THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 38 " Maskara dan Eyeliner"


__ADS_3

Arsyad masih terpaku di kursi teras. Dia memikirkan kata-kata Annisa tadi. Iya, memang dirinya mempelajari ilmu agama akan sia-sia saja, karena tidak bisa menerima kenyataan, dia tidak bisa membari nafkah kepada istrinya dan masih mengenang masa lalunya terlalu dalam.


"Iya, aku sadar, aku salah, aku berdosa. Tapi ini kenyataan yang pahit sekali, aku tidak bisa, aku tidak bisa mencintai Annisa, aku tidak bisa memberikan nafkah batin untuk Annisa. Sungguh sulit sekali aku menerima semua ini, Ya Allah. Ampunilah aku. Entah sampai kapan aku akan menanggung dosa ini,"gumam Arsyad.


^^^^


Sudah hampir tiga bulan Arsyad dan Annisa menempati rumah barunya itu. Annisa sudah terbiasa dengan sikap dingin Arsyad yang semakin hari semakin bertambah cuek dan dingin pada Annisa. Namun di depan anak-anak mereka akan terlihat seperti biasanya. Itu semua karena Annisa yang minta, agar Najwa tidak curiga dengan kondisi mereka saat ini. Hari terus berganti, bulan pun ikut berganti, namun hati Arsyad masih membeku layaknya batu yang keras sekali, meskipun dipahat berkali-kali.


Annisa menyiapakan baju kerja untuk suaminya seperti biasa, karena itu sudah menjadi tugas dia sebelum ke kantor. Arsyad terlihat sudah selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang di lilitkan di pinggangnya. Mereka memang tidur terpisah setiap malam hingga sekarang, tapi jika mandi dan bersiap untuk ke kantor, mereka di kamar yang sama. Itu semua menjaga agar Najwa dan lainnya tidak curiga.


"Kak, ini baju kamu, aku mau mandi,"ucap Annisa.


"Iya, terima kasih,"jawab Arsyad.


Annisa masuk ke kamar mandi, dia berendam air hangat di bathub. Akhir-akhir ini Annisa memang sangta lelah, lelah hati dan pikiran. Dia mengurus semua pekerjaannya di kantor, da di rumah dia di hadapkan oleh suaminya yang dingin dan cuek.


Annisa menyudahi berendamnya setelah kurang lebih 15 menit ia berendam. Annisa membilas badannya, setelah di rasa sudah bersih, Annisa mengambil bathrobe miliknya dan keluar dari kamar mandi. Annisa melihta Arsyad yang sibuk mencari sesuatu di lemari pakaian. Annisa mendekati suaminya yang sedang mencari sesuatu.


"Kakak cari apa?"tanya Annisa dengan lembut.


"Dasi, kamu belum mengambilkan?"tanya Arsyad.


"Oh, iya maaf lupa, biar aku ambilkan,"ucap Annisa.


Annisa membuka lemari dan mengambilkan dasi untuk suaminya. Memang Annisa menata dasi terpisah dari baju, agar terlihat rapi dai lemari.


"Ini kak, sini aku pakaikan,"ucap Annisa.


"Tidak usah, aku pakai sendiri." Arsyad langsung mengambil dasi dari tangan Annisa lalu dia memakainya.


"Lain kali siapkan sekalian, biar tidak kelamaan,"ucap Arsyad dengan memakai dasi.


"Iya,maaf, namanya juga lupa, kak,"ucap Annisa dengan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


Arsyad memandangi wajah istrinya yang sedang sibuk mengeringkan rambutanya. Saat di rasa sudah kering rambutnya, Annisa mematikan hair dryer nya dan meletakan ke tempat semula. Annisa mengambil baju untuk ke kantor dia mengambil stelan long pants, dengan atasan bertali dan dua saku di depan berwarna abu-abu, di padu dengan jilabab segi empat berwarna hitam. Annisa kali ini tampil beda, tidak seperti biasanya dia menggunan tunik yang menutupi pantatnya. Hari ini dia memakai atasan tidak sampai di bawah pantat, dan long pants yang agak ketat sedikit, dengan gaya jilbab yang di ikat dan di masukan ke dalam baju.


