
♥Arsyil♥
Aku menuju rumah Annisa, dia meminta ikut ke kampusku. Biarlah dia ikut,nanti aku kenalkan dengan teman ku.
Aku sampai di depan rumah Annisa. Aku standarkan sepeda motorku dan ku langkahkan kaki menuju teras rumah Annisa.
"Tok...tok...tok..." aku mengetok pintu depan rumah Annisa.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam...cari non Nisa ya mas? Pasti ini mas Arsyil?"
"Emmm iya Bi....ini Arsyil, Nisa nya ada Bi?"
"Ada mas, sedang mandi di tunggu sebentar,mari masuk duduk dulu mas"
"Iya Bi terima kasih."
Aku duduk di ruang tamu rumah Nisa,rumahnya mewah besar tapi sederhana sekali. Aku melihat foto foto Nisa dengan Papah dan Mamahya yang terpajang di dinding dan di lemari kecil yang ada di ruang tamu.
"Mas Arsyil silahkan minumnya?"
"Terimakasih Bi..kok repot repot sekali Bibi."
"Ah biasa saja mas Arsyil"
"Papah dan Mamahnya Nisa belum pulang Bi?"
"Iya belum mas,biasa tuan sama nyonya seperti itu kalau sudah bekerja,kasihan non Nisa selalu kesepian,tapi semenjak mengenal mas Arsyil non Nisa tak pernah Kesepian lagi."
"Ah masa Bi..."
"Yang bibi lihat seperti itu mas. Bibi tinggalnke belakang ya mas."
"Iya bi silahkan."
Aku menunggu Nisa yang belum juga keluar menemuiku. Aku buka buka majalah yang ada di pojok rak majalah, dan aku meminum minuman yang tadi Bibi suguhkan untuk ku.
"Sayang, maaf lama menunggu."
"Hmmm tidak apa apa, sudah siap?"
"Sudah, yuk berangkat.?"
"Seneng banget mau ikut ke kampusku."
"Seneng lah kan mau ikut ke kampus pacarnya."
Aku meletakan kembali majalah yang aku baca dan berpamitan dengan bibi.
"Ayo pamit bibi dulu." Ajak ku pada Nisa.
"Bibi.....Nisa sama Arsyil berangkat dulu ya bi.?"
"Ehhh kok teriak teriak masuk lah panggil bibi yang sopan."
"Iya...iya....sebentar aku panggil bibi."
Nisa memanggil bibi ke dalam untuk berpamitan.
"Bibi....aku ajak Nisa ke kampus dulu ya?" Pamitku pada bibi.
"Iya mas,hati hati jangan malam malam pulangnya."
"Okey Bi....pagi sekalian ya kalau kemalaman? Hehehe" candaku Pada bibi.
"Mas Arsyil bisa saja, hati hati ya mas, titip Non Nisa."
"Siap bi.."aku mencium tangan bibi.
"Bibi...Nisa berangkat ya? Nanti Nisa makan di luar sama Arsyil."
"Oke Non. Hati hati..."
"Siap bi.."
"Assalamualaikum..."ucapku dengan Nisa.
"Wa'alaikumsalam." Ucap bibi.
Aku memakaikan helm Nisa. Aku tau dia selalu protes kalau tidak ku pakaikan helm nya. Ya setiap mau jalan aku pakaikan helm nya.
"Sudah....yuk naik."
"Makasih sayang."
Aku melajukan sepeda motorku ke kampus, rasanya ada yang beda sekali, kali ini aku ke kampus dengan orang yang sangat aku cintai.
__ADS_1
Sesampainya di kampus aku memarkirkan sepeda motorku di tempat parkir, seperti biasa teman temanku yang jahil mendekatiku dan Annisa.
"Cie......si jones udah dapat pacar lagi nih....yang dari kemarin di hubungi selalu sibuk ternyata sekali ke kampus bawa cewek cantik.."ucap Wira.
