THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 19 "Kembali Pulang" The Best Brother


__ADS_3

Sudah 3 hari Najwa di rumah sakit. Akhirnya Najwa hari ini di perbolehkan Dokter Luthfi untuk pulang, tentunya itu juga karena perintah dari Dokter Habibi. Annisa menata semua pakaian Najwa di bantu oleh Arsyad. Najwa hanya melihat bunda dan abahnya yang sibuk mempersiapkan kepulangan dirinya ke rumah. Sesekali Annisa dan Arsyad menampakan romantisnya mereka di depan Najwa. Najwa hanya tersenyum melihat kedua orang tuanya bahagia seperti itu.


"Bunda, Abah, maafkan Najwa. Najwa selalu membuat kalian sedih. Abah, apa ini yang namanya ikhlas? Aku berbicara ikhlas melepas Dio, tapi hati ini tidak bisa sama sekali. Aku mencintainya. Sangat mencintainya, maafkan Najwa, bunda, Abah. Najwa belum bisa, sungguh belum bisa," gumam Najwa.


Dokter Habibi masuk ke ruangan Najwa. Hari ini, juga hari terakhir dia di Indonesia. Dia ingin berpamitan dengan abah dan bunda, khususnya pada Najwa. Karena besok dia harus sudah berangkat ke Budapest, menyusul papah dan opanya, yang sedang mendirikan rumah sakit di sana.


"Assalamualaikum," ucap Habibi.


"Wa'alaikumsalam," jawab Arsyad, Annisa, dan Najwa.


"Bagaimana, Ainun, sudah enakan? Senang mau pulang?" tanya Habibi.


"Ya, Alhamdulillah, Dok. Ya senang lah, pastinya. Sudah merindukan rumah juga aku, dok," ucap Najwa.


"Jaga kesehatan kamu, kalau kamu sakit, aku sudah tidak di sini lagi," ucap Habibi.


"Dokter jadi ke luar negeri?" tanya Najwa.


"Iya, besok pagi aku sudah harus ke sana. Sebenarnya aku masih ingin di sini, tapi papah dan opa sudah menyuruhku ke sana," jawab Habibi.


"Lalu mamahnya dokter juga ikut ke sana?" tanya Najwa.


"Mamahku, beliau sudah meninggal 2 tahun yang lalu," jawab Habibi.


"Oh, maaf, dok," ucap Najwa.


"Iya tidak apa-apa," jawab Habibi.


"Memang sedih ya, dok, kalau kita di tinggalkan orang yang kita sayangi dan kita cintai," ucap Najwa.


"Iya, Ainun. Memang kamu pernah di tinggalkan seseorang yang sangat kamu cintai?" tanya Habibi.


"Ya, pernah. Ummiku, belum sempat aku membahagiakannya, tapi beliau sudah pergi meninggalkanku," jawab Najwa.


"Dan sekarang, Dio meninggalkan aku, Dok," ucapan itu hanya terlontar di hati Najwa saja.

__ADS_1


"Oh, jadi bunda?"tanya Habibi.


"Abah sama bunda, menikah lagi saat Najwa kelas 2 SMP. Setelah umminya meninggal 2 tahun," jawab Arsyad.


"Oh, jadi seperti itu. Tapi, Najwa mirip sekali dengan bunda," ucap Habibi.


"Memang, kami mirip, dari Najwa kecil banyak yang bilang kalau Najwa mirip saya, Dok," sahut Annisa.


"Benar, Abah jodoh dengan bunda, anaknya mirip, sih. Katanya sih, kalau salah satu di dalam keluarga ada yang mirip jodoh Abah," ucap Habibi.


"Berarti nanti kamu jodoh sama Ainun, kamu sama seperti Abah wajahnya, mirip sedikit, sih," celah Annisa.


"Ah, bunda bisa saja, jangan buat aku kegeeran bunda. Mana mungkin Ainun jodohku. Ya, meski aku berharap bunda. Tapi, semua Allah yang mengatur, kita hanya bisa berdoa dan meminta, ya kan, Ainun?" ucap Habibi.


"Iya, memang seperti itu, Dok. Yah, mau seberapa lama kita pacaran, kalau tugas kita hanya sebagai penjaga jodoh orang mau bagaimana lagi? Iya kan, Dok?" ujar Najwa.


"Iya benar, ya kita berdoa saja, kali saja, kita di pertemukan lagi nantinya," ucap Habibi.


"Iya, Dok. Siapa tahu dokter di sana dapat jodoh," ucap Najwa.


"Dok, kadang Allah mempertemukan jodohnya dengan cara yang unik, kadang juga dengan cara pemaksaan, karena lewat perjodohan, kadang dengan cara instant, baru ketemu 1 bulan, bulan berikutnya menikah. Ya itulah jodoh. Dan, tidak ada salahnya juga sih, kita berharap ingin berjodoh dengan siapa. Seperti Dokter, yang sekarang berharap berjodoh dengan aku. Tapi, tidak tahu nantinya. Hanya Allah yang tahu semuanya, karena jodoh, mati, dan rezeki Allah yang tahu," jawab Najwa.


