THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 105


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu, Arsyil dan Annisa masih menetap di rumah orang tua Annisa, karena orang tua Annisa belum kembali ke luar negeri untuk mengurus perusahaannya yang di sana. Orang tua Annisa memiliki perusahaan di Jerman, perusahaan itu mereka bangun berdua, di bantu oleh adik dari papahnya Annisa yang sudah menetap lama di Jerman.


Hari ini, orang tua Annisa berencana untuk berangkat ke Jerman, mereka sibuk menyiapkan semua dokumen dan barang-barang yanga akan di bawa kesana, kara jadwal penerbangan nya nanti siang. Annisa membantu mamahnya menyiapkan keperluan mamahnya.


"Nak, yang rukun dengan suami ya, jangan membantah suamimu sedikitpun, dampingi dia selalu, saat suka dan duka."ucap Mamah Dewi pada Annisa.


"Itu pasti, mah. Mamah lama tidak di Jerman?"tanya Nisa.


"Mungkin 5 bulan."ucap nya.


"Mah, lama dong, berarti lebaran mamah di sana?"ucap Nisa


"Iya, mamah kan sudah ada di hatimu, sayang. Jadi walau jauh, akan selalu dekat." Mamah Dewi memeluk erat putrinya.


"Aku akan selalu merindukan mamah."ucap Nisa.


"Kamu seperti tidak pernah di tinggal mamah jauh saja, Nis."


"Nis masih kangen mamah, baru saja sebulan di rumah, mah."


"Sayang, biasanya kan mamah satu atau dua minggu di ruang, ini satu bulan lebih, nak."


"Iya sih…"


Nisa kembali membantu menyiapkan semua keperluan mamahnya, Mamah Dewi membuka laci lemari pakaiannya. Dia mengambil kotak perhiasan miliknya dan memberikannya pada Annisa.


"Nisa, mamah titip ini, simpanlah, ini semua untukmu." Mamah Dewi memberikan kotak perhiasannya pada Annisa.


"Mamah punya perhiasan dan berlian sebanyak ini?"tanya Nisa.


"Iya, ini semua untukmu. Mamah sudah jarang memakainya, dan mamah kan sudah mau memiliki cucu, tidak pantaslah pakai-pakai ini lagi."ucap Mamah Dewi.


"Doa'kan Nisa ya mah, biar cepat hamil."


"Itu pasti, sayang."


Semua sudah siap, Annisa membawakan kopernya menuju ke luar, Papah Rizal sudah menunggu di luar dengan Arsyil. Arsyil sebenarnya masih ingin mertuanya berada di rumah, tapi karena mereka memiliki tanggung jawab di sana, akhirnya memperbolehkan mereka berangkat ke Jerman.


"Syil, papah titip Nisa, jaga dia, jangan sakiti dia, papah juga titip perusahaan papah yang di sini. Tolong kamu kelola dengan baik, papah tau kamu tak kalah dengan kakakmu, ajari Nisa juga, dia juga sedikit pandai berbisnis seperti mamahnya."ucap Papah Rizal sebelum berangkat.


"Itu pasti, pah. Terima kasih papah sudah memberikan putri kesayangan papah untukku, Arsyil akan selalu menjaga Annis, pan. Arsyil tak akan melupakan apa yang papah katakan, dan Arsyil akan jalankan dengan baik."ucapnya.


"Baiklah, kami berangkat, sudah siap semua, mah?"tanya Papah Rizal.


"Sudah pah, ayo berangkat, Nisa, Arsyil kamu berangkat dulu, nak."ucap Mamah Dewi.

__ADS_1


"Iya, mah, pah, hati-hati."ucap Nisa dan Arsyil.


Mobil orang tua Nisa sudah melaju menuju bandara, Annisa dan Arsyil tak mengantarnya, karena mereka sudah biasa berangkat ke bandara dengan sopir pribadinya tanpa Nisa ikut mengantarnya.


Annisa sibuk menyiapkan makan siang untuk suaminya, Arsyil duduk di samping istrinya, mereka makan siang bersama tanpa orang tua Nisa seperti kemarin. Annisa terliahat sangat murung tidak seperti biasanya.


"Nisa, habiskan makananmu. Kamu kenapa? Sakit?"tanya Arsyil


"Tidak enak saja, makanan rasanya pahit semua, Syil."ucap nya.


"Ya sudah makan buah saja, mau aku lupakan apel?" Arsyil menawarkan apel untuk istrinya.


"Biar aku kupas sendiri." Annisa mengambil pisau buahnya, dan mengupas buah untuk dirinya sendiri dan juga untuk suaminya.


"Aww…..sakit..!" Annisa segera manaruh pisaunya karena jari Annisa tergores pisau buah tersebut. Arsyil menarik tangan Annisa, dia mencecap jari Annisa yang terluka dan setelah itu dia mencuci jari Annisa lalu mengobatinya dan menempelkan hansaplast pada jari Nisa.


"Hati-hati sayang, kamu kenapa melamun?"tanya Arsyil.


"Perasaanku tidak enak, Syil."ucap Annisa sambil mendudukan dirinya di sofa ruang tengah.


Arsyil melanjutkan mengupas buahnya dan memotongnya lalu memberikan pada Annisa.


"Makanlah, tadi kamu makan nasi sedikit." Arsyil memberikan potongan apel pada Annisa. Annisa memakan apel tersebut hingga habis satu buah tanpa Arsyil ikut memakannya.


Tak lama kemudian telfon rumah Annisa berdering, Annisa yang mendengarnya, dia enggan mengangkat dan menyuruh suaminya untuk mengangkat telfonnya.


