
Ke esokan paginya, Leon sudah bersiap untuk mengantar Shifa, Najwa, Dio, dan Raffi untuk sekolah. Memang Shifa, Dio, Najwa, dan Raffi ingin Leon mengantarnya ke sekolah, biasanya Rico yang ikut mengantar mereka ke sekolah. Sedangkan paman Diki, Alvin, dan Zidane, juga bersiap untuk pergi ke rumahnya. Leon akan ke rumah Naura setelah Rayhan pulang kerja, dia akan bersama Rayhan ke rumah Naura.
Leon mengantar anak-anak ke sekolahnya. Dia mengantarkan Dio dan Raffi ke sekolahannya terlebih dahulu sebelum mengantar Shifa dan Najwa. Najwa juga dekat dengan Leon sekarang, apalagi setelah pulang sekolah nanti Leon menjanjikan membelikan Sketchbook untuk Najwa. Dan dia juga sudah berjanji dengan Shifa. Akan mengurus puisi-puisi Shifa untuk di cetak menjadi buku Antologi puisi. Itu janji Leon yang di nanti-nati Shifa. Beruntung Leon memiliki relasi dengan penerbit buku.
Leon sudah sampai di depan sekolahan Shifa dan Najwa, mereka turun dan berpamitan dengan Leon untuk masuk ke dalam sekolahan. Leon memandang Najwa dan Shifa berjalan beriringan masuk ke dalam sekolahannya. Leon tiba-tiba ingat saat dulu dia sekolah di sini. Dia melihat Sekolah Dasar yang berada di depan SMP tempat Shifa dan Najwa sekolah. Leon meminta izin pada sopir yang mengantarnya ke sekolahan Shifa untuk mendekati Sekolah Dasar yang ada di deoan sekolahan Shifa.
"Pak, sebentar aku ingin ke depan dulu," pamit Leon.
"Oh, baiklah, tuan, saya tunggu di sini,"
Leon menyebrang jalan yang tidak terlalu ramai menuju ke sekolah dasar tersebut. Dia hanya ingin mengambil foto sekolahan itu, di mana dulu, dia sering sekali memfoto seorang gadis yang sekolah di Sekolah Dasar itu. Leon berjalan agak mundur sambil mengambil gambar Seokolah itu, dan tidak sengaja dia menabrak seorang wanita yang ada di belakangnya dan menginjak kakinya, wanita itu akan masuk ke dalam mobilnya setelah mengantarkan anaknya ke sekolah.
"Aww…..hati-hati dong, kalau jalan! Sudah tau ada orang di belakangnya malah mundur-mundur!" ucap wanita itu dengan kesal.
"Maaf Nona, saya tidak tau kalau nona ada di belakang saya, sekali lagi saya minta maaf,"ucap Leon.
"Huh….dasar, lihat sepatu saya kotor, kan?" tukas wanita tersebut.
"Maaf nona, maaf,"ucap Leon.
"Dasar wanita jutek, kena sedikit saja lebay sekali, dia,"gumam Leon.
Wanita itu dengan kesal langsung masuk ke dalam mobilnya dan membanting pintu mobilnya. Leon hanya tersenyum melihat wanita tadi marah dan kesal padanya. Leon memandangi mobil wanita itu hingga hilang dari pandangannya. Leon kembali ke mobilnya, dia masuk ke dalam mobilnya dan menyrih sopir melajukan untuk pulang ke ruamh Arsyad.
Sesampainya di rumah Arsyad, dia langsung masuk ke dalam menemui Arsyad dan Annisa yang sedang pamit dengan Rico, karena akan berangkat ke kantor.
"Kalian mau ke kantor?"tanya Leon.
"Iya, kami mau berangkat, tidak apa-apa kan, kalau aku tinggal di rumah dengan papah," ucap Arsyad.
"Oke, tidak masalah,"
"Oh, ya jika nanti siang ada waktu kita kumpul di cafe Shita, adik ku, kamu bisa minta antar sopir, semalam kan aku kalah nih main catur, sesuai janjiku, aku akan mengajak kamu ke cafe milik adikku," tutur Arsyad.
"Baiklah, nanti siang aku minta sopir untuk mengantarku ke sana,"
"Papah gak di ajak, nih?" timpal Rico.
