
Suara riuh terdengar di kelas, karena sebuah pengumuman yang membuat semua siswa kelas 2 bersorak gembira. Ya, seusai ujian kenaikan kelas, semua siswa kelas 2 akan berangkat studi tour ke Jogja, dan hari ini adalah hari terakhir ujian kenaikan kelas. Thalia yang penasaran dengan Daerah Istimewa Yogyakarta juga turut senang karena akan ada Studi Tour ke sana.
Selama seminggu, Thalia memang jarang di bengkel Arkan lagi. Dia lebih senang di rumah Alina untuk belajar. Dia fokus belajar untuk mengikuti ujian kenaikan kelas. Ada rasa rindu yang terpendam di hati Thalia, biasanya setiap hari dia menemani Arkan di bengkel, selama seminggu kemarin dia menghabiskan waktu untuk belajar di rumah Alina dan Raffi.
Dia memilih tinggal di rumah Raffi selama seminggu karena rumah Raffi nyaman untuk belajar, apalagi di taman baca. Dan, saat itu Raffi juga sibuk di luar kota untuk menangani proyek yang lain, jadi Thalia yang menemani Alina. Thalia bertemu Arkan saat berangkat sekolah, di sekolah, dan pulang sekolah, selebihnya itu, mereka tidak bertemu lagi, hingga bertemu esoknya lagi untuk ke sekolah.
Thalia merasa sedikit lega, karena Lily juga sudah tidak mengganggu Arkan lagi. Entah kenapa Lily tiba-tiba menjauh dari Arkan, mungkin karena malu atau apa Thalia tidak tahu.
Arkan mendekati Thalia yang sedang mengemasi alat tulisnya. Arkan tahu, kalau Thalia senang mendengar akan ada Studi Tour ke Jogja, dia pun senang, karena dia merencanakan akan ke Jogja bersama Dio, Kiara, dan Rania, juga mengajak Tita. Namun, karena Dio dan Rania banyak pekerjaan, jadi mereka tidak jadi untuk ke Jogja.
“Akhirnya ke Jogja juga,” ucap Thalia dengan mengurai senyum bahagianya di depan Arkan.
“Keturutan juga, setalah kamu kecewa sama Kak Dio,” jawab Arkan.
“Bukan aku kecewa, memang Kak Dio sibuk, masa iya aku Cuma sama kamu saja ke sana, kan gak asik,” ucap Thalia.
“Iya juga, sih. Sudah, jangan senyum-senyum terus. Manis sekali senyummu, Lia. Nanti aku kena diabetes,” ucap Arkan dengan mencubit pipi Thalia.
“Ah, kamu bisa saja, pulang, yuk?” ajak Thalia dengan pipi yang merona karena diperlakukan Arkan seperti itu.
“Jiaah... merah pipinya, kenapa gini? Lucu kamu,” ucap Arkan sambil mengusap pipi Thalia yang membuat Thalia semakin bersemu merah.
“Ah...udah jangan gini, Arkan,” ucap Thalia dengan menunduk malu.
“Ehemmm... ini di kelas, jangan buat semua bucin karena kalian,” ucap Anya yang masih berada di samping Lia.
“Salah sendiri bucin,” jawab Arkan.
Demi apa jantung Thalia berdegup kencang. Selama seminggu Arkan selalu saja menunjukkan perhatian lebih pada Thalia, apalagi setiap pesan yang Arkan kirim, selalu saja membuat Thalia melayang ke atas awan.
“Jangan iri, nanti kamu aku bucinin deh,” ucap Rangga pada Anya.
“Ih... apaan, sih?” ucap Anya dengan malu.
“Sudah kita pulang, yuk? Biar mereka di sini menyekesaikan misinya,” ajak Arkan.
“Oke, kita ke Kak Alin, ya?” ajak Thalia.
“Ehm... iya, tapi aku mau ajak kamu ke suatu tempat dulu,” ucap Arkan.
“Suatu tempat? Paling bengkel, mau ke mana lagi,” ucap Thalia.
“Sudah ikut saja,” ajak Arkan dengan menggandeng tangan Thalia.
Arkan dan Thalia keluar dari kelas untuk pulang. Lily dari tadi melihat perlakuan Arkan kepada Thalia dengan romantis sekali. Dia tidak menyangka Arkan ternyata akan secepat itu move on dari dirinya, yang katanya akan selalu mengejar dirinya, meski dia sudah bersama Sandi.
