THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 83 "Pria Berjambang" The Best Brother


__ADS_3

Arsyad menyambut anak-anaknya datang dari Budapest. Dia ingin sekali ada kejutan tak terduga dari putri sulungnya. Namun, tidak ia dapatkan. Dia mengira Najwa ikut pulang ke rumah. Tapi, tidak ada Najwa di antara anak-anaknya.


“Jadi Najwa benar tidak ikut pulang bersama kalian?” tanya Arsyad dengan raut wajah yang sedih dan kecewa.


“Abah, Kak Najwa pasti pulang kok. Bulan depan Kak Najwa pulang. Percayalah,” jawab Raffi.


“Iya, abah percaya. Abah kira dia akan ikut pulang bersama kalian,” ucap Arsyad.


Arsyad langsung masuk ke dalam. Dia merasa sedikit kecewa anak perempuannya tidak ikut pulang dengan lainnya. Arsyad merasa Najwa belum mau pulang dan masih marah dengan dirinya.


Arsyad duduk di tepi ranjang. Dia membuka ponselnya. Melihat foto Najwa, dan hatinya tergerak untuk menanyakan kabar putrinya lewat pesan singkat.


“Nak, kamu sehat? Kenapa kamu tidak ikut pulang dengan lainnya? Abah kira kamu akan memberi kejutan pada abah. Apa kamu masih marah dengan abah? Abah merindukanmu, nak.” ~ Abah


Arsyad menaruh ponselnya kembali. Dia merebahkan dirinya di ranjang. Dia semakin merasa bersalah karena sudah mengusir putrinya. Arsyad mengingat kejadian di vila itu, saat dia mengusir Najwa. Dia juga mengingat telah berkata kasar dengan Najwa saat itu. Arsyad sangat menyesalinya karena dia seperti sudah membuang anak gadisnya. Dia seharusnya membimbing Najwa, melindunginya, dan menjaga Najwa waktu dia terpuruk karena masalah itu.


^^^^^


Raffi duduk di ruang tamu bersama Bunda dan Opanya. Dia menjelaskan pada Bunda dan Opanya soal Najwa. Kalau Najwa belum bisa pulang karena masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.


“Aku sudah membujuk Kak Najwa, bukan aku saja yang membujuknya. Shifa, Arkan,dan Rania membujuk Kak Najwa untuk pulang. Tapi, Kak Najwa belum bisa pulang. Dia masih banyak pekerjaan. Jadi bulan depan baru bisa pulang, Bunda.” Raffi menjelaskan semuanya pada bundanya.


“Iya, bunda tahu, mungkin abah sudah merindukan kakakmu, jadi dia kecewa Najwa tidak ikut pulang bersama kamu dan lainnya,” ucap Annisa.


“Opa juga rindu dengan Najwa. Tapi, opa tahu, Najwa seperti apa. Dia kalau sudah ada pekerjaan, memang tidak bisa meninggalkan seenaknya saja. Kalau dia punya tanggung jawab, dia akan menyelesaikan tanggung jawabnya dulu,” imbuh Rico.


“Iya Opa, kami saja di sana sering di tinggal Kak Najwa kerja. Semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tapi, kalau Kak Najwa sudah selesai bekerja, dia akan pulang dan meluangkan waktu untuk berkumpul dengan kami. Aku lihat, Kak Najwa di sana bahagia opa. Mungkin ada Kak Akmal yang selalu membuat Kak Najwa bahagia,” ujar Raffi.


“Ya, semoga saja mereka berjodoh,” sambung Annisa.


“Aamiin... semoga saja. Aku yakin, Kak Akmal pria yang pas untuk Kak Najwa. Dia begitu menyayangi Kak Najwa,” ucap Raffi.


“Opa Wisnu dan Om Elang juga sayang sekali dengan Kak Najwa. Dia seperti anak perempuan dan cucu mereka. Dia malah jarang pergi dengan Akmal. Kak Najwa seingnya pergi sama Opa dan Om Elang jika mau kerja. Kadang dengan Nuri, sepupu Akmal,” ucap Fattah yang tiba-tiba datang dan bergabung dengan mereka


“Syukurlah kalau seperti itu. Najwa ada di antara orang-orang yang menyayanginya,” ucap Rico.


Arsyad keluar dari kamarnya. Dia bergabung dengan Rico dan lainnya di ruang tamu, sambil menunggu makan siang di siapkan oleh pelayan. Semua menceritakan keadaan Najwa di sana pada Arsyad, agar Arsyad tidak lagi merasa sedih dan tahu kalau Najwa baik-baik saja di sana.


