
Almira sudah bersiap-siap untuk pergi sepagi ini, Arsyad yang melihatnya, dia bertanya-tanya dalam hatinya, tidak seperti biasanya istrinya jam 7 pagi sudah serapi itu.
Almira menyiapkan sarapan untuk suaminya, dia mengambilkan nasi untuk suaminya, Arsyad mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang.
"Tumben jam segini sudah rapi sekali? Mau kemana?"tanya Arsyad.
"Hari ini, aku akan pergi ke panti asuhan, sudah lama aku tak berkunjung ke sana selama aku berada di Kairo."ucapnya.
"Ke panti asuhan?"tanya Arsyad kembali.
"Iya, aku dari dulu sering berkunjung ke panti, kadang sendiri kadang di temani Naila. Kemarin pengurus panti mengundangku ke sana, untuk acara mendongeng."jelas Almira.
"Maaf aku baru memberitahumu, kemarin terlalu terkuras waktuku untuk Naila."imbuhnya.
"Kamu sering mengisi acara seperti itu?"tanya Arsyad lagi, dia tidak pernah tau apa kesibukan istrinya sebelum menikah, yang hanya dia tau bahwa Almira seorang penulis saja, yang sehari-harinya di habiskan untuk menulis. Ternyata dia juga ada kesibukan lain selain itu.
"Iya, sering sekali, sekarang saja, aku membatasi untuk mengisi acara mendongeng. Belum ada kabar juga sih, mas. Kan taunya mereka aku masih di Kairo, mas."ucapnya.
"Oh…aku kira kamu bisa mendongeng dengan Naila dan Alina saja, ternyata sudah terbiasa mengisi acara mendongeng."ucap Arsyad.
"Iya, karena aku dan kamu kenal kan belum lama, langsung menikah, jadi ya kamu baru tau. Ya sudah habiskan sarapannya dulu."ucap Mira.
"Nanti aku antar ke panti?"tanya Arsyad.
"Apa kamu tidak kesiangan ke kantornya?"ucap Mira.
"Tidak, aku antar kamu, nanti kalau pulang, kamu bisa di jemput Pak Afif."ujar Arsyad.
"Oke."
*****
Arsyad mengantar Mira ke panti dulu sebelum dia ke kantor, untung saja panti asuhannya lumayan dekat dengan kantor Arsyad. Sesampainya di panti, Almira dan Arsyad turun menemui pengurus dan pemilik panti Asuhan, anak-anak panti yang melihat Almira datang, dia langsung menyerbu Almira dan memeluknya bergantian, begitu bahagia sekali mereka bertemu dengan orang yang di rindukan hampir satu tahun.
"Ayo….kalian menuju ke gazebo dulu, biar Kak Mira nya siap-siap."ucap pemilik panti.
"Kami Rindu Bunda, dengan Kak Mira."ucap mereka. Arsyad melihat Almira yang sangat di rindukan anak-anak panti, dia merasa bahagia, ternyata Almira sosok calon ibu yang pandai.
"Kakak juga rindu kalian, tuh ada Om Arsyad, ayo kasih salam sama Om. Om Arsyad suami Kak Mira."ucap Mira pada anak-anak panti.
"Hai…panggil Kak Arsyad saja ya, masa dengan Kak Mira manggil kakak, sama Kak Arsyad manggilnya Om, biar adil, oke.."Arsyad berkenalan dengan anak-anak panti yang lucu, dia juga langsung akrab dengan Arsyad.
"Ini suamimu, Mira?"tanya pemilik panti.
"Iya bunda, dan sekarang Mira sedang hamil."ucapnya.
"Wah…selamat, ayo kita menuju ke gazebo. Anak-anak sudah sangat merindukanmu." Pemilik panti mengajak Almira ke gazebo. Sedangkan Arsyad dia langsung pamit pada Almira dan pemilik panti asuhan untuk ke kantor.
