
Arsyad terlihat duduk di teras depan rumahnya dengan kursi rodanya. Sudah hampir 1 bulan Arsyad melakukan terapi, tapi belum ada kemajuan dalam terapinya. Wajah yang begitu lusuh terlihat begitu jelas pada diri Arsyad. Dia seakan menyerah, menyerah untuk kesembuhannya dan bisa berjalan seperti semula lagi.
Separuh raga Arsyad masih belum hidup. Ya, separuh raganya adalah Annisa, istri yang ia cintai. Mereka belum juga bertemu hingga sekarang. Annisa begitu menyiksa bati Arsyad saat ini. Berkali-kali Arsyad meminta untuk menemui Annisa, dan dia selalu memohon dalam suratnya yang dia berikan pada Annisa. Namun, hanya jawaban "belum saatnya kita bertemu" yang membuat Arsyad terus menerus lemah. Untuk melakukan terapi pun tak semangat seperti pertama ia melakukan terapi.
Arsyad masih meratapi sakit di hatinya. Sakit karena terpisah dengan wanita yang ia cintai. Terpisah dari calon anak yang masih bersemayam di rahim istrinya. Hidupnya semakin lemah, setiap dia membaca surat balasan dari Annisa. Dan, Annisa juga belum mau menampakan wajahnya jika ia meminta video call dengan Annisa.
"Apa salahku, Ya Allah. Batinku sangat tersiksa, hatiku benar-benar sakit, tidak tau harus berbuat apa. Annisa masih belum mau menampakan dirinya. Aku tau kamu sudah sangat kecewa dengan papah dan Shita, tapi jangan siksa batinku seperti ini, Annisa. Apa ini yang dulu kamu rasaka saat aku menyiksa batinmu? Iya, aku merasakannya, Annisa. Ini sakit, sungguh sangat sakit," lirih Arsyad sambil memandang foto Annisa yang ia bawa setiap hari.
Rico melihat putranya yang sangat lemah sekali. Rico melihat kesehatan Arsyad semakin menurun, tidak seperti minggu-minggu kemarin. Arsyad juga tidak bersemangat dalam menjalani terapinya. Rico semakin khawatir dengan kesehatan anak laki-lakinya itu. Dia begitu menyesali apa yang ia perbuat, memisahakn Annisa dengan anaknya, bukan menambah Arsyad semakin baik, tapi malah memperburuk keadaannya.
"Annisa, kamu di mana? Papah sudah berusaha mencarimu, seriap papah bertanya kepada siapapun, selalu saja mereka menutupi keberadaanmu. Maafkan papah, Nisa. Papah egois, sangat egois. Lihatlah, suamimu seperti ini, Nis. Keadaannya semakin buruk sekali. Apa papah harus berlutut padamu agar kamu mua kembali ke sisi Arsyad lagi?" gumam Rico sambil memandangi Arsyad yang sedang duduk di kursi rodanya.
Rico mendekati Arsyad yang masih berada di kursi rodanya. Dia menarik kursi dan duduk di samping Arsyad yang semakin kurus dan pucat sekali wajahnya. Tidak ada gairah hidup dalam dirinya. Rico menepuk bahu Arsyad, dia merasaka apa yang di rasakan putranya itu. Dan, ini semua karena dirinya. Semua karena keegoisan dirinya menjauhkan Annisa dengan Arsyad.
"Hari ini kamu terapi jam 1 siang, kan?" tanya Rico.
"Untuk apa terapai, ujungnya juga seperti ini, tidak ada perubahan sama sekali," jawab Arsyad yang sama sekali tidak menatap papahnya.
"Kamu harus semangat untuk sembuh, nak," ucap Rico.
"Untuk apa sembuh, tidak ada artinya Arsyad sembuh jika keadaannya seperti ini. Kenapa Tuhan masih membiarkan aku hidup? Jika semuanya adalah sia-sia belaka. Hidup pun serasa mati di sekujur tubuhku," jawab Arsyad.
"Maafkan papah,nak." Rico menyeka air mata yang ada di sudut matanya.
"Pah, papah sudah puas dengan melihat kehidupan Arsyad seperti ini? Sudah puas, kan? Tinggal menunggu saja kapan Tuhan memanggil nyawaku," ucaop Arsyad.
"Jangan bicara seperti itu," tukas Rico.
"Untuk apa aku hidup, untuk apa? Tidak ada gunanya, kan? Sama sekali tidak ada. Untuk apa aku hidup, jika separuh ragaku, separuh jiwaku, dan separuh ragaku tidak ada?"ucap Arsyad.
