THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 102


__ADS_3

Almira masih sibuk menata rak buku yang berantakan, baru saja anak- anak dari taman kanak-kanak bermain dan belajar di taman baca Almira. Almira begitu senang bisa bermain bersama anak-anak yang lucu dan menggemaskan, walaupun pekerjaannya menjadi bertambah karena mereka mengambil semua buku yang ada di rak buku.


"Begini rasanya bermain dengan anak-anak, rasanya ingin cepat-cepat kamu lahir, nak." Almira mengelus perutnya perlahan.


Almira merasa sangat haus sekali, dia mengambil air putih yang ada di sampingnya. Belum selesai Almira meminumnya, ada dua anak yang datang ke taman baca Almira, dua anak perempuan menemui Almira.


"Assalamualaikum kakak..."ucap mereka dengan riang.


"Wa'alaikumsalam cantik, kalian sudah pulang sekolah?"tanya Almira.


"Sudah, kak. Bolehkah kami membaca buku di sini, kak?tanya salah satu anak tersebut.


"Boleh, ayo ikut kakak, mau baca buku apa? Cerita rakyat, dongeng, atau apa?"tanya Almira.


"Aku ingin membaca buku dongeng,kak."


"Aku ingin baca buku cerita rakyat."


Mereka meminta Almira mengambilkan buku yang mereka inginkan.


"Oke, kakak ambilkan sebentar. Kalian duduk di san dulu ya." Almira menyuruh kedua anak yang masih memakai seragam sekolah dasar itu duduk.


Almira mengambilkan beberapa buku dongeng dan cerita rakyat untuk mereka.


"Ini bukunya, selamat membaca, oh...iya, kita belum kenalan, ayo kenalan dulu, nama kakak, Almira. Kalau nama kalian siapa?"tanya Almira.


"Namaku Alina, kak. Aku kelas 2 SD, kata mamah sebelum mamah menjemput Alin, Alin di suruh ke taman baca dulu, kemarin Alina kan kesini dengan mamah, tapi kakak tidak di sini."ucap Alina dengan suara lucunya.


"Wah, namanya cantik sekali, iya kemarin kakak tidak di sini, sayang. Kalau si cantik yang satu ini, siapa namanya, nak."Almira bertanya pada teman Alina.


"Namaku Naila, kak. Aku satu kelas sama Alin, dan kami saudara sepupu."ucap Naila. Almira mendengar nama Naila, dia langsung terdiam mengingat sahabatnya tersebut.


"Bagaimana kabar Naila, sudah lama sekali aku tidak mengetahui kabar dia, semenjak aku menikah. Apa dia masih marah denganku? Sungguh aku tidak menyangka dia mencintai suamiku."gumam Almira dalam hati.


"Kak, Kak Mira kok diam?"tanya Naila.


"Iya, Kak Mira kok diam?"imbuh Alina.


"Emm....kakak ingat sahabat kakak, namanya sama seperti kamu, Naila. Iya, nama sahabat kakak, Naila. Cantiknya juga sama seperti kamu."ucap Mira.


"Oh..ya? kok tidak di sini Kak Naila nya?"tanya Naila


"Kak Naila sibuk sayang di rumah. Ya sudah kalian lanjut bacanya, nanti kalau mamah Alina sudah datang, kakak beritahu kalian. Oke."ucap Mira.


"Oke, kakak."ucap mereka bersama.

__ADS_1


Almira kembali ke tempat duduknya, dia mencoba menghubungi Naila, karena sudah hampir 3 bulan dia tak tau kabar Naila. Dia mencari kontak Naila, dan mencoba menghubunginya. Tapi, nomor Naila tidak aktif, berkali-kali dia menghubungi nya, nomor Naila memang tidak aktif.


"Nai, kenapa kamu seperti itu, karena seorang pria kamu tega melupakan persahabatan kita yang kita bangun dari dulu. Nai, aku merindukanmu, aku ingin kita seperti dulu lagi. Maafkan aku, Naila, bukan maksudku merebut Arsyad, aku tidak tau dia adalah pria yang kamu cintai."Almira bergumam dalam hatinya. Dia masih saja memikirkan Naila, sahabatnya itu.


