
Hari ini Arsyil dan Nisa pergi ke villa milik keluarga Rico. Orang tua Annisa turut serta ke sana. Karena cuaca yang tidak mendukung mereka akhirnya memakai mobil untuk pergi ke villa. Annisa yang meminta orang tuanya ikut serta, karena dia lama sekali tidak berlibur bersama ke dua orang tuanya. Papah Rizal menyewa sopir untuk ke Villa. Wajah Annisa nampak bahagia sekali, karena mereka bisa berlibur bersama orang tuanya dan suaminya.
Perjalanan panjang mereka lalui, Annisa masih bergelayut manja dan bersandar di bahu Arsyil. Annisa tak henti-hentinya menanyakan kapan sampai di Villa Arsyil. Mamah Dewi yang melihat Annisa seperti itu, dia begitu bahagia. Karena putri kesayangannya mendapatkan suami yang benar-benar menyayanginya. Kantuk pun datang, Annisa tertidur dengan bersandar bahu Arsyil. Arsyil memandang setiap inci wajah Annisa yang begitu manis dan lucu saat tertidur. Dia memindahkan kepala Annisa di pangkuannya agar lebih nyaman. Mamah Dewi dan Papah Rizal juga ikut tertidur.
Setelah lama melalui perjalanan panjang, akhirnya mereka sampai di Villa milik Arsyil. Bu Asih dan Pak Toni menyambut hangat kedatangan mereka. Pak Toni mengajak Papah Rizal dan Mamah Dewi ke Villa milik Shita yang sudah dibersihkan untuk di tempati orang tua Annisa. Sedangkan Bu Asih, dia mempersilahkan Arsyil dan Annisa masuk ke dalam Villa dan menunjukan kamar Arsyil yang sudah di tata sedemikian indahnya. Iya, Arsyil yang memintanya, dia ingin menjadikan momen bulan madunya seromantis dan seindah mungkin. Nuansa kamar yang di dekor dengan dekorasi serba putih, ranjang yang sudah di pasang kelambu putih dan seprai putih serta bertaburkan bunga mawar merah segar di atas ranjangnya. Bau Aromaterapi yang merilekskan pikiran tercium oleh Arsyil dan Annisa. Bu Asih keluar dari kamar Arsyil untuk menyiapkan makan siang untuk mereka semua. Arsyil menutup pintu kamarnya dan menguncinya.
Annisa berjalan mendekati tempat tidurnya, Annisa tersenyum bahagia, Arsyil ternyata menyiapkan semua ini untuknya. Dia duduk di tepi tempat tidurnya menyentuh seprai putih dan mengambil sebuket bunga mawar merah yang sudah Arsyil siapkan di atas tempat tidur.
"Ini semua kamu yang menyiapkannya,Syil?"tanya Annisa dengan mendekati suaminya yang masih berdiri di depannya.
"Iya, ini untukmu, untuk istriku."ucap nya sambil menyentuh pipi Annisa lembut dan menciumnya.
"Kamu suka?"tanya Arsyil.
"Iya, sangat suka. Terima kasih, sayang. Kamu selalu membuatku bahagia dengan kejutan yang luar biasa seperti ini." Annisa memeluk suaminya erat dan menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.
"Sama-sama, sayang. Itu sudah menjadi kewajibanku untuk membahagiakan kamu."Arsyil mencium kening Annisa, dia menggendong istrinya menuju ranjang, dan merebahkannya di tempat tidur. Arsyil mencium lembut bibir Annisa, dia mencumbu mesra istrinya. Nafas mereka beradu diantara hasrat yang menggebu. Hanya deruan nafas dan deritan tempat tidur yang menggema saat itu di kamar mereka. Mereka mencapai puncak bersama. Arsyil masih berada di atas tubuh istrinya, dia kembali mencumbu istrinya mesra.
"Mau lagi?"tanya Nisa.
