najwa hilang dia bilang takut seperti dirinya."ucap Nisa sambil menyeka air matanya.


"Iya, aku juga tak menyangka wanita sebaik dia mempunyai masa lalu yang menyayat hati. Dan semenjak itu, Kak Arsyad yang sangat menyukai es krim sama seperti kamu ini, dia sudah tidak lagi menyukainya, karena kalau makan es krim dia langsung ingat istrinya yang takut dengan es krim, jadi dia tidak jadi makan es krim."jelas ku pada Nisa


"Kak Arsyad suka Es Krim?"tanya Nisa


"Iya, dia selalu Nyetok Es krim di freezer belakang, sekarang sudah tidak lagi. Semenjak Kak Mira seperti itu dan di marahi ibu karena dia tetap ngeyel menyimpan es krim yang ibu beli, karena ibu tak tau saat itu Kak Mira memilki trauma seperti itu. Dan Kak Shita mengambilnya lalu memakan es krim itu di depan Kak Mira lalu menawarinya, padahal ibu sudah menyuruh dia membuang, tapi malah menyimpan di freezer belakang."ucap ku.


Annisa terdiam dan mata indahnya menatap ke sembarang arah, dia seperti memikirkan apa yang aku katakan tadi


"Sudah habis es krim nya?"tanyaku yang mengagetkan lamunan Nisa.


"Jangan melamun, siang-siang melamun saja kamu, Nis."ucapku sambil mencubit lembut pipi Nisa.


"Aku gak melamun, aku kasihan saja dengan Kak Mira. Untung aku tak membeli Es Krim, coba kalau membeli, aku pasti akan menyesal."jelas Nisa.


"Ya sudah, jangan di pikirkan lagi, sudah habis kan? Ayo pulang, nanti kita di cariin Dio sama Shifa."aku mengajak Annisa untuk pulang, karena kita sudah terlalu lama keluar dari rumah.


"Iya, ayo pulang."ajak Nisa dengan menenteng dua kantong plastik berisi cemilan untuk anak-anak dan semuanya.


Aku menaruh belanjaan Annisa di depan, karena pakai sepeda motor Matic jadi lebih mudah menaruh barang di depan, dan Annisa bisa memeluk aku lagi. Bukan modus, tapi memang aku tak mau menyusahkan dia membawa dua kantong plastik yang besar.


Aku tak menyangka Kak Mira memiliki masa lalu seperti itu, getir sekali rasanya hatiku mendengar Arsyil menceritakan semua tentang Kak Mira. Pantas saja Kak Arsyad begitu sayang sekali dengan Kak Mira, dia sama sekali tak pernah mengizinkan istrinya keluar sendiri tanpa dia, sesibuk apapun di kantor, dia tetap meluangkan waktunya untuk mengantar istrinya kemanapun akan pergi. Jika Kak Arsyad tidak ada waktu sama sekali mengantar Kak Mira, dia menyuruh Pak Afif sopir pribadi Kak Mira, bahkan kadang Abah yang mengantar Kak Mira jika Kak Arsyad sibuk dan Pak Afif ada urusan lain.


Aku ingat sekali, saat aku dan Kak Shita ke rumah Kak Mira, dan kami duduk di gazebo belakang taman baca Kak Mira, tapi kami memilih yang di sebelah pojok dan tidak terlihat dari depan. Waktu itu sudah sore, waktunya Kak Arsyad pulang dari kantor. Mungkin dia tak mendapati istrinya di dalam rumah dan di dalam taman baca juga tidak ada, dia terlihat panik sekali mencari Kak Mira, dan ketika sudah menemukan kami bertiga, Kak Arsyad langsung mencium Kak Mira dan dia terlihat seperti seseorang yang sedang panik mencari istrinya yang hilang. Aku jadi tau, kenapa Kak Arsyad begitu over protektif dengan istrinya, hanya karena itu, karena masa lalunya yang begitu menyedihkan. Mungkin jika itu terjadi padaku, aku juga akan takut kemana-mana sendirian.


