THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 37 " Kamu Memang Sempurna"


__ADS_3

Annisa masuk ke kamarnya, ingin rasanya ia bercerita semua pada papah mertuanya soal sikap Arsyad yang mendadak berubah saat setelah kejadian di restauran kemarin. Annisa juga tidak tau, kenapa suaminya menjadi seperti itu. Kemarin dia sudah cukup mengaguminya karena sikap cueknya berubah menjadi sikap yang peduli,dan suka bercanda. Annisa sampai terbawa suasana saat Arsyad memperlakukan sesuatu yang membuat jantungnya berdeyak cepat.


"Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran suamiku, dan entah sampai kapan suamiku akan terus begitu, meskipun sikapnya begitu, dia tetap suamiku, dan aku akan berusaha menjadi istri yang terbaik, tanpa mencintainya dan di cintainya,"gumam Annisa.


Vino dan Arsyad masih di ruang tamu, mereka mengobrol membahas soal pekerjaan dan kadang menjrus ke masalah pribadi mereka.


"Syad, enak yang dulu atau sekarang?"ledek Vino.


"Kamu tanya apa sih, Vin,"ucap Arsyad.


"Ya tanya saja, kan kamu pernah merasakan dua wanita," ucap Vino.


Arsyad hanya terdiam saja, dia tidak tau harus berkata apa. Apalagi dia belum menyentuh Nisa sama sekali.


"Malah melamun." Vino meninju lengan Arsyad.


"Eh iya, maa, Vin,"ucap Arsyad.


Arsyad mengembuskan napasnya dengan kasar, dia mengatur napasnya kembali dan mulai berbicara dengan Vino.


"Kamu tau kan Vin, bagaimana aku dan Almira dulu, aku belum bisa melupakannya, Vin. Aku sama sekali belum mencintai Annisa,"ucap Arsyad.


"Jangan seperti itu, kamu harus belajar, Syad. Jangan seperti itu, masa lalu ya lebih baik di tutup rapat, simpan masa lalu itu di hatimu yang terdalam, yang sekarang, mulailah dengan segenap jiwamu lagi, cintailah istrimu sekarang, sebelum dia cintai orang lain,"tutur Vino.


"Entahlah, Vin. Sudah jangan bahas ini,"ucap Arsyad.


Arsyad terdiam lagi, dia merasa semua orang mengharuskan ia mencintai Annisa. Tapi Arsyad tidak mau berusaha mencintainya, bagaimana dia akan mencintai Annisa, Arsyad saja dari kemarin setiap hari dia berada di rumah Mira. Dan pekerjaan kantor sampai ia bawa ke sana.


"Mira, maafkan aku, aku tidak mau membagi hati ini, tidak mau Mira. Hati ini hanya untuk kamu. Kamu salah Mira, aku tidak mencintai Annisa. Aku sudah tidak mencintai Annisa, aku hanya perhatian pada Dio dan Shifa waktu itu. Kamu salah, tidak seharusnya kamu menyuruh aku menikah Annisa karena kamu menyangka aku masih mencintainya. Tidak ada sedikitpun perasaan untuk Annisa lagi, Almira. Aku hanya mencintaimu, selamanya, di sisa hidupku ini,"gumam Arsyad.


*Flashback On*


Setelah kejadian di restoran, Arsyad merasa bahwa dirinya belum siap unrtuk mencintai Annisa. Dia tahu, saat itu Annisa cemburu melihatnya dengan Lintang. Tanpa ia sadari sikap jahilnya dia malah sedikit menumbuh kan rasa cinta Annisa pada dirinya.


Seperti biasa, Arsyad pagi hari ke kantor bersama Annisa, dan mulai saat itu juga, dia tidak berani lagi menggoda Annisa dan mencium Annisa lagi. Sebelum ke kantor mereka mengantar anak-anaknya ke sekolahan terlebih dahulu. Setelah mengantar anak-anaknya ke sekolah, Arsyad dan Annisa pergi ke kantornya. Arsyad terlebih dahulu mengantar Annisa ke kantornya.


Mobil Arsyad sudah memasuki area kantor Annisa. Arsyad menghentikan mobilnya di depan kantor Annisa.


"Kak aku masuk, ya?"pamit Annisa sambil mencium tangan suaminya.


"Iya, hati-hati,"ucap Arsyad.


Annisa tau, kalau suaminya tidak akan mencium dia lagi, walaupun hanya sebatas mencium keningnya. Karena semalam juga Arsyad tidur di kamarnya, dia tidak tidur di kamar Annisa.