"Boleh sekali lagi?"Arsyil memintanya lagi. Annisa hanya menganggukkan kepalanya pasrah. Arsyil kembali melakukannya sekali lagi.
Tempat tidur yang tadinya tertata rapi dan indah, seketika berubah menjadi berantakan karena mereka terus beradu di atas tempat tidur. Arsyil merebahkan diri di samping istrinya. Mereka hanya berselimut tanpa menggunakan pakaian di tubuhnya. Annisa memiringkan tubuhnya agar berhadapan dengan suaminya. Dia membelai lembut wajah suaminya yang masih berkeringat seperti habis lari maraton.
"Sudah puas?"tanya Nisa.
"Sudah, tapi tetap nanti mau lagi. Kamu harus siap aku kasih tiap malam."ucap nya sambil menggoda istrinya.
"Kapanpun kamu mau, aku selalu siap, asal sedang tidak datang bulan." Annisa tersenyum dan menatap Arsyil lalu mengecup kilas bibir Arsyil.
"Ayo mandi, kita belum makan siang, aku tak mau kamu sakit." Arsyil mengajak istrinya mandi bersama, dia menggendong istrinya ke dalam kamar mandi, dan mereka mandi bersama.
Semua sudah berkumpul di meja makan untuk meniti makan siang yang sudah di siapkan oleh Bu Asih dan di bantu dengan Mamah Dewi. Annisa keluar kamarnya dengan wajah berseri dan rambut basah yang tergerai. Arsyil berjalan di belakang Annisa sambil melingkis lengan kaos panjangnya. Annisa duduk di sebelah mamahnya, Mamah Dewi mendekati putrinya dan mulai menggodanya lagi.
"Baru sampai langsung tancap gas aja nih pengantin baru." Mamah Dewi menggoda Annisa hingga pipi Annisa memerah.
"Ih…mamah, biarlah, biar kamu cepat dapat cucu. Mamah juga mau kan? Kita bisa melakukannya nanti, kan Villa kita beda, jadi bebas berdua, mah."sahut Papah Rizal.
"Papah, apaan sih, sudah tua pah kita." Mamah Dewi terlihat malu karena suaminya menggodanya.
"Tua-tua gini papah masih kuat, mah. Tidak kalah dengan Arsyil. Ya kan, Syil?" Papah Rizal menyenggol lengan Arsyil.
"Iya dong, laki-laki kan harus kuat, ya kan, pah?"jawab Arsyil.
"Benar tuh. Kalau kamu tidak kuat, putri papah tidak sebahagia itu wajahnya."ucap Papah Rizal yang membuat pipi Nisa semakin memerah.
"Sudahlah, kita makan dulu, kasihan pengantin baru yang habis bertempur di Medan perang."ucap Mamah Dewi.
Mereka makan siang, suasana di Villa semakin hangat, mereka menghabiskan waktu berlibur di villa selama satu minggu.
********
Siang ini Arsyad dan Almira mengunjungi rumah Naila. Arsyad sengaja izin sebentar dari kantor untuk makan siang di rumah dan mengantar Almira ke rumah Naila. Mereka sudah berada di dalam mobil menuju ke rumah Naila. Almira dari tadi hanya memandang keluar lewat jendela mobilnya. Raut wajahnya begitu cemas, entah kenapa semalam dia bermimpi bertemu Naila. Naila begitu cantik dengan gaun putihnya, dia menghampiri Almira dan duduk di tengah-tengah Almira dan Arsyad.
"Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu semalam. Ada apa denganmu, Nai? Kamu baik-baik saja kan, Nai? Aku begitu khawatir denganmu, tidak biasanya kamu seperti ini, tidak ada kabar sama sekali. Maafkan aku, Nai. Aku tidak tau kalau orang yang kamu cintai adalah suamiku. Andai aku tak bertemu Arsyad waktu itu, aku mungkin tidak jatuh hati dengannya."gumam Almira dalam hati.
