THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 109


__ADS_3

Keesokan harinya, di rumah sakit, Reno sedang menemani istrinya, dia mengajak berbicara dengan istrinya, jari Naila bergerak, matanya terbuka, dan dia menatap suaminya dengan mengerjap berulang kali, matanya menyesuaikan cahaya luar yang baru ia tatap selama dua bulan. Betapa bahagianya Reno melihat istrinya membuka matanya. Dia segera berlari keluar untuk memanggil dokter. Dokter langsung masuk ke ruangan Naila dan memeriksanya. Naila sudah sadar, tapi kondisinya masih tetap lemah dan belum stabil, detak jantungnya juga masih melemah. Dokter meninggalkan ruangan Naila, Reno mengikutinya


"Dok, bagaimana istri saya?tanya Reno.


"Ibu Naila, dia hanya sadar dari komanya saja, kondisinya masih tetap lemah, Pak Reno. Dan, seperti yang saya katakan sebelum Ibu Naila mengalami koma, kanker Ibu Naila sudah memasuki stadium akhir dan sudah menyebar ke seluruh sel-sel di tubuhnya."jelas Dokter tersebut.


"Apa dia bisa sembuh, Dok?"tanya Reno kembali.


"Meminta lah pada Tuhan, Dia Maha segalanya, kesembuhan yang terbaik adalah milikNya, kami hanya bisa menjalankan tugas kami sesuai prosedur pengobatan."ucap Dokter yang menangani Naila.


"Terima kasih, Dok." Reno kembali masuk ke ruangan Naila, Naila memejamkan matanya lagi, tapi saat melihat suaminya duduk di sebelahnya, dia membelai lembut wajah suaminya.


Naila mencoba tersenyum di depan suaminya, dia menggenggam tangan suaminya dan menciumnya.


"Mas, maafkan aku, aku merepotkan mu."ucap Naila.


"Jangan bicara seperti itu, sayang." Reno menatap dalam-dalam wajah istrinya.


"Mas, aku mencintaimu."ucap Naila.


"Aku juga mencintaimu, Naila. Kemarin siang, Almira dan Arsyad menjengukmu."tutur Reno.


"Aku merasakanya, mas. Aku sangat merindukan Almira, dan rinduku sudah terobati, tolong sampaikan padanya, tetaplah berada di samping Arsyad, karena Arsyad hanya mencintainya."ucap Naila dengan suara terbata-bata. Nafas Naila mulai tak beraturan. Reno yang melihatnya meneteskan air matanya. Dia tau, Nafas Naila sudah di ujung tenggorokannya saja.


"Mas, jaga dirimu selalu, maaf aku tidak bisa di sisimu lagi. Maafkan aku mas."


"Sayang, sudah jangan banyak bicara, istirahatlah."ucap Reno sambil mencium kening istrinya.


"Mas, bisakah kamu menuntunku, jika aku tiada, makamkan aku di samping orang tuaku, mas."


"Jangan bicara seperti itu, kamu pasti sembuh, Naila."air mata Reno mulai deras membanjiri pipinya


"Mas, tuntutlah aku."pinta Naila.


Dengan berlinang air mata Reno mentalqinkan dua kalimat syahadat di telinga Naila, Naila mengikutinya dan setelah selesai, Naila menghembuskan nafas terakhirnya. Renienyeka air matanya dan mencium lembut kening Naila.


"Innalilahi wainnailaihirojiun, tenang di sisinya, sayang. Aku ikhlas, kamu sudah tidak sakit lagi. Aku mencintaimu." Reno mengecup kening istrinya kembali, dia keluar memanggil dokter, dan benar, Dokter menyatakan Naila sudah meninggal dunia.


Jenazah Naila di bawa ke ruang pemulasaraan jenazah untuk di mandikan dan di kafani, saat Reno sudah selesai mengemasi barang-barang bawaannya dia menunggu di depan ruang Pemulasaraan, dan duduk termenung.