"Papah tau, kamu ingin Annisa berada di sisimu, nak,"
"Kalau tau, kenapa papah membencinya! Kenapa papah mengusirnya! Baru kali ini Arsyad merasakan memiliki orang tua yang egois dan kejam," ucapnya dengan penuh amarah.
Rico hanya terdiam, air matanya sudah mulai menerobos keluar dari sudut matanya. Rico tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia masuk ke dalam rumah meninggalkan Arsyad yang masih setia duduk di teras dengan kursi rodanya. Shita yang melihatnya hanya diam dan terpaku di depan pintu. Melihat Papahnya yang berjalan dengan gontai ke arah kamarnya.
Shita juga menyadarinya, semua juga bermula dari dirinya yang tidak bisa mengontrol emosi saat Arsyad kecelakaan lalu. Shita tidak tahu harus bagaimana kecuali memaksa Rere dan Vera untuk memberitahukan di mana keberadaan Annisa saat ini. Shita mengambil tasnya dan keluar melewati Arsyad begitu saja. Dia masuk ke dalam mobilnya dan melakukannya ke kantor Annisa.
__ADS_1
"Maafkan aku, kak. Aku tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Iya, aku sadar, aku juga merasakan , saat dulu aku tanpa Kak Vino. Dan aku merasakan saat mengandung jauh dari suamiku, dan melihat suamiku terbaring lemah di rumah sakit. Kak Vino benar, aku tidak bisa berempati dengan Annisa. Maafkan aku, Ya Allah. Aku egois, aku sangat egois," gumam Shita sambil mengendari mobilnya menuju ke kantor Annisa.
Shita sampai di kantor Annisa, dia segera menemui Rere yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Shita berjalan ke arah meja kerja Rere.
Rere melihta sosok wanita berhijab yang tinggi dan cantik itu berjalan ke arahnya. Rere tersenyum kecut melihta sosok itu. Iya, wanita itu adalah Shita, adik dari suami sahabatnya.
"Chh…mau apa di ke sini? Mau tanya Annisa? Makanya jadi orang jangan egois," Rere berdecih lirih saat Shita masih terlihat berjalan ke arahnya.
"Selamat siang, Re," sapa Shita.
"Selamat siang, Mba Shita, ada yang bisa saya bantu?" tanya Rere.
"Rere, maaf kalau saya lancang dengan datang ke kantor Annisa. Aku mohon, Re. Kasih tau aku di mana Annisa. Kak Arsyad membutuhkannya." Shita memohon kepada Rere agar di beritahukan di mana Annisa sekarang.
Rere sudah menduga kalau Shita akan bertanya seperti itu. Rere mengubah posisi duduknya. Dia menarik napasnya dengan berat sekali sebelum menjawab pertanyaann Shita.
"Ehem...Mba Shita, mba butuh Annisa?" tanya Rere dengan senyum yang seakan menertawai Shita saat ini.
"Re, kasih tau aku, please, di mana Annisa," pinta Shita.
"Annisa, maaf aku juga tidak tahu," mba," jawab Rere.
Terlihat guratan wajah penyesalan pada diri Shita. Shita terus memohon pada Rere, tapi Rere tak memberitahukan Annisa berada di mana. Ya, dia tau, di mana Annisa sekarang. Walaupun dia tahu, dia tidak akan memberitahukannya pada siapapun. Karena, dia juga tak pernah menemui Annisa, kecuali Annisa sendiri yang pulang ke rumah untuk menemui anak-anaknya yang tinggal bersamanya.
"Aku tidak tau di mana Annisa, mba. Dia juga jarang ke rumah, padahal Dio dan Shifa ada di rumah bersamaku," jawab Rere.
"Please, tunjukan di mana Annisa, Re." Shita terus memohon pada Rere.
Hingga Alvin keluar dari ruangannya dan menemui Rere juga Shita. Alvin mengernyitkan dahinya saat melihat Shita sedang memohon pada Rere untuk bisa menemui Annisa.
"Shita? Ada apa kamu ke sini?"tanya Alvin.
Shita bangun dari tempat duduknya menghampiri Alvin yang berdiri di ambang pintu.
"Al, tolong, beritahu aku di mana Annisa sekarang," pinta Shita dengan wajah memelas.
"Chh….Annisa? Butuh juga kamu! Annisa tidak di sini, tidak di rumah, dan aku tidak tahu di mana dia sekarang," ucap Alvin dengan senyum sengitnya pada Shita.