Aku juga sangat beruntung sekali, memiliki suami seperti Arsyil, dan mertua seperti papah dan ibu. Mereka sangat menyayangi aku, seperti anak sendiri. Apalagi semenjak orang tua ku meninggal, papah mertuamu selalu datang ke rumah hanya untuk menengok ku, membawakan rujak buah saat aku sedang hamil muda, dan bahkan papah dan ibu mertuaku yang menemani aku melahirkan si kembar saat Arsyil bertugas di luar kota. Wanita mana yang tak bahagia memliki mertua sebaik mereka, dan memiliki suami yang sangat mencintainya. Mungkin itu semua idaman para wanita, dan aku sendiri yang mengalaminya.


Satu lagi, papah mertuamu selalu membuatkan salad buah saat aku akan ke rumahnya, atau papah sengaja membuatkan aku dan mengantarkannya ke rumah lalu makan salad buah bersama. Beliau sangat jago sekali membuat salad buah, rasanya enak dan tidak asam. Bahkan aku sendiri kadang tidak bisa membuatnya.


Aku dan Arsyil sudah sampai di depan rumah papah, Arsyil langsung menaruh sepeda motornya di garasi lagi. Arsyil membawakan kantong belanjaan ku, dan berjalan di sampingku dengan melingkarkan tangannya di pinggangku.


"Pacarannya lama bener, pak."goda papah pada kami.


"Ih…beli cemilan ya?" Kak Shita langsung meraih kantong plastik yang di bawa Arsyil.


"Iya nih kak, aku beli cemilan, buat teman ngobrol. Aku akan mengantarkan ini untuk anak-anak."aku masuk ke dalam dan memberikan cemilan untuk anak-anak yang sedang asik bermain. Aku keluar lagi bergabung dengan lainnya di teras depan. Aku duduk di samping Kak Mira dan langsung menyandarkan kepalaku di bahu Kak Mira.


"Ih…habis pacaran gini langsung sandaran."ucap Kak Mira dengan meledek ku dan menarik hidungku.

__ADS_1


"Sakit kak, capek sekali aku kak, panas jalan pakai sepeda motor."ucapku.


"Enak jalan pakai sepeda motor Nisa, kan romantis."ucap Kak Mira.


"Ummi ingin jalan-jalan pakai sepeda motor?"tanya Kak Aesyad pada Kak Mira


"Emm…boleh, kapan-kapan ajaklah Ummi, Abah, jalan-jalan pakai sepeda motor."ucap Kak Mira dengan manja.


"Iya, nanti Abah ajak ummi jalan-jalan pakai sepeda motor."ucap Kak Arsyad.


"Nis, kamu tidak beli es krim?"tanya Kak Mira yang membuat kami semua menghentikan mengunyah makanan.


"Es krim?"tanya kami semua.


"Iya, kenapa memang kalau aku ingin es krim? Tidak boleh?"tanya Kak Mira.


"Bukannya Ummi?"tanya Kak Arsyad yang belum selesai dan di potong oleh Kak Mira.


"Aku sudah berani makan es krim. Itu semua berkat Naila dan Alina, dia terapis ku untuk mengobati traumaku pada es krim. Aku juga sering makan es krim dengan anak-anak di taman baca, Najwa juga dengan Rafi."jelas Kak Mira.


"Kenapa ummi tidak bilang?"tanya Kak Arsyad.


"Ya, lupa saja, dan sekarang juga lama sekali tidak makan es krim."ucap Kak Mira


"Yah, tadi padahal Nisa sudah ambil es krim banyak sekali, tapi aku suruh balikin, dan akhirnya kami makan es krim di sana."ucap Arsyil.


"Kalian curang."ucap Kak Mira sambil sedikit kecewa.


"Ya sudah nanti Nisa beli lagi deh kak, kita makan es krim bareng, sama Kak Shita juga. Oke.."ucapku pada Kak Mira.


Akhirnya, Kak Mira sudah menghilangkan rasa traumanya, aku sangat bahagia sekali mendengarnya. Dan, Kak Arsyad juga mengizinkan aku, Kak Shita dan Kak Mira keluar bersama mencari Es krim tanpa di antar Kak Arsyad.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


♥️happy reading♥️


__ADS_2