Sisil melihat raut kesedihan hinggap pada wajah Lily. Dia tahu, kalau Lily benar-benar menyesal memutuskan Arkan. Sisil dulu pernah bilang, jangan gegabah mengambil keputusan, apalagi Sisil tahu bagaimana Sandi. Dia memang kalau pacaran harus meniduri pacarnya. Beruntung tidak ada yang hamil, dan Lily pun lega, karena dia tidak hamil, hanya karena hormon yang tidak stabil, jadi Lily terlambat datang bulan.
“Jangan melamun, sudah jangan pikirkan Arkan, lo butuh istirahat dari hal yang disebut percintaan. Lo jangan nyiksa diri lo yang selalu merasa bersalah,” ucap Sisil.
“Gue nyesel, Sil. Gue gak bisa melihat siapa yang tulus mencintai gue saat itu. Gue hanya memandang, punya cowok harus bisa bahagiain gue. Yang mau ajak gue shopping, jalan, makan di restoran mahal, dinner romantis. Dan, itu semua enggak gue dapatkan dari Arkan, selama gue bersama Arkan hampir 2 bulan,” jelas Lily.
“Arkan hanya sibuk di bengkel, dia bilang ini buat kamu nantinya, masa depan untuk dirinya nanti dan aku. Aku kira dia menghayal, bagaimana bisa seorang montir amatiran akan sukses, gak mungkin juga, kan? Dan, ternyata itu bengkel miliknya,” imbuh Lily.
“Lo juga gak tanya sama Arkan itu bengkel siapa?” tanya Sisil.
“Gue juga tahu dari Fajar, dia Cuma mekanik bantu saja, gajiannya juga sedikit. Gue sudah tanya sama Fajar, ternyata dia juga bohong,” jawab Lily.
“Makanya lo jangan keburu nafsu!” tukas Sisil.
“Lo tahu, kan? Gue juga pingin seperti lo, Angel, Vanya, Diana, juga Lulu, yang selalu dibuat senang oleh pacar kalian. Dan, saat kenal dengan Sandi, belum jadian saja dia sudah membuat aku melayang, Sil,” jelas Lily.
“Ya, memang sih, tidak salah, cewek memang butuh Shopping, uang, dan jalan-jalan. Sandi memang gitu, kalau lagi ngejar cewek semua dia berikan. Nanti kalau sudah bosan, ya seperti kamu ini, ditinggal. Untung kamu enggak hamil, coba kalau hamil,” ucap Sisil.
“Sudah, lo jangan ngarep Sandi balik lagi, apalagi ngarep Arkan. Gue yakin, Arkan akan sama Thalia. Mereka slow banget ngejalinanya. Thalianya gak kebaperan banget, lo dekatin Arkan terus aja dia tidak ada rasa marah atau gimana sama Arkan, malah tambah nempel. Lihat saja, kemarin waktu lo gitu sama Arkan, Thalia marahnya bentaran aja sama Arkan. Pulangnya dia akur lagi, bercanda lagi,” jelas Sisil.
“Iya, aku juga lihat mereka seperti tidak pacara, tapi kayak pacaran. Di bilang pacaran, dia seperti itu,” ucap Lily.
“Memang gaya mereka pacaran seperti itu. Sama seperti kakak-kakanya. Kata papahku, semua keluarga Arkan kalau pacaran tidak kelihatan seperti pacaran, tiba-tiba nanti nyebar undangan, entah nanti Thalia sama Arkan atau enggak. Apalagi mereka sama-sama akrab orang tuanya,” imbuh Vanya.
“Dah, elo gak usah sedih, Ly. Kita kan mau study tour nanti, gak usah mikir cowok lah, buang ke laut aja cowok. Lo pasti dapat lebih dari Sandi kok. Syukur-syukur dapat lebih dari Arkan,” ujar Angel.
“Iya, Njel. Gue memang harus melupakan semuanya, baik Sandi maupun Arkan,” ucap Lily.
“Gitu dong, jangan sedih, lo masih punya kita. Dan, karena kejadian kemarin dengan Thalia, kita harus sedikit memperbaiki diri kita. Gue sih bukan ngebanggain si Thalia. Ya, meski dia hidup di luar negeri, tapi dia masih memiliki tata krama yang baik, gak seperti kita,” ucap Angel.