Arsyad dan Almira datang ke rumah sakit lagi untuk berpamitan dengan Naila dan Reno. Tapi, berita duka menghampirinya, seorang perawat yang masih di ruangan Naila berkata pada Almira bahwa Naila meninggal 30 menit yang lalu, dan jenazahnya masih berada di ruang pemulasaraan jenazah. Almira begitu terkejut oleh pernyataan seorang perawat tersebut, Almira mengajak suaminya menuju ke Ruang Pemulasaraan jenazah.


Reni terlihat duduk seorang diri, Arsyad menghampirinya dan menepuk pundak Reno.


"Reno, yang tabah, semua ini sudah kehendak Allah."ucap Arsyad. Reno memeluk Arsyad, dia menangis di pelukan Arsyad, tak peduli dia baru kenal dengan Arsyad, dia hanya ingin mengeluarkan beban dalam hatinya.


"Tenanglah, Naila sudah tidak sakit lagi."ucap Arsyad, dia mencoba menenangkan hati Reno. Reno mengusap wajahnya dengan kasar.


"Naila berpesan kepadaku, Almira. Dia berkata, kamu harus tetap berada di samping Arsyad, karena Arsyad sangat mencintaimu. Dan, dia ingin di makamkan di dekat orang tuanya. Jadi, setelah semua selesai, jenazah Naila akan di bawa ke kotanya. Bisakah kalian menemaniku untuk membantu mengantarkan Naila ke peristirahatan yang terakhir. Aku sudah menghubungi rumah Naila dan saudara-saudara nya di sana."ucap Reno.


"Kami pasti akan ikut ke pemakaman Naila, kami juga sudah bersiap-siap untuk pulang, sebenarnya tadi hanya ingin berpamitan saja pada kalian, tapi Tuhan berkata lain."ucap Arsyad.


Almira hanya terdiam saja dari tadi, dai terus menyeka air matanya yang keluar dari sudut matanya, dia mengingat kembali masa-masa dengan Naila. Begitu menyesakan dada, dia sekarang pergi meninggalkannya.


"Mira, Arsyad, kalian jangan merasa bersalah lagi atas meninggalnya istriku. Dia memang sudah memiliki gejala penyakit itu dari dulu, tapi dia tidak mau berobat, dan tidak pernah memberitahukan kepada orang tuanya. Jadi, kamu jangan merasa bersalah, Mira. Tenanglah, kasihan anakmu yang berada di kandunganmu."jelas Reno, dia melihat Almira seperti menyalahkan dirinya sendiri.


Almira hanya menganggukkan kepalanya, dia masih tetap menangis, Arsyad merangkulnya dari samping dan menyandarkan kepala Almira di bahunya.


"Jangan menangis, kasihan Naila, ikhlaskan, dia sudah tidak sakit lagi, sayang."tangis Almira mulai mereda di pelukan Arsyad.


Jenazah Naila sudah siap di mobil jenazah, Reno duduk di samping jenazah istrinya. Sedangkan Almira dan Arsyad mengikuti mobil jenazah yang membawa Naila.


Almira menyandarkan dirinya di kursi mobil, dia menghabiskan nafasnya dengan kasar. Arsyad yang melihatnya, dia hanya mengusap kepala istrinya.


"Tidurlah, kamu pasti lelah." Almira hanya menganggukan kepalanya.


"Iya aku lelah sekali, mas. Mas pegang perutku." Almira menarik tangan suaminya agar menyentuh perutnya.


"Anak kita gerak-gerak, mas. Jadi ingin cepat-cepat lahir."ucap Mira.


"Nanti kalau perempuan, aku kasih nama, Ainun Najwa, bolehkah?"tanya Arsyad.


"Bagus, cantik namanya, Ainun (mata), Najwa (Berbisik-Bisikan), boleh aku tambahkan Salsabila di belakangnya?"tanya Almira.


"Boleh sayang, Salsabila (mata air di surga), nama yang cantik, Ainun Najwa Salsabila."ucap Arsyad sambil mengusap perut Istrinya.


Almira tersenyum bahagia, kini sesuatu yang mengganjal karena rasa bersalah pada sahabatnya, telah hilang seketika. Almira sudah mengikhlaskan Naila pergi, dia akan menepati janjinya pada Arsyad, tak akan mengulangi lagi meminta suaminya untuk menikah lagi, dalam keadaan apapun.


