THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 4 "Dinner Part 2"


__ADS_3

MontRaw Restautrant


Kami sudah sampai di Restautrant yang di beritahukan Leon pada Zidane. Kami semua turun dari mobil dan masuk ke dalam Restautrant tersebut, Restaurant yang terlihat mewah. Ya, semenjak aku di Berlin, mungkin baru kali ini di ajak makan di Restaurant yang cukup mewah. Tujuan aku ke Berlin kan bukan untuk jalan-jalan atau bagaimana, aku ke Berlin hanya untuk menyembunyikan diriku dari keluarga mendiang suamiku.


Kami di sapa oleh pelayan Restaurant yang sangat ramah, pelayan itu sepertinya tau, kalau kami adalah tamu yang di undang oleh Leon. Kami langsung di tunjukan di mana Leon berada. Leon mungkin sudah cukup lama menunggu, karena tadi aku ada sedikit drama dengan Shifa yang tidak mau ikut makan malam. Dia hanya ingin pulang ke Indonesia menemui Opanya.


"Selamat malam, tuan Zidane. Silahkan duduk."sapa Leon.


"Selamat malam, tuan Leon. Maaf agak terlambat "ucap Zidane.


"Tidak apa-apa tuan Zidane. Wah…saya berterima kasih pada Nona Annisa yang juga mau menghadiri undangan makan malam saya." Leon menjabat tanganku agak lama.


"Maaf tuan Leon, bolehkan saya duduk."ucap Ku agar Leon melepaskan tanganku.


"Oh…iya silahkan, ini anak kembar, nona?"yang Leon.


"Oh…iya, Shifa, Dio kasih salah dengan paman Leon."ucapku pada Dio dan Shifa


"Hallo om, saya Dio."ucap Dio


"Saya Shifa."ucap Shifa dengan nada yang sedikit ketus. Shifa memang seperti itu jika dengan seseorang yang tidak ia sukai, begitu juga dengan Juan. Dia juga tidak menyukainya. Kalau Dio, dia anak yang fleksibel dan mudah bergaul, seperti Almarhum ayahnya, mungkin Shifa sepertiku, tapi tidak, dia lebih mirip Kak Mira sifatnya, lembut tapi kalau sedang tidak enak hati seperti itu. Tidak tau mengapa, Shifa juga sangat menyukai Kak Mira.


Kami makan malam bersama, dengan hidangan menu spesial yang ada di Restaurant tersebut. Sesekali aku melihat Leon mencuri pandang denganku. Aku tak mempedulikannya, toh aku ikut makan malam bukan karena ingin bertemu Leon, ini semua Zidane yang memintanya.


"Bolehkah kapan-kapan saya berkunjung ke rumah Anda, Tuan Zidane?"tanya Leon.


"Boleh, dengan senang hati, pintu rumahku terbuka untuk anda, tuan."jawab Zidane.


Aku yang mendengarnya sangat tidak suka sekali, mau apa dia datang ke rumah, kalau boleh memilih, perusahaanku tidak bekerjasama dengan Leon juga tidak masalah, tidak ada pengaruhnya. Aku semakin tidak suka sekali dengan Leon yang menatapku seperti itu. Dan, Shifa sepertinya tau apa yang aku rasakan.


"Bunda, ayo pulang."ajak Shifa dengan manja.


"Iya, sebentar itu paman Zi kan sedang bicara dengan pan Leon."ucapku sambil tersenyum ke arah Leon dengan terpaksa.

__ADS_1


"Bunda, kita pulang ke Indonesia saja ya?"pinta Shifa.


"Iya sayang, nanti kita pulang ke sana. Kamu sabar ya? Bunda masih banyak urusan di sini."ucapku dengan mencoba menenangkan Shifa.


"Bunda, kita kan belum ke makam…."ucapan Shifa berhenti saat ingin mengucapkan kata-katanya, karena aku sengaja memotong perkataan Shifa


"Iya nanti kita pulang ke Indonesia, kita ke makam Eyang. Oke."ucapku. Sepertinya Shifa dan Dio memahami maksud aku bicara seperti itu. Selama ini mereka sangat tidak suka jika aku di dekati oleh pria.