“Lo baru sadar, Njel?!” tanya Vanya dengan berkelakar di dalam kelas.
“Ya, baru sadar kali ini, sih,” jawab Angel.
“Sudah yuk, kita nongkrong di Cafe. Ada Cafe baru lho, katanya asik nongkrong di sana,” ajak Sisil.
“Cafe yang di sebelah sana itu?” tanya Vanya.
“Iya, lo kok tahu?” tanya Sisil.
“Itu Cafenya adiknya abahnya Arkan. Anaknya sih yang ngelola, berarti sepupunya Arkan. Kemarin waktu peresmian, papah di undang ke sana. tapi, gue gak ikut. Papah sama mamah saja yang ke sana,” jawab Vanya.
“Ya sudah ke sana, yuk?” ajak Angel.
Mereka berempat ke cafe, sekarang mereka tinggal berempat. Karena Diana dan Lulu jarang bergabung dengan mereka setelah kejadian dengan Thalia waktu itu. Diana dan Lulu mendapat hukuman dari orang tuanya, dan dipindah kelasnya, agar tidak bersama Angel dan lainnya.
^^^
Arkan mengajak Thalia ke suatu tempat yang asri dan sejuk. Mereka pergi ke kebun teh hanya untuk sekedar melepas penat karena seminggu sudah fokus uian kenaikan kelas.
“Arkan, mau apa kita ke sini?” tanya Thalia.
“Ya, cuci mata saja sih, lihat yang hijau-hijau. Biar pikiran fresh lagi,” jawab Arkan.
“Aku kira mau ke mana, tapi enak juga sih, udaranya sejuk,” ucap Thalia.
“Makanya aku ajak kamu ke sini, kita ke sana, ya?” ajak Arkan dengan menyetandarkan sepeda motornya.
Arkan berjalan turun ke perkebunan bersama Thalia. Mereka beralan di jalan setapak di antara hijaunya daun teh. Meski siang hari, cuacananya sejuk tidak terlalu panas. Arkan mengajak Thalia duduk di sebuah bangku kecil yang terbuat dari sebatang kayu. Mereka duduk dengan memandang hamparan hijau yang menyejukkan mata.
“Thalia,” panggil Arkan.
“Apa?” jawab Thalia.
“Aku mau tanya, boleh?” tanya Arkan.
__ADS_1
Mau tanya apa?” tanya Thalia.
“Selama kamu di sini, kamu senang?” tanya Arkan.
“Senang, aku suka di sini. Meski pertama kali aku mendapat perlakuan tidak baik saat pertama di sekolah, itu tidak membuat aku takut,” jawabnya.
“Itu semua karena ada kamu, Arkan. Yang selalu ada untukku, terima kasih,” gumam Thalia.
“Kamu sudah punya pacar?” tanya Arkan yang membuat Thalia menoleh menata Arkan.
“Maaf aku tanya itu, maksudku, apa sebelum kamu ke sini, kamu di sana memiliki pacar?” ucap Arkan lagi.
“Ehm... aku di sana jarang sekali memiliki teman, apalagi saat aku pertama masuk SMA di sana, semua teman aku boleh di bilang yang perempuan seperti Angel dan gengnya itu. Dan, yang laki-laki, mereka menakutkan semua, itu kenapa aku jarang keluar di sana,” jawab Thalia.
“Lalu, kamu sudah memiliki pacar?” tanya Arkan lagi.
“Pacar? Ehm... belum,” jawabnya dengan mengurai senyum manisnya.
“Lucu ya? Aku lama hidup di luar negeri, tapi aku tidak pernah tau apa yang di namakan pacaran. Aku selalu di rumah, jarang keluar. Bahkan aku kalah dengan Tita, kamu saja bisa kenal dengan Tita di sosial media, aku boro-boro main sosial media,” jelas Thalia.
“Iya juga sih, biasanya cewek yang hidup lama di sana, pergaulannya juga ikut ke sana, tapi aku lihat kamu tidak seperti itu. Tita juga, meskipun dia lebih aktif anaknya,” ucap Arkan.
“Ya memang seperti itu. Padahal papah tidak pernah mengekang aku dan Tita untuk bergaul di sana. Tapi, akunya saja yang tidak mau bergaul. Dan, di sini saja aku punya teman hanya kamu, Rangga dan Anya,” ucap Thalia.’
“Teman dekat ada?” tanya Arkan.
