THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 96 "Ekstra Part"


__ADS_3

Dio mengajak Rana untuk bermain di halaman belakang, bersama Arsyad dan juga Annisa. Sementara Rico, dia smbelum juga keluar dari kamarnya. Memang semalam Rico tidak tidur, dia sangat merindukan Arsyad, Annisa, dan anak-anaknya.


Arsyad setiap hari tidak lepas menjaga Annisa yang sebentar lagi akan melahirkan. Dio senang sekali bisa bermain dengan Rana lagi. Ya, dia hanya memiliki Rana, adik kecil yang lucu dan menggemaskan yang sekrang sudah menjadi gadis kecil yang imut itu. Rana sekarang sudah kelas 4 SD.


"Bunda, kapan adek keluar, Dio ingin sekali memiliki Adek yang lucu lagi," ucap Dio.


"Nanti, paling tinggal hitungan hari saja,"ucap Annisa.


"Ehh…emang kamu punya adek?" sahut Shifa.


"Itu Rana," ucap Dio.


"Bunda, cewek ya, adeknya," pinta Najwa.


"Gak, ah cowok," sahut Shifa.


"Cewek aja, Kak. Kan lucu seperti Rana," imbuh Dio.


"Cowok, saja, biar main bola sama Raffi," sahut Raffi yang masih bermain bola.


"Apapun nanti adeknya, yang penting bunda dan arek sehat. Dan, kalian harus menyayangi adek kalian," tutur Annisa.


"Itu pasti, bunda." Najwa mencium perut Annisa.


^^^^°


Sehabis mahgrib, Arsyad dan Annisa pulang ke rumahnya. Sedangkan anak-anaknya, menginap di rumah Rico. Saat Annisa dan Arsyad sudah di dalam mobil, Dio dan Najwa menghampirinya dan akan ikut pulang, karena belum menyiapkan jadwal besok dan masih ada tugas yang belum Najwa dan Dio kerjakan.


"Bunda, Abah, tunggu!" teriak Dio dan Najwa.


"Ada apa?" tanya Arsyad.


"Aku ikut pulang dulu, mau ambil buku dan menyiapkan jadwal besok," jawab Najwa.


"Dio juga, PR matematika Dio belum di kerjakan,"ucap Dio.


"Kebiasaan!" tukas Najwa.


"Kan ada Kak Najwa, nanti minta tolong di kerjakan dong, kak," pinta Dio.


"Iya, nanti kakak ajari kamu yang tidak bisa," jawab Najwa.


"Oke." Mereka masuk ke dalam mobil untuk pulang.


Merak ikut pulang, tapi nanti ke rumah Rico lagi bersama Kevin. Mereka sadar, kalau bunda dan abahnya butuh waktu berduaan. Karena kemarin masalah pelik masih saja hinggap di dalam rumah mereka.


^^^^^


Dio dan Najwa sudah kemabali ke ruumah Rico. Di rumah hanya ada Annisa dan Arsyad saja sekarang. Arsyad melihat istrinya yang akan bersiap untuk tidur. Annisa sedang bercermin di depan meja riasnya. Arsyad memluknya dari belakang dan mengusap perut Annisa.


"Sayang kapan ke luar, cepatlah keluar, bunda sudah berat sekali," ucap Arsyad dengan berbisik ke telingan Annisa.


"Tunjukkan jalannya dulu, Abah, siapa tahu di tengokin abahnya nanti besok adek keluar," jawab Annisa.


"Pintar sekali jawabnya, siapa sih, yang mengajari?" tanya Arsyad sambil membalikan tubuh Annisa dan mencium bibirnya.


"Abah," jawab Annisa.


"Pintar ya," ucap Arsyad.


"Iya, dong. Harus pintar. Abah tidak mau nengokin adek?" Annisa menggoda suaminya dengan manja.


Arsyad yang tidak tahan dengan godaan Annisa, dia langsung menggiring tubuh Annisa ke ranjang. Annisa merasakan sentuhan dan kecupan lembut dari Arsyad yang sudah berbulan-bulan ia tidak merasakannya. Dengan penuh kehati-hatian, Arsyad melakukannya. Mereka sama-sama menikamgai kegiatan yang mereka rindukkan selama ini.