*****
Arsyad sudah sampai di kantornya, dia gugup berjalan masuk ke kantor, iya kali ini dia agak terlambat lagi masuk ke kantornya. Tapi siapa yang mau melarang dia terlambat masuk kantor, kan kantor miliknya sendiri, tapi tetap saja dia tidak enak dengan Arsyil dan Rayhan.
Dia masuk ke ruangannya, dia mulai mengerjakan pekerjaannya dengan serius, pekerjaan yang di tinggal selama hampir lima hari, dia segera mungkin menyelesaikannya sebelum dia meeting dengan klien siang ini.
Arsyil masuk ke dalam ruangan kakaknya bersamaan dengan Rayhan yang ingin meminta tanda tangan Arsyad.
"Kak, kesiangan lagi?"tanya Arsyil.
"Iya, tadi mengantar Mira ke panti asuhan dulu, Syil."ucapnya.
"Ke panti asuhan ngapain, Syad?"tanya Rayhan.
"Dia sedang mengisi acara mendongeng."jawabnya singkat.
"Kak Mira bisa mendongeng?"tanya Arsyil.
"Iya, aku juga baru tau, setahuku dia hanya menulis saja, tapi dia memiliki kesibukan lain selain itu, dan mulai sekarang dia sudah aktif lagi mengisi mendongeng di mana-mana."jelas Arsyad sambil menandatangani berkas yang Arsyil dan Rayhan bawa.
Sementara Almira sedang asik bermain dengan anak-anak panti, selain mendongeng dengan mereka, Almira juga mengajarkan mereka untuk bisa mendongeng di hadapan banyak orang, dan banyak anak didik Almira yang berhasil menjuarai lomba mendongeng tingkat Nasional. Bahkan ada anak didiknya yang menjuarai Story Telling Bahasa Inggris dan Bahasa Arab tingkat SD Dan SMP. Suatu kebanggaan untuk diri Mira sendiri, karena dia bisa menyalurkan ilmunya yang bermanfaat untuk generasi muda selanjutnya.
Almira sudah selesai mengisi acara dan mengajarkan anak-anak di panti asuhan, dia menunggu Pak Afif menjemput di panti dengan mengobrol dengan pengurus panti di dalam ruang tamu. Mereka tidak tau kalau Mira ternyata sudah menikah dan tengah hamil. Maklum sudah hampir satu tahun Almira vakum, tidak mengisi acara atau mengunjungi panti asuhan tersebut.
*******
__ADS_1
Rayhan, terlihat panik sekali, dia dari tadi bolak-balik tidak karuan menunggu kelahiran sang buah hatinya. Iya, hari ini Naura akan melahirkan, dia harus menjalani operasi Caesar, karena pinggul Naura sempit, jadi mau tidak mau harus melahirkan secara Caesar. Bayu dan Iva serta ke dua orang tua Naura ikut menemani, Rachel yang tidak bisa pulang karena ikut suaminya di luar kota, dia hanya bisa mendoakan Naura dari jauh agar operasi Caesar nya lancar. Dan dia akan pulang besok pagi setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Rachel ikut suaminya, Lukman. Lukman masih mengajar di Ponpes milik Pakdenya Almira di kota Y, dan Rachel ikut pindah ke sana bersama ibunya Lukman, Rachel di sana mempunyai sebuah usaha percetakan milik suaminya, dia juga ikut terjun membantu suaminya.
Arsyad menemani saudara sepupunya yang sedang panik dan mondar-mandir karena menunggu operasi selesai. Dokter keluar dari ruang operasi dan di ikuti oleh perawat yang membawa Bayi Naura untuk di bersihkan, Rayhan mengikuti perawat tersebut berjalan ke ruang Bayi. Bayi Laki-laki yang tampan, mirip seperti Rayhan. Rayhan menggendong bayinya dan mengadzani bayi laki-laki nya. Dia memberikan kembali pada seorang perawat dan di taruh di dalam box bayi, lalu di bawa ke ruangan Naura yang sudah di pindahkan ke ruangan pasien.
