
Arsyad sampai di rumah, semua keluarganya sudah menunggu di depan rumahnya.
"Syad....Syad dari mana saja kamu. Ini sudah mepet sekali waktunya."ucap Papah Rico.
"Pah, ceritanya panjang, Arsyad mau sholat isya dulu terus siap-siap."jawabnya sambil berlalu.
"Ya sudah sana cepat."ucap Rico.
Arsyad masuk ke kamarnya dia segera mandi dan berganti pakaiannya lalu sholat Isya.
"Ya Allah, kuatkan hati ini untuk melihat kebahagiaan adik ku malam ini. Semoga Annisa dan Arsyil bisa bahagia. Tolong hapuskan rasa yang masih tertinggal di hatiku untuk Annisa Ya Allah, jangan kau bangun lebih megah lagi rasa di dalam hatiku ini untuk Annisa agar aku bisa membuka hati untuk seorang wanita yang nantinya akan menjadi pendamping hidupku. Ampuni aku Ya Allah." Arsyad berdo'a lirih setelah selesai sholat.
Arsyad keluar menghampiri keluarganya yang sudah menunggu dari tadi.
"Ayo berangkat sekarang?"ajak Arsyad pada semuanya.
"Ayo sudah agak telat ini kak."ucap Arsyil.
"Iya Syil ayo kamu ikut mobil kakak sama papah dan ibu."ajak Arsyad pada Arsyil.
"Vin, kamu sama Shita kan?"tanya Arsyad pada Vino.
"Iya Syad."jawabnya.
Mereka memasuki mobil masing-masing. Mobil Arsyad berangkat terlebih dahulu, disusul mobil Vino dan Ray serta keluarganya. Di dalam mobil Arsyad hanya terdiam saja. Mempersiapkan hatinya dan menata hatinya agar bisa menerima kenyataan yang ada. Iya, hari ini Annisa akan resmi bertunangan dengan Arsyil, itu artinya hati Arsyad akan sedikit terluka. Ya sedikit karena Arsyad pelan-pelan membuang perasaannya untuk Annisa. Tapi, tetap ada rasa yang tertinggal di hatinya.
"Kak, tadi kemana saja kok kamu lama pulangnya?"tanya Arsyil.
"Apa Shita tak memberitahu kamu Syil?" Arsyad balik bertanya pada Arsyil.
"Tidak kak."jawab Arsyil.
"Shita tak bilang apa-apa pada kami juga ya pah."sahut Andini yang duduk di belakang.
"Iya, memangnya kamu dari mana?"tanya Rico papahnya.
"Waktu pulang tadi, Arsyad bertemu Abah di pinggir jalan karena mobilnya mogok. Terus abah minta tolong sama Arsyad untuk memgantarnya ke bandar menjemput Almira."jelas Arsyad.
"Abah? Abah Fajri?"tanya Rico.
"Iya papah, siapa lagi kalau bukan Abah Fajri."jawab Arsyad.
"Cie.....udah manggil abah aja kakak. Aku yang baru mau tunangan saja manggil papah nya Nisa om kok."sahut Arsyil menggoda kakaknya.
"Syil,aku mau panggil apa coba, sopirnya saja manggilnya Abah. Ya aku ikutan aja."
"Berarti Mira sudah pulang? Ibu penasaran seperti apa Mira."ucap Andini.
"Mau lihat gimana kan bercadar ibu."sahut Arsyad.
"Kan sesama perempuan bisa lihat. Ya nanti ibu ajak aja ke kamar ibu, biar ibu lihat seperti apa Almira. Ibu penasaran sekali."
"Mungkin malam ini datang ke acara tunangan Arsyil. Abah di undang Om Rizal juga sih, tadi bilang sama Arsyad begitu."jelas Arsyad.