"Jawaban yang sempurna. Aku semakin yakin ingin memintamu untuk menjadi jodohku. Mungkin Abah dan bunda mengizinkan, tapi belum tentu Allah mengizinkan, dan aku juga tahu, di balik semua itu, ada hatimu, hatimu yang nantinya akan menentukan, dan aku akan menunggu Allah membukakan hatimu untuk aku singgahi, Ainun," ucap Habibi.


"Ya memang, kita juga butuh sebuah pengenalan. Dokter belum tahu pribadi aku, belum tahu ada masa lalu atau tidak dalam hatiku dan dalam hidupku. Dan, aku pun demikian, yang aku tahu dari dokter hanya keadaan yang sekarang, belum tahu dan mengenal lebih lagi. Bukankan cinta juga harus saling mengenal dulu, sayang juga harus mengenal dulu satu sama lain. Kata pepatah juga bilang, "Tak kenal maka tak Sayang." Bukankah seperti itu, Dok?" ujar Najwa.


"Iya benar Najwa. Semoga saja, kita berjodoh, dan semoga saat aku kembali di sini, kamu belum di miliki pria lain. Kalau sudah, berarti kamu bukan jodoh aku, Ainun," ucap Habibi.


"Iya, Dok. Ya kita hanya bisa menerima apa yang Allah kehendaki buat kita, Dok," jawab Najwa.


Najwa dan Habibi semakin akrab, mereka saling bertukar cerita tentang kegiatan mereka sehari-hari sambil menunggu Annisa dan Arsyad mengemasi barang-barang Najwa.


"Abah pulang di jemput sopir?" tanya Habibi.


"Iya, tapi masih di sekolahan Arkan, ya pas lah, Abah juga mau mengurus administrasi perawatan Najwa," jawab Arsyad.

__ADS_1


"Saya antar saja ya, Abah? Sekalian mau pamitan dengan opa, kan besok aku sudah harus ke luar negeri," pinta Habibi.


"Bagaimana, Najwa?"tanya Arsyad.


"Terserah Abah, yang penting aku pulang, sudah tidak betah Abah," jawab Najwa.


"Mau, ya? Aku ingin bertemu opa dulu, Najwa," pinta Habibi.


"Oke, deh. Sekali-kali merepotkan dokter," ucap Najwa.


"Sering juga tidak apa-apa, Ainun. Kalau aku masih di sini, sayang hari ini adalah hari terakhir aku di sini," ucap Habibi.


"Ya, itu semua juga demi karir Dokter, orang tua menyuruh itu, berarti itu yang terbaik buat dokter," tutur Najwa.


"Iya juga, sih," jawab Habibi.


"Oh, ya. Abah sudah siap?"tanya Habibi.


"Sudah, ini mau ke bagian administrasi, mengurus administrasi," jawab Arsyad.


"Abah, sudah yuk, pulang. Habibi sudah urus itu semua," ucap Habibi.


"Dok, jangan seperti itu. Abah, tidak suka, Abah sudah merepotkan, dokter," ucap Arsyad.


"Abah, sudah jangan pikirkan itu. Abah, bunda, dan kamu Ainun, jangan sekali-kali berpikir aku melakukan semua ini karena aku ingin meminta Ainun untuk menjadi milikku. Tidak, aku tidak seperti itu. Ini semua, karena Ainun sudah menjadi bagian dari rumah sakit ini. Ainun yang mampu mengembalikan senyuman semua pasienku, setiap kali pasienku akan menjalani kemotherapy atau operasi, semua semangat karena Ainun adalah penyemangat mereka. Entah, hati Ainun saat membuat mereka tersenyum sedang baik-baik saja atau tidak. Ini semua aku lakukan untuk jasa Ainun yang sudah memberikan motivasi dan semangat untuk anak-anak," jelas Habibi.


"Tapi aku ikhlas, Dok," ucap Najwa.


"Aku juga ikhlas. Dan, saat kamu sudah benar-benar sembuh. Aku mohon, tetap isi dongeng di rumah sakit ini untuk anak-anak, juga di rumah singgah yang Dokter Wulan kelola. Aku sudah membicarakan semua ini pada Dokter Wulan, nanti Dokter Wulan yang mengatur semuanya," ujar Habibi.


"Oke, aku akan usahakan 1 minggu sekali atau dua kali mengisi dongeng di sini, Dok," ucap Najwa.


"Iya, terima kasih, Ainun, sesenggang kamu saja," ucap Habibi.


Akmal mengantar Najwa pulang ke rumahnya. Akmal tidak menyangka, Najwa juga mau diantarkan oleh dia ke rumahnya. Najwa duduk di belakang bersama bundanya, sedangkan Arsyad duduk di samping Akmal yang sedang mengemudikan mobilnya. Sesekali Akmal melihat Najwa Dau kaca spionnya.

__ADS_1


"Andai aku tidak akan ke luar negeri, aku akan melamar kamu secepatnya, Ainun. Tapi, aku tidak mau mengecewakan papah dan opa, mereka memintaku untuk mengurus rumah sakitnya yang di sana," gumam Akmal dengan sesekali melihat Najwa dari kaca spion.


__ADS_2