Naura tersenyum bahagia menggendong Bayi laki-lakinya, tidak hanya Naura dan Rayhan yang berbahagia, Bayu dan Iva juga sangat bahagia mendapat cucu pertamanya, Bayu dan Iva bergantian menggendong cucunya, juga orang tua Naura.
"Bay, sudah jadi kakek kamu."ucap Rico.
"Iya Ric, kamu juga sebentar lagi, gendong lah cucuku." Bayu memberikan cucunya pada Rico.
"Ayo ikut opa Rico sini, sebentar lagi, kamu juga mempunyai teman, tuh lihat, Tante Mira sama Tante Nisa perutnya sudah mulai besar."ucap Rico pada Bayi Laki-laki Naura dan Rayhan.
Semua memberikan selamat pada Rayhan dan Naura atas kelahiran putra pertamanya. Rayhan memberi nama Ozil Arsenio Pratama dan Naura sangat suka sekali dengan nama bayinya, karena dia Fans berat dengan pesepakbola Mesut Ozil.
"Ih…sayang tau saja aku suka sekali nama Ozil."ucap Naura pada Rayhan.
"Aku juga nama Ozil, makanya aku kasih untuk anak pertamaku yang tampan ini."ucap Rayhan.
"Nanti kalau anaknya perempuan kasih nama Chelsea saja, kan pas tuh, Arsenio kan sama saja Arsenal, nanti tambahin Chelsea, pas tuh jadi club bola."sahut Rico.
Semua bahagia sekali, karena bertambah keluarga baru dalam keluarga Bayu dan Iva.
Rachel hanya melihat keponakannya lewat Video Call dengan Rayhan, betapa bahagianya dia melihat keponakannya tampan sekali, dia juga ingin sekali cepat-cepat hamil, tapi dia tidak pernah putus asa, dan menikmati keadaannya walau belum juga hamil sampai sekarang sama seperti Shita. Dia percaya bahwa suatu saat Allah akan memberikan keturunan padanya. Rachel sekarang menjadi lebih anggun dengan memakai hijab setelah dia menikah dan tinggal bersama suaminya. Rayhan tidak menyangka, adik perempuannya yang sering ugal-ugalan, hidup selalu glamor dan berlebihan, sekarang menjadi wanita yang sangat anggun sekali dan tutur katanya lembut. Memang cinta bisa merubah segalanya. Rachel yang dulu seperti itu, sekarang bisa berubah menjadi lebih baik.
*****
Almira hari ini terlihat sangat sibuk, hingga dia tidak bisa ikut ke rumah mertuanya untuk acara kumpul bersama saat weekend. Almira menghadiri undangan di sebuah Sekolah Menengah Pertama Islam yang terkenal, dia menjadi juri dalam lomba Story Telling Bahasa Arab di sekolahan tersebut. Arsyad hanya mengantarnya saja di sana, dan setelah itu dia pulang dan berkumpul bersama dengan keluarganya di rumah Rico.
"Mau aku temani?"tanya Arsyad.
"Tidak usah, mas. Kamu ke rumah ibu saja, nanti aku menyusulmu setelah ini selesai, paling jam 2 siang selesai kok."ucapnya.
"Nanti aku akan menjemputmu."ucap Arsyad.
"Kalau mas sibuk, aku bisa pakai taxi sendiri, aku tau mas merindukan ibu."ucap Mira.
"Ya sudah, aku pulang, hati-hati, jaga dirimu dan anak kita." Arsyad mencium kening istrinya. Dan Almira mencium tangan suaminya.
"Iya Abah. Hati-hati ya , bah."ucap Mira dengan nada seperti anak kecil.
Arsyad sudah sampai di rumah Rico, di sana sudah ada Arsyil dan istrinya. Mereka sedang asik berkumpul di hari sabtu ini, seperti biasa jika malam minggu mereka menginap di rumah Rico. Arsyad datang sendirian tidak seperti biasanya dia bersama istrinya. Andini yang melihatnya langsung bertanya kenapa menantunya tidak ikut bersama Arsyad.