Annisa turun dan berjalan perlahan, berharap suaminya memanggil dia dan menciumnya seperti kemarin. Tapi, itu semua tidak terjadi, sebelum Annisa sampai ke dalam mobil Arsyad sudah berlalu pergi.


"Lalu, kemarin untuk apa? Cepat sekali sikapnya berubah-ubah, plin-plan,"gumam Annisa sambil mengembuskan napasnya dengan kasar.


Arsyad melajukan mobilnya menuju ke kantor, tapi ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantor. Dia hanya menelepon sekretarisnya, agar menyiapkan dokumen yang harus ia kerjakan dan menyuruh sopir kantor untuk mengantarkannya ke rumah Almira. Entah kenapa jiwa Arsyad meronta ingin sekali mengunjungi makam Almira dan ingin sekali menghabiskan waktu di rumah Almira.


Dia sampai di depan rumah Almira, setelah tadi ia ke makam Almira untuk mengirimkan Do'a. Arsyad di sambut oleh satpam dan beberapa asisten di rumah Almira yang masih setia mengurus rumah majikannya itu, dan mengurus taman baca milik Almira. Dia segera masuk ke kamar Almira dan dirinya dulu, kamar yang masih terlihat sangat rapi dan bersih. Karena setiap harinya di bersihkan oleh asisten yang ada di rumah Mira.


Arsyad membuka lemari yang ada di meja kerja Almira saat dia masih aktif menulis. Dia mengambil laptop milik Almira dan menghidupkannya. Terlihat di layar laptop terpampang foto dirinya dengan Almira. Dia membuka file milik Almira, Arsyad menemukan file "My Lovely Husband". Arsyad membukanya, dia melihat banyak sekali foto Arsyad, yang dia ambil diam-diam tanpa sepengetahuan Arsyad. Juga ada beberapa tulisan untuk suaminya di dalam file itu.


"Meskipun tak bisa ku raih cintamu, aku bahagia telah memilikimu, duhai suamiku. Aku sungguh mencintaimu. Hati tidak bisa berbohong, walaupun mulut kita berkata tidak. Masih adakah cinta untuk Annisa, suamiku? Jika masih ada, apa yang harus aku lakukan, agar kamu bisa bahagia dengan Annisa?


Kamu sering berkata padaku, bersamaku, kamu belajar apa itu cinta tanpa mengungkapkan kata cinta. Memang kamu sosok pria yang tidak pernah mengumbar kata cinta, mas. Kamu adalah pria yang penuh kepastian. Bagaimana hati ini tidak bahagia memilikimu. Pria yang selalu aku harapkan, yang selalu aku sebut namanya dalam do'a, agar Allah bisa menyatukan kita dalam ikatan suci cinta yaitu pernikahan. Dan Allah mengabulkan permintaanku itu. Bukankah itu sangat indah, sayang?


Hari demi hari kita merajut tali cinta yang kuat, semakin hari aku merasakan cintamu menyatu dalam jiwaku. Aku tau, mas mencintaiku hanya setengah hati saat itu, saat kita baru bersama. Cintai itu masih ada untuk Nisa, kan? Aku tau itu, mas. Tapi aku tak akan menyerah, aku akan membuat kamu benar-benar mencintaiku seutuhnya.


Hingga pada suatu hari kita berkumpul di rumah papah, kamu selalu mencuri pandang dengan adik iparmu. Iya, tidak salah jika kamu masih menaruh hati padanya. Dia cinta pertamamu, mas, begitupula kamu, kamu adalah cinta pertamaku. Aku mencoba menerima itu, sekali lagi, hati memang tidak pernah bohong. Aku percaya kamu mencintaiku, sangat mencintaiku, tapi dalam palung hatimu yang dalam kamu masih mencintai Annisa. Iya, aku cemburu saat itu, aku akui, aku sangat cemburu. Karena aku tidak bisa menempati posisi pertama di hatimu, walaupun aku adalah istrimu.


Aku bahagia memiliki suami seperti kamu, suami yang selalu mengerti apa yang aku inginkan, suami yang selalu memanjakan istrinya. Kamu benar-benar suami idaman para wanita, mas. Saat Najwa dan Raffi lahir, kamu selalu menjadi suami terbaik, menyayangi aku dan anak-anak, hingga saat aku terbaring lemah karena aku harus melakukan operasi pengangkatan salah satu ginjalku, kamu selalu menjagaku, dan menjaga anak kita.