"Papah boleh ikut sekalian nanti siang, mumpung hari ini aku dan Rayhan free pah setelah makan siang," ujar Arsyad.
"Oke, nanti papah sama Leon langsung ke cafe Shita saja, kita bertemu di sana," ucap Rico.
"Aku boleh ikut?" tanya Annisa.
"Kamu mau ikut juga?" Arsyad bertanya kembali pada Annisa
"Iya, habis istirahat juga aku free, karena aku hanya ada meeting 1 kali nanti jam 10," ucap Annisa.
"Ajak Rere juga," perintah Arsyad.
"Oke, ayo kita berangkat, papah, Leon, kami berangkat dulu,"pamit Annisa.
"Iya, kalian hati-hati," ucap mereka.
"Assalamualaikum,"ucap Arsyad dan Annisa
"Wa'alaikumsalam," jawab Leon dan Rico
Arsyad dan Annisa masuk ke dalam mobil mereka, seperti biasa dua pengawal menemani mereka ke mana pun mereka pergi. Leon memerhatikan 2 mobil yang melaju bersama keluar dari halaman rumah Arsyad, hingga 2 mobil itu hilang dari pandangan Leon. Leon bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa Arsyad dan Annisa sampai di kawal seperti itu. Dia masih terdiam dan terpaku karena beberapa pertanyaan muncul di dalam hatinya.
"Apa papah Rico begitu menyayangi mereka, hingga Annisa dan Arsyad di jaga oleh pengawal? Atau ada bahaya yang mengintai mereka di luar sana? Dan pengawal itu tidak main-main, sepertinya ada yang di sembunyikan oleh mereka di balik kebahagian mereka yang terlihat baik-baik saja," gumam Leon.
"Le, ayo masuk, kenapa masih di sini?" Rico mengagetkan Leon yang masih berdiri terpaku di tempat tadi dengan memikirkan Arsyad dan Annisa.
"Ah...iya papah, ehm…maksud Leon paman,"ucapnya gugup.
"Kamu itu, jangan melamun, apa ada sesuatu yang di pikirkan?" tanya Rico.
"Tidak paman, Leon tidak memikirkan apa-apa," kilah Leon.
"Ayo, duduk di sana, itu Mba Lina sudah membuatkan Teh Hijau," ajak Rico pada Leon untuk duduk di teras dengan menikmati teh hijau.
Mereka duduk berasama di teras rumah Arsyad, Rico sibuk dengan mencari surat kabar hari ini. Sepertinya hari ini belum ada surat kabar yang di antar ke rumah.
"Apa tukang koran belum mengantarkan koran hari ini?"tanya Rico lirih.
"Paman cari koran hari ini?"tanya Leon.
"Iya, biasanya sudah ada di meja ini," jawab Rico.
"Tadi Leon taruh di dalam," ucap Leon.
"Kamu yang menerimanya?"
"Iya, dari Pak Satpam tadi, terus aku taruh di meja ruang tamu, sebentar Leon ambilkan,"ucap Leon.
Leon mengambilkan koran hari ini dan memberikannya pada Rico. Leon duduk di samping Rico yang sedang sibuk membaca koran. Terlintas pertanyaan lagi di benak Leon, soal pengawal Annisa dan Arsyad tadi. Leon memberanikan diri bertanya pada Rico soal pengawal tadi.
"Paman," panggil Leon.
"Hemmm…ada apa?" tanya Rico yang masih setia dengan koran yang di bacanya.
"Itu tadi ada 2 pengawal yang ikut di belakang mobil Annisa dan Arsyad, itu pengawal mereka?"tanya Leon.
"Oh, Kevin sama Jordy? Iya, mereka pengawal Annisa dan Arsyad," jawab Rico.
"Mereka mamakai pengawal?"
"Iya, paman takut, karena kemarin ada seseorang yang mengintainya," jawab Rico.
"Siapa paman?"
"Ya, itu masa lalu Annisa dan Arsyad waktu dulu, seorang wanita yang terobsesi dengan Arsyad, dan dia juga memiliki dendam dengan Annisa," jawab Rico.
"Maksud paman? Wanita itu tidak terima kalau Annisa bersama Arsyad?"