"Mana Mira?"tanya Andini.
"Iya kak, Kak Mira tidak ke sini?"tanya Shita juga
"Almira sedang ada pekerjaan, paling dia pulang jam 2 nanti."ucapnya.
"Pekerjaan? Almira kerja?"tanya Andini.
"Arsyad kan sudah bilang, Almira sekarang sudah mulai sibuk lagi Bu, dia sudah mulai mengisi beberapa acara di sekolahan atau di kampus."ucap nya.
"Oh…apa dia tidak apa-apa,kan sedang hamil."saut Rico.
"Selama dia baik-baik saja, aku percaya dia tidak apa-apa pah."ucap Arsyad.
"Yah…padahal aku mau minta buku Kak Mira yang keluaran terbaru, kak. Sudah terbit kan?"tanya Shita.
"Iya sudah, dan sudah Almira bawa tadi di tasnya untukmu dan Annisa, tapi dia lupa memberikan pada kakak, nanti saja Kak Mira ke sini kok."ucap Arsyad.
"Benar nih Nisa di kasih juga, penasaran Nisa sama bukunya, pasti bagus, katanya sih itu buku di tulis untuk seseorang yang sangat ia cintai. Berarti itu buku khusus untuk Kak Arsyad dong."saut Nisa sambil menikmati kue yang Andini buatkan.
"Aku tidak tau malah, apa yang Mira tulis, dia menulis biasanya jika aku sudah tertidur dan kalau aku di kantor. Bagaimana aku tau."ucap Arsyad
"Kamu payah sekali, Syad. Apa yang istrimu lakukan tidak tau."ucap Rico.
"Pah, benar Arsyad tidak tau, Arsyad tau Mira bisa mendongeng dan punya banyak anak didik yang berbakat saja baru kemarin, pah."ucapnya.
"Kamu itu sama seperti papahmu, papahmu tau ibu punya Caffe saja saat sudah lama, itu saja karena Kak Bayu."sahut Andini yang muncul di belakang suaminya.
"Bahas lagi….terus bahas itu…udah lah Bu, jangan bahas itu lagi."ucap Rico sambil menarik istrinya duduk di sampingnya dan mencubit lembut pipinya.
__ADS_1
Semua tertawa melihat kelakuan orang tua mereka yang masih membahas masa lalunya. Arsyad yang duduk di samping papahnya, dia berpindah duduk di tengah-tengah ibunya dan papahnya.
"Mau berhenti apa di lanjutkan berdebatnya, Arsyad jadi wasit deh kalau gitu."ucap Arsyad sambil mendudukan dirinya di tengah-tengah Rico dan Andini.
"Tuh ibumu yang mulai."ucap Rico.
"Papahmu juga." Andini tidak mau mengalah dengan suaminya.
"Papah, ibu, kalian sudah mau punya cucu, masih saja kayak gini. Gak malu ya ada menantunya."ucap Arsyad.
"Ibu sama papah itu kayak gitu kak, kamu jarang di rumah, aku yang di rumah terus ya tau kalau papah dan ibu seperti itu."sahut Nisa.
Semua berkumpul bersama dan saling bercanda hingga jam makan siang tiba, Andini yang sudah memasak di bantu oleh Nisa dan Shita mempersilahkan semuanya untuk makan siang.
Arsyad masih saja di kamarnya, dia masih merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Dia masih teringat ucapan Annisa tadi, apa benar Mira menulis novelnya itu khusus untuk seseorang yang di cintainya. Arsyad mengambil ponselnya, dia mencari tau tentang novel keluaran terbaru milik istrinya. Dia menemukannya dan membaca sinopsis novel Almira itu.