Sore harinya, Arsyad sudah pulang dari kantornya, dia masuk ke dalam kamarnya, terlihat Almira sedang duduk di kursi dan memegang sebuah album foto kecil. Dia membuka satu-persatu isi album foto itu dan melihat foto-foto tersebut dengan seksama. Air mata Almira seketika jatuh membasahi pipi saat melihat gambar dirinya bersama sahabatnya itu.


"Nai, apa kabarmu? Aku merindukanmu."lirih Almira dengan suara khas orang menangis.


Almira tidak tahu kalau suaminya sudah kembali dari kantor dan sudah berada dalam kamarnya. Dia masih saja melihat isi album foto itu. Arsyad mendekatinya dan berjongkok di depan istrinya.


"Kamu menangis?"tanya Arsyad yang membuat Almira terkejut oleh kedatangannya.


"Mas, kamu sudah pulang? Apa kamu sudah sejak tadi di kamar?"tanya Almira


"Aku baru 5 menit di kamar, kenapa kamu menangis, sayang? Apa kamu merindukan Naila?" tanya Arsyad lagi.


"Aku sangat merindukannya, mas. Sudah hampir 3 bulan, aku tak tau kabarnya. Aku berkali-kali menelfon dia, lalu menelfon rumahnya, tapi tidak ada jawaban sama sekali, mas. Tidak biasanya Naila begitu sulit di hubungi."jelas Mira dengan air mata yang terus berlinang di pipinya.


"Sudah, jangan menangis, kasihan dedek yang ada di perutmu, kamu sudah makan?"tanya Arsyad sambil mengusap perut Almira yang dirasanya sudah mulai membuncit.


"Aku dari siang belum makan, mas. Tidak tau kenapa aku tidak ada nafsu makan sama sekali, aku terlalu memikirkan Naila dari tadi. Aku takut ada apa-apa dengannya, tidak seperti biasanya dia seperti ini, mas."jelas Almira.


"Tapi kamu jangan melupakan makan siangmu, sayang. Kamu tidak sendiri, ada anak kita di perutmu. Ayo, kita makan, bibi sepertinya sudah menyiapkan makanan."Arsyad mengajak istrinya untuk makan.


"Mandilah dulu, aku akan siapkan baju untukmu dan kita makan bersama. Kamu sudah sholat ashar kan?"Almira berdiri dan melepaskan jas suaminya, lalu menggantungnya dengan gantungan baju dan menaruhnya.


"Barangkali saja kamu lupa, sayang."Almira mendekatkan diri pada suaminya dan memeluk erat suaminya yang hanya memakai kaos oblong tipis.


"Tidak sayang, masa aku lupa dengan kewajibanku. Kalau sampai lupa, sama saja aku melupakan kewajibanku terhadapmu, sayang."Arsyad membelai rambut Almira yang kepalanya masih berada di dadanya.


"Suamiku memang yang terbaik, tidak salah jika semua wanita mengidamkan kamu untuk menjadi pendamping hidupnya. Dan, sahabatku sendiri pun seperti itu, hingga dia melupakan aku sebagai sahabatnya."Almira tersenyum tipis dan memeluk suaminya lagi.


"Jangan berlebihan seperti itu, mereka saja yang terlalu berlebihan, sayang. Kamu tau sendiri aku bagaimana."Arsyad masih saja membelai rambut istrinya yang lurus dan tergerai.


"Iya, kamu pria yang sulit sekali di runtuhan hatinya. Aku tau, jika kamu sudah mencintai sesuatu, kamu sulit untuk melihat yang lainnya. Iya, dulu bukan aku yang kamu cintai, tapi...."ucapan Almira terhenti, Arsyad menyentuh bibir Almira dengan jari telunjuknya


"Jangan di teruskan, sayang. Kamu tau, bersamamu aku mengenal apa itu cinta, tanpa mengungkapkan kata cinta. Sudah, jangan ungkit masa itu, aku hanya ingin kamu yang berada di sampingku selamanya. Hati ini sudah terisi penuh oleh mu, tidak ada yang lain, Almira."Arsyad mencium kening istrinya.