"Bukan karena itu juga, karena masa lalu Annisa dulu dengan wanita itu, sebelum Annisa menikah dengan Arsyil atau Arsyad. Ya, lebih tepatnya saat mereka kuliah bersama,"
Rico menghentikan aktivitas membacanya, dan dia menceritakan semua pada Leon kenapa Annisa dan Arsyad sampai di kawal ke mana pun mereka pergi.
"Oh, karena wanita psyco itu mereka sampai di kawal ke mana pun mereka pergi, aku harus bisa membantu Annisa dan Arsyad, agar wanita itu tak mengganggunya,"gumam Leon.
"Lalu sekarang di mana wanita itu, paman?"tanya Leon.
"Paman tidak tau, terakhir kata penjaga vila paman, dia di Berlin, karena mereka mengatakan Annida dan Arsyad berada di Berlin," jawab Rico.
Leon terdiam dan mengangguk-anggukan kepalanya. Dia penasaran sekali dengan wanita yang bernama Farina itu, yang mengancam hidup Annisa dan Arsyad. Leon sebisa mungkin membantu akan membantu Annisa dan Arsyad. Dia tidak mau, hidup Annisa terancam seperti sekarang ini.
^^^^^
__ADS_1
Siang hari di kantor Annisa, Annisa sudah selesai dengan pekerjaannya, dia keluar menemui Rere yang sudah selesai juga dengan pekerjaannya. Dia duduk di depan sahabatnya itu dan mengajaknya untuk makan siang di cafe Shita sekalian.
"Re, makan siang di luar yuk, di cafe kak Shita, sekalian ngopi-ngopi santai, sama papah, Kak Arsyad, Kak Rayhan, dan Leon," ajak Annisa.
"Leon? Dia ke sini? Mau dong ikut, penasaran sama orang tampan itu." Rere kegirangan akan bertemu dengan Leon, dia langsung mengambil tasnya untuk ikut Annisa ke cafe Shita.
"Giliran ada cowok tampan juga, kamu gugup," tukas Annisa.
"Jiwa jomblo ku meronta, Annisa," ucapnya.
"Ayo dong, sekarang berangkat," ajak Rere yang sudah bersiap-siap.
"Sholat dulu, udah adzan tuh, aku lagi udzur,"ucap Annisa.
"Iya deh iya, aku ke musholah dulu." Rere meninggalkan Annisa dan berjalan ke musholah.
"Sepertinya aku harus menjodohkan dia dengan Leon, sepertinya mereka berdua sangat cocok," gumam Annisa.
Annisa kembali ke ruangannya, dia mencuci wajahnya dan membersihkannya, lalu memoles wajahnya lagi dengan make up tipis.
"Aku kangen dengan Kak Arsyad, aku ingin memeluknya," gumam Annisa.
Entah kenapa selama Annisa menikah dengan Arsyad dia menjadi tidak ingin jauh-jauh dari Arsyad. Dia selalu merindukan suaminya, dan selalu ini bermanja dengan suaminya.
"Kak aku kengen." ~Annisa.
Annisa menuliskan pesan pada suaminya, dia memang sudah tidak sabar sekali untuk bertemu suaminya nanti di cafe kakak ipar yang sekarang menjadi adik iparnya.
Annisa memandangi ponselnya dari tadi menunggu suaminya membalas pesan. Hingga Rere selesai sholat, suaminya belum membalas pesannya, dari tadi Annisa mengerucutkan bibirnya menunggu suaminya membalas pesannya.
"Eh…manyun aja, kenapa? Ayo dong berangkat," ajak Rere yang tiba-tiba masuk ke ruangan Annisa.
"Ya sudah yuk berangkat," ajak Annisa dengan wajah yang sedikit cemberut.
Annisa masuk ke mobilnya bersama Rere, mereka memakai mobil Jordy, pengawalnya. Dari tadi Annisa melihat ponselnya terus dengan raut wajah seperti orang menanti chat dari kekasihnya.
"Kamu dari tadi kenapa, sih? Muka di tekuk aja dari tadi," ucap Rere yang membuyarkan lamunan Annisa.
"Kak Arsyad belum membalas chatku," jawab Annisa.
"Yaelah…..karena Kak Arsyad belum chat kamu? Kamu jadi manyun aja dari tadi," ucap Rere sambil menarik pipi Annisa yang semakin chubby.