"Semoga saja ikut."ucap Andini.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Annisa. Semua keluarga Annisa menyambut kedatangan keluarga Rico. Para tamu juga sebagian sudah datang di rumah Pak Rizal. Acara pertunangan Arsyil berjalan dengan lancar. Semua tamu meniknati jamuan yang sudah di sediakan. Arsyad terlihat menyendiri duduk di kursi teras. Sedangkan Arsyil, dia bersama Annisa menemui tamu-tamunya.
Sebuah mobil masuk ke halaman rumah Pak Rizal. Semua yang ada di dalam mobil keluar satu-persatu. Abah Fajri dan keluarga datang ke acara pertunangan Arsyil dan Annisa. Almira pun juga ikut serta ke acara pertunangan Arsyil dan Annisa.
"Arsyad."panggil Abah Fajri.
"Abah....Ummi baru datang?"tanya Arsyad sambil mencium tangan Abah Fajri dan Ummi Rahmah.
"Iya, kenapa kamu di luar?" tanya Abah.
"Di dalam gerah sekali abah. Ayo Abah, Ummi masuk." Arsyad mengajak masuk Abah dan keluarga.
"Syad, kenapa cuma ajak Abah sama Ummi saja."celetuk Almira.
"Oh..iya, ayo Mira masuk ke dalam."ajak Arsyad pada Mira.
Ummi dan Abah hanya senyum-senyum melihat putrinya seperti itu.
"Syad...syad....kamu memang lelaki idaman semua wanita mungkin. Tapi, cueknya kebangetan, angkuh pula. Ummi, Abah kenapa mau menjodohkanku dengan orang seperti dia."gumam Mira dalam hati.
"Duh....aku sampai lupa ada Mira, aku sama sekali tak menghiraukan dia yang ada di samping Ummi."gumam Arsyad dalam hati.
Abah dan keluarga menemui Pak Rizal juga Rico.
"Selamat malam Pak Rizal, Pak Rico." sapa Abah Fajri.
"Selamat malam Pak Fajri"jawab mereka.
"Ini putri Pak Fajri?"tanya Pak Rizal.
"Oh iya, ini Almira putri saya pak. Dia baru pulang dari Kairo melanjutkan S3 nya."jawab Pak Fajri.
"Ohh...sama sepertimu Syad berarti, sama-sama lulusan dari Kairo." ucap Pak Rizal.
"Iya om."jawab Arsyad sambil tersenyum.
"Oh..ini yang namanya Almira?"tanya Andini.
"Iya tante."jawabnya.
Mereka mengobrol berasama, Andini semakin akrab dengan Almira, mereka mengobrol sambil menyelipi sedikit candaan.
"Oh iya tante, mana Shita?"tanya Almira.
"Sepertinya di ruang tengah berasama Arsyil dan Nisa juga."jawabnya.
"Syad antar Almira ke Shita dulu sana." Andini menyuruh Arsyad mengantar Almira ke Shita.
"Emm...ayo Mira aku antarkan kesana."
"Oh iya Syad. Tante Mira ke sana dulu ya, Abah, Ummi Mira ke Shita dulu ya?" pamit Mira.
Mira berjalan mengekori Arsyad menuju di mana Shita dan lainnya berada.
"Mira, itu Shita di sana. Ayo kesana."ajak Arsyad.
Mira dan Arsyad mendekat ke arah Shita dan lainya.
"Shita."panggil Mira.
"Kak Mira...."Shita langsung memeluk Mira.
"Gimana kabarmu Shita?"tanya Mira.
__ADS_1
"Baik Kak, kakak bagaimana?"
"Alhamdulillah baik. Ih...kamu tunangan kok tidak bilang kakak Ta."
"Kan kakak belum ngabarin Shita, jadi Shita gak tau kontak kakak. Oh iya kak, ini Arsyil adik ku dan ini Nisa tunangannya. Itu Kak Vino tunanganku. Dan yang di sebalah kakak sudah tau kan siapa?" Shita mengenalkan saudaranya dan menggoda Shita juga.
"Salam kenal semua nya. Kalau di sebelahku....."ucap Almira terpotong.