“Ada, kamu,” jawab Thalia.
“Dekat di hati tidak?” tanya Arkan.
“Ehm... maksud kamu?” ucap Thalia dengan gugup.
“Dekat di hati tidak?” tanya Arkan lagi.
“Eng....Enggak tahu,” jawabnya gugup.
“Jangan gugup gitu,” ucap Arkan.
“Ih... pulang yuk?” ajak Thalia.
“Kok pulang, jawab dulu, Lia.” Arkan memegangi tangan Thalia yang akan beranjank dari duduknya. Dia menggenggam telapak tangan Thalia.
“Arkan, boleh aku bicara?” ucap Thalia.
“Boleh, silakan,” jawab Arkan.
“Kamu ingat kita pertama bertemu di mana?” tanya Thalia.
“Ingat, dan ingat sekali,” jawab Arkan.
“Di mana?” tanya Thalia.
“Di Restoran, saat Om Leon mau mengajak makan malam,” jawab Arkan.
“Kamu tahu, saat itu aku sudah jatuh cinta dengan seorang pria tampan yang memakai jaket hitam yang sedang duduk di sepeda motor itu,” ucap Thalia dengan menunjukkan sepoeda motor Arkan.
“Maksud kamu?” tanya Arkan.
Arkan hanya tersenyum memandang wajah Thalia yang terlihat kesal dengan Arkan, saat membayangkan pertemua pertamanya.
“Lalu sekarang? Masih benci atau jatuh cinta lagi?” tanya Arkan yang membuat pipi Thalia merona.
“Apaan sih, kalau sekarang beda lagi, Arkan,” jawab Thalia dengan menahan rasa malu dan rasa yang tidak tahu artinya apa.
“Kok gitua? Kalau sekarang?”
“Aku gak tahu, Arkan.”
“Thalia, aku suka kamu. Aku sudah tidak bisa lagi menahan rasa yang terus bergelenyar di dalam hatiku. Mungkin, aku terlalu berharap sekali, kalau kamu mau menjadi bagian dari hatiku yang masih kosong ini,” ucap Arkan.
“Yakin masih kosong?” tanya Thalia.
“Yakin, dan aku ingin mengisinya dengan satu nama. Ya, hanya satu nama, yaitu Thalia,” jawab Arkan.
“Lalu mantan kamu bagaimana?” tanya Thalia.
“Aku sudah tidak tahu dia. Aku maunya kamu, dan kamu yang akan aku perjuangkan, untuk menemaniku hingga uung waktuku,” jawab Arkan.
“Yakin?” tanya Thalia lagi.
“Yakin lah, aku tidak butuh “tiga Ta” dalam hidupku. Harta, Tahta, Wanita. Yang aku butuh hanya “satu Ta” dalam hidupku. Yaitu, Thalia. Karena dengan Thalia, aku bisa mengejar apa itu Harta dan Tahta. Kalau untuk wanita, hanya kamu, Thalia, wanitaku,” jawab Arkan.
Demi apa Thalia merasa di lambungkan tinggi ke atas awan dengan jawaban Arkan. Dia memang menyukai Arkan, bahkan dia mencintainya. Cinta di hati Thalia semakin tumbuh subur karena Arkan selalu memberi perhatian lebih pada dirinya. Dan, kini cintanya terbalaskan, karena Arkan juga mencintainya.
“Kenapa diam? Kok mau nangis?” tanya Arkan dengan melihat wajah Thalia yang sudah memerah.
“Aku...ehmm...aku sudah tidak membencimu, Arkan. Aku mulai jatuh cinta lagi, semenjak kamu selalu berada di sampingku. Dan, aku harap, kamu bisa memegang kata-katamu itu, hanya aku wanitamu,” jawab Thalia.
“Itu pasti Thalia. Aku tidak main-main dengan ucapanku,” ucap Arkan.
“Meski nantinya aku kuliah di Berlin, dan kita berpisah?” tanya Thalia.
“Iya, aku akan selalu menunggu kamu. Selalu menjaga hati ini untuk kamu. Aku yakin, kamu adalah jodohku. Entah nanti Tuhan bekehendak seperti apa, yang terpenting aku yakin. Kalau kamu mau kuliah di Berlin, aku akan menunggu kamu pulang ke sini lagi. Aku yakin, kita akan berjumpa lagi di lain hari, aku juga butuh mengembangkan usahaku, untuk kita nanti. Untuk masa depan kita. Raihlah mimpimu dulu, Thalia. Dan, setelah kita sama-sama meraih mimpi kita, kita akan bersatu untuk selamanya, percayalah padaku,” jawab Arkan.