“Syukurlah, kalau Najwa baik-baik saja. Abah lega mendengarnya,” ucap Arsyad.


“Kami juga bawa kabar bahagia untuk kaliaan,” ucap Dio yang baru bergabung dengan mereka bersama Rania.


“Kabar bahagia apa?” tanya Annisa.

__ADS_1


“Ehm... bunda dan abah akan menjadi opa dan oma, dan Opa, akan menjadi Opa uyut,” jawab Dio.


“Apa Rania hamil?” tanya Annisa.


“Iya, Rania hamil. Tapi, kami belum ke dokter, jadi belum tahu usia kandungan Rania berapa minggu. Kemarin hanya test urine saja,” jawab Dio.


“Itu saja Testpack di beliin Opa Wisnu, kan?” imbuh Fattah.


“Iya sih. Kan kami memang tidak tahu kalau dia ada tanda-tanda hamil,” ucap Dio.


“Iya, kan yang ngidam kamu,” sambung Raffi.


“Bunda tahu, Dio selama di sana makan hanya roti sama buah saja. Tidak mau nyentuh nasi sama sekali. Kalau lihat nasi saja muntah, apalagi makan nasi,” ucap Rania.


“Kok, sama seperti kamu, sayang? Dulu kamu waktu hamil Dio dan Shifa kamu gak mau makan nasi sampai mau lahiran baru kamu mau makan nasi,” imbuh Arsyad.


“Nah, kok Abah tahu? Bukankah waktu hamil Dio bunda masih dengan ayah?” tanya Dio penasaran.


“Gimana abah tidak tahu, abah sama ayah kamu tuh cerewet. Mereka yang sering memaksa bunda biar makan nasi. Yang ada bunda seharian sakit karena ulah mereka memaksa bunda makan nasi,” jawab Annisa.


“Abah sering ke rumah bunda waktu itu?” tanya Raffi.


“Tidak juga sih, kalau ada kepentingan dengan ayahmu saja abah ke sana. Kesal abah kalau lihat bunda tidak makan nasi, tapi kerja gak mau berhenti. Strong sekali bunda, saat hamil Dio dan Shifa,” jelas Arsyad.


Meskipun Arsyad sedikit cuek, tapi dia perhatian dengan Annisa. Pasti kalau ke rumah menemui Arsyil, dia membawakan apel merah kesukaannya. Waktu itu Arsyad menganggap dia adik iparnya saja. Bukan karena cinta pada Annisa, tapi dia memang sayang dengan Annisa sebagai adik iparnya. Arsyil juga sempat cemburu dengan Arsyad kala itu. Tapi, dia percaya kalau kakaknya sangat mencintai Almira, istrinya. Itu terbukti saat pertama menikah dengan dirinya Arsyad tidak mau menyentuhnya selama tiga bulan.


“Dor, nglamun saja!” Arsyad mengagetkan istrinya yang masih mengingat kenangan bersama Arsyil waktu hamil Dio dan Shifa.


“Siapa yang melamun?” ucap Annisa.


“Itu kamu,” ucap Arsyad.


“Aku tidak melamun,” kilah Annisa.


“Sudah, kalian mau punya cucu malah seperti itu,” ujar Rico.


“Rania, Dio, selamat, kalian akan memberi opa Cicit. Opa harap, dengan adanya anak di tengah-tengah kalian. Kalian semakin dewasa, menjadi orang tua yang bijaksana. Dan, jangan kebanyakan berdebat hal yang tidak penting di perdebatkan. Untuk Shifa dan Fattah, kalian jangan merasa berkecil hati karena belum di beri momongan. Tante Shita dulu juga lama tidak punya-punya momongan. Semoga hamilnya Rania menular pada Shifa,” ucap Rico dengan memberi wejangan pada cucu-cucunya.


“Iya, opa. Terima kasih untuk semangatnya. Shifa tidak berkecil hati. Mungkin Allah memberi amanah pada Shifa. Dan, Shifa yakin. Shifa pasti akan memiliki anak,” ucap Shifa.


Shifa dan Dio memeluk Opa Rico. Rico bahagia sekali, cucu-cucunya bisa akur kembali. Meskipun tidak ada Najwa, cucu pertamanya yang paling ia sayang. Mungkin sekarang tidak ada Najwa di dalam rumah, tapi Rico percaya, suatu saat Najwa akan pulang dan berkumpul kembali bersamanya.