"Mira, kamu sudah makan? Kalau belum ayo makan dulu."ajak Arsyad.
"Kakak.....aku kan masih ingin ngobrol dengan Kak Mira, main ajak-ajak Kak Mira makan."
"Iya Syad aku belum ingin makan, aku ingin ngobrol dengan Shita dulu."
"Oh...ya sudah aku tinggal dulu sebentar ya."
Arsyad pergi keluar meninggalkan mereka, Arsyad masih merasakan canggung dengan Annisa yang akan menjadi adik iparnya.
"Pak Arsyad kenapa sama sekali tak menatapku, bahkan dia belum mengucapkan selamat untuk ku dan Arsyil."gumam Nisa dalam hati.
"Aku tau kak, sebenarnya hati kakak tidak siap menerima semua ini. Bahkan, kakak sama sekali tak memberiku ucapan selamat."gumam Arsyil dalam hati.
"Syil, Nis kenapa kalian diam?"tanya Shita.
"Tidak apa-apa kak."jawab mereka.
"Oh iya Arsyil, Nisa selamat ya? Semoga bahagia, cepat-cepat nikah jangan terlalu lama, kamu juga Shita."ucap Almira.
"Kak Mira, kami menunggu Kak Arsyad menikah dulu, walau bagaimanapun Kak Arsyad saudara tertua kami kak." Jawab Shita.
"Haruskah seperti itu?"tanya Mira.
"Iya dong kak."jawab Arsyil
"Jangan menunda menikah, kalian sudah memiliki calon sebaiknya menikahlah, jangan lama-lama Shita, Arsyil, itu tidak baik. Walaupun kalian sudah memiliki ikatan pertunangan tapi kan tetap saja statusnya masih pacaran." jelas Mira.
"Sama saja seperti Kak Arsyad bicarnya. Kalian cocok lho sebenarnya. Kak, mau ya sama Kak Arsyad?" ucap Shita.
"Lho kok malah bahas Arsyad? Sudah, jodoh sudah ada yang mengatur." ucap Mira.
Mereka masih asik mengobrol dengam sedikit candaan
Rayhan dan Naura yang melihat Arsyad sedang duduk menyindiri di teras depan, mereka berjalan memghampiri Arsyad.
"Syad, kenapa di sini sendirian? Mana yang lain?"tanya Ray yang sedikit mengagetkan Arsyad.
"Ehh kamu Ray, bikin aku kaget saja. Tuh pada di dalam sama Almira juga."jawabnya.
"Almira anaknya Abah Fajri?"
"Iya Ray."
"Syad sudah relakan, aku tahu kamu sakit sekali hatinya menerima semua ini. Syad, mencoba membuang rasa cinta itu memang sulit. Tapi, kamu jangan seperti ini. Kasihan Arsyil sama Annisa Syad. Aku lihat kamu terlalu kebawa perasaan sekali. Kamu bilang kamu merelakan, tapi kenapa kamu seperti ini." Rayhan mencoba meredakan rasa yang tak tentu pada hati Arsyad.
"Iya Ray, tak seharusnya aku seperti ini, aku juga belum memberi selamat pada Nisa dan Arsyil. Rasa ini terlalu dalam sekali untuk Nisa Ray, aku tak tau kenapa bisa mencintai wanita hingga seperti ini. Hingga aku lemah sekali Ray."ucapnya menyesal sambil mengusap wajahnya kasar.
"Syad, ini bukan Arsyad yang aku kenal. Masa karena wanita kamu jadi lemah seperti ini." ucap Naura.
"Entahlah Ra aku tak tau."jawabnya.
Arsyad masih berbincang dengan Ray, tiba-tiba Almira datang untuk menemui Arsyad dan mendengar semua yang di bicarakan Arsyad dengan Ray dan Naura.
"Syad, kamu di sini?" Almira mendekati Arsyad, Ray dan Naura.
"Almira sejak kapan kamu di situ?"tanya Arsyad.