“Meski banyak aral yang melintang di depan kita?” tanya Thalia.
“Jika cinta kita kuat, kita akan bisa menerjang semua aral yang melintang di depan kita, kita bisa melaluinya. Percaya padaku, Lia,” jawab Arkan.
“Kita harus ada rasa saling percaya, dan harus saling mendukung satu sama lain, juga saling mengerti,” imbuh Arkan
“Iya Arkan, memang itu harus selalu ada dalam suatu hubungan. Entah itu yang masih pacaran atau yang sudah menikah,” ucap Thalia.
“Iya benar, apalagi kalau sudah menikah, harus di kembangkan lagi rasa saling percayanya dan saling mengertinya,” ucap Arkan.
“Jadi hari ini, kita jadian?” tanya Arkan.
“Ehm... menurutmu?” tanya Thalia
“Iya kita jadian,” jawab Arkan
“Iya, aku mau,” ucap Thalia.
__ADS_1
“Yakin?”
“Iya aku yakin, jangan galak-galak lagi, ya?” ucap Thalia dengan manja.
“Makanya kamu jangan jutek dan nyebelin, kalau gak mau aku galak sama kamu,” ucap Arkan.
“Iya, enggak. Aku jutek juga karena kamu yang mulai,” jawab Thalia.
“Ya enggak, kamu yang mulai duluan, bukan aku,” ucap Arkan.
“Gak lah, kamu. Kamu yang sering marahin aku dulu, kamu yang selalu buat aku kesel!” ucap Thalia dengan kesal.
“Sama kamu juga gitu! Tuh kan juteknya keluar, dasar nenek gayung!” ucap Arkan tak kalah kesalnya.
“Tuh, kamu mulai ngatain aku nenek gayung!”
“Habis kamunya, sih!”
“Aku mau pulang!” ucap Thalia dengan marah.
“Ya sudah ayo!” jawab Arkan dengan nada tinggi.
“Katanya sayang, katanya cinta, ngomongnya ngegas!” tukas Thalia.
“Habis kamunya gitu.” Arkan sudah mulai melunak hatinya.
“Sini duduk dulu, jangan marah.” Arkan menarik Thalia untuk duduk di sampingnya lagi. Dia mengusap kepala Thalia dan menyelipkan rambut Thalia yang berantakan ke belakang telinga Thalia.
“Jangan galak-galak kenapa, sih?” ucap Thalia.
“Iya maaf, sudah dong jangan manyun gitu. Aku kan sudah minta maaf, Sayang,” ucap Arkan dengan lembut.
“Tadi bilang apa?” tanya Thalia.
“Apa, ya? aku lupa,” jawab Arkan.
“Ih...nyebelin!” tukas Thalia.
“Jangan ngambek Thalia, Sayang.” Ucap Arkan dengan me ngusap pipi Thalia.
Demi apa pipi Thalia langsung merah merona bak tomat yang terlampau matang. Thalia baru pertama kalianya di perlakukan Arkan semanis ini, biasanya dia selalu beda pendapat dan sedikit adu mulut, sekarang Arkan memperlakukan Thalia semanis ini.
“Jangan manis-manis gini, Arkan. Aku nanti diabetes,” ucap Thalia dengan tersenyum malu pada Arkan yang dari tadi matanya puas membingkai wajah ayu Thalia.
“Biar, sekali-kali aku bersikap manis pada pacarku. Kasihan kalau digalaki terus,” jawab Arkan.
“Nyebelin!” ucap Thalia dengan memukul dada Arkan.
“Sekarang, kamu sudah jadi milikku, maksudku, pacar sih, bukan milik seutuhnya. Nanti kalau aku sudah sukses seperti Kak Raffi, aku akan segera melamarmu. Jalan kita masih panjang, aku mau kita meraih mimpi kita dulu,” ucap Arkan.
“Oke, aku minta, pegang ucapan kamu, dan selalu berada di sampingku,” ucap Thalia.
“Iya, Sayang. Kecuali saat kamu di rumah, aku tidak bisa berada di sampingmu, masa aku harus di samping kamu terus, tidur pun harus gitu di sisimu?” ucap Arkan.