^^^^^

__ADS_1


Siang hari, Arsyad menemani Annisa yang sedng terbaring di atas pembaringan di ruang persalinan. Annisa dari tadi meronta kesakitan, menunggu pembukaan yang tak kunjung bertambah.


"Kakak, sakit sekali…" pekik Annisa.


"Sabar sayang. Berdo'a sayang, sebut nama Allah." Arsyad mengusap peluh yang keluar dari dahi Annisa, dan mencium keningnya


"Aku gak kuat, kak," rintih Annisa.


"Jangan bilang seperti itu Annisa, kamu pasti kuat." Arsyad terus menyemangati istrinya.


Rico di luar dari tadi mondar-mandir menunggu Annisa yang sedang berjuang. Shita mencoba menenangkan papahnya yang masih saja panik seperti itu.


"Papah, duduk, pah. Jangan seperti ini, nanti papah naik lagi tekanan darahnya," ujar Shita.


"Papah cemas sekali memikirkan Annisa, Ta." Rico akhirnya mendudukkan dirinya di samping Shita.


"Opa, bunda baik-baik saja, kan?" tanya Raffi.


"Iya, sayang, bunda baik-baik, saja. Kamu berdo'a, ya?" jawab Rico.


Dio merangkul Raffi yang dari tadi juga terlihat cemas karena abahnya belum juga keluar dari ruang bersalin yang sedang menunggu bundanya bertaruh nyawa melahirkan adiknya. Najwa yang duduk di sebelah Dio, dia juga menyandarkan kepalanya di bahu adik sepupunya itu. Dia merasa cemas sekali seperti apa yang Raffi rasakan.


Najwa takut sekali kehilangan bundanya saat ini, hingga dia meneteskan air matanya. Dio menggenggam tangan Najwa yang sudah terasa dingin sekali karena rasa cemasnya.


"Berdo'alah, bunda tidak akan apa-apa, jangan menangis," ucap Dio.


"Aku takut," jawab Najwa.


"Bunda baik-baik, saja. Sudah jangan menangis." Dio menghapus air mata Najwa yang menetes di pipinya.


Di dalam ruangan bersalin, Dokter dan perawat melihat lagi pembukaan Annisa. Syukur Alhamdulillah, setelah berjam-jam menunggu pembukaan, akhirnya pembukaan Annisa sudah sempurna.


"Ibu Annisa, ayo, tarik napas dalam-dalam, mengedan sedikit demi sedikit." Dokter Iren memberi arahan pada Annisa


"Kak, sakit sekali…awww…." Annisa memekik kesakitan.


"Ayo sayang, kamu pasti kuat. Kamu pasti bisa." Arsyad kembali mencium kening Annisa dan menggenggam erat tangan Annisa.


Dan akhirnya perjuangan Annisa tidak sia-sia, Bayi laki-laki yang sangat lucu dan tampan seperti abahnya telah lahir, Annisa menangis bahagia, dia mencium tangan suaminya yang masih menggenggam erat tangannya. Arsyad pun ikut menangis bahagia.


"Terima kasih sayang, putra kita sudah lahir." Arsyad berkali-kali mencium kepala Annisa.


Dokter Iren meletakan Bayi mungil itu di atas dada Annisa dan menyelimutinya agar Bayi Annisa mencari ****** susu ibunya dan menyusu. Annisa meneteskan air mata melihat putranya yang sangat tampan berada di atas dadanya. Arsyad membelai kepala istrinya dan melihat bayi kecilnya yang sedang berada di dada Annisa.


Perawat mengambil bayi Annisa dan membersihkannya lalu membedongnya dan memberikannya pada Arsyad.