"Dari tadi."jawabnya.
"Kamu dari tadi di sini?"tanya Arsyad dengan agak panik karena takut Mira mengetahui semua pembicaraannya dengan Ray dan Naura.
"Iya dari tadi kan benar, tapi aku baru saja ke sini menemui kamu Syad."
"Ohh aku kira dari tadi di sini karena aku tak melihatnya. Oh iya ini Rayhan sepupuku dan ini Naura istrinya."
"Oh..iya salam kenal."
"Mira, kamu sudah makan?"
"Belum Syad, dari tadi ngobrol dengan Shita dan lainnya di dalam. Kamu sudah makan?"
"Belum juga, ayo mau makan? Aku temani kamu." ajak Arsyad.
"Emm boleh, ayo Naura,Rayhan sekalian saja."ajak Mira pada Naura dan Rayhan.
"Wah...kalian berdua saja kami sudah makan dari tadi."jawab Rayhan.
"Ya sudah yuk Mir makan dulu."ajak Arsyad.
Mira berjalan di belakang Arsyad menuju ke meja saji. Mira dan Arsyad mengambil makanan dan mereka duduk di kursi yang telah di sediakan. Mira duduk di samping Arsyad dengan jarak dua kursi di tengah-tengah mereka. Mereka makan tanpa berbicara sepatah katapun saat selesai makan mereka baru mulai membuka pembicaraan.
"Syad, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tanya apa Mira."
"Syad kenapa abah dan ummi berniat sekali untuk menjodohkan aku dengan kamu?"
Arsyad mengernyitkan dahinya, dia tak menyangka kalau Abah dan Ummi sudah bilang dengan Mira soal perjodohan ini.
"Abah dan Ummi apa sudah bercerita dengan mu soal ini?"
"Iya waktu aku masih di Kairo abah menelfonku dan bilang seperti itu."
"Lalu bagaimana tanggapanmu memgenai ini Mira?"tanya Arsyad pada Mira.
"Syad, iya aku ingin menikah, apalagi usiaku sudah setua ini. Tapi, aku tidak mau menikah dengan seseorang yang masih mencintai wanita lain di hatinya." Ucapan Mira membuat Arsyad tertohok.
"Maksudmu?"
"Syad, aku tau kita sama-sama sudah dewasa, bahkan umur kita sudah memang seharusnya untuk menikah. Aku minta kamu fikirkan dulu permintaan orang tua kita Syad. Jika memang kita berjodoh kita akan bertemu dan di persatukan dalam ikatan suci. Tapi, kalau tidak semoga orang tua kita hubungannya masih tetap baik-baik saja."jelas Mira.
"Mira apa kamu mendengar pembicaraanku tadi dengan Ray dan Naura?"tanya Arsyad.
"Maaf Syad, aku tidak sengaja mendengarnya. Dan, ternyata kamu mencintai Annisa calon istri adikmu sendiri. Maaf Syad."
Arsyad hanya terdiam. Memang dia salah. Karena, sampai detik ini dia masih menyimpan rasa itu untuk Annisa.
"Kamu tidak salah Mira, aku yang salah. Tak seharusnya aku masih menyimpan semua rasa itu."
"Sudah Syad, itu manusiawi, kamu masih menyimpan rasa itu. Tapi, setelah kamu benar-benar mememukan seorang wanita untuk dijadikam seorang istri, tolong lupakan semua tentang Nisa. Entah, siapa nanti yang menjadi istrimu, aku atau wanita lain."
__ADS_1
"Mir, apa kamu setuju dengan perjodohan ini?"tanya Arsyad.
"Aku setuju. Karena, pilihan orang tauku pasti yang terbaik. Tapi, setelah tau semua ini, aku tak yakin lagi kamu akan menyetujuinya dan aku tak memaksakannya."jawab Mira.
Arsyad kembali mencerna ucapan Mira, dia masih terdiam saja dan akhirnya Mira mengajak Arsyad menemui Arsyil.