"Heran deh, sekarang pipi kamu tambah tebal banget, dah gitu sekarang tambah bucin bgt kamu, nis,"
"Apaan sih, Re. Sakit tau," tukas Annisa.
"Ini pipi apa apa sih? Tebel banget," ucap Rere sambil menarik pipi Annisa lagi.
"Re, sakit!" ucap Annisa sambil mengusap pipinya.
Annisa merasakan ponselnya bergetar dan berdering di genggamannya, senyuman Annisa terurai karena melihat suaminya membalas pesan darinya.
"Kakak juga kangen kamu, nanti jadi kan kita bertemu di cafe Shita?" ~Arsyad.
"Jadi kak, ini aku dan Rere lagi jalan ke cafe Kak Shita." ~Annisa.
"Hati-hati, sayang, sama Rere, kan?" ~Arsyad.
"Iya, sama Rere, Kak," ~Annisa.
"Ya sudah, sampai ketemu di cafe Shita, aku akan hubungi papah, biar papah juga berangkat dari rumah bersama Leon," ~Arsyad.
"Iya, sayang." ~Arsyad.
Annisa tersenyum bahagia sudah mendapat balasan chat dari suaminya. Mobil Annisa sudah sampai di depan cafe Shita. Annisa dan Rere turun dari mobil dan masuk ke dalam cafe Shita. Annisa mencari tempat yang nyaman untuk nanti ngopi santai bersama suaminya dan lainnya.
Setelah mendapat tempat yang di rasa nyaman untuk berkumpul nanti, Annisa masuk ke dalam menemui Shita, dia bertanya dulu dengan karyawan Shita, Shita di cafe atau tidak, dan ternyata Shita sedang di ruangannya dan baru selesai sholat dhuhur. Annisa mengetuk pintu ruangan Shita, dan Shita mempersilakan dia masuk ke dalam.
"Kak Shita." Annisa masuk ke dalam ruangan Shita.
Shita kaget melihat Annisa yang datang menemuinya, Shita kita karyawannya, ternyata Annisa yang datang.
"Annisa, kamu ke sini? Sama Kak Arsyad?"tanya Shita.
"Sama Rere, kak. Nanti Kak Arsyad, Kak Ray, Papah, dan Leon menyusul," jawab Annisa.
"Leon?" tanya Shita.
"Iya, dia ke sini nanti sama papah," jawab Annisa.
"Kak ada menu untuk makan siang yang recommended gak di sini?"tanya Annisa.
"Ada, kamu belum makan siang?"
"Iya, tadinya mau makan di kantor, ya sekalian aja di sini," jawab Annisa.
"Oke, nanti kakak bilang karyawan kakak, untuk menyiapkan menu spesial buat kamu dan Rere,"
"Kak, porsinya di banyakin untuk Annisa,"
"Nis, kami gak salah? Sekarang kamu makannya tambah banyak, Nis, kamu sedang hamil?"tanya Shita yang dari kemarin melihat Annisa makan dengan porsi yang banyak.
"Annisa belum hamil, ini Annisa sedang datang bulan, kak," jawab Shita.
"Ya sudah Ayo tunggu di luar, nanti biar karyawan kakak yang bawakan makan siang untuk kamu dan Rere,"
Annisa kembali duduk di samping Rere bersama Shita juga. Tak lama kemudian karyawan Shita membawakan pesanan Annisa dan Rere. Annisa langsung menikmati makanannya. Ya , Annisa sekarang memang hobi sekali makan, Shita yang melihat Annisa makan dengan lahapnya, dia hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Pantas saja pipi kamu tambah tebal sekali nis, ini makanan banyak sekali, kamu makan dengan cepat sekali," ucap Rere.
"Lagi masa pertumbuhan, Re. Biarkan saja," sahut Shita.
"Iya kak, ngemil nya juga kebangetan," imbuh Rere.
"Huuussss…sudah, jangan berdebat, yang penting masih normal-normal saja badanku," ucap Annisa.
Annisa, Rere, dan Shita menunggu Arsyad, Rayhan, Rico, dan Leon datang. Rere berpamitan pada Annisa dan Shita untuk ke toilet. Tak lama kemudian Arsyad dan lainnya datang di cafe Shita. Mereka masuk ke dalam, Shita melambaikan tangannya pada papahnya.