"Subhanallah tampan sekali kamu, nak. Selamat datang sayang di pelukan Abah dan Bunda." Arsyad mencium kening bayinya yang ada di gendongannya. Dia segera mengadzani bayinya dengan lirih di telinga sebelah kanan, lalu mengucapkan iqomah di telinga kiri bayinya dan membacakan do'a,


"Allâhummaj’alhu bârran taqiyyan rasyîdan wa-anbit-hu fil islâmi nabâtan hasanan"


“ Ya Allah, jadikanlah ia (bayi) orang yang baik, bertakwa, dan cerdas. Tumbuhkanlah ia dalam islam dengan pertumbuhan yang baik.”


Lalu membaca surat Al-Ikhlas pada telinga bayi sebelah kanan 3 kali, membaca surat al-Qadr pada telinga bayi sebelah kanan satu kali, dan membaca ayat Q.S. Ali Imran (3: 36) pada telinga bayinya sebelah kanan.


Setelah selesai dia memberikan kembali pada perawat dan di taruh di dalam box bayi. Bayi Arsyad dan Annisa sangat sehat, Annisa di bawa ke ruangan pasien oleh beberapa perawat dan salah satu perawat mendorong box bayi Annisa untuk di bawa ke ruangan pasien.


Rico, Shita, dan lainnya ikut berjalan di belakang perawat yang akan memindahkan Annisa dan bayinya ke ruangan pasien.


Arsyad merangkul Najwa dan Shifa, dia bahagia sekali, mendapat putra kecil yang sangat tampan.


"Sini sama opa, Subhanallah, gantengnya cucu kecil opa." Rico menciumi pipi bayi Annisa.


"Ih…tampannya keponakan Tante." Shita menggendong bayi Annis dan menciuminya.


"Kamu curang, papah masih ingin menggendong, malah kamu mengambilnya,"ucap Rico.

__ADS_1


"Shita juga pengen gendong, pah." Shita terus menciumi bayi mungil yang tampan itu.


"Dio pengen gendong, Tante," pinta Dio.


"Kamu bisa?"tanya Annisa.


"Ajari dong, Tante," pinga Dio.


Shita mengajari Dio untuk menggendong adik nya yang tampan itu.


"Akhirnya aku di panggil kakak. Wah... Kamu tampan sekali, sayang. Kak Raffi sama Kak Dio, kalah ini," ucap Dio sambil menciumi pipi adiknya yang tampan.


"Ih…lucunya." Shifa mencium nya berkali-kali.


Najwa masih duduk di samping Annisa, senyum bahagianya terurai meliaht Dio dan Shifa yang bahagia memiliki adik laki-laki. Najwa beranjak dari tempat duduknya, dia mendekati Dio yang sedang menggendong adiknya itu.


"Ihh…sama Kak Najwa, sini. Kak Najwa juga pengen gendong kamu, sayang." Najwa menciumi pipi adiknya yang masih di gendong Dio.


"Jangan, aku masih ingin gendong, nanti saja di rumah," ucap Dio.


"Curang kamu," tukas Najwa.


"Idih, marah, lihat tuh, kakak kamu marah, biar sama Kak Dio saja, ya." Dio tidak mau memberikan adiknya untuk di gendong Najwa.


Keluarga Alfarizi memiliki anggota baru. Ya, bayi laki-laki yang tampan anak dari Arsyad dan Annisa. Arsyad memberikan nama bayinya Arkan Alfarizi.


Sudah 1 bulan usia baby Arkan. Annisa dan Arsyad selama sebulan hampir tidak tidur di malam hari. Arkan selalu saja mengoceh dan mengajak bermain dengan bunda dan abahnya.


Arsyad sudah mulai aktif ke kantor lagi, selama dua istirahat total di rumah karena kecelakaan itu. Dan, menurut kabar, Farina meninggal karena dia terlalu depresi dan akhirnya dengan fisik yang melemah, dia ditemukan tewas di kamar perawatannya.


Annisa siang ini belum mandi, karena Arkan dari tadi tidak mau tidur dan tidak mau di gendong dengan siapapun kecuali dirinya. Dio dan Najwa terlihat sudah pulang sekolah, tapi Shifa tidak terlihat bersamanya.