Mas, tetaplah menjadi Arsyadku, Arsyad yang selalu mencintaiku, di saat keadaan apapun dalam rumah tangga kita. Kamu Abah dan suami terhebat. Dan saat setelah kematian adik kamu, Arsyil, kamu selalu datang ke rumah Annisa. Memerhatikan kehidupan Annisa, anak-anak Annisa, sampai kamu lupa ada aku di sampingmu, ada aku istrimu, ada Najwa dan Raffi anak-anakmu. Aku tau mas sangat kehilangan Arsyil, dan Dio lah yang mampu menyembuhkan rindumu pada Arsyil.


Saat itu, aku berpikir untuk memintamu menikahi Annisa. Karena aku tahu, mas, cinta mas pada Annisa masih ada dan bersemi, walaupun mas sangat mencintaiku. Aku rela jika saat itu kamu memadu cinta ini. Aku tidak bisa memaksakan cinta, aku tidak mau egois. Tapi semua itu, tidak terjadi, karena Annisa pergi meninggalkan kami semua, setalah aku merasa kecewa dan menegur dia agar menjauh dari kamu.


Ini salahku, mas. Memisahkan Annisa dari papah, dan saudara suaminya, membiarkan ia pergi meninggalkan sejuta kenangan bersama Arsyil di sini, meninggalkan makam suaminya yang bahkan setiap hari ia mengunjunginya tanpa henti, walau hujan lebat mengguyur tubuhnya saat itu, dia tetap ke makam Arsyil. Ini salahku, tapi aku janji, Annisa pasti akan kembali, dan aku akan menyuruh kamu menikah dengan Annisa, jika suatu saat Annisa kembali. Aku akan membawa cinta pertamamu lagi, mas. Walau hati ini sakit, aku akan tetap meminta kamu untuk menikahi Annisa. Dengan atau tanpa persetujuan darimu. Aku ikhlas, dia wanita baik-baik dan dia adalah cinta pertamamu."


Air mata Arsyad mengalir sangat deras. Dia menangis hingga sesegukan. Dia tidak percaya istrinya menuliskan itu semua, dan masih banyak lagi tulisan Almira tentang dirinya, dari awal bertemu hingga akan tutup usia. Tulisan itu di buat Almira sehari setelah kepergian Annisa ke Berlin.


"Kamu salah Almira, kamu salah, aku tidak mencintai Annisa. Hanya kamu yang ada di hati ku hingga saat ini. Iya, aku dulu sangat mencintai Annisa, tapi semenjak bersamamu, aku sudah tidak merasakan cinta itu lagi, sama sekali tidak, Almira. Jadi, hanya karena rasa bersalahmu itu, kamu menyuruh ku menikahi Annisa? Dengan memberikan pesan terakir pada papah dan surat untuk Najwa juga Shifa? Ini tidak adil Mira. Kamu wanita yang aku cintai, aku tidak bisa mencintai Annisa lagi. Aku janji, aku tidak akan pernah mencintai siapapun kecuali kamu, walaupun Annisa adalah istriku sekarang. Maafkan aku, aku sudah menyentuh Annisa, walau hanya sebatas mencium dan memeluknya, maafkan aku, Mira." Arsyad menangis dengan memeluk foto Almira.


Arsyad terdiam, ia mendudukan dirinya di kursi di mana Almira sering duduk di situ saat menulis. Kembali teringat saat dia menggoda istrinya yang sedang serius menulis, hingga terjadi perherlatan di atas ranjang mereka.

__ADS_1


"Aku merindukanmu Almira, andaikan kamu mau saat aku akan memberikan saalah satu ginjalku untuk kamu. Kamu pasti masih di sini, bersamaku, kita bahagia dengan anak-anak kita,"gimana Arsyad.


Hari ini Arsyad mengerjakan semua pekerjaan kantor di rumah Almira, rumah yang penuh kenangan dengan Almira, mendiang istrinya.


*Flashback Off*


Rico, Shita, dan cucu-cucu Rico masuk ke dalam rumah. Mereka menghampiri Arsyad dan Vino yang masih berada di ruang tamu. Mereka kembali duduk dan mengobrol di ruang tamu, sedangkan anak-anak pergi ke kamarnya. Najwa yang melihat bundanya tidak ada di ruang tamu, dia mencari Annisa ke kamarnya. Najwa mengetuk pintu kamar Annisa. Anis yang saat itu sedang termenung dan menangis, dia di kagetkan dengan ketukan pintu kamarnya.


"Bunda, ini Najwa, apa bunda di dalam?"tanya Najwa.