"Papah," seru Shita memanggil Rico.
Rico dan lainnya berjalan ke arah Shita. Mata Shita tertuju pada seorang yang sangat asing, yang baru saja ia lihat hari ini.
"Itu yang namanya Leon, Nis?"tanya Shita.
"Iya, kak," jawab Annisa.
Mereka duduk melingkar di depan meja, Shita memanggil pelayan untuk menyajikan makanan dan minuman. Mereka terlebih dulu memilih menu dan minuman sebelum di catat pelayan.
"Mana Rere, Nis?"tanya Rico.
__ADS_1
"Sedang di toilet, pah," jawab Annisa.
"Le, kenalkan, ini anak perempuan paman, adik Arsyad, namanya Shita, pemilik cafe ini. Suami namanya Vino, tapi dia tidak di sini." Rico memperkenalkan Shita pada Leon.
"Salam kenal, Shita, saya Leon," ucap Leon sambil berjabat tangan dengan Shita.
"Shita, adik Kak Arsyad," ucap Shita.
"Maaf, toilet sebelah mana, ya?" tanya Leon.
"Oh…sebelah sana, lalu belok kiri." Shita menunjukannya.
Leon dengan segera pergi ke toilet, dia berjalan dengan tergesa-gesa hingga tak melihat seseorang yang sedang berjalan di depannya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Awww….hati-hati dong, kalau jalan! Gak punya mata, ya? Jelas-lejas ada orang jalan di tabrak," ucap seorang wanita sambil bangun dari jatuhnya karena tertabrak Leon.
"Maaf, Nona. Mari saya bantu." Leon mengulurkan tangannya pada wanit itu, dia bangun dengan berpegangan tangan Leon.
"Terima kasih, kotor kan baju, ku. Huh," ucap Rere sambil mengusap baju yang sedikit kotor.
"Maaf nona, nanti saya ganti baju nona," ucap Leon.
"Gak us……kamu!" tunjuk Rere dengan kesal di hadapan wajah Leon.
"Kamu, kamu yang tadi pagi aku injak sepatunya?" tanya Leon.
"Bagus kalau ingat! Kamu sudah mengotori sepatuku tadi pagi, dan sekarang mengotori bajuku, dan kamu harus bertanggung jawab!" dengan sangat murka Rere mununjukan jari telunjuknya di hadapan wajah Leon.
"Tidak usah kasar seperti itu, nona cantik. Aku akan bertanggungjawab. Oke," ucap Leon dengan santai dan tersenyum tampan.
"Gila, ni orang tampan sekali ternyata," gumam Rere dengan menatap Leon tanpa berkedip.
"Hay…aku memang tampan, jangan menatap aku seperti itu, nona cantik, nanti kamu jatuh cinta,"
"Ahh…kamu, aku minta kamu harus tanggung jawab!" tukas Rere.
"Menarikan ponselmu," pinta Leon.
"Untuk apa?"tanya Rere.
"Aku tuliskan nomor ponselku, besok aku tunggu kamu menghubungiku, di mana kita bertemu untuk mengganti baju dan sepatumu," jawab Leon.
"Tidak perlu!" Rere pergi meninggalkan Leon.
Degub jantung Rere semakin kencang, apalagi Leon menatapnya dengan sangat dalam. Rere berjalan dengan memegang dadanya karena masih saja berdegup kencang.
"Ya Tuhan, ini apa? Jantungju berdebar sekali melihat pria itu," gumam Rere.
Rere kembali ke mejanya, dia melihat Arsyad dan lainnya sudah datang, tapi dia tidak melihat ornag asing di antara mereka. Rere duduk di samping Annisa, dia mengatur napasnya yang masih tak beraturan karena kejadian di toilet tadi. Setelah napasnya sudah teratur, Rere meminum minumana yang tadi dipesannya.
"Lama sekali, Re, kamu ngapain di kamar mandi?"tanya Annisa.
"Habis di tabrak sama orang aneh, pagi-pagi sudah menginjak sepatuku di depan sekolahan Bian, tadi nih, ketemu lagi, Nis, dia menabrak ku sampai aku terjatuh, kan bajuku kotor, Nis," gerutu Rere.
