
Setelah Annisa pulang, Arsyil melihat rumahnya yang tinggal beberapa persen lagi akan selesai dibangun. Saat sedang melihat-lihat mobil papahnya masuk ke dalam halaman bengkel Arsyil. Iya Rico dan Andini mampir ke bengkel Arsyil sebentar setelah seharian mereka pergi jalan-jalan. Rico melihat anak bungsunya sedang berada di halaman rumah samping bengkel. Sedangkan Arsyil, dia tidak mengetahuo papah dam ibunya ada di bengkelnya. Segera Rico dan Andini menghampirinya.
"Arsyil...sedang apa kamu di sini?"tanya Rico papahnya.
"Papah, ibu datang kapan? Kok tidak bilang-bilang mau ke sini?"tanya Arsyil.
"Baru saja Syil, sengaja papah dan ibu tidak memberitahu kamu dulu. Karena, kami hanya mampir sebentar melihat bengkelmu, sudah lama papah tidak melihat perkembangan usahamu. Jadi, sepulang dari jalan-jalan papah dan ibu mampir ke sini. Dan, papah lihat kamu di sini ya papah menghampiri kamu langsunh ke sini. Ini rumah siapa?"tanya Rico yang mebuat Arsyil bingung menjawabnya.
Saat kebingungan menjawab tiba-tiba seorang pekerja rumah tersebut menghampiri Arsyil untuk melaporkan material yang tingga sedikit.
"Mas Arsyil, ini laporan material yang tinggal sedikit."pekerja itu memberikan laporan pada Arsyil.
"Oh iya mas terima kasih."jawab Arsyil.
"Oh iya Mas Arsyil silahkan di cek dulu sudah benar tidak tadi membuat desain dapurnya, kalau masih ada yang kurang biar kami perbaiki lagi."ucap pekerja tersebut yang membuat kedua orang tua Arsyil bingung apa yang sedang mereka obrolkan.
"Iya mas nanti saya cek lagi." Jawab Arsyil.
Pekerja tersebut kembali ke dalam untuk bersiap-siap pulang.
"Aduh.....ada papah dan ibu, aku ketahuan bohong lagi. Kenapa harus sekarang mereka tau, ya sudahlah lebih baik aku jelaskan saja dari pada aku bohong terus." gumam Arsyil dalam hati.
"Syil, sebenarnya ini rumah siapa? Kok pekerja tadi melaporkan semua pekerjaannya dengan kamu?"tanya Rico, papahnya.
"Emmm....papah, ibu maafkan Arsyil, ayo pah masuk ke dalan dulu nanti Arsyil jelaskan." Arsyil mengajak kedua orang tuanya masuk kedalam ruamhnya.
"Pah, bu, mungkin papah dan ibu bertanya-tanya kemana hasil dari bengkel Arsyil. Dan, sekarang Arsyil akan menunjukan kepada papah dan ibu. Ini adalah hasil dari bengkel Arsyil pah, rumah ini. Iya rumah ini benar-benar real hasil dari bengkel Arsyil." Arsyil menjelaskannya. Rico yang tidak percaya dengan semua ini masih saja terdiam. Dan, Andini dia meneteskan air matanya karena merasa bangga anaknya berhasil membangun usahanya hingga bisa memiliki sebuah rumah.
"Pah, kok diam? Ibu kok menangis?" Arsyil mendekatai kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Ibu bangga dengan mu nak. Kenapa kamu tak memberitahukan pada kami?"tanya Andini sambil memegang bahu putranya.
"Sebenarnya setelah jadi 100% aku akan memberitahu ibu, papah dan kakak. Tapi, sekarang ibu dan papah sudah di sini ya Arsyil jelaskan yang sebenarnya." jawab Arsyil.
"Syil, papah bangga denganmu nak. Maafkan papah yang selalu meremehkan kamu, yang selalu mengira hasil dari bengkel kamu hanya untuk hura- hura saja. Tapi, kali ini papah sadar, kamu bisa mengelola hasil bengkelmu dengan baik."ucap Rico sambil merangkul putranya dan menepuk bahunya.
"Kenapa kamu lebih memilih membangun rumah, tidak untuk membeli mobil sport atau yah seperti anak muda lainnya." tanya Papah Rico.
"Buat apa beli seperti itu pah, kalau nanti setelah menikah Arsyil masih merepotkan papah dan ibu, masih tinggal bersama ibu dan papah. Masalah mobil nomor terakhir pah, yang penting ini dulu."jawab Arsyil.
Andini semakin deras mengalirkan air matanya. Mendengar semua jawaban Arsyil.
"Ibu kok menangis?" Arsyil menyeka air mata ibunya dan memeluknya.
"Ibu bangga nak dengan mu. Kamu berfikir sangat matang sekali, padahal kamu masih muda sekali."ucap Andini.
"Ibu, ini semua karena doa ibu dan papah Arsyil bisa seperti ini."jawab Arsyil.
Arsyil begitu pandai menata ruangannya, mendesain setiap ruangannya. Kamarnya juga sangat luas, ada juga satu ruangan untuk perpustakaan. Iya, karena Annisa suka sekali membaca.
"Ini ruangan untuk apa nak?bukankah sudah ada 3 kamar, lalu ini untuk apa?"tanya Andini.
"Ini nanti akan di buat perpustakaan, ibu tahu tidak Annisa suka sekali membaca." jelas Arsyil.
"Kamu sudah mempersiapkan semua ini?"tanya Rico.
"Iya pah, Arsyil serius dengan hubungan Arsyil dan Nisa. Apa papah dan ibu merestuinya?" tanya Arsyil.
"Papah setuju saja, bagaimana dengan orangtua Nisa?"tanya Rico.
__ADS_1
"Nanti malam Arsyil akan ke rumah Nisa pah."jawabnya.
"Baguslah kalau begitu. Papah bangga denganmu Syil, walau usiamu masih sangat muda, kamu sudah berfikir sejauh ini. Sudah mempersiapkan untuk keluargamu nanti. Jadilah pemimpin rumah tangga yang bijaksana nak jika nanti sudah menikah."
"Iya pah itu pasti. Do'akan Arsyil selalu ya pah."
"Iya sayang Do'a papah dan ibu selalu menyertai kamu dan kakak-kakak mu."ucap Rico.
Arsyil dan kedua orang tuanya keluar dari rumah Arsyil. Rico dan Andini langsung pamit pulang ke rumah. Dan, Arsyil kembali ke bengkelnya dan bersiap-siap untuk pulang ke rumah.
Di dalam mobil Rico dan Andini masih terdiam, mereka tak menyangka Arsyil bisa seperti itu.
"Bu, ternyata Arsyil bisa berfikir dewasa sekali, papah tidak menyangkanya dia seperti itu. Dia benar-benar mandiri sekali." Ucap Rico.
"Iya pah, ibu juga tak menyangkanya dia seperti itu."
Rico dan Andini merasa sangat bangga sekali memiliki anak-anak yang mandiri dan selalu rukun dengan saudaranya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♥happy reading♥