"Iya benar kata Arsyad, hanya wanita bodoh yang menyuruh suaminya menikah lagi, suamiku memang yang terbaik, maafkan aku mas, aku yang selalu menyelesaikan masalah dengan egoku, tidak memikirkan perasaanmu."gumam Almira dalam hati.


Almira menguap berkali-kali, dia merasa sangat mengantuk, perjalanan untuk sampai di kotanya membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam lagi. Arsyad berkali-kali menyuruh istrinya untuk tidur, tapi Almira tidak mau tidur, karena ingin menemani suaminya yang sedang mengemudikan mobil.

__ADS_1


******


Mereka sudah sampai di area pemakaman, mobil Arsyad terparkir di belakang mobil Abah Fajri yang juga ikut melayat. Almira langsung memeluk Abahnya, sudah satu minggu lebih dia tidak bertemu Abahnya, dia memeluk Abahnya dan umminya secara bergantian.


"Kamu yang sabar, sayang, ini semua sudah kehendak Allah, jangan menyalahkan dirimu, kasihan cucu Abah di kandunganmu." Abah Fajri mencium kepala putrinya. Almira mengiyakan perkataan Abahnya, dia berjalan di samping Abahnya. Arsyad berjalan di samping ibu mertuanya.


"Ummi sehat?"tanya Arsyad pada ibu mertuanya.


"Sehat, ya seperti ini ummi, paling yang di rasa tidak enak hanya kaki ummi, yang kadang sakit."ucapnya.


"Ini masih sakit? Ayo Arsyad gandeng ummi, masih jauh soalnya tempat pemakaman nya."Arsyad menggandeng ibu mertuanya dengan telaten. Iya, Ummi Rahmah memang memiliki sakit asam urat yang kadang kambuh, apalagi saat musim penghujan seperti saat ini.


"Terima kasih, nak. Apa Almira selalu merepotkan mu?"tanya Ummi.


"Tidak, aku malah yang selalu merepotkan putri ummi, dia menyiapkan sarapan untuk ku, menyiapkan baju untukku, dan semuanya."ucap Arsyad.


"Itu sudah tugas seorang istri, nak. Maksud ummi, apa Almira terlalu manja sekali saat hamil?"tanya Ummi kembali


"Tidak, kalaupun manja, Arsyad lebih suka."jawabnya.


"Kamu memang laki-laki terbaik untuk putriku, Syad."ucap Ummi.


"Ummi bisa saja." Arsyad tersenyum pada ibu mertuanya, dia memang dekat sekali dengan ibu mertuanya, dia menganggap mertuanya seperti orang tuanya sendiri. Dia juga kadang ke rumah mertuanya tanpa sepengetahuan istrinya hanya untuk memastikan kesehatan mertuanya.


Upacara pemakaman Naila sudah selesai, semua pelayat meninggalkan pemakaman satu persatu. Hanya Reno dan pamannya yang masih berada di samping makam Naila. Mereka sedang mengirimkan doa untuk Naila. Arsyad, Almira,dan orang tua Almira ikut mendoakan Naila.


"Arsyad, Almira, Ummi dan Abah terima kasih sudah ikut ke pemakaman istri saya, saya titip makam istri saya di sini, karena saya akan ikut paman ke Singapura untuk urusan pekerjaan saya."ucap Reno.


"Iya Ren, nanti akan aku jenguk makam Naila jika aku ke sini menjenguk makam mamah."ucap Arsyad.


"Mamah? Bukankan ibumu masih ada?"tanya Reno.


"Emm…itu, istri papah pertama."jawab Arsyad.


"Istri papahmu?"tanya Reno kembali.


"Iya, papahku memiliki dua istri, ibu ku istri kedua papah."jelas Arsyad.


"Ohh..jadi seperti itu."ucap Reno.


Arsyad dan keluarganya pamit meninggalkan pemakaman, Reno masih saja terdiam di depan makam istrinya. Dia mencium Nisan Istrinya dan pulang bersama pamannya.