"Dio kangen sama ayah, kita pulang saja, bunda. Ke Indonesia. Kan ada paman Zi dan paman Al yang mengurus perusahaan bunda."ucap Dio.


"Iya benar Dio, bunda. Shifa juga kangen dengan Ayah."ucap Shifa


"Iya, nanti secepatnya bunda urus keperluan bunda di sini ya sayang, kalian anak-anak pintar dan penurut kan?"ucapku yang mencoba merayu mereka.


"Kenapa ayah tidka di ajak ke sini, Dio?"tanya Leon.


"Ayah sibuk di sana, pekerjaannya banyak, jadi bunda dan kami yang ke sini, iya kan bunda?"jawaban Dio membuatku lega sekali, karena dia tidak membocorkan statusku. Pintar sekali anak-anak ku ini.


"Iya, jadi hanya kami yang ke sini. Karena di sini, saya tidak lama dengan anak-anak."ucap ku.


"Karena di Indonesia dia juga sedang sibuk."jawabku.


"Aku curiga, sepertinya Zidane sudah memberitahukan statusku pada Leon. Kalau belum, pasti dia tak memberondong banyak pertanyaan padaku."gumam ku.


Akhirnya makan malampun selesai, kami kembali pulang ke rumah, karena cukup jauh, jarak dari Restaurant menuju ke rumah, Dio dan Shifa tertidur di pangkuanku.


"Zi, apa kamu bilang statusku pada Leon?"tanya ku pada Zidane.


"Emmm…" Zidane tak bisa menjawabnya.


"Zi, jawab, iya kan?"tanya ku lagi.


"Maaf Nis, aku memang mengatakannya, dia bertanya-tanya padaku terus, lah aku jelaskan semuanya."ucap Zidane dengan lirih.

__ADS_1


"Zidane….kamu…"ucapanku terhenti, aku kesal sekali dengannya.


"Nis, sampai kapan kamu seperti ini? Dio dan Shifa juga butuh ayah."ucap Zidane.


"Dia tak butuh, lihat sendiri tadi mereka, seperti tau diriku, dia menutupi semuanya. Padahal aku tak pernah menyuruhnya seperti itu."ucapku.


"Yah, kan kamu bisa membujuk anakmu, Nis. Masa ku kalah dengan anakmu?"ujar Zidane.


"Zi, aku mencari ayah untuk dia, yang bisa menerima anak-anak ku dan bisa di terima oleh anak-anak ku. Lihat saja tadi, Dio dan Shifa sudah menunjukan mereka tidak suka dengan Leon."tukas ku.


"Sudah, Zi, jangan buat masalah ku bertambah keruh, aku ke sini hanya untuk menenangkan pikiranku, bukan untuk mencari ayah baru untuk anak-anakku."ucap ku yang marah kepada Zidane.


"Iya, kamu ke sini menghindar karena kakak iparmu kan? Istri kakak iparmu cemburu dengan kamu."ucap Zidane.


"Seandainya saja ya, Nis. Siapa tau kakaknya Arsyil, ah..ya.. Arsyad, andai nih, Kak Arsyad memintamu untuk menjadi istri keduanya bagaimana? Atau mungkin setelah dia duda, dia menikahimu, dan anak-anakmu suka. Apa kamu mau menerimanya?"tanya Zidane yang membuatku sangat terkejut.


"Kamu ngomong apa, Zi. Sudah jangan bahas itu. Aku capek, Zi. Kamu bukannya membuat aku happy di sini malah membuat keadaan menjadi keruh saja."tukas ku.


"Iya, maaf, Nis."ucap Zidane.


Aku menyandarkan kepalaku di jok mobil Zidane. Bayangan Arsyil masih sangat lekat di mataku. Aku memejamkan mataku, mengingat masa-masa dengan Arsyil, saat sebelum ia meninggal dan saat ia meninggalkan ku. Sakit rasanya hati ini, tak terasa air mata ini mengalir tanpa permisi.


"Aku sangat lemah tanpamu, Syil. Lihat, aku bertahan hanya demi buah hati kita. Dia hidupku, dia semangatku. Tenang di surga suamiku. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, hingga ujung waktuku."gumamku dalam hati sambil memejamkan mata dan merasakan sesak di dadaku.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


♥️happy reading♥️


__ADS_2