__ADS_1
Almira tak sengaja meneteskan air matanya, dia mengingat masa-masa bersama Naila dahulu. Sejak kecil mereka bersama, hingga sekarang. Dan, kini Almira kehilangan kontak dengan sahabatnya hanya karena seorang pria.
Arsyad melihat istrinya dari tadi sangat gelisah sekali. Dia tau, istrinya begitu merindukan sahabatnya yang sudah lama sekali bilang kontak dengan istrinya. Arsyad melihat istrinya menangis, dia dengan cepat menepikan mobilnya dan menemangkan Almira dalam dekapannya.
"Aku tau, kamu sangat merindukan Naila, jangan menangis, dia pasti baik-baik saja, sayang." Arsyad mendekap istrinya. Air mata Almira semakin mengalir deras.
"Mas, aku takut Naila kenapa-napa, aku semalam bermimpi, Naila menemuiku, entah apa yang dia katakan, aku lupa. Dia duduk ditengah-tengah aku dan kamu."ucap Mira dengan terisak.
"Mimpi itu bunga tidur, sayang. Naila pasti baik-baik saja, percayalah." Arsyad mencoba kembali untuk menenangkan istrinya.
"Andai saja dulu dia memberitahuku kalau kamu lah orang yang dia cintai, aku tidak akan pernah mengharapkan kamu, mas. Aku tidak akan menaruh hati sedalam ini untukmu. Ini semua salahku, mas, ini semua karena aku, jika terjadi apa-apa dengan Naila, aku tak bisa memaafkan diriku ini."ucap Mira. Arsyad menatap wajah istrinya dalam-dalam dan menjelaskan kembali padanya kalau dia sama sekali tidak pernah menyukai Naila.
"Hei…kenapa kamu bicara itu. Ini semua sudah jalan hidup kita, sayang. Jangan menyalahkan dirimu, ini semau Allah yang mengatur, aku sama sekali tidak pernah menyukai Naila. Bahkan, aku saja lupa dengannya, hingga Vino dan Ray yang mengingatkan aku kalau dia Naila. Tolong kamu jangan seperti ini. Kalau kamu terus menangis, kita pulang saja, tidak usah menemui Naila."tegas Arsyad pada istrinya. Almira hanya terdiam, dia merasa bersalah karena telah berkata seperti itu. Iya, dia sangat merasa khawatir pada sahabatnya. Dia sangat bersalah padanya.
"Maafkan aku, mas. Aku benar-benar rindu Naila, aku hanya merasa dia sengaja menghindari aku, dia membenciku, mas." Almira semakin terisak di pelukan suaminya.
"Sudahlah sayang, kasihan anak kita, kalau kamu seperti ini terus. Jangan menangis lagi, Naila pasti baik-baik saja. Jadi ke rumah Nuala?"
"Iya, jadi."
"Ya sudah jangan menangis." Arsyad mencium kening istrinya, dia melajukan mobilnya kembali menuju rumah Naila.
Arsyad memarkirkan mobilnya di depan rumah Naila. Meraka turun bersama berjalan menuju rumah Naila. Almira mengetuk pintu, dan terbukalah pintu rumah Naila.
"Mba Cici, apa kabar?"sapa Almira.
"Baik, Mba. Tumben Mba Mira datang ke sini? Mencari Mba Naila ya?ucap Mba Cici asisten rumah tangga di ruang Naila.
"Iya, mba. Naila nya ada?"tanya Mira.
"Mba Mira, mari duduk dulu, ini suami mba?"tanya Mba Cici.