"Ah, iya, sebentar, nak. Bunda sedang di kamar mandi." Annisa langsung menyeka air matanya, dia mencuci mukanya dan setelah itu dia bercermin melihat kondisi matanya yang lumayan sembab.


"Kok sembab? Pasti Najwa tau aku habis menangis, sudah biarlah, aku bilang saja nanti kalau aku habis bangun tidur, karena tadi ketiduran,"gumam Annisa.


"Bunda, kok lama?"tanya Najwa dari balik pintu kamar Annisa.


"Iya, sayang, sebentar." Annisa menyahutinya dan berjalan membukakan pintu kamarnya.


Annisa menyambut Najwa dengan senyum yang merekah, dia mengusap kepala anaknya itu.


"Bunda, bunda sedang marahan dengan Abah?"pertnayaan itu membuat Annisa berpikir.


"Kenapa dia merasakannya. Dan hanya Najwa yang selalu bertanya seperti ini, saat aku dan Kak Arsyad saling diam,"gumam Annisa.


"Tidak, bunda tidak marahan dengan Abah, sayang,"ucap Annisa.


"Bunda bohong, bunda habis menangis, kan?"tanya Najwa.


"Benar kan, dia bicara seperti ini,"gumam Annisa.


"Bunda tidak menangis, sayang." Annisa mencoba mengelak


"Bunda, boleh Najwa masuk ke kamar bunda? Najwa mau bicara dengan bunda,"pinta Najwa.


"Boleh, ayo masuklah,"ajak Annisa.


Najwa masuk ke dalam kamar Annisa. Annisa menutup pintu kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Kamar Annisa memaang kedap udara, jadi tidak ada yang mendengar mereka berbicara apa di kamarnya, bahkan teriak sekalipun orang di luar tidak mendengarnya.


"Mau bicara apa, anak bunda yang satu ini?"tanya Annisa sambil mendudukan dirinya di tempat tidur.


"Apa bunda tidak bahagia menikah dengan Abah?"tanya Najwa.


"Maafkan Najwa, yang memaksa bunda dan Abah menikah, Najwa hanya ingin sekali memenuhi permintaan ummi untuk terakhir kalinya, karena setela itu, Najwa tidak tau ummi menginginkan apa, bunda,"tutur Najwa.


"Bunda bahagia, sayang. Bunda bahagia menikah dengan Abah, bunda bahagia memiliki anak-anak yang baik dan Sholeh juga Sholehah seperti kalian, bunda sangat bahagia." Annisa memeluk Najwa dan mencium puncak kepala Najwa.


"Kalau bahagia kenapa kemarin malam dan semalam Abah dan bunda tidur di kamar masing-masing?"tanya Najwa.


Annisa bingung harus menjawab apa, Najwa memang sangat dewasa, dia mengerti apa yang Annisa rasakan, dan dia tau kalau kami sedang memiliki masalah sejak kejadian di restoran kemarin.


"Abah tidur di kamar bunda, kok,"jawab Annisa.


"Jangan bohong, bunda jangan bohong, Najwa jam 3 pagi sudah bangun bunda. Najwa lihat Abah keluar dari kamar Abah, dengan wajaw seperti bangun tidur, kan berarti Abah tidur di kamar Abah sendiri,"jelas Najwa.


"Najwa bangun jam 3 pagi?"tanya Annisa.


"Iya, Najwa selalu bangun jam segitu, semenjak ummi sakit, Najwa selalu terbangun jam 3 pagi, untuk sholat malam. Dan sampai pagi Najwa tidak pernah tidur lagi,"jelas Najwa.


"Iya kan bunda, kemarin bundan dan abah tidur di kamar sendiri-sendiri?"tanya Najwa lagi.


Annisa sudah tidak bisa mengelak, dia tidak tau harus menjawa apa, selain jujur dengan Najwa. Najwa selalu bisa menebak raut wajah seseorang yang sedang ada masalah. Tidak hanya dengan Annisa dan Arsyad. Dengan Opanya bahkan Shita dan saudara-saudaranya. Dia tau, jika seseorang itu memiliki masalah.


"Bunda, kok tidak jawab?"tanya Najwa.


"Iya, kemarin dan semalam Abah memang tidur di kamar Abah, Abah pamit kok dengan bunda, karena Abah ingin ketenangan untuk mengerjakan pekerjaan kantor,"jelas Annisa.


"Apa tidak bisa kalau di kerjakan di kamar bunda? Apa nanti malam Abah akan tidur di kamar ini? Atau di kamar yang lain?"tanya Najwa lagi.


