
Satu bulan setelah pertunangan Arsyil sudah berlalu. Siang ini Arsyad menemui client bersama Arsyil. Mereka sudah selesai menemui client nya. Arsyil mengajak kakaknya makan siang di restoran favoritnya. Mereka berdua makan siang bersama setelah menemui client nya. Sesampainya di restoran mereka memesan makanannya. Sebelum pesanan mereka datang Arsyi dan Arsyad berbincang-bincang.
"Kakak yakin bulan depan akan ke pesantren?"tanya Arsyil.
"Iya lah, masa tidak jadi Syil."jawab Arsyad.
"Kak, bagaimama dengan Kak Mira?"
"Kakak tidak tahu Syil. Almira sebenarnya menuruti apa yang orang tuanya inginkan. Tapi, setelah kejadian kemarin Mira memberi waktu aku untuk memikirkannya lagi. Sebenarnya aku ingin menemuinya sebelum berangkat ke Ponpes."jelas Arsyad.
"Kakak tau rumahnya kan, kenapa tidak ke sana saja kak?"
"Kakak malu Syil."
"Kakak itu lucu sekali, sudah kenal dengan orang tua Mira saja malu."
"Ya nanti aku mencoba menemui orang tua Mira dan Mira ke rumahnya."
Pesanan mereka sudah datang, mereka menikmati makanan yang di pesannya.
Setelah selesai makan, mereka keluar dari restoran dan menuju ke kantornya lagi. Tapi Arsyil tidak kembali ke kantor karena dia sudah janji dengan Nisa akan pergi ke toko buku.
"Kak, kamu mau balik ke kantor kan? Aku akan pergi dengan Nisa kak ke toko buku."
"Oh kalau begitu pakai mobil ku saja, aku nanti ke kantor pakai taxi Syil. Kunci motormu kemarikan, biar aku pulang pakai motormu."
"Tidak apa-apa kakak pakai taxi ke kantor?"
"Tidak lah...ini kunci mobilnya."
"Oke kak aku berangkat ya?"
"Iya hati-hati."
Arsyil berangkat menjemput Nisa menggunakan mobil Arsyad. Dan, Arsyad masih di depan Restoran sedang menunggi taxi datang. Saat sedang menunggu terlihat mobil berhenti di depannya. Terlihat seorang wanita keluar dari mobil tersebut menghampiri Arsyad.
"Syad, sedang apa kamu di sini?"tanya wanita tersebut.
"Eh..Mira, aku sedang menunggu taxi."jawabnya.
"Ayo ikut aku saja, kamu mau pulang?"
"Aku mau kembali ke kantor Mir, mobilku di pakai Arsyil untuk menjemput Annisa."
"Mas Arsyad ayo ikut saja dengan kami."seru pak sopir dari dalam mobil.
"Apa tidak merepotkan?"
"Tidak, ayo mas masuk." Sopir pribadi Mira membukakan pintu depan dan menyuruh Arsyad masuk ke dalam.
"Ayo Syad."ajak Mira.
Arsyad akhirnya ikut mobil Almira untuk kembali ke kantor. Arsyad duduk di depan di samping sopir pribadi Mira. Sedangkan Mira duduk di belakang, terlihat dia sedang memebaca buku.
"Mira kamu dari mana atau mau ke mana?"
"Aku habis meninjau tempat untuk membuka taman baca di daerah X Syad."
"Kamu mau membuka taman baca?"tanya Arsyad.
"Iya, di daerah sana anak-anak minat baca nya sangat tinggi Syad, dan tempat yang tadi aku kunjungi sepertinya agak strategis karena banyak sekolahan juga di sana."jawab Mira.
__ADS_1
"Bagus itu Mira, kapan akan di bangun?"
"Dalam waktu dekat ini Syad. Oh iya besok pagi ada waktu, aku ingin mengajakmu ke sana sekalian minta pendapatmu bagaimana dengan tempatnya."
"Besok ya, aku ada meeting jam 9 sampai jam 11 siang. Dan, setelah itu aku sudah free sampai sore. Bagaimana setelah sholat dhuhur saja kita ke sana."
"Boleh, besok aku dan pak Afif jemput kamu di kantor. Pak Afif bisa kan besok?"tanya Mira pada sopir pribadinya yang bernama Afif.
"Iya Mba Mira, Siap.!" jawabnya.
Mobil Almira sudah sampai di kantor Arsyad. Arsyad turun dari mobil Mira.
"Apa kamu mau turun dulu Mira?"