__ADS_1
"Aku tau, kamu pasti tahu di mana Annisa, aku mohon, kakakku membutuhkan Annisa, Al." Shita masih memohon dengan Alvin.
"Bagaimana rasanya? Melihat saudara kandungmu sendiri lemah tanpa istri di sampingnya?"tanya Alvin dengan sinis.
"Sekarang kamu merasa bagaimana menderitanya kakakmu tanpa Annisa? Kamu merasakan apa yang aku rasakan ketika saudara sepupuku membutuhkan Arsyad dan dia hanya bisa menangis dan berdoa, agar bisa bertemu suaminya lagi," tutur Alvin.
Shita hanya menangis dan memohon pada Alvin juga Rere. Namun, Rere dan Alvin tidak goyah dengan tangisan dan permohon Shita untuk memberitahukan di mana Annisa.
Shita yang menyerah akhirnya pamit pulang pada mereka, entah pulang atau mau melanjutkan mencari Annisa. Rere dan Alvin mengembuskan napasnya dengan kasar. Sebenarnya mereka tidak tega melihat Shita yang seperti itu. Iya, Shita menyesali perbuatannya, tapi menurut Rere menyesal pun tidak cukup menebus semua sakit yang di alami Annisa selama di usir dengan Shita.
"Aku sebenarnya tidak tega, Re. Kamu kejam," ucap Alvin.
"Aku tidak mau lemah, biar kan saja dia merasakan sakit melihat Pak Arsyad yang seperti itu. Aku juga sakit melihat Annisa di usir mereka. Annisa sahabatku, Al. Aku tau bagaimana rasanya menjadi Annisa saat itu. Aku tidak bisa membiarkan Annisa di sakiti oleh siapapun," tutur Rere.
"Jiwa Leon sudah menyatu dalam dirimu. Cocok kamu sama Leon, sama-sama sulit memaafkan dan sama-sama keras dan tegas,"ucap Alvin.
"Memang aku seperti ini, sebelum mengenal Leon, aku juga seperti ini, tidak selemah Annis. Biarkan, aku kasih pelajaran pada mereka yang sudah mengusir Annisa dan menghancurkan hidup Annisa,"ucapnya.
"Mau sampai kapan? Kasihan Annisa juga, dia juga butuh Arsyad," ucap Alvin.
"Nanti saat Annisa akan melahirkan, boleh Pak Arsyad menemuinya," ucap Rere.
"Re, kasihan lah, aku juga tidak tega dengan Annisa yang setiap malam menangis," ucap Alvin.
"Iya, nanti aku akan mempertemukan mereka, tapi tunggu waktu yang tepat," ucap Rere.
Rere memang yang merencanakan ini semua. Rere yang menyuruh Annisa tinggal di rumah mamahnya sementara. Dia juga menyuruh Annisa menahan rasa rindunya dulu, hanya untuk mereka, agar mereka bisa merasakan betapa tersiksanya Arsyad saat ini. Rere seperti itu, juga karena Leon yang menyuruhnya. Leon yang mengendalikan semua itu, sebenarnya Rere juga tidak tega dengan Annisa yang setiap hari menangis karena merindukan Arsyad.
Leon melakukan seperti itu, agar Rico dan Shita merasakan apa yang Annisa rasakan, dan apa yang orang-orang di sekitar Annisa rasakan saat Annisa jauh dari suaminya. Leon memang belum bisa kembali ke Indonesia lagi, karena pekerjaan di Berlin benar-benar belum bisa ia tinggalkan, dia hanya bisa memantau Annisa dari jauh lewat calon istrinya. Ya, Rere dan Leon memang yang memegang kendali kapan Annisa dan Arsyad harus bertemu.
"Re, kamu tidak tega melihat Annisa seperti itu?"tanya Alvin.
"Aku tidak tega sebenarnya, Al, melihat Annisa seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, aku ingin mereka merasakan melihta Pak Arsyad yang benar-benar down tanpa Annisa," ucap Rere.
"Tapi, jangan lama-lama juga, Re, kasihan Annisa dan Arsyad," ujar Alvin.
"Iya," jawab Rere.
__ADS_1
Alvin melangkahkan kakinya menuju pantry, sebenarnya dia tidak tega melihat Annisa yang semakin kurus sekali, apalagi sedang hamil. Wajahnya selalu sendu, matanya juga selalu terlihat sembab.
"Sampai kapan Leon akan seperti itu, memberi pelajaran untuk keluarga Pak Rico," gumam Alvin sambil meminum kopi yang ia buat.