THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 90 "Memohon"


__ADS_3

Rere memang yang merencanakan ini semua. Rere yang menyuruh Annisa tinggal di rumah mamahnya sementara. Dia juga menyuruh Annisa menahan rasa rindunya dulu, hanya untuk mereka, agar mereka bisa merasakan betapa tersiksanya Arsyad saat ini. Rere seperti itu, juga karena Leon yang menyuruhnya. Leon yang mengendalikan semua itu, sebenarnya Rere juga tidak tega dengan Annisa yang setiap hari menangis karena merindukan Arsyad.


Leon melakukan seperti itu, agar Rico dan Shita merasakan apa yang Annisa rasakan, dan apa yang orang-orang di sekitar Annisa rasakan saat Annisa jauh dari suaminya. Leon memang belum bisa kembali ke Indonesia lagi, karena pekerjaan di Berlin benar-benar belum bisa ia tinggalkan, dia hanya bisa memantau Annisa dari jauh lewat calon istrinya. Ya, Rere dan Leon memang yang memegang kendali kapan Annisa dan Arsyad harus bertemu.


"Re, kamu tidak tega melihat Annisa seperti itu?"tanya Alvin.


"Aku tidak tega sebenarnya, Al, melihat Annisa seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, aku ingin mereka merasakan melihta Pak Arsyad yang benar-benar down tanpa Annisa," ucap Rere.


"Tapi, jangan lama-lama juga, Re, kasihan Annisa dan Arsyad," ujar Alvin.


"Iya," jawab Rere.


Alvin melangkahkan kakinya menuju pantry, sebenarnya dia tidak tega melihat Annisa yang semakin kurus sekali, apalagi sedang hamil. Wajahnya selalu sendu, matanya juga selalu terlihat sembab.


"Sampai kapan Leon akan seperti itu, memberi pelajaran untuk keluarga Pak Rico," gumam Alvin sambil meminum kopi yang ia buat.


^^^^^


Shita melajukan mobilnya menuju ke rumah Annisa. Ya, dia masih mencari di mana keberadaan kakak iparnya itu. Dia benar-benar frustasi melihat kakaknya semakin lemah, dan semakin buruk kesehatannya. Bahkan terapi pun Arsyad tidak semangat waktu pertama dia bangun dari komanya.


Shita memarkirkan mobilnya di depan rumah Annisa. dia turun dan bertanya pada karyawan bengkel Arsyil. Donni suami Vera menemui Shita yang berjalan ke arah bengkel.


"Selamat siang, mas. Apa Annisa ada?"tanya Shita.


"Mba Shita, ya? Annisa tidak di sini,"jawab Doni.


"Iya, aku Shita, adik suami Annisa. Lalu di mana Annisa?" tanya Shita lagi.


"Saya tidak tahu, mba," jawab Donni.


"Lalu Shifa dan Dio?" tanya Shita.


"Kalau Shifa dan Dio, mereka ada di dalam, mereka tinggal di sini, dengan saya dan istri saya, Vera," jawab Donni.


Saat Shita bertanya pada Donni di mana Annisa, Dio keluar dengan menuntun sepedanya untuk berangkat les. Ya, Dio sekarang les memakai sepeda, karena tidak mau merepotka Kevin, dan dia senang saja bersepeda. Dio melihat tantenya yang kejam itu datang ke rumahnya. Dio menghampiri shita..


"Ada apa Tante ke sini?"tanya Dio dengan nada dingin.


"Dio, kamu sehat, nak?"tanya Shita.


"Tidak usah basa-basi Tante, mau apa Tante ke sini? ucap Dio dengan ketus.


"Tante tau, Dio marah dengan Tante, maafkan Tante. Dio, Tante mohon, Tante ingin bertemu dengan bundamu." Shita memohon dengan Dio dengan berjongkok di depan keponakannya itu.


"Sudah puas menyakiti hati bunda? Sudah puas Tante membuat bunda menderita? Dan sekarang, tante mengharap bunda kembali lagi? Tidak semudah itu Tante, Tante harus nya tau, Tante sama-sama perempuan, apalagi bunda sedang hamil," ucap Dio dengan penuh amarah.


"Dio, bicara yang sopan dengan tantemu," ucap Donni yang melihat Dio berbicara ketus dengan Shita.


"Harus sopan bagaimana, om? Tante sudah mengahncurkan hidup bunda, sudah menyakiti bunda, sudah membuat bunda menderita, apa Dio harus sopan?" tukas Dio.


"Iya, Tante memang salah, Tante minta maaf, Tante saat itu takut, takut Abah kamu seperti ayah kamu," ucap Shita dengan berlinang air mata.