"Aku langsung pulang sajalah, lagiyan besok juga aku ke sini lagi Syad."
"Oke, hati -hati ya Pak Afif."
Pak Afif mengemudikan mobilnya keluar dari kantor Arsyad
Mira melambaikan tangannya ke arah Arsyad begitu pula Arsyad. Rayhan melihat Arsyad masuk ke dalam kantor sendirian tanpa Arsyil.
"Mana Arsyil?"tanya Ray.
"Keluar sama Nisa."jawabnya.
"Lalu, kamu ke sini pakai taxi?"
"Aku tadi sama Almira, kebetulan tadi saat menungg taxi Almira lewat dan mengantarkanku kesini."
"Almira sendirian?"tanya Ray lagi.
"Tidak lah, masa sendiri. Dia sama Pak Afif sopir pribadinya. Oh iya Ray besok jadwalku hanya Meeting saja kan jam 9 sampai jam 11?"
"Besok aku mau pergi dengan Mira setelah sholat dhuhur barangkali besok mendadak ada meeting dwngan klient, tolong kamu dan Arsyil yang handle. aku sudah janji soalnya dengan Mira."
"Makin dekat saja kamu Syad dengan Mira."
Arsyad hanya tersenyum saja sambil masuk ke dalam ruangannya. Dia kembali mengerjakan file-file yang masih menumpuk di mejanya.
"Almira maafkan aku, aku masih belum bisa memberi keputusan mengenai perjodohan kita. Aku hanya takut menyakitimu Mira. Karena, masih ada rasa yang tertinggal di hatiku."gumam Arsyad dalam hati.
******
♥Almira♥
Aku selalu mencoba untuk melupakan masalah perjodohan ku dengam Arsyad. Aku tau dia masih belum bisa menerima wanita lain di hatinya. Mungkin sampai saat ini dia masih menyimpan rasa untuk Annisa. Ya begitulah jika cinta pertama.
Sejak pertama kali aku bertemu Arsyad aku sudah mengaguminya. Dia benar-benar laki-laki yang menjaga apa yang sudah menjadi miliknya. Walau hanya sebatas tasbih, dia rela kembali lagi ke masjid untuk mencarinya. Padahal kalau orang lain pasti bisa saja dia membeli lagi dengan yang baru. Jadi, bagaimana bisa dia melupakan Annisa secepat kilat, tidak mungkin, dia butuh waktu lama. Sedangkan aku, aku hanya seorang wanita, aku hanya bisa menunggu kepastian darinya. Walaupun, aku menerima untuk di jodohkan dengannya.
Sudah satu bulan aku memberi waktu untuk Arsyad. Tapi, dia belum juga memutuskan menerima atau tidak. Biarlah, aku punya Tuhan, Dia maha mengetahui semuanya. Bukan aku terlalu berharap memiliki Arsyad. Aku hanya mematuhi orang tuaku. Karena aku yakin pilihan abah dan ummi yang terbaik untuk ku.
Aku mengambil laptopku, aku sudah lama meninggalkan hobby ku semenjak aku di Kairo. Aku menyelesaikan menulis novelku.
"Kenapa di fikiranku hanya ada Arsyad. Ya Allah jangan biarkan aku hanyut dala rasa ini. Iya, aku menginginkan dia menjadi suamiku, pendamping hidupku dan menjadi Imamku untuk menuju jannahMu. Tuntun aku Ya Allah agar aku tak jatuh pada cinta manusia yang menyesatkan hatiku. Jika Arsyad jodohku, permudahkanlah langkah kami untuk bersatu. Jika tidak, lapangkan hati ini agar bisa menerima takdirmu Ya Allah." lirihku dalam hati.
Baru kali ini aku meneteskan air mata untuk seorang laki-laki yang mampu mengoyak hatiku seperti ini.
"Mira jangan terlalu berharap seperti ini. Kenapa kamu melemah karena seorang laki-laki yang tidak memberi kepastian untukmu."aku merutuki diriku sendiri.
Abah sering sekali mengenalkanku pada seorang laki-laki. Tapi, baru kali ini aku menanggapi nya. Dulu tak pernah aku menanggapi jika abah mengenalkanku dengan laki-laki. Tapi, kenapa saat abah menjodohkanku dengan Arsyad aku bahagia sekali. Seakan abah tau apa yang aku inginkan dan apa yang aku mau.
__ADS_1
Aku kembali mematikan kembali laptopku, fikiranku belum sinkron untuk menulis. Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, baru saja aku merebahkan tubuhku yang lelah ini terdengar suara ketukan dari pintu kamarku dan suara ummi yang memanggilku untuk makan.
