THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 68 "Wanita Hebat" The Best Brother


__ADS_3

Arsyad memeluk Rania dan Dio. Dia mencium kening Dio dan Rania secara bergantian. Arsyad sangat lega karena mereka sudah mau saling membuka hatinya lagi.


"Abah bahagia, kalian mau bersatu lagi. Abah mohon, apapun yang akan kalian hadapi kelak, jangan mementingkan ego kalian masing-masing. Selesaikan bersama dengan kepala dingin. Perceraian kalian menjadi beban buat Abah, Abah sudah ingkar dengan mendiang ayah kamu, Rania. Jadi Abah mohon dengan sangat pada kalian. Jangan pernah berpisah lagi. Abah tahu cinta kalian kuat. Hanya karena kesalahpahaman kalian mengorbankan hati kalian sendiri," tutur Arsyad.


"Dio janji Abah, apa pun yang akan Dio hadapi nanti setelah menikah dengan Rania. Dio akan selesaikan dengan cara baik-baik. Maafkan Dio, Abah. Dio sudah terlalu dalam menorehkan luka pada Abah, dan orang-orang yang Dio sayangi." Dio memeluk Arsyad.


"Tolong lupakan Najwa juga, biar dia di luar sana menemukan kebahagiannya sendiri. Jangan kamu goreskan luka lagi di hati Najwa dan Rania." Tutur Arsyad degan menepuk punggung Dio.


"Itu pasti Abah, Dio janji. Dio sudah salah mencintai Kakak sepupu Dio sendiri. Dio sudah menemukan cinta sejati Dio. Cinta Dio yang dulu kembali lagi, Abah," ucap Dio.


"Ya sudah, lanjutkan surat cinta kalian yang tertunda," ledek Arsyad dengan Rania. Dio dan Rania tertawa bersama mengingat surat cintanya.


"Eh, mana suratnya? Kemarin belum di balas lho Ran," tanya Dio.


"Malah belum aku baca," jawab Rania.


"Ih, tega kamu, buruan di baca, nanti di balas aku tunggu di taman belakang sekolah," ucap Dio. Rania dan Dio tertawa lagi. Begitupula Arsyad, dia juga ikut tertawa bahagia.


Dio dan Arsyad masuk ke dalam kamarnya lagi. Sedangkan Rania, dia tetap menjalankan sholat malam nya seperti biasanya. Dia memang tidak pernah ketinggalan untuk melaksanakan sholat malam. Ada rasa bahagia yang menyelimuti hati Rania. Namun, di satu sisi, ada rasa khawatir juga saat nanti Najwa kembali.


"Aku percaya Dio. Aku tahu, Dio lelaki seperti apa, jika dia sudah mencintai wanita dia akan terus setia. Ya, seperti kemarin dia mencintai Najwa. Meskipun ada aku yang sudah menjadi istri sahnya, dia tidak mau menyentuhku sama sekali, dia sangat menghargai cintanya untuk Najwa," gumam Rania seusai mengambil air wudhu.


Rania ke dalam kamar mengambil mukenah nya dan memakainya. Dia melaksanakan sholatnya dengan khusyuk. Hingga menjelang subuh Rania masih merapal doa di atas sajadahnya.


Annisa dari tadi memerhatikan Rania yang sedang khusyuk berdoa. Annisa belum tahu kejadian tadi saat di teras belakang Rania sudah menerima kembali Dio untuk menjadi suaminya.


^^^^^


Keesokan harinya semua masih berkumpul di ruang makan setelah selesai sarapan. Dio sudah tampak sehat, dan sudah menggunakan setelan baju untuk ke kantor. Dio pagi ini berniat untuk bicara soal semalam pada semuanya. Karena semuanya berkumpul di rumah Dio hari ini.


"Ehm … maaf mengganggu waktu kalian semua, ada yang ingin Dio sampaikan di pagi hari ini. Mungkin hanya Abah yang sudah tahu selain aku dan Rania." Dio menjeda bicaranya sebentar. Dia menarik napasnya dengan pelan.


"Mau melanjutkan yang semalam bersama Rania?" tanya Arsyad dengan begitu serius dan raut wajah yang seolah sedang marah.


"Ehm … i--iya, Abah," ucap Dio dengan gugup.


"Ya sudah lanjutkan saja," ujar Arsyad.


"Ini ada apa lagi sih, Syad?" tanya Rico dengan penasaran.


"Entahlah Arsyad tidak tahu, biar Dio yang menjelaskan saja," jawab Arsyad.


"Dio dan Rania, semalam sudah ...."


"Sudah apa?" tukas Rico.


"Opa, sabar dong, Dio kan mau menjelaskan ini," ujar Dio.


"Rania dan Dio, semalam sudah memutuskan, untuk kembali lagi, dan Dio kami akan menikahi Rania lagi," ucap Dio dengan gugup.


"Bunda tidak salah dengar?" tanya Annisa sambil memegang tangan Dio yang masih duduk di sampingnya.


"Iya bunda, bunda tidak salah dengar. Dio akan menikah dengan Rania lagi," jawab Dio.


