
Dio melangkahkan kakinya untuk pergi. Entah dia mau ke mana. Dia menitipkan Rania pada bundanya.
"Bunda, bagaimana Rania?" tanya Dio.
"Dia masih menangis," jawab Annisa.
"Bunda, Dio titip Rania. Dio mau pergi sebentar." Dio mencium pipi Annisa sebelum pergi.
"Kamu mau ke mana, Dio?!" Annisa bertanya dengan sedikit teriak karena Dio cepat-cepat pergi.
"Kebiasaan dia seperti itu," ucap Annisa lirih.
Arsyad melihat Dio keluar dari rumah, dia tahu Dio keluar dengan marah. Dan Arsyad tahu pasti akan menemui Evan.
"Dio!" Panggil Arsyad dengan seru.
"Iya Abah," jawab Dio.
"Kamu mau ke mana?" tanya Arsyad.
"Ada urusan sebentar. Dio titip Rania, Bah." Dio segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Arsyad dan Rico hanya menggelengkan kepalanya saja. Mereka tahu Dio pasti akan menemui Evan. Arsyad masuk ke dalam menemui Annisa ke kamar tamu. Rania masih duduk bersandar di sandaran tempat tidur. Dan masih saja menangis mengingat kejadian memilukan itu.
Rania menarik rambutnya sendiri dan berteriak histeris. Annisa memeluk Rania yang masih sangat kacau. Rania memeluk Annisa sangat erat.
"Bunda … Rania sudah kotor. Evan jahat, Bunda!" Rania menangis di pelukan Annisa.
"Jangan berkata seperti itu, Nak. Kamu masih baik-baik saja. Tenangkan hatimu, Ran." Annisa menyingkirkan tangan Rania yang masih menjambak rambutnya sendiri.
"Jangan menyakiti diri kamu, Nak. Kamu jangan seperti ini. Dengar bunda, sayang. Kamu masih baik-baik saja. Dio menolong kamu sebelum Evan melakukan hal kotor itu, Rania." Annisa menangkup kedua pipi Rania, memandangi wajah Rania yang begitu sembab.
"Rania sudah di sentuh laki-laki yang bukan suami Rania, Bunda. Rania merasa kotor bunda. Evan jahat, bunda." Emosi Rania belum juga stabil. Dia masih menangis meratapi kejadian yang baru saja menimpanya.
"Rania, sudah jangan seperti ini, Abah dan opa akan mengurus soal Evan. Yang penting kamu baik-baik saja, Nak," ucap Arsyad.
"Abah, Abah bilang apa? Aku baik-baik saja. Hidup Rania sudah hancur Abah! Rania sudah di sentuh laki-laki bukan muhrim Rania. Itu hal yang menjijikan, Abah!" Rania berkata dengan meraung-raung dan menangis.
"Rania ingin sendiri, tolong tinggalkan Rania," pinta Rania dengan suara yang lirih.
Annisa enggan meninggalkan Rania di kamar. Tapi Rania memaksa semua harus keluar dari kamarnya. Rania duduk termenung sendirian. Dia melihat tangannya yang merah karena Dio tadi mengikatnya saat gejolak hasrat Rania memuncak. Rania merasa beruntung karena Dio tepat waktu menyelamatkan Rania.
Rania tidak tahu kalau seandainya Dio tidak menolongnya. Dia pasti sudah dinodai oleh Evan. Dan, mau tidak mau Rania harus menikah dengan Evan.
"Jahat sekali Evan. Dia biadab sekali. Bisa-bisanya dia menggunakan cara yang licik. Lalu klienku bagaimana? Aku harus menghubunginya." Rania meraih ponselnya dan menelepon kliennya itu.
Betapa kagetnya Rania, ternyata Kliennya mengundur pertemuannya 3 hari lagi. Dan, Evan sama sekali tidak memberitahukannya. Rania semakin marah sekali. Ternyata benar, Evan sangat licik sekali. Dia melakukan ini pasti karena akan mengambil alih perusahaan ayahnya.
"Begitu caramu, Evan? Oke, kita lihat. Kamu akan membusuk di penjara Evan," gumam Rania dengan meremas tangannya.
Rania melupakan apa yang Evan lakukan. Benar kata bunda dan abahnya. Kalau Rania masih baik-baik saja. Dan, kini saatnya dia harus membalas perbuatan Evan.
^^^^^
Dio melaporkan semua perbuatan Evan pada pihak yang berwajib. Karena perbuatan Evan sudah termasuk perbuatan asusila. Seperti hal nya pemerkosaan, dia memperlakukan Rania tadi. Dio masih ingat dengan jelas apa yang Evan perbuat tadi pada Rania.
Ponsel Dio berdering, ada panggilan masuk dari Rania. Entah ada apa Rania memanggil Dio saat Dio akan menuju ke kantor polisi.
"Dio," panggil Rania dengan nada serak dalam panggilannya.
"Iya Ran. Ada apa?" tanya Dio.
__ADS_1
"Jemput aku sekarang di rumah bunda, kamu di mana? Kata bunda kamu pergi," jawab Rania.