"Hai cantik siapa namamu? Mau jadi pacarnya cowo gak normal? Celah Adit.
"Eeehhh...kalian yaaa ribut aja, giliran aku jomblo di kacangin, ini bawa cewek lebih lebih, jangan sentuh sentuh pacarku." Ucap ku.
"Santuy bro.....jangan ngegas dong..."ucap adit sambil menepuk pundak ku.
"Kenalin ini Annisa pacarku..emm lebih tepatnya calon istriku."
"Asik....calon istri, lu gak mimpi kan bro.!" Ucap Wira.
"Gak, dah siang mimpi terus, sudah aku mau menemui dosen pembimbing dulu. Kalian tunggu di tempat biasa ya, nanti aku kesana. Ayo sayang ikut aku." Aku mengajak Nisa menemui dosen pembimbing.
"Cie...sayang...."ucap Wira.
"Husss....sudah sana kalian nunggu di mana gitu nanti selesai bimbingan aku ke kalian."
"Oke bro."
Aku berjalan menemui dosen pembimbingku untuk bimbingan dengan mahasiswa yang lainnya. Aku baru ingat kalau fitri satu dosen pembimbing sama aku.
"Syil...." suara perempuan memanggil ku. Iya itu Fitri, cewek itu mantanku.
"Ehh iya Fit gimana?"
"Mau bimbingan kan? Bareng yuk? Syil ini siapa?"
"Iya ini mau ke ruangan, ayuk bareng...ohhh iya ini Annisa calon istriku." Jawabku santai, karena Memang benar Annisa benar benar yang aku pilih untuk pendamping hidupku kelak.
"Emmm aku tidak salah dengar Syil?"
"Gak lah Fit, ayo buruan kita keruangan."
"Iya Syil."
Sesampainya di depan ruangan bimbingan aku dan Fitri masuk ke ruangan.
"Sayang, kamu nunggu disana ya? Kalau jenuh bisa ke kantin atau kemana gitu, baik baik okey..."ucapku sambil mengacak rambut Nisa.
"Oke sayang, aku duduk di sana saja sambil baca buku."
"Ya sudah, nih kalau kurang baca bukunya aku tadi pinjam punya kak Shita sengaja biar kamu tidak jenuh."
"Makasih sayang. Semangat ya.." ucap Nisa sambil mencubit mesra pipiku.
Aku masuk ke ruangan bimbingan dengan Fitri.
"Syil...."
"Iya Fit ada apa?"
"Selamat sudah punya pacar lagi."
"Hmmm iya Fit. Kamu jangan di tekuk gitu dong mukanya... mau bagaimana lagi kita belum jodoh Fit."
"Iya Syil, kalau saja aku tak......"
"Sudah...mau bagaimana lagi jika belum jodoh ya tidak mungkin Bersama, ya mungkin sekarang aku sudah memiliki Nisa, tapi belum tentu kedepannya bagaimana Fit, semua Allah yang nentuin."
"Iya syil benar."
"Ya sudah semangat bimbingan biar kita lulus Fit. Jangan mikir macem macem."
"Oke....makasih ya Syil."
"Hmm sama sama."
Aku menyelesaikan bimbingan dengan Fitri dan mahasiswa lainnya, sedangkan Nisa menungguku di depan ruangan.
Aku tau bagaimana perasaan Fitri sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, dia yang memulai tidak baik ya aku tinggalkan. Tidak salah kan aku memilih wanita yang baik untuk masa depanku.
♥Annisa♥
Jenuh sebenarnya menunggu, tapi tak apalah kan aku yang ingin ikut Arsyil ke kampusnya.
"Nikmati saja Nis menunggu pacar bimbingan" ucapku dalam hati sambil membaca novel milik kak Shita kakaknya Arsyil.
Novelnya bagus, aku jadi penasaran dengan ceritanya. Aku membaca novel kak Shita sambil di temani cemilan yang aku bawa dari rumah tadi. Meskipun badan aku kecil aku hoby sekali ngemil dan Arsyil dia yang paling tau dan tak pernah melarang ku untuk ngemil. Itu yang aku suka dari dia, tidak pernah melarang apa yang aku suka.