Annisa sengaja agar di tegur suaminya, jika tidak dia juga tidak peduli, yang terpenting dia nyaman memakai baju itu. Dan sejak di Berlin juga baju yang ia kenakan sekarang adalah baju favoritnya. Annisa memoles bedak tipis-tipis dan menggunakan lip cream berwarna nude. Dia memang terlihat cantik apalagi dia memakai sedikit maskara dan eyeliner yang mempertegas mata indahnya.


Arsyad memandangi istrinya yang hari ini terasa berbeda dengan bisanya. Biasanya Annisa tak berpenampilan semewah ini, dan secantik ini. Arsyad sebenarnya ingin sekali menegur istrinya yang memakai make up berlebihan, apalagi dia berani mempertgas mata indahnya dengan maskara dan eyeliner.


"Nis, kamu mau ke kantor?"tanya Arsyad.


"Iya, kenapa, kak?"tanya Annisa.


"Ehmm tidak apa-apa,"ucap Arsyad.


"Anak-anak sudah berangkat?"tanya Arsyad.


"Sudah sama sopir tadi, oh iya kak, kakak berangkat dulu saja, aku ada meeting dengan klien di hotel X jam 9, aku berangkat ke butik dulu nanti,"ucap Annisa.


Sekarang Arsyad dan Annisa sudah semakin sibuk dengan pekerjaannya, jadi mereka menyewa sopir untuk mengantar anak-anaknya ke sekolah, apalagi anak-anak mereka sering sekali berangkat pagi-pagi. Jadi biar Annisa dan Arsyad berangkat agak siangan sedikit ke kantornya. Annisa juga mengambil mobilnya lagi di rumahnya, karena tidak ingin merepotkan Arsyad.


"Oh, kamu mau bertemu Klien?"tanya Arsyad.


"Iya, kenapa kak?"tanya Annisa.


"Tidak apa-apa, ya sudah kakak berangkat dulu, Nis,"pamit Arsyad.


"Iya, hati-hati." Annisa mencium tangan suaminya. Tanpa mencium Annisa. Arsyad langsung bergegas keluar dari kamar.


"Sudah terbiasa, tidak kaget lah, heran saja, orang tau agama kok hatinya keras seperti batu, tenang saja Nisa, lambat laun batu itu akan terkikis dengan kesabaran. Tapi entah itu kapan,"gumam Annisa.

__ADS_1


Annisa langsung bergegas mengambil tas dengan warna senada dengan bajunya. Dia juga harus berangkat lebih awal untuk menemui kliennya di salah satu restoran berbintang di hotel. Annisa keluar dari kamarny dengan buru-buru sambil mengenakan jam tangan miliknya.


Arsyad yang pikirannya masih terganggu dengan penampilan Annisa yang terlalu mencolok di bagian mata indahnya, dia kembali ke kamar untuk menegur Annisa agar merubah penampilannya.


"Bisa-bisanya dia berdandan seperti itu, aku tidak akan membiarkan dia berdandan seperti itu. Apalagi memakai Maskara dan Eyeliner,"gumam Arsyad sambil bergegas menuju kamarnya.


"Brugh…aww….Arsyil!"seru Annisa saat dia bertabrakan dengan Arsyad di depan pintu kamarnya.


Jam tangan Annisa lolos dari tangan Annisa, hingga reflek memanggil nama Arsyil. Karena jam tangan itu adalah pemberian dari Arsyil saat dia terakhir berulang tahun dengan mendiang suaminya.


"Kak Arsyad! Hati-hati dong!" seru Annisa dengan mata berkaca-kaca sambil mengambil jam tangan miliknya yang jatuh ke lantai


"Tadi kamu panggil Arsyil?"tanya Arsyad sambil mengerutkan keningnya.


"Iya, aku reflek karena jam tangan ini jatuh, ini jam tangan pemberian Arsyil,"ucapnya sambil melihat jam tangannya yang jatuh.


"Syukurlah, tidak apa-apa." Annisa mengembangkan senyumnya melihat jam tangannya tidak rusak karena jatuh.


Annisa mengusap air mata yang tadi hampir jatuh teriurai dari matanya karena melihat jam tangan pemberian suaminya jatuh ke lantai.