"Takut? Memang hanya Tante yang merasakan takut? Bunda, aku, Shifa juga merasakannya Tante, apalagi di tambah bunda di usir Tante dan opa dalam keadaan hamil. Dio jiga takut, bunda kenapa-napa. Bukan hanya tante yang takut. Harusnya Tante bisa berpikir dengan bijak saat itu,"

__ADS_1


"Tante juga harus tau, seharusnya tante tidak menyakiti bunda, tidak menampar bunda, karena bukan hanya bunda yang merasakan sakit saat itu. Shifa dan aku juga sangat merasa sakit dengan perlakuan Tante pada bunda," ucap Dio yang semakin tersulut emosinya karena mengingat kejadian itu, di mana Shita dengan kasar berbicara pada bundanya, lalu menampar bundanya dan mendorong keras tubuh bundanya yang lemah itu.


Shita menangis di hadapan keponakannya itu, engingat apa yang telah ia lakukan pada Annisa. Ternyata bukan hanya Annisa yang terluka. Kedua anaknya juga merasakan sakit yang teramat dalam. Terlebih Dio, dia benar-benar merasakan sakit yang amat dalam dengan perlakuan dirinya.


"Tante mohon, maafkan Tante, Dio. Tante ingin bertemu bundamu, kasihan Abah, Dio,"


"Segampang itu meminta maaf? Setelah menorehkan luka pada bunda yang begitu dalam," tukas Dio.


"Kasihan Abah? Apa tante juga tidak merasakan kasihan pada bunda, saat tante mengusir bunda dari rumah, melarang bunda menemui abah?"tanya Dio dengan ketus.


Shita tidak bisa berkata apa-apa lagi kecuali menangis di hadapan keponakannya itu, dengan berdiri menggunakan lututnya. Shifa sebenarnya melihat Dio dan Shita yang sedang berdebat. Shifa hanya bisa mengelus dadanya, mendengar Dio berbicara kasar dengan tantenya.


"Dio, tante mohon, maafkan Tante," ucap Shita dalam Isak tangisnya.


"Lebih baik tante pergi dari sini!" Dio mengusir Shita dengan menepis kasar tangan Shita yang memegang tangannya


"Dio!" teriak Shifa dari depan pintu


"Kasar sekali kamu dengan orang yang lebih tua,"ucap Shifa dengan marah.


Dio menarik napasnya dengan berat dan mengembuskan nya dengan kasar.


"Apa kakak tidak ingat tante menyakiti bunda kita? Apa aku terlalu kasar? Kasar mana dengan perlakuan tante pada bunda, kak?" ucao Dio.


"Iya, tapi tetap kamu tidak sopan dengan orang yang lebih tua seperti ini," ucap Shifa dengan lembut.


"Terserah kakak! Dio berangkat les," ucap Dio sambil mengambil sepedanya dan mengayuhnya ke tempat les.


"Dio! Hati-hati!" teriak Shifa.


Shifa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan saudara kembarnya itu yang semakin hari semakin keras kepala dan bersikap dingin terhadap siapapun. Bahkan jarang sekali dia terlihat bercanda sekarang. Dio yang humoris dan suka menggoda kakaknya tiba-tiba berubah menjadi Dio yang dingin dan tidak banyak bicara.


"Tante, duduklah." Shifa mempersilakan Shita untuk duduk di kursi ruang tamu.


"Terima kasih, Shifa," ucap Shita.


"Maafkan Dio yang kasar, Tante," ucap Shifa.


"Iya, tante tau, perasan Dio, Tante hanya tidak menyangka sekarang Dio berubah, benar kata opa mu, Dio sekarang berubah, Raffi juga berkata seperti itu," ucap Shita.


"Iya, semenjak kejadian itu, sikap Dio berubah menjadi dingin dan pendiam, Tante. Ya, Shifa juga merasakan kecewa pada tante, opa, dan Najwa. Kecewa dan sangat kecewa, tapi apa guanya kecewa berlarut dan marah berlarut. Itu malah akan menjadi penyakit di hati kita, Tante," tutur Shifa.


"Ya Allah, kenapa Shifa hatinya lembut sekali seperti ini? Dia masih kecil, tapi sudah bersikap sedewasa ini, aku malu dengan diriku sendiri," gumam Shita.


"Tante mau minum apa?" Shifa menawari Shita minum.


"Tante boleh minta air putih saja?" pinta Shita.


"Iya, boleh. Sebentar Shifa ambilkan." Shifa mengambilkan air putih untuk Shita ke dapur


"Sebenarnya aku juga masih kecewa dengan Tante Shita, apalagi saat ingat Tante Shita menampar bunda, tapi mau bagaimana lagi, dia tanteku, kakak dari ayah, dan adik dari abah, membenci pun aku salah, karena bagaimanapun, dia adalah saudaraku," gumam Shifa.