“Bukan gitu, Arkan. Maksud aku, kalau kita di sekolahan,” ucap Thalia.
“Kan yang duduk di samping kamu pas waktu pelajaran Anya,” ucap Arkan dengan meledek Thalia.
“Ah... kamu...! nyebelin!” tukas Thalia.
“Jangan marah lagi. Iya-iya, aku tahu maksud kamu. Sini peluk,” ucap Arkan.
“Ogah, nanti hamil,” jawab Thalia.
“Kalau cium?” tanya Arkan.
“Apa lagi itu, gak mau!” jawabnya.
Thalia merasa hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk dirinya. Cintanya terbalaskan, dia memang mencintain Arkan sejak pertama melihat Arkan sibuk dengan poselnya saat dia diajak makan malam bersama orang tuanya. Dan, ternyata Arkan adalah anak dari sahabat orang tuanya. Lucunya lagi, papahnya Thalia dulu sempat melamar bundanya Arkan, dan karena bundanya Arkan tidak mau, akhirya papahnya Thalia melepaskan bundanya Arkan, dan menikah dengan mamahnya Thalia, yaitu sahabat dekat dari bundanya Arkan.
“Kamu tahu masa lalu orang tua kita?” tanya Thalia.
“Soal Om Leon dengan Bunda?” tanya Arkan.
“Iya, mereka lucu, ya? Tapi, aku salut sama mereka, sampai sekarang asih kompak, meski ada masa lalu di antara mereka,” jawan Thalia.
“Itulah persahabatan, Lia. Karena memang cinta itu tidak bisa di paksakan,” ujar Arkan.
“Iya memang.”
“Arkan aku mau tanya, kamu sudah pernah ciuman?” tanya Thalia.
“Ehmm...”
“Jujur saja,” tukas Thalia.
Arkan bingung harus menjawab bagaimana. Dia memang pernah berciuman dengan Lily. Itu semua karena Lily yang memaksa, dan Lily begitu agresif sekali. Dia juga sering menyuruh Arkan melakukan hal lebih pada dirinya, seperti menyuruh Arkan memegang dadanya dan bermain di dadanya dengan bibirnya. Namun, Arkan selalu menolak, dan dia pernah mencium bibir Lily saja karena Lily yang memulai dan memaksanya.
“Pernah dengan Lily, kan?” tanya Thalia lagi.
“Ehmm... iya. Please jangan marah,” jawab Arkan dengan menggenggam tangan Thalia.
“Marah? Aku enggak marah, Arkan. Aku hanya tanya saja. Jangan gini wajahnya. Wajar kalau kalian ciuman,” ucap Thalia.
“Demi Allah, Lily yang memaksaku, Thalia,” ucap Arkan dengan sungguh-sungguh.
“Dipaksa juga menikmati, kan?” ledek Thalia.
“Tidak usah tanya itu, aku tahu hatimu juga sakit. Untuk apa membuka sesuatu yang akhirnya melukaimu, Thalia. Aku hanya ingin membuatmu bahagia, bukan membuatmu terluka atau menangis,” ucap Arkan dengan mencium punggung tangan Thalia.
“Iya juga, ya?” jawab Thalia dengan menyandarkan kepalanya di bahu Arkan.
“Nah, sadar sendiri, kan? Sudah itu masa laluku. Aku juga tidak mau membukanya lagi. untuk apa membukanya kalau aku sudah memiliki kamu yang jauh lebih sempurna dari siapa pun,” ucap Arkan.
“Hem...benar juga,” ucap Thalia.
“Pulang yuk, sudah mau sore,” ajak Arkan.
“Oke, tapi setelah kita foto-foto di sana, kita pulang,” jawab Thalia.
“Ya sudah, yuk kita foto-foto dulu,” ajak Arkan.
__ADS_1
Merka berfoto di tengah-tengah hamparan hijau kebun teh yang menyejukkan mata. Mereka meminta di fotokan oleh petani teh yang sedang memtih daun teh. Thalia memposting foto-foto mereka di story WhatsApp nya. Begitu juga Arkan, dia juga mempostingnya. Mereka memang sering memposting foto-foto mereka di story nya. Entah itu saat di rumah Raffi, di bengkel atau di sekolah. Tapi, kali ini berbeda. Ya, caption mereka yang membuat berdeda dari hari-hari sebelumnya.