Aku masih menunggu Arsyil di depan ruangan bimbingan nya.
♥Arsyad♥
Hari ini di kantor papah sangat sibuk sekali. Banyak client yang kami temui hari ini.
__ADS_1
"Syad, teman papah sebentar lagi pulang dari New York, perusahannya dia ingin bekerja sama dengan perusahaan kami."
"Bagus dong pah, kapan teman papah akan kemari?"
"Mungkin 1 atau 3 minggu lagi dia pulang."
"Pah makan siang dulu yuk, papah jangan kecapaian pah."
"Sebentar lagi Syad."
"Pah....ayo jangan di tunda tunda makannya. Ayolah...."
"Oke oke....kamu seperti ibumu saja, kalau sudah waktunya makan ya Harus makan."
"Iya dong harus,jangan sampai telat makan pah."
"Siap jagoan papah." Ucap papah sambil menepuk pundak ku.
Aku dan papah keluar dari kantor mencari makan siang.
Setelah kami makan siang, kami mampir ke sebuah masjid untuk sholat dhuhur.
"Pah ke Masjid dulu ya belum Dhuhur kan?"
"Oke, didepan ada Masjid itu Syad"
Aku melajukan mobilku ke sebuah Masjid yang papah tujukan padaku.
Sesampainya di Masjid kami langsung menuju ke tempat Wudhu dan kami mengambil Air Wudhu.
Seperti biasa aku selalu membawa tasbih peninggalan kakung Didik, iya beliau adalah paman ibu ku. Aku sangat dekat dengan beliau, sebelum beliau meninggal dia memberikan ku tasbih ini. Dan aku selalu membawanya kemanapun aku pergi. Beliau selalu berpesan kepadaku "Ingatlah Allah dimanapun kamu berada dan dalam keadaan apapun. Berdzikirlah karena akan meringankan beban hidupmu nak" itu yang kakung Didik ucapkan padaku di penghujung usianya sambil memberikan tasbih ini.
Aku masih di dalam masjid, Berdzikir sesudah sholat seperti biasa yang aku lakukan setiap hari. Mungkin papah dari tadi sudah lama menungguku di luar Masjid. Aku keluar dari dalam masjid, aku duduk disamping papah yang sedang memakai sepatunya.
"Lama sekali kamu Syad."
"Papah, berdoa masa terburu buru pah."
"Iya kamu benar Syad,ayo sudah kita balik ke kantor."
"Iya pah sabar dulu Arsyad pakai sepatu."
"Jangan kelamaan, kerjaan kita masih banyak Syad."
"Hemm..."
Seperti biasa papah selalu saja sukanya gugup,apalagi urusan kantor. Biasa orang tua selalu Seperti itu, padahal ya sudah tidak terlalu sibuk sekali. Papah kan orangnya selalu on time.
Aku gugup memakai sepatu ku dan langsung berjalan ke arah mobil ku yang ku parkirkan di halaman Masjid.
Aku masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobilku keluar dari halaman masjid.
"Hei.....stop..! Hei.....!"
Terlihat seeeorang berhijab Syar'i bahkan perempuan itu bercadar melambaikan tangan dan teriak teriak di belakang mobilku, namun aku tak menghiraukannya. Ku lajukan cepat mobil ku menuju ke kantor papah.
"Papah lihat wanita tadi yang teriak di belakang mobil?"
"Iya, kamu kenal?"
"Tidak, kalau kenal Arsyad berhenti pah."
"Ada apa dia teriak teriak?"
"Ya mana Arsyad tau pah."
Aku melupakan wanita yang tadi teriak di belakang mobilku.
Tak lama kemudian aku sudah sampai di kantor papah, aku melanjutkan pekerjaanku, begitu pula papah, beliau sangat sibuk sekali.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
♥Happy Reading♥