^^^^^

__ADS_1


Dio dan Rania sudah berada di rumahnya setelah kemarin setelag pulang dari Budapest menginap di rumah Arsyad. Pagi ini Dio ingin mengajak Rania untuk memeriksakan kandungannya. Mereka sudah bersiap untuk pergi ke dokter kandungan. Dio memeluk istrinya dari belakang, saat Rania sedang bercermin.


“Pokoknya, kalau Dokter kandungan yang perempuan tidak praktik hari ini, kita tunda periksanya besok,” ucap Dio dengan manja dan menciumi pipi istrinya yang semakin chubby.


“Kalau Dokternya laki-laki kenapa, sayang? Gak apa-apa sih, kalau Dokternya ganteng. Kan biar anak kita ganteng juga,” ucap Rania.


“Hus... masa anak kita harus mirip Dokter yang nanganin kamu. Itu yang aku takutkan, kamu akan suka sama dokternya, kalau dokternya laki-laki,” ucap Dio.


“Apalagi nanti nyentuh-nyentuh kamu, aduh, aku tidak mau kalau itu sampai terjadi,” imbuh Dio.


“Gak apa-apa dong, apalagi Dokternya berjambang, cool, dan seperti....”


“Seperti Akmal?” tukas Dio.


“Iya, gemes lihatnya. Kalau saja kemarin aku di bolehin pegang jambangnya, senangnya...” ucap Rania sambil membayangkan memegang jambang milik Akmal.


“Oh... gitu? Ya sudah nanti aku akan beli obat untuk penumbuh jambang. Payah kalau gini, ada orang berjambang nanti langsung megang-megang,” ujar Dio.


Memang dari kemarin Rania suka sekali melihat Akmal, dia sempat bilang pada suaminya, ingin menyentuh jambang milik Akmal yang tipis. Tapi, Dio melarangnya, hingga dia uring-uringan semalaman dengan istrinya. Dio paham ini adalah bawaan bayi, tapi masa iya, istrinya harus menyentuh jambang milik Akmal. Sampai Rania kesal dengan Dio karena dirinya tidak mau menuruti keinginannya.


“Jangan, tidak bagus kalau kamu berjambang, aku maunya pegang jambangnya Akmal, sayang,” ucap Rania dengan manja.


“Sudah, jangan neko-neko kamu. Aku tidak mau uring-uringan lagi karena ini ya, sayang,” ucap Dio.


“Ih, kamu, nanti anak kita ileran gimana?” Rania semakin kesal dengan  suaminya.


“Namanya bayi, anak kecil, ya pasti ileran. Tidak mungkin sampai tua mau ileran. Sudah, aku gak mau bahas jambang lagi, apalagi kamu maunya megang jambangnya Akmal,” ucap Dio.


“Ih...ayahmu cemburu, sayang. Lihat tuh, wajahnya lucu. Masa ibu mau pegang jambang punya Pakdemu gak boleh, nyebelin, kan?” Rania mengajak bicara perutnya yang masih terlihat datar.


“Lagian, ibumu aneh, sayang. Bagaimana ayah tidak kesal coba, suka sama pria berjambang,” ucap Dio dengan mengusap perut istrinya.


“Sudah, yuk kita ke dokter. Aku mau tahu anak kita sehat atau tidak, dan usianya sudah berapa minggu,” ajak Dio.


“Oke, tapi aku maunya Dokter Akmal yang memeriksa,” pinta Rania.


“Dia Dokter Anak, bukan Dokter Kandungan, sudah nurut aku, Dokternya cewek dan tidak boleh di ganggu gugat!” ucap Dio dengan penuh penekanan.


Rania mendengus kesal. Dia akhirnya menuruti suaminya, untuk menemui Dokter Bianka. Beruntung Dokter Bianka hari ini ada praktik di rumah sakit, jadi Dio merasa lega sekali bisa langsung memeriksakan kandungan Rania.


Rania dan Dio sudah berada di dalam ruang pemeriksaan. Dokter Bianka melihat hasil Testpack Rania kemarin, lalu mempersilakan Rania untuk merebahkan dirinya di bed untuk di periksa.


Dokter menjelaskan usia kandungan Rania masih sangan muda, baru memasuki 3 minggu, jadi detak jantung janin belum bisa di deteksi, karena masih sangat kecil, sudah terbentuk embrio yang masih berukuruan sangat kecil. Dokter Bianka menyarankan Rania memeriksakan kandungannya lagi saat nanti memasuki usia ke 8 minggu atau 10 minggu. Rania dan Dio menuruti saran dari Dokter Bianka.

__ADS_1


__ADS_2