"Iya,mba. Ini Arsyad suami saya, oh iya mba, Naila nya di mana?"tanya Almira lagi
"Mba Mira, sebelum Mba Naila pergi, dia menitipkan ini pada saya untuk Mba Mira. 5 bulan yang lalu sebenarnya Mba Naila sudah menikah dengan pria pilihan ke dua orang tuanya. Mba Nai sempat menolak, tapi ayahnya memaksanya, dan akhirnya dia mau menikah, sekarang Mba Naila sedang sakit, dan dia di rawat oleh suaminya. Saya saja tidak tau alamat rumah suaminya. Mereka pindah dan menitipkan rumah ini pada saya, karena ayah dan ibu Mba Naila meninggal akibat kecelakaan satu bulan yang lalu."jelas Mba Cici
"Naila sudah menikah 5 bulan yang lalu? Jadi, saat aku menikah kemarin, dia sudah menikah?"tanya Almira setengah tidak percaya pada Mba Cici.
"Iya benar, waktu menghadiri pernikahan Mba Mira, Naila sudah menikah sekitar 2 bulanan. Dan setelah itu, kejadian naas menimpa tuan dan nyonya. Mba Naila depresi berat dan sakit-sakitan, untung saja suami Mba Naila begitu menyayangi nya, dia merawatnya dengan telaten hingga agak sembuh, lalu dia membawa Mba Naila pergi untuk berobat, dan sebelum pergi Mba Naila menitipkan ini untuk Mba Mira." Mba Cici memberikan sebuah amplop untuk Almira. Almira membuka amplop itu dan membaca isi surat yang Naila tuliskan untuk Mira.
*Dear Almira sahabatku tersayang,
Mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah pergi meninggalkanmu. Mira, bukan aku marah terhadapmu karena aku mencintai suamimu. Dan, aku minta maaf, aku tidak memberitahumu soal pernikahanku. Iya, aku menikah 2 bulan sebelum kamu menikah. Karena itu, aku jarang sekali berkomunikasi dengan mu lagi. Pernikahan ku di gelar sesederhana mungkin dan tidak mengundang banyak tamu. Sebenarnya pernikahan ini bukan kehendak ku. Alm. Ayah dan Almh. Bunda yang menyuruhku menikah dengan lelaki pilihan mereka. Aku hanya bisa pasrah dan menurutinya, Almira.
Saat itu, aku masih berharap akan bertemu orang yang aku cintai lagi. Iya, aku berharap bertemu dengan Arsyad kembali, dan aku ingin menanyakan kembali, apa dia mencintaiku. Tapi, semua tidak bisa, waktu memaksaku untuk segera menikah dengan pria pilihan ke dua orang tuaku. Aku hancur Almira, menikah dengan orang yang tak ku cinta. Menikah karena di paksa. Suamiku sangat baik, sungguh baik, dia tau aku tak mencintainya dan hanya Arsyad yang aku cinta hingga sekarang. Mira…hidupku hancur seusai menikah, hingga tiba waktunya, aku menerima undangan pernikahanmu, aku melihat nama calon suamimu "Arsyad Alfarizi". Begitu terkejutnya aku melihat nama itu, hingga aku penasaran sekali ingin melihat siapa calon suamimu itu. Dan, iya, calon suamimu adalah orang yang aku cintai, aku bertemu Arsyad kembali, aku bertemu dengannya, tapi dia adalah calon suamimu, calon suami sahabatku sendiri.
Hatiku bertambah hancur sekali, Mira, hancur sekali, aku sadar aku mempunyai suami, tapi aku tak mencintainya sedikitpun, aku hanya mencintai suamimu Mira. Maafkan aku yang lemah ini, aku mencintai seseorang yang teramat dalam di dalam hatiku ini, hingga tak bisa aku mencintai pria lain selain suamimu. Maafkan aku Mira, aku tak bisa menghilangkan rasa cinta ini pada Arsyad, suamimu.
Semoga kamu selalu bahagia bersama suamimu, hanya ini yang bisa aku sampaikan, maafkan aku sekali lagi, Mira. Mungkin kita tidak bisa bertemu lagi, aku ingin mencari kenyamanan hidup, aku akan berusaha mencintai suamiku. Aku menghindar darimu karena aku tak mau selalu melihat Arsyad, karena dengan melihatnya, sakit itu semakin bertambah, dan aku tak ingin menjadi duri dalam rumah tangga kalian. Aku menyayangimu Almira, kamu sudah aku anggap sebagai kakak ku sendiri. Terima kasih untuk semuanya, untuk waktu yang kita lalui bersama dari waktu kita kecil hingga sekarang. Satu pesanku, jangan pernah berhenti mencintai suamimu dan jangan meninggalkan dia.