{Selamat siang, pak, kami dai Rumah Sakit xxx benar ini kediaman Bapak Rizal dan Ibu Dewi?}


{Iya benar, ada yang bisa saya bantu pak?}


{Pak Rizal dan Bu Dewi mengalama kecelakaan lalu lintas, mobil yang mereka tumpangi menabrak mobil box. Sekarang beliau sudah berada di rumah sakit, korban dalam ke adaan tidak selamat semua.}


{Baik kamu akan segara ke rumah sakit.}


Tubuh Arsyil melemas seketika mendengar kabar tersebut, bagai tersambar petir di siang hari mendengar semua itu. Dia berusaha tidak menampakan kesedihan di depan istrinya. Dia berusaha tegar, dia langsung mengajak istrinya bersiap-siap menuju rumah sakit.


"Sayang, kita ke rumah sakit yuk?"ajak Arsyil dengan tenang.


"Ke ruang sakit? Mau apa ke rumah sakit, Syil?"tanya Annisa.


"Ikut saja, kita ke sana ya. Ayo cepat."ucap Arsyil masih dengan tenang.


Sebelum itu Arsyil meminta tolong papahnya dan juga kakaknya untuk ke rumah sakit memastikan kabar itu benar atau tidak, ternyata memang benar, Arsyad, Rico, Rayhan dan juga Vino sudah di sana. Andini, Almira dan Shita pun juga ikut. Naura ingin ikut, tapi dia sudah hamil tua. Arsyil ke ruang sakit dengan menggunakan tadi, sesuai apa yang di perintahkan papahnya.


Arsyil masih bingung di dalam taxi, bagaimana menjelaskan semua pada Annisa yang dari tadi bertanya pada Arsyil ada apa di rumah sakit.

__ADS_1


"Syil, katakan, ada apa ini. Perasaanku tidak enak sekali. Tolong katakan sejujurnya. Ada apa di rumah sakit?"tanya Annisa lagi.


"Tidak apa-apa, Nisa. Sini peluk aku biar kamu tenang." Arsyil membawa Annisa dalam pelukannya, memang tenang saat di pelukan suaminya, tapi tiba-tiba air mata Annisa menetes tanpa permisi. Dia melepaskan pelukan Arsyil, dan melihat sepanjang jalan lewat jendela taxi. Dia melihat mobil yang sudah ringsek yang sedang di tangani oleh unit lakalantas, dia mengenal mobil itu.


"Papah….Mamah…!" Annisa teriak dari dalam taxi.


"Arsyil, itu mobil papah, Syil, itu mobil papah kenapa." Annisa menangis histeris melihat mobil orang tuanya yang sedang di evakuasi, jalan macet total. Annisa memaksa keluar dari tadi, namun Arsyil memegang erat, dia membawa Annisa dalam pelukannya lagi.


"Mamah, papah, itu mobil papah, Arsyil. Tolong jelaskan, apa kita ke rumah sakit ada hubungannya dengan ini…!? Tolong jelaskan, Syil." Annisa menangis dan memukul dada suaminya.


"Iya…iya…aku jelaskan, maafkan aku, iya itu benar mobil papah, papah dan mamah di rumah sakit, kita ke sana lihat ke adaannya." Arsyil mencoba menenangkan Nisa dan meredakan tangisnya. Tapi, usahanya sia-sia, Annisa masih saja menangis memanggil mamah dan Papahnya.


Sesampainya di rumah sakit, mereka masuk ke dalam dan mencari ruang pemulasaraan jenazah. Terlihat keluarga Arsyil sudah berada di sana. Rasanya begitu sesak dada Annisa melihat ruangan itu, dia tak menyangka secepat itu orang taunya pergi, baru saja dia mendapatkan kebahagiaan, sekarang kepedihan menghampirinya. Andini memeluk erat menantunya yang lemah tersebut dan wajah mulai memucat.


"Ibu, benar papah dan mamah ada di dalam? Ibu, katakan jangan diam saja, Arsyil, papah, Kak Arsyad, kenapa kalian diam saja. Katakan papah dan mamahku ada di dalam tidak. Katakan!" Annisa teriak dan menangis lagi. Andini memeluk menantunya kembali.


"Annisa, kamu yang tabah, nak. Iya, mamah dan papah di dalam. Ayo ibu antar kamu melihat jenazah mamah dan papahmu." Andini merangkul manantunya, Arsyil dan Rico mengikuti di belakang mereka.


Rico membuka kain penutup papah dan mamah Annisa. Jenazah mereka masih utuh, papah Annisa meninggal karena mengalami serangan jantung setelah kecelakaan. Dan, mamah Annisa, dia mengalami penyumbatan pembuluh darah di otaknya, sempat kritis 15 menit, lalu beliau menghembuskan nafas terakhir nya.


"Papah, mamah, kenapa meninggalkan Nisa. Mah, Pah. Mamah dan papah kan mau lihat cucu kalian, kenapa kalian pergi, Annisa dengan siapa, mah, pah. Annisa tak memiliki siapa-siapa lagi. Papah bangun, pah…! Mamah, bangun, mah..!


Ibu bangunkan papah dan mamah Annisa. Papah, Arsyil ini semua tidak mungkin kan..!?" Annisa semakin menangis, dia pingsan dan langsung di bawa Rico ke UGD agar di periksa oleh perawat.


Almira dan Shita menunggu Annisa yang masih belum sadar di UGD, sedangkan lainnya, mereka mengurus jenazah Papah Rizal dan Mamah Dewi untuk di bawa pulang ke rumahnya. Arsyil menelfon rumah Annisa agar menyiapkan segala keperluan jenazah, sudah banyak tamu yang berdatangan di rumah Annisa menunggu jenazah tiba di rumah.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


♥️happy reading♥️


__ADS_2