"Yakin begitu, Rania?" Annisa masih tidak percaya dan bertanya pada Rania

__ADS_1


"I--iya, bunda," jawab Rania dengan gugup.


"Alhamdulillah." Annisa bangun dari tempat duduknya dan memeluk Rania. Annisa sangat bahagia mendengar berita baik di pagi ini.


"Wah, kalian. Gercep ya? Baru semalam aku memberitahu mau melamar Kak Alina, kamu pagi ini sudah bilang mau menikah dengan Rania lagi," ucap Raffi.


"Iya dong, makanya buruan lamar Kak Alin," ujar Dio.


"Iya nanti, nunggu Kak Najwa pulang," jawab Raffi.


Semua terdiam mendengar nama Najwa Raffi sebut. Raffi tahu, semuanya tidak mengetahui di mana kakaknya berada. Tapi, Raffi sangat berharap kalau Najwa pulang dengan keadaan sehat dan utuh. Bahkan, yang Raffi harapkan semoga kakaknya bisa menemukan seseorang yang bisa menggantikan posisi Dio di dalam hatinya.


"Kenapa kalian diam semua saat aku menyebut Kak Najwa? Bagaimanapun dia adalah kakakku, kakak kandungku, saudara kandungku satu-satunya. Dan, Kak Alin juga ingin saat kita menikah nanti, Kak Najwa sudah kembali, dan memiliki seorang pria yang mendampinginya. Raffi tahu, kalian semua mungkin masih membenci Kak Najwa. Tapi, sedikit pun Raffi tidak pernah membenci Kak Najwa." Raffi berkata seperti itu, karena dia melihat semuanya diam saat dirinya menyebut Najwa.


"Opa diam bukan karena membenci Najwa. Opa juga menginginkan kakakmu pulang, Raff," ucap Rico dengan mata berkaca-kaca.


"Sama seperti opa, abah setiap hari merindukan kakakmu. Abah tidak pernah sedikitpun tidak memikirkan Najwa. Abah tidak tahu, dia bahagia atau tidak di luar sana. Setidaknya Abah sudah sedikit lega, kata Arkan, Najwa pergi bersama Nuri," jelas Arsyad.


"Nuri?" tanya Annisa.


"Iya, Nuri teman dia saat kuliah, bunda," jawab Arsyad.


"Sebentar-sebentar, Nuri kan desainer terkenal di Eropa. Katanya sih begitu," ucap Annisa.


"Tidak katanya lagi bunda, dia memang sudah menjadi perancang busana terhebat," imbuh Rania.


"Kamu kenal, Ran?" tanya Raffi.


"Sebatas tahu saja, sih. Itu Astrid yang sering mengikuti fashion di butik Nuri. Tapi memang top banget sih dia," kalas Rania.


"Aku tidak punya,"jawab Rania.


"Najwa pasti pulang, opa yakin itu. Dia akan pulang, sudah jangan mengkhawatirkan Najwa. Dia di sana pasti baik-baik saja. Percaya pada opa," ucap Rico dengan penuh keyakinan.


Memang Rico yang memiliki ikatan batin kuat dengan Najwa. Jika Najwa sakit, orang yang pertama tahu adalah Rico. Entah mengapa bisa seperti itu kedekatan Rico dengan Najwa. Mungkin sejak kecil Najwa sering bersama Rico dan Andini. Bagaimanapun cucu pertama, ibarat anak bungsu untuk kakek atau neneknya. Begitulah Rico, menganggap Najwa seperti anak bungsunya.


"Aku percaya sama papah, karena orang yang paling dekat dengan Najwa dan paling mengerti Najwa adalah papah," ujar Annisa.


"Ya, karena saat Almira sakit, opa yang paling dekat dengan Najwa. Apapun yang sedang Najwa alami, kesedihan yang ia rasakan, semuanya diceritakan pada opa. Semua tentang ummi dan abahnya, dia ceritakan pada opa," ucap Rico.


"Lalu kenapa papah membiarkan Najwa pergi?" tanya Annisa.


"Jika Najwa tetap di sini, papah yakin, dia semakin tertekan pada keadaan. Mungkin, kamu, Arsyad, Rania, dan lainnya akan mendiami dia, akan mengacuhkan dia. Jika dia pergi, papah yakin, Najwa bisa menentramkan pikirannya, bisa berpikir apa yang ia lakukan adalah kesalahan terbesar. Dan, papah yakin, sekarang Najwa sudah baik-baik saja. Meskipun Najwa terkadang terlihat lemah, dia adalah wanita seperti umminya. Mampu menyembunyikan rasa yang dalam, juga mampu menyembunyikan lukanya. Meskipun ada sifat lain Almira yang tak di miliki Najwa," jelas Rico.


"Wanita-wanita di sini, semuanya wanita hebat. Dari mulai Oma Dinda, Oma Andini, sampai anak, menantu, cucu, dan cucu menantu. Semuanya wanita yang hebat. Papah bangga memiliki kalian," imbuh Rico dengan berkaca-kaca.