"Mira, ayo makan dulu, kata Pak Afif kamu belum makan."ucap Ummi sambil membuka pintu dan berjalan mendekatiku.
"Ummi, Mira belum lapar."jawabku.
"Mira, ini sudah hampir jam 3 sore kamu belum makan siang, ayo makan dulu."
"Nanti ummi, ummi Mira mau bicara dengan ummi sebentar."
"Mau bicara apa, nak?"tanya Ummi penasaran.
Ummi Rahmah duduk di ranjang Mira.
"Ummi, apa keluarga Arsyad bicara lagi soal perjodohan Arsyad denganku?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Ummi, apa Arsyad akan menerima perjodohan ini? Sedangkan aku tau dia masih menyimpan rasa untuk Annisa, jika iya Arsyad menerima dengan terpaksa, berarti Arsyad juga terpaksa menikahi aku ummi."ucapku dengan nada yang melemah.
"Jangan bicara seperti itu, bukankah kamu yang memberi waktu Arsyad dua atau tiga bulan untuk menata hatinya kembali, kok kamu sepertinya tidak yakin? Ummi malah yakin sekali Arsyad akan menerima perhodohan ini. Mira, ummi tahu perasaanmu, nak. Ummi juga wanita nak. Kalau kamu lelah menunggu, kamu boleh menerima laki-laki lain. Ummi dan abah tidak memaksamu untuk tetap menunggu Arsyad."jelas Ummi.
"Ummi, bukan Mira lelah menunggu, Mira hanya tidak siap saja kalau Arsyad menerima perjodohan ini dan hatinya masih terpaut dengan wanita lain. Karena, Mira....." aku terdiam sejenak menata kata-kataku.
"Karena kamu sudah mulai menyukai Arsyad?"tanya Ummi sambil menggoda ku.
Aku hanya mengangguk dan memeluk Ummi. Aku malu dengan perasaanku sendiri karena belum terbalas oleh Arsyad. Aku membenamkan wajahku di dada Ummi.
"Ummi tau perasaanmu nak. Sudah tidak usah seperti ini. Ummi yakin Arsyad memiliki rasa yang sama untukmu juga." Ummi membelai rambutku yang tergerai.
Iya, jika di dalam rumah aku tidak memakai khimar dan niqabku. Kecuali, jika ada tamu yang datang baru aku memakainya. Entah itu wanita atau pria. Aku selalu memakai khimar dan niqabku kalau menemui tamu di rumah. Ummi masih memelukku. Aku malu dengan perasaan ku ini. Baru kali ini aku memiliki perasaan lebih terhadap laki-laki.
"Ayo makan dulu, ummi temani kamu makan. Jangan tidur, sudah menjelang Ashar Mira."ucap Ummi.
"Iya ummi ini Mira mau makan."
Aku keluar dari kamarku bersama ummi menuju meja makan. Ummj menemani ku makan siang yang agak kesorean ini.
*****
♥Arsyad♥
"Mira mengajaku melihat tempat yang akan dia bangun taman baca? Apa tadi aku tidak salah dengar, apa ini mimpi? Tidak ini nyata Arsyad." gumamku lirih.
Iya aku diajak Mira meninjau tempat di daerah X yang akan di bangun taman baca. Baru saja aku akan menemuinya, ternyata Tuhan lebih dulu mempertemukanku dengannya gara-gara taxi tak kunjung datang. Benar kata Ray, aku semakin dekat dengan Mira. Dan, entah mengapa aku nyaman saat mengobrol dengannya, walaupun terkadang sifat acuh nya dia keluar.
"Aku harus bisa, aku harus bisa membuka hatiku kembali untuk wanita lain. Bodohnya aku, dijodohkan dengan seorang wanita sholehah seperti Mira aku malah menundanya untuk memberi keputusan. Kurang apa Mira, dia pintar, sholehah, dan pasti dia cantik. Benar-benar istri idaman sekali dia."gumam ku dalam hati.
Besok saat aku bertemu dengannya aku akan berbicara langsung dengannya mengenai masalah perjodohan ini.
"Kamu harus bisa Arsyad, jangan melemah karena wanita. Semua akan indah pada waktunya Syad" aku merutuki sendiri.
Aku menata pekerjaanku dan aku segera mengemasi pekerjaanku untuk pulang.
.
.
.
.
__ADS_1
.
♥happy Reading♥