THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 38 "Luka Lama" The Best Brother


__ADS_3

Mereka sudah membeli baju untuk ganti. Dio mencari hotel untuk bermalam dengan Rania. Baru kali ini Dio mengajak dirinya untuk menginap di hotel. Hotel dengan fasilitas Bintang Lima yang Dio pilih. Rania sebenarnya ingin memesan kamar sendiri, tapi Dio mengajaknya satu kamar bersamanya.


"Kita satu kamar?" tanya Rania.


"Iya," jawab Dio


"Dio, pesan satu kamar lagi, masa kita satu kamar," ucap Rania.


"Sudah ayo," ajak Dio menuju kamarnya.


Mereka masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang begitu luas dan mewah sekali. Rania meletakan tasnya, dia melepas jilbabnya karena ingin segera mandi mumpung masih ada waktu untuk sholat Maghrib.


"Aku mandi dulu, Dio," pamit Rania.


Setelah selesai mandi, Rania mengambil mukenah nya dari dalam tas dan akan melaksanakan sholat maghrib.


"Ran, tunggu aku. Kita sholat bersama," ucap Dio.


Rania hanya menganggukkan kepalanya saja. Rania sedikit terkejut Dio mengajak sholat berjamaah. Dan, baru kali ini Rania akan sholat bersama Dio, selama menikah 8 bulan. Mereka baru akan sholat berjamaah bersama.


Dio baru kali ini mengimami istrinya. Mereka melakukan sholat Maghrib bersama. Rania mencium tangan Dio setelah selesai sholat, dan Dio mencium kening Rania. Rania begitu bahagia malam ini. Berharap Dio akan memberikan haknya sebagai istri malam ini. Dengan memberikan nafkah batin untuk Rania.


^^^^


Rania dan Dio duduk di atas tempat tidur. Malam semakin larut, mereka belum juga tidur. Padahal Rania pasti sudah tidur kalau sudah jam 10 ke atas. Rania duduk di samping Dio dengan bersandar sandaran tempat tidurnya.


"Ran, maafkan aku. Selama ini aku belum bisa menjadi suami yang terbaik untuk kamu. Aku selalu membuat kamu kecewa, selalu membuat kamu menangis. Aku juga belum bisa memberikan nafkah batin untuk kamu selama ini, Ran. Aku belum bisa, karena aku tidak mencintai kamu. Aku ingin melakukan dengan kamu atas dasar cinta. Bukan seperti saat ini," ungkap Dio.


"Dio, aku tahu, sudah jangan bahas ini. Aku juga tidak ingin melakukannya jika tanpa cinta darimu, Dio. Iya sih, katanya nanti cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Tapi, itu tidak mungkin untuk kamu, Dio. Kamu mencintai Najwa, dan hanya dia yang kamu cintai. Kamu sadar kan, siapa aku? Aku adalah orang yang dulu kamu cintai, Dio. Namun, itu dulu, bukan sekarang. Sekarang, bukan aku yang kamu cintai, melainkan Najwa, saudara sepupumu dan sahabatku," ucap Rania.


"Ran, apa kamu masih mencintaiku? Seperti yang kamu tulis dalam surat mu dulu?" tanya Dio yang membuat dada Rania sedikit sesak.


"Iya, aku sangat mencintaimu, Dio. Hingga sekarang cinta ini masih tersimpan indah di hatiku," ucapan itu hanya terlintas di benak Rania saja. Rania ingin sekali mengatakan seperti itu. Namun, kata-katanya tercekat di tenggorokannya.


"Ran, kok diam?" tanya Dio yang melihat Rania terdiam sambil menundukkan kepalanya.


Demi apa Rania ingin sekali menangis. Dia sebisa mungkin menahan air matanya agar tidak keluar. Sesak sekali dada Rania. Hanya karena rasa cinta untuk Dio yang begitu luar biasa di hatinya, Rania bisa bertahan hingga sekarang, menjalani pernikahan yang tidak bisa disebut dengan pernikahan. Rania menyeka air matanya yang jatuh menerobos sudut matanya. Dio melihat Rania yang meneteskan air matanya saat itu.


"Jangan di jawab, maaf membuatmu menangis lagi. Aku tahu perasaanmu, Ran. Tapi, maaf aku tidak bisa mencintaimu lagi." Dio menyeka air mata Rania.


"Memang aku manusia tak punya hati, Ran. Aku selalu menyakitimu, aku selalu melukaimu, membuat kamu menangis," ucap Dio.