"Dia masih sayang sekali rupanya dengan Arsyil, hingga barang pemberian Arsyil saja dia menjaganya sebaik mungkin,"gumam Arsyad sambil menatap Annisa yang sedang memakai jam tangan.


"Kakak ada apa kembali lagi? Ada yang ketinggalan?"tanya Annisa tanpa memanda suaminya. Dia masih saja mengusap jam tangan yang sudah melingkar di tangannya.


"Ehmm..kakak lupa, mau ambil apa,"jawabnya.


"Ya sudah, kalau lupa, Annisa berangkat dulu, sudah jam hampir jam setengah 8, kan Annisa mau menemui klien." Annisa langsung berjalan ke depan tanpa peduli Arsyad yang masih memerhatikan dia.


"Cocok sih dia dandan seperti itu untuk ke kantor, mungkin aku saja yang tidak memerhatikan dia saat akan ke kantor,"gumam Arsyad.


Arsyad keluar lagi, dan segera berangkat menuju kantornya. Kantor Arsyad berubah di rumah Almira sekarang. Dua bukan ini, dia ke kantor hanya mengambil file yang akan di kerjakan , setelah itu, dia pergi lagi ke rumah Almira. Entah apa yang ada di pikiran Arsyad itu, dia ingin sekali setiap hari ke rumah Almira. Arsyad masih memikirkan kejadian tadi, saat menabrak Annisa di depan pintu kamarnya. Dia melihat raut wajah Annisa dengan mata yang memerah karena melihat jam tangan pemberian dari Arsyil jatuh ke lantai.


"Hanya sebuah jam tangan saja dia akan menangis, sebegitu berharganya pemberian dari Arsyil. Apa dia masih mencintai Arsyil?"gumam Arsyad.


"Kenapa aku masih memikirkan dia dengan dandanan seperti itu? Kenapa aku seakan tidak terima Annisa berdandan saat ke kantor, biasanya dia juga memakai tunik yang agak longgar, sekarang dia memakai baju yang agak pas dengan tubuhnya," Arsyad berkata lirih.


Arsyad sampai di kantornya, dia masuk ke dalam kantor dan menuju ke ruangannya. Rayhan melihat Arsyad masuk ke dalam ruangannya dengan gugup.


"Paling datang juga cuma 15 menit di kantor, mana mungkin sampai sore di sini, betah sekali dia kerjaan di bawa ke ruang semua, mentang-mentang rumah baru, pasti itu biar berduaan sama Nisa terus, nih,"gumam Rayhan.


Rayhan tidak tau, kalau selama ini Arsyad kerja tapi di rumah Almira, bukan di rumahnya yang sekarang. Dia mengira Arsyad tidak bisa jauh dari Annisa, dan ada sedikit bahagia dalam hati Rayhan, akhirnya Arsyad bisa membuka hati untuk Annisa.


Padahal sebaliknya, selama ini dia membawa pekerjaannya di rumah Almira, karena dia ingin selalu dekat dengan Almira walau hanya bayang-bayangnya saja.


Rayhan masuk ke dalam ruangan Arsyad, dia duduk di depan sepupunya sekaligus bosnya. Rayhan menatap wajah Arsyad yang terlihat masih bingung.


"Kenapa wajahmu seperti orang kebingungan?"tanya Rayhan.


"Tidak apa-apa, Rey."jawabnya sambil menatap ke segala arah dengan taapan kosong.


"Syad, ini filenya, kamu akan pulang, kan?"tanya Rayhan.


"Tidak aku akan di kantor sampai sore,"ucap Arsyad.


"Tumben, biasanya ke sini cuma 10 menit saja,"ucap Rayhan.


"Ya aku ingin di sini sampai sore,"ucap Arsyad.


"Oh, ya nanti kata Rere Annisa akan menemui kamu, jam 11 siang, beruntung kamu di sini sampai sore,"jelas Rayhan.


"Mau apa Annisa ke sini?"tanya Arsyad.

__ADS_1


"Melanjutkan kerjasama dong, Syad. Kamu lupa?"tanya Rayhan.


"Oh iya, mana dokumen yang harus saya tandatangani,"pinta Arsyad.


"Ini, syad." Rayhan memberikan dokumennpada Arsyad.


"Sudah puas kamu kerja di rumah, pasti biar di sanding Annisa terus, nih,"ledek Rayhan.