Dari sahabatmu
Naila Ramadhani*.
Almira membaca surat Naila dengan berlinang air mata, dia sangat merasa bersalah, dasar sahabatnya membutuhkan dia, dia malah mencari kesibukan sendiri.
__ADS_1
"Maafkan aku, Nai. Aku ingin bertemu denganmu, kamu di mana Naila."ucap Almira dengan lirih dan terisak.
Arsyad membawa istrinya dalam dekapannya dan mencoba menenangkan hati istrinya.
"Sudah sayang, kita pasti bertemu Naila, kita cari tau di mana dia sekarang. Sudah tenangkan hatimu." Arsyad membelai kepala Almira dan mencoba meredakan tangisnya.
"Mba, kasih tau kami, di mana Naila sekarang tinggal?"pinta Almira pada Mba Cici.
"Kalau saya tau, saya sudah memberitahukan Mba Mira dari tadi. Saya benar-benar tidak tahu di mana Mba Naila sekarang."ucap Mba Cici.
"Kita tunggu kabar dari Mba Cici, ini kartu nama saya, jika ada kabar dari Naila hubungi saya secepatnya ya, mba?" Arsyad memberikan kartu namanya pada Mba Cici, agar saat Naila sudah pulang, bisa langsung menghubungi Arsyad dan Almira.
Almira dan Arsyad kembali pulang ke rumahnya, di perjalanan Almira masih saja menangis, dia khawatir dengan keadaan sahabatnya itu. Arsyad berulang kali mencoba menenangkan Almira yang masih saja menangis.
"Mas, dimana Naila, aku ingin sekali tau keadaannya, apa dia baik-baik saja. Kenapa dia menyembunyikan ini semua dariku. Padahal dulu dia tak seperti itu."ucap Mira.
"Kita pasti akan tau di mana Naila berada, sayang. Sudah kamu jangan bersedih lagi, kasihan di perutmu ada anak kita. Dan, mungkin Naila menyembunyikan ini semua karena dia mempunyai alasan tersendiri."jelas Arsyad.
Almira menuruti kata suaminya, dia mencoba menenangkan dirinya, dan terus berdoa untuk sahabatnya yang sekarang tidak tau entah di mana.
"Naila, maafkan aku, aku hanya menganggapmu teman dan kakak kelasku dulu. Maafkan aku, Naila. Aku hanya mencintai istriku, Almira. Semoga kamu di sana baik-baik saja."gumam Arsyad.
Arsyad mengantar Almira masuk ke dalam rumah, dan menyuruhnya istirahat.
"Jangan memikirkan ini lagi, sayang. Istirahatlah, aku akan kembali ke kantor, jam 3 aku harus menemui klien penting sekali bersama papah. Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja. Aku kembali ke kantor." Arsyad mencium kening istrinya.
"Hati-hati mas, aku tidak bisa mengantarmu ke luar, aku lelah sekali."ucap Almira sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Iya, tidak apa-apa. Sudah kamu istirahatlah, aku pulang sehabis Maghrib, jangan menangis lagi, oke." Arsyad melangkahkan kakinya keluar untuk kembali ke kantor.
Almira masih saja gelisah hatinya, dia menatap langit-langit kamarnya sambil membayangkan dulu saat bersama Naila.
"Kuharap kamu baik-baik saja di sana, Nai. Aku akan mencari tau keberadaanmu."ucap Mira lirih.
Almira meraih ponselnya, dia menyuruh sopir pribadinya dan semau Asistennya untuk mencari informasi tentang Naila.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♥️happy reading♥️