Arsyad mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah, dia melihat istrinya sudah terlelap tidur di sampingnya. Arsyad melajukan mobilnya pelan dan membenarkan kepala istrinya yang berkali-kali membentur kaca mobil. Mobil Arsyad sudah berada di halaman rumahnya, di membangunkan Almira yang masih tertidur pulas. Almira mengerjapkan matanya dan menguap, dia masih sangat mengantuk sekali.


Sesampainya di kamar, dia merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur, tapi Almira langsung bangun saat Arsyad sedang berganti baju. Dia merasakan badannya yang lengket, dia langsung beranjak mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.


"Sayang, tunggu." Almira menoleh ke arah suaminya.


"Apa, mas?"tanya Almira.


"Kita sudah lama tidak mandi bersama, aku ingin mandi bersamamu."ucapnya.


"Baiklah." Almira mengajak suaminya ke kamar mandi untuk mandi bersama.


*****


Arsyil masih berkutat dengan pekerjaannya malam ini, tugas dia menjadi bertambah karena mengurus perusahaan Alm. Papah Rizal. Annisa melihat suaminya yang masih sibuk dengan pekerjaannya, dia menghampirinya dengan membawakan segelas kopi untuk suaminya. Arsyil sudah mencium aroma kopi hitam yang sudah di buatkan oleh istrinya.


Annisa meletakan kopi di meja kerja suaminya dan duduk di depannya.


"Syil, kopinya."ucap Annisa dengan mendudukan dirinya di kursi yang berada di depan Arsyil.


"Terima kasih sayang, bagaimana kandunganmu, kamu masih belum mau makan nasi juga?"tanya Arsyil.


"Sudah, tapi sedikit demi sedikit, bagaimana kerja di kantor papah?"tanya Nisa.


"Ya seperti ini, apa kamu mau membantuku, Papah kamu bilang, kamu juga pandai berbisnis, dan sering membantu papah juga."ucap Arsyil yang pandangannya masih belum lepas dari laptop nya.


"Iya dulu aku sering membantu papah, coba aku lihat filenya, barangkali aku bisa meringankan pekerjaan mu, aku tau kamu juga disibukan pekerjaan di kantor Papah Rico. Apalagi Kak Arsyad kan sedang di luar kota bersama istrinya."ucap Nisa.


Nisa duduk mendekati suaminya, dia melihat file yang masih dikerjakan suaminya, dan benar kata Papah Rizal, Annisa memang pandai, dia langsung tanggap apa yang suaminya ajarkan, dia mengambil alih pekerjaan suaminya dan menyuruh suaminya meminum kopi yang tadi ia buatkan untuknya.


"Syil, bolehkan aku bekerja di perusahaan papah, aku jenuh jika di rumah terus, lagian butik ku sudah ada Vera yang mengurusnya."ucap Annisa yang masih saja sibuk dengan laptopnya.


"Kamu masih hamil, jangan terlalu capek, sayang."ucap Arsyil


"Justru itu, Syil. Aku lebih banyak bergerak dan tidak stres di rumah sendiri, mau ke Kak Shita dia sibuk dengan Caffenya, ke rumah Kak Mira, dia juga sibuk dengan taman bacanya."tutur Annisa


"Kamu kan punya butik, sayang."ucap Arsyil.


"Aku bosan di butik, kalau di kantor papah kan ada kamu, Syil."ucapnya manja.

__ADS_1


"Bilang saja ingin dekat denganku, banyak alasan saja kamu, Nis."ucapnya sambil mencubit lembut pipi istrinya.


"Iya memang seperti itu, lagian Vera juga yang mau mengurus butik ku, bukan aku yang mau. Biarlah, dia membutuhkan pekerjaan, sekarang cari pekerjaan sulit sekali, Syil."ucapnya.


"Ya...ya… kalau itu mau kamu aku bisa apa, kamu kan kalau mau harus dituruti, bukan kah begitu, sayang?"ucap Arsyil sambil mencium mesra istrinya.


*****


Arsyad mencoba membuka laptopnya. Dia akan mengecek pekerjaannya yang ia tinggalkan selama dua hari, tapi semua file ada pada Flashdisk yang terbawa oleh Arsyil. Dia segera menghubungi adik nya, kalau dia akan datang ke rumahnya untuk mengambil Flashdisk miliknya. Dia mengajak Almira untuk ke rumah Arsyil, tapi Almira tidak mau karena dia merasa lelah sekali dan mengantuk sekali. Arsyad pergi ke ruang Arsyil sendiri tanpa mengajak istrinya.