"Apaan sih, dia juga sibuk kerja,"ucap Arsyad.


"Iya juga sih, lalu apa gunanya kamu bawa kerjaan di rumah? Seperti punya bayi saja,"ucap Rayhan.


"Ya ingin di rumah saja, Ray." Arsyad masih sibuk menandatangni beberapa dokumennya.


"Aku kira hampir tiga bulan kerjaan di bawa pulang sibuk bikin adek buat Dio,"ledek Rayhan lagi.


"Bagaimana mau buat, aku di rumah Almira bekerjanya, dan aku sama sekali belum menyentuh Annisa." Arsyad yang terbawa suasana akhirnya membuka sendiri apa yang ia sembunyikan.


"Aduh…kenapa aku bisa keceplosan gini, pasti nih Ray ngomel-ngomel dan ujung-ujungnya dia bilang ke papah,"gumam Arsyad.


"Kamu bilang apa? Kamu setiap hari di rumah Almira dan belum menyentuh Annisa hingga sekarang? Gila kamu, Syad!"kelekar Rayhan dengan penuh amarah.


"Apa yang ada di pikiran kamu, Syad. Itu sama saja kamu tidak menafkahinya, ingat sudah hampir tiga bulan,"imbuh Rayhan.


"Ray, aku tidak bisa, aku tidak bisa, Ray. Hanya Almira yang aku cintai,"jelas Arsyad.


"Syad Almira sudah tenang di sana, sudah bahagia di sana, kamu tega melihat dia sedih, di sana, hah!"tukas Rayhan.


"Aku tau Ray, aku tau. Almira menyuruhku menikah karena dia mengira aku masih mencintai Annisa. Aku sama sekali tidak mencintainya. Bahkan sampai detik ini aku masih sangat mencintai Almira. Aku akan buktikan pada Almira, kalau tidak ada wanita lain selain dia, walaupun aku sudah menikah dengan Annisa,"ungkap Arsyad.


"Buktikan? Kamu bilang buktikan? Kamu bukan membuktikan, Arsyad! Kamu malah mengecewakan Almira, membuat dia sedih dengan kelakuan kamu yang labil!"kelekar Rayhan.


"Cukup, Syad. Kamu sudah menyiksa batin istri kamu, sama saja kamu menyiksa Almira di sana,"ucap Rayhan.


"Aku tidak bisa, Ray. Sungguh tidak bisa,"ucap Arsyad dengan nada memberat.


"Hati kamu sudah benar-benar membatu, Syad,"ucap Rayhan.


"Harusnya kamu simpan dalam-dalam memori kamu dengan Almira, simpan cinta untuk Almira di dalam palung hatimu yang paling dalam, kamu boleh mengingatnya, hanya sekedar mengingat, jangan terhanyut masa lalu. Kamu salah jika seperti ini, Syad. Kasihan kedua istrimu itu, Almira di sana sangat tersiksa, dan Annisa di sini juga tersiksa,"jelas Rayhan.


Arsyad hanya terdiam dari tadi. Rayhan beeanjak dari tempat duduknya, dan akan keluar dari ruangan Arsyad. Rayhan tidak mengerti apa yang ada di hati saudara sepupunya itu hingga tega memperlakukan istrinya seperti itu.


"Hati kamu tertutup apa, Syad. Kamu selalu saja seperti itu, kamu tidak sepantasnya seperti itu, kamu pandai sekali soal agama, tapi perbuatan kamu sama sekali tidak di dasari agama, aku malu memiki saudara sepertimu. Kalau saja kamu tau betapa kecewanya Arsyil di sana, karena memperlakukan Annisa seperti ini. Dia tidak rela, Syad. Sungguh tidak rela, Annisa wanita yang di cintainya menderita karena kakaknya sendiri,"tutur Rayhan.


Rayhan keluar dari ruangan Arsyad. Arsyad mencerna kata-kata Rayhan, dia hanya memikirkan Almira, bukan adiknya, yang dulu menjadi suami Annisa.


"Maafkan kakak, Syil. Bukan maksud kakak menyakiti Annisa. Kakak tidak bisa, kakak hanya mencintai Almira,"gumam Arsyad.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


♥️happy reading♥️


__ADS_2