"Jangan pernah pergi meninggalkan ku, sayang. Kecuali Allah yang memisahkan kita."imbuh Arsyad, dia kembali memeluk istrinya dengan erat


"Tidak, mas. Sudah sana mandi dulu, aku siapkan baju untukmu."Almira masih memeluk suaminya erat dan mencium aroma tubuh suaminya.


"Bagaimana aku bisa mandi, kalau kamu memeluk aku erat seperti ini, sayang."ucap Arsyad. Almira melepaskan pelukannya dan berjinjit mencium bibir suaminya.


"Ya sudah, mandilah. Jangan lama-lama, aku sudah lapar."Almira tersenyum di depan suaminya dengan begitu manis, yang membuat Arsyad menjadi sangat gemas.

__ADS_1


Arsyad masuk ke kamar mandi, dia meletakan handuknya di rak handuk yang berada di dalam kamar mandinya. Dia membersihkan rambut tipis yang sudah mulai tumbuh di atas bibir atasnya. Dia tidak suka memiliki kumis, tapi dia membiarkan jenggotnya tumbuh dan terawat namun tidak terlalu panjang. Dia mengingat kembali istrinya yang begitu merindukan Naila.


"Dia benar-benar merindukan Naila sampai dia lupa makan siang. Apa sebaiknya aku ajak dia ke rumah Naila, biar mereka bertemu saja."gumam Arsyad dalam hatinya. Seusai mandi Arsyad memakai baju yang sudah di siapkan istrinya, lalu mengajak Almira untuk makan.


Di ruang makan, mereka sedang menikmati beberapa menu makanan yang sudah di siapkan oleh bibi. Almira makan begitu lahap, maklum dari siang perut Almira belum terisi, setelah mereka selesai makan, Almira mengupaskan apel lalu memotongnya untuk suaminya dan dirinya sendiri.


"Sayang, tadi kamu menghubungi Naila sulit sekali, apa besok mau aku antar ke rumahnya? Kamu mau menemuinya?"tanya Arsyad.


"Aku ingin sekali ke rumah Naila, mas. Apa mas mau mengantarkan ku ke sana?" Almira dari tadi sebenarnya ingin sekali bertanya seperti itu, tapi takut kalau suaminya menolak permintaannya.


"Bagaimana kalau besok aku antar kamu ke rumahnya, sekalian aku berangkat ke kantor?"tanya Arsyad.


"Baiklah, besok aku akan ke sana."ucap Almira.


Almira terdiam sejenak, dia membayangkan tadi siang di taman bacanya dia bermain dengan anak-anak yang sangat lucu dan menggemaskan. Terbesit di pikiran Almira untuk memiliki banyak anak.


"Mas, kalau memiliki banyak anak senang ya, rumah selalu ramai, apalagi kalau anaknya lucu-lucu sekali."ucap Almira dengan membayangkan kalau dirinya memiliki banyak anak.


"Kenapa tiba-tiba kamu ingin memiliki banyak anak?"tanya Arsyad.


"Tadi di taman belajar, banyak siswa dan siswi taman kanak-kanak datang, lucu-lucu sekali, mas, dan sangat menggemaskan, aku bermain cukup lama dengan mereka."jelas Almira.


"Ya sudah nanti setelah kamu melahirkan, kita buat lagi ya."Arsyad menggoda istrinya dengan senyuman genit ala Arsyad untuk istrinya.


"Hmmm...mulai menggoda ku saja. Jangan seperti itu ih..."ucap Mira.


"Kenapa, mau di goda selain suamimu? Untung saja aku yang menggoda, suamimu sendiri."ujar Arsyad.


"Sudah habiskan apelnya, sudah mau Maghrib, nanti malam saja menggoda ku lagi."tutur Almira.


Arsyad dan Almira meninggalkan ruang makan, mereka duduk di ruang tengah untuk menikmati teh hijau yang Mira buat sambil menunggu waktu maghrib tiba.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


♥️happy reading♥️


__ADS_2