"Ya di sini dong, sayang. Ini kan kamar bunda dan Abah,"coba Annisa.


"Ayo makan siang, tuh Mba Lina sudah selesai mungkin menata makanannya,"ajak Annisa.


"Iya, Najwa juga sudah lapar, ayo keluar." Najwa mengajak Annisa keluar dari kamarnya dan memanggil semua yang sedang berkumpul di ruang tamu.


Mereka semua sudah berada di meja makan. Suasana hening menyelimuti ruang makan, Hanya suara dentingan piring dan sendok yang sedikit terdengar.

__ADS_1


"Kakak mau nambah?"tanya Annisa.


"Sudah, aku suda kenyang,"jawab Arsyad.


"Biasanya dia menyebut kakak, bukan aku, sekarang benar-benar beda, Kak Arsyad. Kenapa menjadi sedingin itu lagi? Ya Allah, apa aku kuat hidup bersama suami yang seperti ini?"gumam Annisa dalam hati.


"Mereka berdua memang tidak saling mencintai, Annisa memang berusaha menjadi istri yang baik untuk Arsyad, anaku. Tapi hati Arsyad seakan beku dan tidak mau menerima Annisa. Ada apa dia? Padahal dari kemarin awal pernikahan mereka, sepertinya Arsyad biasa-biasa saja, bahkan sering menjahili istrinya. Dan semalam, aku melihat Arsyad tidak tidur di kamar Annisa, apa yang mereka sembunyikan?" Rico bertanya-tanya dalam hatinya.


Seusai makan siang, mereka semua berpamitan untuk pulang. Rico sengaja membiarkan mereka berdua saja, karena Rico yakin Annisa dan Arsyad sedang ada masalah.


Arsyad dan Annisa masuk kembali ke rumahnya setelah mereka mengantarkan papah, Shita, Vino, Farrel dan Rana ke depan untuk pulang. Anak-anak sudah kembali ke kamarnya, Annisa memanggil Arsyad yang sudah berjalan masuk di depannya.


"Kak, tunggu,"panggil Annisa.


"Ada apa Annisa?"tanya Arsyad tanpa menoleh istrinya.


"Aku ingin bicara sebentar,"ucap Annisa.


"Mau bicara apa?"tanya Arsyad sambil mendudukan dirinya di kursi teras


Annisa duduk di samping Arsyad, dia tau kalau suaminya tidak menginginkannya.


"Maaf kak, ehm.."ucapan Annisa terputus, rasanya dia berat akan mengeluarkan kata-katanya.


"Mau bicara apa? Buruan!"tukas Arsyad.


Arsyad berbicara dengan nada setengah marah denan Annisa. Annisa yang tidak tau kepa suaminya menjadi berubah, dia takut sekali karena Arsyad sedikit membentak, apalagi saat melihat wajah Arsyad yang terlihat ada guratan amarah di wajahnya.


"Sabar Nisa, sabar, kamu pasti bisa kok, melewati ini, dan baru ini kamu dapat bentakan dari seorang laki-laki yabg di sebut suami, setelah hampir 10 tahun kamu burumah tangga denga Arsyil yang di penuhi canda tawa, kamu harus menghadapi sesosok sumai seperti kakak iparmu, ini,"gumam Annisa.


"Semalam Najwa lihat, kamu tidak tidur di kamarku, dia mengira aku dan kakak sedang marahan,"ucap Annisa dengan sedikit rileks.


"Jelaskan saja padanya, jika tidak ada apa-apa dengan kami, dan maaf Nisa, memang kita tidur harus terpisah, aku ingin menangkan diri dulu, aku akan tidur di kamar tamu, atau di kamar atas. Maaf aku tidak bisa menyentuhmu,"tutur Arsyad.


"Tidak masalah aku tidak di sentuh oleh kakak, bahkan menjadi istri tidak di anggap pun tak masalah, aku akan tetap memenuhi kewajibanku seorang istri di rumah, tanpa memenuhi kewajiban ranjang dengan kakak, karena itu yang kakak mau, jadi aku tidak berdosa, dan kakak yang akan menanggung semuanya, karena tidak menyalurkan nafkah sebagai suami,"tegas Annisa


"Dan satu lagi, kak. Aku minta di depan anak-anak jangan kakak tampakan sikap kakak yang seperti ini, kalau kakak tidak mau, anak kakak dan anakku menjadi terbebani oleh masalah Abah dan bundanya,"tukas Annisa.