"Untukmu, lelaki yang aku rindukan, yang aku sebut namanya dalam bait-bait Do'a di sepertiga malam ku. Entah mengapa raut wajahmu selalu membekas dalam lensa mataku. Aku hanya wanita yang lemah, tak mengerti arti cinta, biarkan cinta ini mengalir lewat Do'a yang aku panjatkan. Semoga Allah mengetuk pintu hatimu yang masih terombang-ambing mencari tempat berlabuh untuk hidupmu. Dan, jika aku di izinkan Tuhan, biarkan aku menjadi pelabuhan dan tempat bersandar untuk hidupmu kelak."seperti itu isi sinopsis novel Mira yang Arsyad baca. Arsyad hanya terdiam, dia tidak menyangka jika Almira benar-benar mencintainya.
Arsyad keluar kamarnya dengan perasaan bahagia, dia bahagia memiliki istri yang sangat mencintainya, tapi dia tak pernah sedikitpun mengumbar cintanya di depan dirinya, dia hanya memberikan cinta dengan tindakannya, seperti yang Arsyad ajarkan padanya, tidak berlebihan dalam mencintai seseorang.
"Almira benar-benar wanita sempurna, sangat sempurna di mataku. Bagaimana aku tak mencintainya, dia selalu mengerti aku, dia memberikan kenyamanan dalam hidupku, tempat aku bermanja, walau terkadang dia juga sangat manja sekali terhadapku, tapi aku senang sekali dia manja, dan sudah satu bulan ini, dia jarang sekali bermanja denganku."gumam Arsyad dalam hati sambil menikmati makan siang di rumah orang tuanya.
Sebuah taxi berhenti di depan rumah Rico, Almira keluar dari tadi tersebut, dia sengaja tidak memberitahu suaminya kalau acaranya sudah selesai dari jam 11 siang. Arsyad melihat istrinya berjalan ke arah teras rumah Rico, dia tersenyum menyambut istrinya, orang yang sangat ia cintai.
"Kenapa tidak bilang, kan aku bisa menjemputmu, sayang."ucap Arsyad sambil merangkul pinggang Almira dan mencium keningnya.
"Kan aku sudah bilang, aku pulang pakai taxi saja, kamu sudah makan siang, mas?"tanya Mira.
"Baru saja, kamu sudah?"
"Sudah, tadi di sana dapat makan siang."ucapnya
"Ya sudah, ayo ke kamar, kamu istirahat dulu." Arsyad merangkul pinggang istrinya berjalan ke kamarnya. Almira melihat Annisa dan Shita sedang melihat TV di ruang tengah, dia menghentikan langkahnya menuju kamar, dia menghampiri Annisa dan Shita dan memberikan novel terbarunya. Shita dan Annisa senang sekali mendapat novel dari kakak iparnya. Mereka memeluk erat Almira dan memberikan selamat, karena novel Almira sudah laris terjual dan akan cetak ke-2
"Kamu curang sayang, aku tidak di kasih, malah Nisa dan Shita yang di kasih."ucap Arsyad.
"Ini untukmu, masa aku tidak memberikan untuk suamiku." Almira memberikan pada suaminya.
"Jangan ngambek gitu, kan sudah aku kasih."imbuh Mira.
"Belum di kasih yang lainnya dari kemarin, kan kamu sibuk."ucap Arsyad
"Apaan sih...udah ah… ke kamar, kamu ngomongnya seperti itu, malu ih…ada Shita dan Annisa."ucap Mira.
"Malu, sama suami sendiri malu, ehh itu ada apa di pipimu." Arsyad menarik tubuh istrinya agar lebih dekat.
"Ada apa sih…"ucap Mira sambil menyentuh pipi nya
"Tidak ada apa-apa kok."imbuh Almira.
Arsyad langsung mencium pipi istrinya, mata Almira membulat sempurna karena suaminya mengerjainya.
"Tuh…mulai, abahmu nakal sekali ya, nak." Mira mengusap perutnya dan berjalan ke kamarnya sambil mencubit lengan suaminya.
Annisa dan Shita melihat kelakuan kakaknya dia tertawa bersama, karena Arsyad kesakitan di cubit istrinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♥️happy reading♥️