
Sore ini aku bersiap- siap pulang, Zidane masuk ke ruangaku, dan mengajak ku pulang. Aku segera mengambil tas ku dan berjalan keluar di samping Zidane.
"Jadi kan ikut makan malam?"tanya Zidane.
"Tau ah, malas aku, Zi."jawabku dengan malas.
"Oh, iya Zi, tolong teguah Juan, tadi dia membawa laporan keuangannya ke ruanganku, aku tau dia hanya modus saja. Jelas-jelas itu laporan yang harus tanda tangan kan kamu, bukan aku."pinta ku.
"Jadi tadi dia ke ruanganmu?"tanya Zidane.
"Iya."jawabku.
"Belum kapok juga dia ngejar-ngejar kamu."ucap Zidane dengan menyunggingkan senyumnya
"Gak usah senyum-senyum. Tuh tegur pegawaimu."tukas ku.
"Kamu tau, sifat ketusmu ini yang membuat pria ingin memilikimu, Nisa."ucap Zidane.
"Entahlah, Zi."ucapku.
Aku berjalan mendahului Zidane, yang dari tadi membujukku untuk ikut makan malam bersama Leon. Aku masuk ke mobil Zidane, disusul Zidane juga masuk ke dalam mobil.
"Nis, aku kan ingin yang terbaik buat kamu. Sepertinya Leon cocok denganmu."ucap Zidane.
"Zi, sudah tidak usah bilang seperti itu lagi."ucapku.
Zidan melajukan mobilnya menuju rumah, aku hanya terdiam di dalam mobil, aku tidak ingin pergi makan malam dengan Leon, tapi Zidane memaksaku untuk ikut makan malam bersama Leon. Dari tadi dia merayuku agar aku ikut makan malam.
"Nis, ikut ya, please..."dia kembali memohon kepadaku.
"Huh….kamu memaksa saja."ucapku sambil menghembuskan nafasku dengan kasar.
"Iya aku ikut, tapi Dio dan Shifa aku ajak."ucapku.
"Baiklah, aku telfon Leon sekarang, kalau kamu akan ikut."ucapnya
__ADS_1
"Menelfon nya? Yang benar saja?"ucapku dalam hati.
"Maksudnya? Menelfon?tanya ku.
"Iya, dari tadi siang Leon menelfon aku terus, menyuruh aku membujukku biar mau ikut makan malam. Dan, akhirnya kamu mau, jadi aku harus menelfon dia."jelasnya.
"Zidane, yang benar saja dia sampai seperti itu?"tanyaku.
"Memang seperti itu. Sudah aku yakin dia pria baik-baik untuk kamu dan anak-anakmu."ucap Zidane.
"Aku capek, Zi, terserah kamu saja."tukas ku.
Aku sampai rumah, aku langsung masuk ke dalam rumah, menemui Dio dan Shifa. Mereka langsung berhamburan memelukku, aku mencium mereka bergantian, rasanya satu hari tak bertemu dia benar-benar rindu sekali.
"Bunda, kapan kita menemui opa lagi? Dio kangen opa, Kak Najwa, Kak Rafi, Kak Farrel, Kak Rana dan Budhe Mira juga Pakdhe Arsyad."ucop Dio.
"Aku juga kangen, kangen budhe Shita dan pakde Vino juga."sahut Shifa.
"Belum saatnya kita pulang, sayang. Sabar ya?"ucap ku.
"Iya, bunda, Shifa kangen dengan Budhe, mau menunjukan tulisanku pada Budhe."ucap Shifa.
"Nak, nanti ya pulangnya, bunda di sini masih ada urusan kantor."ucap ku.
"Bunda, kan ada paman Zi sama paman Alvin, juga eyang Kakung."ucap Shifa.
"Iya, tapi tetap bunda harus di sini, sayang."jelasku.
"Ya sudah, kalau begitu."ucap Dio dan Shifa yang agak kecewa.
Mereka masih terlalu dini mengetahui yang sebenarnya. Mungkin jika mereka tau Kak Mira cemburu denganku, mereka tak serindu itu dengan Kak Mira.
"Maafkan bunda, Nak, harus melibatkan kamu bersembunyi di sini."ucapku dalam hati.
Aku sengaja lost contack dengan mereka, aku buang semua nomor ponselku, dan sengaja tak pernah menghubungi mereka. Biarlah mereka bahagia, aku tak mau jadi benalu dalam kehidupan mereka, apa lagi di kehidupan kak Arsyad dan Kak Mira. Cemburu Kak Mira yang benar-benar sudah keterlalulan, mendiami aku hingga satu bulan, dan saat aku berpamitanpun dia tak menghiraukan. Aku baru pernah meilahat Kak Mira acuh seperti itu.
__ADS_1
Dio dan Shifa sepertinya kecewa sekali aku bicara seperti itu. Zidane mendekati mereka, dan mengajak mereka bercanda.
"Dio, Shifa, nanti malam kita akan pergi makan malam, dengan bunda juga sama teman Paman. Kamu mau kan?"tanya Zidane.
"Di mana paman?"tanya Mereka.
"Makan malam di restoran yang bagus, kalian mau?"tanya Zidane.
"Mau…"jawab mereka serempak.
"Ya sudah kalau mau, jangan sedih gitu dong."ucap Zidane.
"Aku sedih karena ingin pulang ke Indonesia, ingin melihat makam ayah, paman."ucap Dio.
"Shifa juga, paman."ucapnya.
"Iya, nanti juga kalian pulang ke Indonesia, kalian sabar ya? Bunda kan belum selesai urusan ya di sini."ucap Zidane.
"Oke."jawab mereka yang kembali riang karena Zidane terus mengajak bercanda mereka.
Aku bersiap-siap untuk makan malam bersama Zidane dan Leon juga anak-anak. Aku memakai setelan tunik yang panjang menutup hingga lututku. Iya, aku memakai hijab sekarang, satu Minggu sebelum Arsyil pergi meninggalkanku, dia meminta aku memakai jilbab. Dan ternyata itu permintaan terakhirnya.
.
.
.
.
.
.
♥️happy reading♥️
__ADS_1