"Maaf aku yang akan tidur di kamar tamu, ini rumah kakak, jadi kakak yang berhak tidur di kamar kakak. Dan aku aka keluar dari kamar kakak diatas jam 12 malam, setelah memastikan anak-anak tidur nyenyak,"imbuh Annisa.


Arsyad hanya diam saja mendengan penuturan istrinya itu, dia masih duduk terpaku di kursi teras. Annisa juga masih duduk di samping suaminya itu. Entah apa yang membuat Arsyad menjadi seperti itu, Annisa juga sangat bingung. Ingin rasanya Annisa pulang ke rumahnya saja, tapi dia tidak mau anak-anaknya mengira kalau dirinya sedang ada masalah dengan Arsyad.


"Apa yang membuat hatimu beku seperti ini, kak? Apa tidak bisa kamu perlakukan aku sebagai istrimu dengan baik? Walaupun nanti kamu tak pernah menyentuhnya,"gumam Annisa.


"Nis maaf aku membentakmu, entah kenapa aku menjadi marah dengan kamu setelah membaca semua tulisan Mira yang ada di dalam laptopnya. Aku tidak tau, aku sampai semarah ini dan aku sangat merasa bersalah karena menuruti apa yang Mira inginkan. Iya, menikahi kamu adalah permintaan Almira yang terakhir. Dia minta seperti itu, karena di taunya aku masih mencintaimu, aku sama sekali tidak mencintaimu, Annisa. Maafkan aku, aku tidak bisa memenuhi kewajibanku sebagai seorang suami,"gumam Arsyad.


Arsyad memang sempurna, dia orang yang taat terhadap agama, tapi dia gagal menjadi suami, dia gagal tidak bisa mengendalikan emosi, itu yang membuat Annisa kecewa, dengan nada bicara yang ketus sekali Annisa terpaksa berkata kasar dengan suaminya itu.


"Kamu memang sempurna, kak. Kakak, seorang hafizd Qur'an, lulusan dari Kairo, kalau di bilang kakak sempurna sekali ilmu agamanya. Kakak tau, semua itu akan runtuh dan sia-sia karena kakak memperlakukan istrinya tidak baik, apalagi sampai menyakiti hati istrinya. Bukan aku menasehati kakak, bukan aku ingin kakak menyentuhku, memperlakukan aku layaknya istri kakak. Aku bicara soal kebenaran, kak. Bukankah seperti itu agama mengajarkan tentang adab suami istri? Harus saling memberi dan menerima? Saling mengasihi, menjaga dan menghormati perasaannya,"tutur Annisa.


"Aku akan memenuhi kewajibanku, nafkah lahir akan aku berikan semua padamu, Annisa. Aku juga bertanggung jawab dengan anak-anakmu, dan menyayanginya seperti anakku sendiri,"ucap Arsyad.


"Aku juga bisa, mencari nafkah lahir untuk menghidupiku dengan anakku, kak. Tidak usah kakak memberikan saja aku sudah bisa, sudah aku tidak ingin berdebat lagi, terserah kakak mau apa, maaf Annisa sudah berbicara kasar dengan kakak dan sudah menggurui suami Annisa." Annisa beranjak dari tempat duduknya, ia masuk ke dalam dengan dada yang terasa sesak mendengar penuturan suaminya.


Annisa sebisa mungkin menahan tangisnya, dia tidak mau terlihat lemah di depan suaminya.


"Bukan aku ingin kakak untuk menyentuhku, mencintaiku, layaknya suami istri. Aku ingin kakak menghargai aku saja sebagai seorang istri. Kakak yang mengajarkanku berkata kasar tadi, dan maaf aku juga bisa kasar berbicara kasar seperti tadi,"gumam Annisa.


Arsyad masih terpaku di kursi teras. Dia memikirkan kata-kata Annisa tadi. Iya, memang dirinya mempelajari ilmu agama akan sia-sia saja, karena tidak bisa menerima kenyataan, dia tidak bisa membari nafkah kepada istrinya dan masih mengenang masa lalunya terlalu dalam.


"Iya, aku sadar, aku salah, aku berdosa. Tapi ini kenyataan yang pahit sekali, aku tidak bisa, aku tidak bisa mencintai Annisa, aku tidak bisa memberikan nafkah batin untuk Annisa. Sungguh sulit sekali aku menerima semua ini, Ya Allah. Ampunilah aku. Entah sampai kapan aku akan menanggung dosa ini,"gumam Arsyad.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


♥️happy reading♥️


__ADS_2