Semua memeluk Rico. Hanya Rico sebagai panutan mereka semua. Rico merasa sempurna memiliki anak dan cucu yang menyayangi dirinya. Meski dirinya sering dilanda kesepian hatinya, namun saat berkumpul dengan anak dan cucunya, adalah momen yang paling bahagia dalam hidupnya.


Dio mengambil kotak cincin yang kemarin dia simpan lagi karena Rania menolaknya. Dan, sekarang dia ingin memberikannya pada Rania lagi.


"Bunda, Dio bisa minta tolong?" tanya Dio.


"Minta tolong apa?"


"Bisa sematkan cincin ini ke jari manis Rania? Sebagai bukti Dio ingin menikahinya kembali," ucap Dio sambi memperlihatkan cincin yang sudah ia ambil.

__ADS_1


"Bisa," jawab Annisa.


"Rania, terimalah ini sebagai bukti aku akan menikahimu. Walaupun tanpa paman kamu di sini untuk menyaksikan," ucap Dio.


"Iya, Dio. Aku terima," jawab Rania.


Annisa menyematkan cincin dari Dio untuk Rania di jari manis Rania. Annisa mencium dan memeluk Rania. Lega sekali rasanya, menantu yang Annisa sayangi kini akan kembali lagi. Tinggal Najwa, keponakan yang selalu ia rindukan dan ia nantikan kepulangannya.


"Kini Rania kembali lagi, menantuku yang sangat aku sayangi, kini kembali mau menikah dengan Dio, putraku. Dan, aku masih tetap menanti keponakanku yang aku sayangi. Najwa, keponakan sekaligus anakku. Semoga kamu baik-baik saja, Najwa. Bunda menunggumu pulang. Bunda merindukanmu," gumam Annisa sambil memeluk Rania. Rasa sedih dan bahagia menyelimuti hati Annisa saat ini.


^^^^^


Ainun duduk di samping Habibi yang sedang membaca pesannya. Dia sekarang berada di butik Nuri. Tepatnya di halaman belakang butik Nuri. Butik Nuri memang sangat besar, di belakang sengaja Nuri beri kamar dan taman. Kamar itu di gunakan Nuri untuk ruangan pribadinya. Raut wajah Habibi seperti sedang kesal dengan seseorang. Mungkin karena pekerjaan atau karena seseorang yang lain.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Ainun.


"Huh ... nyebelin, temanku," jawab Habibi.


"Memang temannya kenapa?" tanya Ainun lagi.


"Katanya belum bisa ke sini. Dia masih sangat sibuk. Memang dia itu nyebelin dari dulu. Sok sibuk orangnya," ucap Habibi yang semakin kesal.


"Mungkin memang dia sedang sibuk, sayang." Ainun mencoba memberi pengertian pada Habibi.


"Ya, mungkin saja," ucap Habibi dengan meletakan ponselnya di meja.


"Sudah jangan kesal. Aku kira kesal karena apa?" ucap Ainun.


"Memang kamu nebaknya aku kesal dengan siapa, sayang? Perempuan lain?"


"Tidak, aku kira kamu kesal dengan pekerjaanmu." Ainun menjawab dan langsung menyandarkan kepalanya di dada Habibi.


Meskipun dia menceritakan semua masa lalunya dengan Dio kepada Habibi. Ainun sedikit pun tidak ingin tahu atau mengusik masa lalu Habibi dengan wanita lain sebelum dirinya. Bagi Ainun, biarlah masa lalu itu menjadi milik Habibi. Yang paling penting, Habibi sekarang dengan dirinya dalam keadaan baik dan tidak memiliki wanita selain dirinya.


Ainun juga sudah berjanji pada dirinya. Jika dia akan menikah dengan pria selain Dio, sebisa mungkin dia harus cerita semua masa lalunya dengan pria yang akan menikahinya. Tanpa sedikit pun menutup-nutupinya.


"Kamu tidak ke rumah sakit?" tanya Ainun.


"Nanti sore, kamu mau ikut?" jawab Habibi sembari bertanya dan mengusap kepala Ainun yang masih bersandar di dadanya.


"Aku mau menemani Nuri menemui tamu di restoran, tidak apa-apa, kan?" jawab Ainun.


"Iya, temani Nuri saja. Kasihan dia, semenjak kamu selalu ikut aku ke rumah sakit, dia tidak ada yang membantunya," ujar Habibi.


"Oke, nanti aku akan pulang langsung dengan Nuri. Kamu tidak usah menjemput," ucap Ainun.


"Iya, tapi aku tetap ke rumah Nuri nanti malam."


"Untuk apa? Nanti kamu lelah, Habibi."


"Tidak, aku hanya ingin melihat kamu sudah pulang dengan keadaan baik-baik sama dengan Nuri."


"Ih jangan berlebihan gitu?"


"Biarin, biar aku tahu keadaan kamu tanpa aku jemput tadi."

__ADS_1


Habibi memang selalu seperti itu. Saat dia ada pekerjaan yang tidak bisa menjemput Ainun di butik, malam harinya dia datang ke rumah Nuri untuk memastikan keadaan Najwa dan Nuri.


__ADS_2