"Kamu di situ dulu dengan bunda, aku masih ada urusan," ucap Dio.
"Dio, jemput aku sekarang, ini soal Evan. Aku butuh bantuan kamu," pinta Rania.
"Sebenarnya aku ingin melaporkan kejadian tadi ke kantor polisi, Ran."
"Percuma melaporkan tanpa bukti," ucap Rania.
"Memang kamu punya bukti?" tanya Dio.
"Ada, makanya kamu ke sini, jemput aku," jawab Rania.
"Oke, aku akan putar balik." Dio memutar balik mobilnya menuju ke rumah bundanya.
Sebenarnya Dio tadi sudah sempat baku hantam dengan Evan. Ya, dia tadi menemui Evan dulu di rumahnya. Dan, beruntung Evan di rumah dengan papahnya. Dio sebenarnya tidak ingin memukul Evan. Tapi, Evan yang memukul Dio terlebih dahulu karena kata-kata Dio begitu kasar dan mengancam Evan, kalau dirinya akan menjebloskan Evan ke dalam penjara.
"Rania memiliki bukti apa sebenarnya? Benar juga, kalau aku tadi melaporkan tanpa bukti, malah aku di sangka mengada-ada. Dasar bodoh!" umpat Dio dalam hati.
Dio sampai di rumah abahnya. Dia langsung masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu sudah ada Rania, bunda, abah, dan opanya. Rania melihat wajah Dio yang lebam dan bagian sudut bibirnya hingga berdarah.
"Dio, kamu?" Rania bangun mendekati Dio.
"Aku tidak apa-apa, Rania. Kamu sudah baikan?" tanya Dio.
"Ya seperti ini," jawab Rania.
Emosi Rania sudah stabil lagi. Dia mendengarkan apa yang Annisa katakan tadi. Kalau dirinya masih baik-baik saja. Namun, dia tetap ingin memeriksakan dirinya, agar dia tahu keadaan dirinya yang sebenarnya. Apa Evan sudah melakukan hal yang lebih atau belum.
"Rania, kamu punya bukti apa?" tanya Dio.
"Ini," jawab Rania sambil menunjukkan botol air mineral yang ia taruh di tasnya setelah ia minum.
"Setelah aku meminum ini, aku merasakan hal yang seperti itu, Dio." Rania menunjukkan botolnya.
"Dan, aku dari kemarin sudah curiga dengan Evan. Jadi setiap aku dengan Evan, aku sengaja merekam semua percakapan aku dengan Evan. Di sini ada semua. Ini bukti yang kuat. Aku ingin melihat dia membusuk di penjara, Dio. Tolong bantu aku." Rania memberitahukan semua bukti-buktinya pada Dio.
Dio dan Rania akhirnya memutuskan untuk ke kantor polisi dengan di dampingi Arsyad, Rico, dan Annisa.
^^^^^
Raffi tidak gentar untuk mendekati Alina. Dia selalu mengantar dan menjemput Alina walaupun Alina menolaknya. Hari ini Raffi benar-benar tidak ingin ke kantornya. Dia terpaksa membawa pekerjaannya di rumah umminya. Rumah masa kecilnya yang hingga saat ini adalah ruamh ternyaman Raffi.
Raffi memang jarang pulang ke rumah abahnya, Dia lebih sering menempati rumah milik umminya itu. Terkadang, Raffi merasa merindukan sosok umminya. Ummi yang selalu bertutur kata lembut setiap berbicara. Ummi yang selalu mengajarkan dirinya untuk selalu menjadi laki-laki tangguh, pemberani, berhati sabar, dan selalu bersyukur.
Memang Raffi adalah sosok yang berbeda dengan abahnya, yang selalu bertindak atas dasar keegoisannya. Dia benar-benar menurti titah umminya.
"Jangan tergesa-gesa, sabar, Nak." Begitu yang selalu Almira katakan dulu pada Raffi saat Raffi mengerjakan sesuatu dengan tidak sabar.
Hingga saat ini, dia masih melandasi hatinya dengan rasa sabar. Ya, dia bersabar untuk mendapatkan cinta Alina yang sulit ia raih, karena Alina memiliki rasa trauma dengan seorang lelaki.
Ada yang bilang, Alina pernah menikah, tapi dia mengalami KDRT. Ada juga yang bilang, dia selalu gagal saat akan menikah, jadi jera untuk menikah dan memulai hubungan khusus dengan pria.
"Aku tidak peduli, usia kita terpaut sangat jauh. Aku akan buktikan, aku bisa membahagiakan kamu, dan menjadikan kamu satu-satunha wanita di hidupku," gumam Raffi.
Dia melihat Alina sedang mengajari anak-anak yang bermain dan belajar di taman baca lewat jendela yang menuju ke arah taman baca.
^^^^^
Rania duduk di teras rumah bersama Dio. Malam ini, dia menginap di rumah Annisa. Laporan tadi sudah di terima pihak kepolisan dengan baik. Dan, pihak kepolisian langsung menangkap Evan dan menginterogasinya.