"Siapa tau, dari tabrakan jadi jodoh ,Re," ucap Annisa.
"Yah, seperti yang sedang bicara," sahut Rayhan.
"Maksudnya?" tanya Annisa.
"Kalau kalian tidak tabrakan di depan cafe ini, kalian juga tidak berjodoh," jawab Rere.
"Iya, benar sekali," ucap Arsyad dan Annisa bersama.
Arsyad menarik tubuh Annisa dan mencium pipinya. Dia tak peduli ada orang di depannya, karena dari tadi Arsyad sudah ingin mencium pipi istrinya yang bertambah tebal itu.
"Om, lihat anak om, gak ada akhlak banget, di depan kami malah bermesraan," ucap Rayhan pada Rico.
"Mereka sudah biasa kak Ray, gak di kantor gak di mana, seperti itu. Kamu tau, aku ini jomblo, Annisa, jangan biarkan jiwa jombloku ini meronta, Annisa," ucap Rere.
"Salah sendiri kebanyakan pilih-pilih," tukas Annisa.
"Ehh…mana yang namanya Leon, kok gak ada? Ah…apa urusannya, gak ada Leon ya sudah," gumam Rere.
Mereka melanjutkan mengobrol hingga seseorang yang di tanyakan Rere dalam hatinya muncul di hadapannya.
"Maaf saya lama, wah kopinya sudah datang, nih," ucap Leon sambil duduk di samping Rico.
"Kamu!" ucap Leon dan Rere bersamaan.
"Kalian kenal?" tanya mereka semua.
"Ini orang yang baru saja aku ceritakan, Nis," ucap Rere dwngan lirih.
Annisa mengbangkan senyumannya, mereka semua juga langsung menjodohkan Rere dengan Leon.
"Wah…benar kan, Re. Jodoh tak ke mana,"ucap Arsyad.
"Apaan sih, Pak Arsyad," tukas Rere dengan malu.
"Hai, nona, kita bertemu lagi, kenapa anda di sini?"tanya Leon.
"Suka-suka aku dong," tukas Rere.
"Jiaaahh…jutek banget, Re. Jangan gitu dong," ucap Annisa.
"Leon, kenalin, ini nih yang namanya Rere, partner kerjaku, dan sahabatku, masa kalian lupa, kan waktu itu kalian sempat tegur sapa di Video Call," ucap Annisa.
"Aku lupa," tukas Rere dengan jutek.
"Oh…ini Rere, perkenalkan aku Leon." Leon mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denga Rere.
"Rere." Rere menjabat tangan Leon.
"Jangan jutek-jutek, nona. Tenang saja, nanti aku ganti semua baju dan sepatu kamu," ucap Leon.
"Tidak perlu!" tukas Rere.
"Sudah dong, Re. Tadi di ajak ke sini kegirangan mau ketemu Leon, sekarang malah pasang wajah jutek," ucap Annisa sambil meledek sahabatnya.
"Apaan sih, Nis, jangan malu-maluin aku, deh,"
Rere masih diam tak banyak bicara, dia tidak banyak bicara seperti biasanya. Mungkin karena malu dengan Leon atau apa. Rere hanya diam dan menyimak percakapan mereka.
Mereka bercanda dan mengobrol hingga lama di cafe Shita. Vino pun ikut menyusul ke cafe Shita, untuk berkenalan denga Leon. Dari tadi Leon dan Rere saling curi pandang. Leon memandang Rere yang masih berlagak jutek di hadapannya.
"Seperti pernah melihat wajah mirip Rere, di mana ya? Yang jelas sebelum aku menginjak kakinya tadi pagi, seperti dulu aku sering melihat orang seperti Rere," gumam Leon sambil memandangi Rere yang berada tepat di depannya.
"Apaan sih, dari tadi curi-curi pandang mulu, kenapa harus Leon yang menabrakku tadi pagi dan sekarang, benar-benar mati gaya aku," gumam Rere.
__ADS_1
Leon masih berpikir tentang Rere. Dia benar-benar seperti pernah melihat Rere sebelum tadi pagi menginjak kaki Rere di depan sekolah dasar waktu mengantar Najwa dan Shifa di sekolahnya.