*****


Annisa masih saja asyik dengan pekerjaannya, memang dia sangat merindukan kerja di kantor papahnya, jika dia libur semester dia ikut papah nya ke kantor dan belajar dengan papahnya bagaimana perusahaannya. Jadi walau sudah lama dia tak memegang pekerjaan itu, dia masih bisa mengikuti apa yang suaminya ajarkan.


"Sudah malam, tidurlah, kasihan anak kita."ucap Arsyil.


"Nanti, aku belum mengantuk, sayang."ucapnya.


Tak lama kemudian suara bel di ruang Arsyil berbunyi, Annisa yang tidak tahu kalau Arsyad akan datang menemui suaminya, dia bertanya pada suaminya.


"Siapa yang bertamu jam segini, Syil?"tanya Annisa


"Itu pasti Kak Arsyad, dia akan mengambil Flashdisk yang tertinggal di tas kerjaku kemarin."ucap Arsyil.


"Oh…ya sudah sana bukain dulu."ucapnya sambil meminum susu yang tadi Arsyil buatkan untuknya.


Arsyil membukakan pintu depan, Arsyad masuk mengekori Arsyil ke dalam, dia melihat ada Annisa yang masih berkutat dengan laptopnya nya.


"Istrimu jam segini belum tidur?"tanya Arsyad pada Arsyil dengan suara lirih.


"Belum, dia masih bernostalgia dengan pekerjaannya, Kak."ucapnya.


"Bernostalgia?"tanya Arsyad yang agak bingung.


"Iya, ayo masuk kak." Arsyil mengajak kakaknya masuk ke dalam, Annisa menyapa kakak iparnya yang datang


"Kok sendiri kak, Kak Mira tidak ikut?"tanya Nisa.


"Dia sudah tidur, kamu jam segini kok belum tidur?"tanya Arsyad.


"Sedang membantu pekerjaan Arsyil di kantor papah."jawabnya.


"Memang kamu bisa?"tanya Arsyad.


"Jangan salah kak, dia lebih pandai dari pada aku."ucap Arsyil sambil mengeluarkan flashdisk dari tasnya.


"Sudah ku duga, kamu kan bisanya cuma ganti oli dan busi."ledek Arsyad.


"Ya…seperti itu, kakak mau kopi?" Arsyil menawarkan kopi untuk kakaknya.


"Tidak usah, Almira sendirian, kasihan kalau di tinggal lama-lama. Apalagi dia baru saja kehilangan sahabatnya."ucap Arsyad.


"Maksud kakak?"tanya Arsyil.


"Naila, dia meninggal dunia tadi pagi, dan tadi sore sudah di makamkan."ucapnya.


"Innalilahi wainnailaihirojiun, tapi ada untungnya kak, kamu gak di paksa kawin lagi."goda Arsyil


"Husss…kamu itu, iya juga sih, ya sudah kakak pulang, Nis, kakak pulang dulu, jangan begadang, tidak baik untuk wanita hamil."ucap Arsyad.


"Iya kak, sebentar lagi tidur kok."jawab Nisa.


Arsyad di antar keluar oleh Arsyil, dia segera melajukan mobilnya untuk pulang. Dia sebenarnya masih ingin lama di rumah Arsyil, dia ingin mengobrol dulu dengan adiknya, tapi Almira di rumah sendirian dan Annisa belum tidur, walaupun sudah melupakan masa lalu yang memalukan, karena dia mencintai kekasih adiknya, tapi tetap saja, jika ada Annisa dan bertatap muka dengan Annisa lama, Arsyad merasa agak canggung.


"Dia ternyata bisa mengurus perusahaan papah nya, aku kira Annisa gadis yang sangat manja, tapi dia begitu dewasa dan bahkan begitu tegar sekali walau di hantam cobaan kehilangan kedua orang tuanya sekaligus setelah dia menuai kebahagiaan."gumam Arsyad sambil melajukan mobilnya menuju rumah.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


♥️happy reading♥️


__ADS_2