__ADS_1
Evan berkata jujur semua pada polisi. Dan, malam ini Evan sudah mendekam di penjara.
"Dio, terima kasih, ya?" ucap Rania.
"Untuk?" tanya Dio.
"Tadi kamu sudah menolongku. Kalau tidak ada kamu, aku tidak tahu nasibku seperti apa, Dio." Rania menjawab dengan mengingat kejadian tadi dan menangis.
"Sudah jangan di ingat lagi. Yang penting kamu tidak apa-apa, Ran. Sudah kamu istiraha saja," ucap Dio.
"Iya, Dio," jawab Rania.
"Dio, besok kamu bisa mengantar aku?" pinta Rania.
"Ke mana?" tanya Dio.
"Rumah sakit,"
"Untuk?"
"Aku akan memeriksakan diriku, aku takut Evan sudah melakukan hal lebih dari sekedar menyentuh," jawab Rania.
"Maaf, Rania. Aku melihat Evan belum melakukan hal yang lebih dari itu, Ran. Hanya menyentuh saja, belum memasukannya," ucap Dio.
"Aku malu Dio. Kamu yang pernah menjadi suamiku saja belum pernah menyentuhnya, tapi Evan sudah …."
"Sudah, jangan di ingat lagi. Evan sudah menuai hasilnya. Dia sudah di penjara. Kamu jangan memikirkan itu. Aku yang seharusnya malu. Tidak pernah menganggap mu sebagai istriku waktu dulu. Saat aku masih kalap dengan Najwa."
"Tapi, semua adalah masa lalu. Aku harap, kamu akan mendapat laki-laki yang lebih baik dari aku, Ran. Maafkan aku," ucap Dio.
"Aku juga minta maaf, seharusnya dulu kita selesaikan masalah kita dengan kepala dingin. Jadi tidak seperti ini jadinya. Najwa entah ke mana, dan kita berpisah," ucap Rania.
"Kalau boleh aku jujur. Aku lebih menyesal tidak mempertahankan pernikahan kita, Ran. Di banding kepergian Najwa dan tidak menikahi Najwa." Entah kenapa Dio bisa berkata seperti itu pada Rania.
"Kenapa seperti itu? Bukankah, kamu mencintai Najwa? Dan sangat mencintainya?" tanya Rania.
"Aku ... aku bodoh, Ran. Aku egois. Aku membencimu karena Yohan, dan aku menutupi hatiku yang sebenarnya sangat mencintaimu." Entah dari mana kata itu, tiba-tiba saja Dio mengungkapkan apa yang ia rasakan pada Rania.
"Maaf aku berkata seperti ini. Jangan di pikirkan, sekarang kamu tidur. Lupakan semua kejadian tadi. Besok aku antar kamu ke rumah sakit. Aku pamit pulang," ucap Dio.
"Kamu tidak tidur di sini?" tanya Rania.
"Takut khilaf, ada kamu," ucap Dio dengan bercanda.
"Apaan, sih," ucap Rania dengan pipi yang memerah.
"Aku ingin tidur di rumah kita dulu, saat kita masih bersama, meski kita suami istri, kita hidup sendiri-sendiri. Dan, aku ingin kamu kembali lagi, Ran. Kita bersama lagi, dan merajut mimpi kita berdua," ucap Dio yang lagi-lagi membuat hati Rania bergelenyar.
"Jangan ngelindur, sudah sana pulang, nanti jatuh cinta," ucap Rania.
"Memang aku jatuh cinta lagi dengan kamu," jawab Dio.
"Jangan ngarang, sudah pulang, nanti aku pamitkan pada bunda," ucap Rania.
Dio akhirnya pulang, ada perasaan lega pada hatinya. Seakan bebannya hilang. Dia sudah mengungkapkan cintanya kembali pada Rania.
"Aku mencintaimu, Rania. Aku sungguh mencintaimu, kata-kata itu, kenyataan dan sesuai dengan hati ini, Ran." Dio masih merasakan jantungnya berdegup kencang, apalagi saat mengingat pipi Rania yang merona karena dia mengungkapkan cinta.
Rania menutup pintu dan menguncinya. Dia bersandar pada daun pintu terlebih dahulu, menenangkan hatinya yang masih bergemuruh bagai ombak di lautan. Dia merasa jatuh cinta lagi dengan Dio. Dia merasakan seperti dulu saat pertama Dio menuliskan kata cinta di suratnya. Dan ini nyata, Dio mengungkapkan cinta pada dirinya.
Masalah dengan Evan tadi sudah hilang di telan kata cinta dari Dio. Dia berjalan pelan ke arah ruang tamu dengan memegang dadanya yang masih saja bergemuruh.
__ADS_1
"Tenang Ran, jangan kegeeran dulu, sudah Dio mencintai Najwa. Bukan kamu. Ini karena Najwa tidak ada. Jadi kamu sedang menjadi sasaran, Rania," gumam Rania sambil merebahkan diri di tempat tidur.