"Syad, kamu belum memberi ucapan selamat kan pada Nisa dan Arsyil?"
"Kok kamu tau?"
"Asal tebak saja sih. Syad, sana kamu temui adikmu dan calon istrinya. Kamu tau setelah kamu pergi meninggalkan kami semua di dalam, raut wajah Arsyil berubah menjadi kecewa. Jangan seperti itu Syad."
"Mira aku sudah berusaha agar tidak seperti ini, entah kenapa tiba-tiba rasanya seperti ini Mira."
"Ikhlas Syad."
Mira pergi meninggalkan Arsyad, dia kembali ke tempat Shita dan lainnya. Arsyad juga masuk dan mendekati mereka yang sedang mengobrol. Dia menata hatinya kembali setelah Almira menasehatinya.
"Iya benar kata Almira, aku harus ikhlas. Dia begitu dewasa sekali walaupun Almira anak satu-satunya. Papah, ibu terima kasih, pilihan kalian yang terbaik buatku."gumam Arsyad dalam hati.
"Mira, kenapa kamu pergi begitu saja? Aku mencarimu."ucap Arsyad yang sudah ada di belakang Mira.
"Aku masih ingin mengobrol dengan Shita. Jadi, aku langsung kembali kesini setelah makan."
"Oh begitu, Arsyil, Nisa selamat ya. Maaf kakak dari tadi di telfon teman kakak yang ada di ponpes."
"Kakak benar-benar mau ke sana?"tanya Arsyil.
"Iya jadi lah Syil, nanti 2 bulan lagi kakak berangkat."jawabnya.
*****
Waktu sudah semakin malam, keluarga Arsyil pamit pulang, para tamu juga satu-persatu sudah mulai pulang.
Pak Fajri menghampiri Almira yang sedang bersama Arsyad dan lainnya untuk pamit pulang. Pak Fajri dan keluarga pamit untuk pulang. Mereka masuk ke dalam mobilnya. Pak Fajri melihat Almira yang sepertinya sangat lelah.
"Mira kamu lelah?"tanya Abahnya.
"Abah Mira mau bertanya boleh?"
"Iya boleh."
"Abah apa tau kalau Arsyad menyukai tunangan Arsyil?"
"Kamu tahu dari mana Mira?"
"Dari Arsyad, tadi Mira tidak sengaja mendengar Arsyad dan Rayhan, lalu aku bertanya lagi dengan Arsyad memastikan iya atau tidak dan dia menceritakan semua pada Mira bah. Abah, kenapa Abah dan Ummi menjodohkan Mira dengan Arsyad yang sama sekali tak menyukai Mira. Apa bisa Mira hidup satu atap dengan suami yang tidak mencintai Mira Abah, Ummi?"ucap Mira.
"Nak, perkara suka dan cinta dalam sebuah rumah tangga itu akan tumbuh dengan seiring waktu, Abah tau kamu juga tak suka atau bahkan cinta pada Arsyad. Pernikahan bukan hanya perkara cinta dan suka nak, jika kalian berdua mencintai Allah dengan tulus, rumah tangga kalian akan sempurna, walaupun pada awalnya tidak saling mencintai atau menyukai. Setelah menikah kalian akan merasakan sebuah kehangatan yang akan menumbuhkan kasih sayang yang sangat dalam. Karena, cinta sejati tumbuh dari benih kasih sayang yang amat dalam pada pasangan kita." Abah Fajri mencoba menjelaskan semua pada putrinya.
"Benar kata abah Mira, mungkin kamu tidak mengetahui kalau Abah dan Ummi juga di jodohkan dulu. Bahkan lebih parahnya Abah sudah memiliki kekasih dan Ummi pun sudah. Tapi, memang pilihan orang tua kami yang terbaik."ucap Ummi Rahmah.
"Mira, bagaimana apa kamu akan menerima perjodohan ini?"tanya Abah Fajri.