"Sampai kapan Dio, pernikahan kita akan seperti ini. Apa kamu tidak ada pilihan? Untuk meninggalkan Najwa atau aku?" tanya Rania.

__ADS_1


"Ran, jika aku melepaskan mu, bagaimana Abah dan ayah? Aku juga tidak bisa melepaskan Najwa, karena…."


"Karena kamu sudah melakukannya dengan Najwa? Iya kan, Dio?" tukas Rania.


"Bukan itu, aku mencintai Najwa, Ran,"


"Kenapa kalau mencintainya kamu menikahi aku, bukan Najwa. Najwa sahabatku, Dio. Jangan rusak dia karena hubungan kalian ini,"


"Dio, hampir satu tahun kita menikah, jika kamu tidak bisa melepas Najwa. Lepaskanlah aku, Dio. Aku rela," ucap Rania yang semakin lirih karena menahan tangisnya.


"Ran, aku tidak bisa melepas kamu begitu saja," ucap Dio.


"Lalu apa kita akan terus berpura-pura seperti ini, Dio? Sampai kapan, Dio? Aku wanita biasa Dio, yang memimpikan pernikahan yang sempurna. Saling mencintai dan melengkapi. Sampai kapan kamu akan menyiksaku, Dio." Rania semakin terisak. Dio memeluk Rania dengan erat.


"Ran, aku tidak mencintaimu lagi. Dulu aku mamang mencintaimu, aku sangat mencintaimu. Tapi, setelah kejadian itu, ah … aku tidak mau mengingat lagi," ucapan Dio terhenti.


"Kejadian apa, Dio?" tanya Rania.


"Sudah jangan bahas ini, jangan menangis. Tidurlah," ucap Dio.


"Lepaskan pelukanmu, aku akan tidur di sofa, Dio,"


"Tidurlah di sini, bersamaku," pinta Dio.


"Kita sudah suami istri. Wajar jika kita melakukannya Rania," ujar Dio.


"Iya, aku tahu. Kalau kamu meminta, aku akan memberikan padamu malam ini, Dio. Tapi, kamu melakukannya tanpa cinta, jadi percuma saja, toh setelah itu aku akan di tinggalkan kamu suatu saat nanti. Jika aku mencintaimu lagi, karena malam ini kita melakukannya, apa kamu akan bertanggung jawab atas cintaku yang tumbuh lagi untukmu, karena malam ini kita melakukannya? Aku ingin mencintaimu tanpa syarat Dio. Karena cinta yang sesungguhnya tak akan mungkin bersyarat," ucap Rania.


Dio hanya terdiam melihat Ranja turun dari tempat tidurnya. Rania membawa bantal menujunke sofa. Dia tidur di sofa. Karena lelah dan mengantuk sekali Rania langsing tertidur pulas.


Dio memandangi istrinya yang sudah tertidur pulas. Dia tidak menyangka Rania akan berkata seperti tadi. Dio berpikir dengan apa yang Rania katakan tadi.


"Ran, aku ingin mencintaimu lagi, tapi jika aku ingat saat Yohan ... ahh ... aku teringat lagi, sudah cukup. Aku memang selamanya tidak bisa mencintaimu, Rania," ucap lirih sambil mencium kening Rania.


^^^


Keesokan harinya, Rania dan Dio bersiap-siap untuk pulang. Rania tidak menyangka semalam akan berkata seperti itu pada Dio. Rania hanya terdiam di dalam mobil. Suasana hening menyelimuti mereka berdua hingga sampai rumah.


Mereka sudah sampai di rumah. Rania bergegas turun dari mobil, dia berjalan masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya. Saat di depan pintu kamarnya, Dio memegangi tangan Rania, yang membuat Rania berhenti melangkahkan kakinya.


"Ada apa, Dio?" tanya Rania.


Dio membuka pintu kamar Rania dan mengajak Rania masuk ke dalam kamar Rania. Dio menutup pintu kamar Rania. Rania semakin bingung dengan sikap Dio saat ini. Dio menatap wajah Rania dengan lekat, menatap setiap inci wajahn istrinya yang cantik itu.

__ADS_1


"Ran, kenapa aku tidak bisa mencintaimu, lagi? Ran, maafkaan aku," ucap Dio sambil meraih tubuh Rania dan memeluknya.


"Dio, cinta tidak bisa di paksakan, aku harus apa jika seperti ini? Tapi, kamu juga harus belajar menerima kenyataan ini Dio, bahwa kamu sudah memiliki seorang istri, yang seharusnya kamu perlakukan layaknya seorang istri," ucap Rania.