Shifa keluar membawa air putih untuk Shita, dia meletakkannya di meja.

__ADS_1


"Silakan di minum, Tante,"


"Iya, terima kasih, Shifa." Annisa meneguk air putih yang Shifa berikan padanya.


Annisa memandangi setiap sudut ruangan di ruang tamu. Dia mencari Annisa juga barangkali Annisa ada di dalam.


"Apa benar Annisa tidak di rumah?" Pertanyaan itu muncul dalam hatinya.


"Bundamu ada di rumah?"tanya Shita.


"Bunda tidak di sini, Tante," jawab Shifa.


"Lalu, di mana bundamu?"


"Bunda tidak tau di mana, katanya mau menenangkan pikirannya. Kami bertemu bunda juga jarang. Bunda jarang ke sini, Tante," jelas Shifa.


"Jadi benar kata Tante Rere, kalian cuma tinggal dengan Tante Rere dan Tante Vera?" tanya Shita.


"Ita Tante, juga Om Donni dan Om Alvin," jawab Shifa.


"Bagaimana kabar Abah?" tanya Shifa.


"Itu yang membuat tante mencari bundamu, Shifa. Abah kamu semakin lemah, Abah kamu tak bersemangat hidup. Terapi saja dia malas-malasan, tante mohon, biarkan Tante bertemu bundamu, Shifa," jelas Shita.


"Kalau bunda di sini ya, silakan bertemu, Shifa tidak melarangnya. Tapi, bunda tidak ada di sini, dan Shifa tidak tau di mana bunda tinggal sekarang," tutur Shifa.


"Ya sudah, kalau kamu juga tidak tahu, tante pamit pulang, maafkan tante, Shifa," ucap Shita.


"Iya, tante," jawab Shifa.


Shita pergi dari rumah Annisa, dia tidak tahu ke mana lagi harus mencari Annisa. Shita masih terngiang ucapan kemarahan Dio tadi. Dia tidak menyangka Dio menyimpan amarahnya yang begitu dalam pada dirinya.


"Ini memang salahku, aku egois. Aku yang membuat keluarga kakakku sendiri hancur," ucap Shita dengan berderai air mata di pipinya.


"Arrggghhhttt…!!!!! Bodoh…Shita..! Kamu bodoh, selalu menyelesaikan masalhlah dengan emosi," teriak Shita di dalam mobil sambil memukul kemudinya.


"Iya, benar kata Kak Vino, aku egois, aku selalu menyelesaikan masalah dengan emosi. Maafkan aku Kak Arsyad, maafkan aku. Aku sudah membuat hidup kakakku menderita." Shita menyesali apa yang ia perbuat selama ini.


Shita sampai di rumah Rico, dia langsung masuk ke kamar kakaknya, terlihat Arsyad sedang duduk di tempat tidurnya dengan mata yang sembab dan memandangi foto Annisa. Shita yang melihatnya juga sakit dan sedih, dia menyeka air matanya lalu masuk dan duduk di samping kakaknya.


"Kak, ayo kita berangkat tetapi?" ajak Shita.


"Untuk apa? Percuma kakak terapi, tak akan mengembalikan Annisa di samping kakak," jawab Arsyad.


"Maafkan Shita, kak. Shita sudah berusaha mencari Annisa, tapi Shita hanya bertemu dengan Dio dan Shifa. Dan, Dio, dia sepertinya benci sekali dengan Shita, kak," ucap Shita.


"Itulah, kalau memutuskan sesuatu dengan emosi. Kamu tidak pernah berubah, Shita,"


"Maafkan Shita, Shita berusaha meminta maaf dan memohon dengan Dio juga, tapi Dio membenci Shita kak, dia tidak mau memberitahu di mana Annisa,"


"Percuma, kamu mencarinya, dia tak akan mau kembali ke sini, bersama ku. Dan untuk apa aku hidup, kalau Annisa tidak ada,"


"Kakak jangan berkata seperti itu, ini salah Shita. Maafkan Shita, kak." Shita menangis memeluk Arsyad.

__ADS_1


"Tak ada gunanya menyesal, karena kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut kita, sulit di hapus bagi mereka yang mendengarnya," tukas Arsyad.


Shita hanya terdiam, saat Arsyad berkata seperti itu. Dan sedikit demi sedikit Shita membujuk kembali kakaknya untuk berangkat terapi. Tapi, Arsyad menolaknya dan hari ini dia sudah tidak mau terapi, karena merasa percuma saja.


__ADS_2