"Abah, Mira nurut dengan Abah dan Ummi, pilihan Abah dan Ummi pasti yang terbaik buat Mira. Tapi, Mira butuh waktu dua atau tiga bulan lagi ya Bah, Mi...Mira tau Arsyad masih belum bisa menerimanya, biarkan dia menuntaskan menghilangkan rasa yang tertinggal di hatinya untuk Annisa. Mira akan menunggu."jelas Mira.
"Apapun keputusan kamu, abah dan ummi terima. Abah dan Ummi sayang sekali sama Mira, Abah dan Ummi ingin kamu hidup dengan suami yang baik, dan Arsyad adalah pilihan kami nak." ucap Abah Fajri.
"Iya Mira tau Abah, Ummi. Oh iya Abah, Ponpesnya Pakde Fahmi yang di kota Y namanya Ponpes T kan ya Bah?" Tanya Mira.
"Iya, kenapa kamu tanya itu?"
"Kemarin budhe menelfon dan katanya butuh pengajar wanita untuk mengajar di kelas santri wanita. Dan, budhe meminta Mira mengajar di sana. Yang lebih mengagetkan lagi, Arsyad juga akan mengajar di situ Abah, tadi dia cerita sama Mira waktu di masjid setelah dari bandara."
"Benarkah? Kalau kamu mau mengajar di sana abah tidak akan melarangnya. Abah nanti bilang pada pakdemu, agar tidak mencarikan laki-laki lain,karena kamu sudah memiliki calon suami dan mengajar di situ juga. Kalau abah tidak bilang, pasti pakdhe mu mencarikannya. Karena, dia ingin sekali melihat kamu menikah Mira."
"Iya terserah abah saja."
Keluarga Abah Fajri sudah sampai di rumah, begitupula Keluarga Rico, mereka juga sudah sampai di rumahnya. Saat baru masuk ke dalam rumah Arsyad mengajak berbicara pada semua anggota keluarga.
"Papah, ibu, Arsyil dan Shita, Arsyad mau bicara sebentar."
"Ayo kita bicara di ruang tengah saja."ajak Rico.
Mereka berjalan menuju ruang tengah untuk membicarakan apa yang ingin Arsyad sampaikan.
"Ada apa Syad."tanya Rico.
"Sebelumnya, Kakak minta maaf dulu sama kamu Syil karena sifat kakak seperti itu tadi."
"Kak, aku tau apa yang kakak rasakan, aku mengerti kak, sudah aku tidak apa-apa kak."ucap Arsyil.
"Terima kasih Syil. Maafkan kakak ya Syil."
"Iya kakak."
"Papah, ibu, Mira tadi tau kalau Arsyad pernah mencintai Annisa."ucap Arsyad yang membuat semua keluarganya kaget.
"Kok bisa Kak Mira tau?"tanya Arsyil.
"Saat aku sedang bercerita dengan Ray dia mendengarnya."jawab Arsyad.
"Pah, apa perjodohan Arsyad dengan Mira akan berlanjut? Arsyad merasa tak enak hati pada Mira pah, dia sampai mendengar semuanya."ucap Arsyad pada Papahnya.
"Justru dia harus mengetahuinya Syad. Lalu, bagaimana Mira setelah mengetahui semuanya?"
"Dia tetap akan menuruti kedua orang tuanya, dan akan memberi waktu pada Arsyad agar Arsyad menyelesaikan masalah hati Arsyad. Maafkan Arsyad pah,bu terutama Arsyil. Maafkan kakak Syil."
"Kakak, aku tau apa yang kakak rasakan, Arsyil percaya Kak Mira yang terbaik untuk kakak. Maafkan Arsyil juga kak."
"Sudah, kalian semua anak kebanggaan kami. Di saat seperti inipun kalian masih mendukung satu sama lain. Ayo istirahatlah sudah malam."ucap Rico.
"Iya ayo istirahat saja. Kalian pasti sangat lelah."sahut Andini.
Mereka masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♥Happy Reading♥