"Ran, aku tidak bisa, aku tidak tahu harus bagaimana?" ucap Dio.


"Kamu harus mencoba mencintainya. Jika tidak bisa, maaf Dio, aku juga berhak bahagia dengan Pria yang mencintaiku," ucap Rania.


Dio semakin mengeratkan pelukannya saat Rania berkata seperti itu. Seakan Dio tidak mau Rania pergi meninggalkannya. Saat Rania dekat dengan Evan saja, Dio seakan tidak rela, apalagi Rania pergi dari hidupnya.


"Malam ini dan seterusnya, tidurlah di kamarku. Aku akan berusaha menjadi suamimu dan berusaha menumbuhkan cinta ini untuk lagi, Rania," ucap Dio.


"Jika itu yang kamu mau, aku akan menurutinya. Tapi, aku mohon lupakan Najwa, jika masih ada dia bersemayam di hatimu, itu semua akan sia-sia walau kita tidur satu ranjang, Dio," ucap Rania


"Aku akan berusaha melupakannya, Ran,"


"Hmm … aku pegang ucapanmu, lepaskan pelukanmu, aku tidak bisa bernapas Dio,"


"Maaf, Ran." Dio melepas pelukannya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Rania.


Dio memandangi kamar Rania yang tertata rapi dan bersih sekali. Memang Rania sengaja mambuat kamarnya senyaman mungkin, agar di bisa melupakan Dio saat berada di kamarnya. Beruntung orang tua mereka jarang menginap di rumahnya, baik, Anna dan Reno maupun Arsyad dan Annisa.


Rania masuk ke kamar mandi dan berganti pakaiannya. Meskipun Dio suaminya, dia tidak mau berganti pakaian di depannya.


Mulai malam ini mereka tidur satu kamar di kamar Dio, kadang juga di kamar Rania, kalau Rania hingga larut belum menyelesaikan pekerjaannya, Dio memilih tidur di kamar Rania sambil menemani Rania menyelesaikan pekerjaannya.


^^^^^


Hari ini, tepat satu tahun pernikahan Dio dan Rania. Rania masih belum juga di sentuh Dio. Dengan kesabaran Rania, dia sedikit demi sedikit ingin meluluhkan hati Dio. Namun, selalu saja gagal. Rania selalu bersabar menunggu Dio untuk mencintainya Kembali. Tapi, karena ada Najwa yang selalu ada untuk Dio, Rania merasa sulit menjangkau hati Dio. Bahkan sekarang ini mereka sudah tidur satu kamar dengan Dio. Namun, tetap saja Dio tidak mau menyentuhnya. Rania masih suci, belum di sentuh Dio hingga saat ini.


Pelukan hangat selalu Rania dapatkan dari Dio setiap malam. Namun, batinnya tersiksa selama 4 bulan tidur satu kamar dengan suaminya. Dio belum mau menyentuhnya, memulai saja tidak. Rania hanya bisa diam dan tersiksa batinnya menghadapai Dio. Kadang Rania ingin memulainya, bagaimana pun, Rania wanita, dia memiliki rasa sensitif jika bagian tubuhnya tersentuh oleh suaminya. Hanya dengan pelukan dari Dio saja aliran darah Rania mengalir begitu cepat.


Pagi ini Rania mencoba berbicara pada Dio. Tepat di pagi ini, usia pernikahan Rania dengan Dio genap satu tahun.


"Dio, kita sudah satu tahun menikah, apa kamu tidak berpikir untuk bisa memberikan nafkah batinku untuk aku?" tanya Rania yang kala itu sedang memakaikan dasi pada Dio.


"Ran, aku belum bisa," jawabnya singkat.


"Jangan siksa aku Dio, kalau kamu ingin menikahi Najwa, nikahilah dia, dan tinggalkan aku. Kembalikan aku pada orang tuaku," ucap Rania.


"Ran beri aku waktu lagi," pinta Dio.


"Sampai kapan? Sampai aku menutup mata kamu akan menyiksa batin aku, Dio?" ucap Rania sambil pergi meninggalkan Dio dari kamarnya.

__ADS_1


Dio terduduk di tepi ranjang memikirkan perkataan Rania tadi. Dia benar-benar tidak bisa mencintai Rania lagi, saat akan membuka hatinya untuk Rania, luka lama yang ia lihat dulu terbayang lagi, hingga kebencian pada Rania yang ia rasakan.


__ADS_2