"Mana Shifa?" tanya Annisa.


"Shifa ada tugas, bunda. Jadi dia pulang sore, kelompok kami berbeda jadi aku pulang dulu," jawab Najwa.


"Kalian sudah sholat?" tanya Annisa.


"Sudah," jawab Najwa dan Dio.


"Kalian ganti baju, bersih-bersih, lalu tolongin bunda, ajak Arkan, sayang. Kali aja mau dengan kamu atau Dio. Dari tadi tidak mau dengan siapa-siapa," ucap Annisa.


"Oke." Dio dan Najwa segera masuk ke kamarnya masing-masing untuk membersihkan diri dan berganti baju.


Dio mencoba menggendong Arkan, tapi dia tidak mau. Dan akhirnya Akran mau digendong dengan Najwa. Annisa lega sekali, akhirnya dia bisa ke kamar mandi untuk mandi.


Najwa menggendong Arkan yang makin hari makin lucu dan tampan sekali. Dio memangdangi kakaknya yang masih menggendong Arkan dengan mengajak Arkan mendongeng. Ya, Najwa memang jago mendongeng hingga sekarang. Dio senang sekali jika melihat Najwa mendongeng di depan anak-anak kecil yang ada di taman baca Almira. Apalagi dia sekarang punya adik kecil. Jadi setiap hari Najwa selalu mengajak Arkan mendongeng.


^^^^^


Hari terus berganti, Dio, Najwa, Raffi, dan Shifa sudah duduk di bangku SMA. Namun, Raffi dan Farrel masih duduk di kelas 1 SMA. Rana adik Farrel sekarang sudah kelas 2 SMP. Dio, Shifa, dan Najwa, mereka sudah hampir lulus SMA. Mereka sudah sibuk mencari temapat untuk kuliah. Dio memilih kuliah di Berlin, tapi dia urungkan. Akhirnya dia kuliah satu kampus dengan Shifa dan Najwa. Dan rencananya, setelah Dio lulus menjadi Sarjana, dia akan melanjutkan gelar Masternya Di Berlin.


Rere dan Leon sudah menikah dan di karuniai putri yang cantik sekali, dia berumur 3 tahun. Arkan anak bungsu Arsyad dan Annisa kini sudah berusia 5 tahun. Lengkap sudah kebahagian Annisa dan Arsyad. Walaupun terkadang ada sedikit perdebatan antara Arsyad dan Annisa saat mengurus Arkan, dia masih bisa menyelesaikannya karena Arkan juga memiliki kakak yang sayang semua pada Arkan.


^^^^^


Bye...sampai jumpa di season selanjutnya...


Author kasih bocoran sedikit, ya? untuk season selanjutnya.


"Tak mengapa, aku tak bisa memilikinya. Hanya menatap dia bahagia hati ini turut bahagia. Cinta memang tak bisa memandang, itulah yang membuat cinta itu buta. Buta segalanya, buta kalau itu adalah saudara kita sendiri. Bahagialah dengan pendampingmu, karena aku sadar, cinta kita adalah cinta yang terlarang. Namun, akan selalu ku kenang. And I Love Her." Dio.


"I Love Him. Ya, aku mencintainya. Cintaku terlarang, dia saudaraku. Entah kenapa hati ini bisa terpaut di hatinya. Padahal jelas, ini adalah cinta yang salah. Cinta yang tak semestinya terjadi, tak semestinya saling mengungkapkan dan memberi harapan untuk bisa bersama. Pergilah, cintailah dia, aku tak mengapa. Jangan semakin membuat keadaan ini menjadi rumit. Karena, selamanya kita tak bisa bersatu. Biar cinta ini kukenang saja di dalam hati. Karena aku tak mau menyakiti hati mereka." Najwa


Oke itu bocorannya. kalian bisa menyimpulkan sendiri bagaimana nanti. masih tetap di sini, ya? gak pindah buku. Cerita Annisa dan Arsyad sudah dulu ena-ena nya. gantian anak-anaknya juga berhak di ceritakan.

__ADS_1


__ADS_2