
"Pah, Annisa sudah tidak kuat, setiap hari Annisa harus berpura+pura bahagia di depan anak-anak. Dan saat malam tiba, Annisa harus bergelut dengan hati Annisa yang sangat kalut ini. Melihat suami Annisa cuek, kadang di tanya tidak menjawab dan kadang satu hari tidak bicara dengan Annisa. Annisa bagai hidup dengan patung, papah," ucap Annisa.
"Papah tau apa yang kamu rasakan, usia pernikahanmu baru seumur jagung, kalian pasti bisa melewati ini, percayalah,"tutur Rico.
Annisa hanya terdiam saja, dia harus menuruti apa kata papah mertuanya. Walaupun di dalam hatinya sangat ingin keluar dari kehidupan ini.
^^^^^^
Sekia sudah berkumpul di meja makan, mereka menikmati sarapan bersama. Rico dari tadi memikirkan ucapan Annisa yang menginginkan berpisah dengan Aesyad. Rico memandani wajah Annis yang masih terlihat pucat. Dai hanya diam saja dari tadi, tidak ada kata yang keluar dari mulut Annisa. Dia hanya berkata saat suaminya bertanya saja padanya.
"Syad, nanti papah mau bicara dengan kamu,"ucap Rico.
"Oh iya, pah,"jawab Arsyad.
Suasana menjadi hening lagi, hanya suara piring dan sendok yang bersahutan lirih.
^^^^^
Arsyad dan Rico duduk di teras depan sambil meknikmati yeh hijau yang di buatkan oleh Annisa. Rico bingung bagaimana harus memulai percakapan dengan putranya sulungnya itu. Arsyad sebenarnya tau apa yang akan di bicarakan papahnya pada dirinya, tidak jauh dari Annis. Pasti akan bicara tentang Annisa.
"Pah,"panggil Arsyad.
"Iya, ada apa?"jawab Rico.
"Papah tau, Annisa tadi sore hujan-hujanan lagi di makam Arsyil, makanya dia wajahnyaasoh pucat sekali, karena semalam demam,"jelas Arsyad.
"Kok kamu tau kalau dia di makam Arsyil?"tanya Rico.
"Karena Arsyad pas di sana, saat Arsyad mau menengok makam Arsyil, ibu, dan mamah, Arsyil melihat mobil Annisa di sana,"ucap Arsyad.
"Kalian masih berdiam diri? Apa benar kalian tidur terpisah?"tanya Rico.
"Papah tau dari mana?" Arsyad balik bertanya.
"Najwa dan Dio, dia selalu melaporkan pada papah,"ucap Rico.
Arsyad hanya terdiam mendengar perkataan papahnya. Diabtak tau harus menjawab apa, ternyata selama ini anak-anaknya benar-benar memerhatikan hubungannya dengan Annisa.
"Kenapa diam? Benar seperti itu?"tanya Rico lagi.
"Iya pah, benar. Dan, Annisa juga meminta." Arsyad terdiam sejenak mengatur napasnya saat akan berkata Annisa meminta pisah darinya.
"Annisa meminta pisah dari kamu?"tanya Rico.
"Papah tau itu?" Arsyad balik bertanya.
"Ya, papah tau, Annisa tadi bilang seperti itu pada papah, apa kamu tidak bisa sedikitpun membuka hati untuk istrimu?"tanya Rico.
"Pah, Arsyad sudah mencobanya, tapi hati ini selalu tidak bisa dan selalu menolaknya,"ungkap Arsyad.
"Kamu itu terlalu keras hatinya, ego kamu terlalu tinggi. Syad, kamu mengerti soal agama, seharusnya tanpa cinta pun kamu bisa melakukannya,"jelas Rico.
"Bagaimana aku bisa melakukannya pah, walaupun tanpa cinta kalau Arsyad ada hasrat, Arsyad pasti melakukannya pah,"ucap Arsyad.
"Maksud kamu? Kamu tidak ada hasrat dengan Annisa?"tanya Rico.
"Pah, Annisa polos di depanku saja aku tak ada gairah sama sekali, bagaimana bisa aku melakukannya, kalau ada, pasti dari dulu Arsyad lakukan itu, walaupun Arsyad tak mencintai Annisa,"ungkap Arsyad.
"Kamu sudah berusaha ke dokter? Konsultasi mengenai itu?"tanya Rico yang dijawab Arsyad dengan menggelengkan kepalanya saja.
"Kamu seperti itu, karena hati kamu di penuhi rasa bersalah pada Almira, Syad. Jangan seperti itu, mencoba membuka hati apa salahannya, Syad. Annisa istrimu, seharusnya sejak dari awal kamu sudah memberikan haknya. Walaupun jarang karena kalian tak saling mencintai, karena itu kewajiban,"tutur Rico.
"Arsyad tidak tau pah, dengan tidur memelukanya saja Arsyad tidak bisa,"ucap Arsyad.
"Apa karena kamu memikirkan Almira?"tanya Rico.
"Iya, pah. Arsyad tak pernah berhenti memikirkan Almira,"ucap Arsyad.
"Itu yang menutupi hasratmu, seharusnya kamu jangan seperti itu,"tutur Rico.
"Pah, apa papah juga dulu seperti itu dengan ibu?"tanya Arsyad.
"Tidak, papah tanpa mencintai ibumu, papah bisa melakukannya. Yang pertama, papah di desak oleh mamah Dinda, dan yang kedua, karena itu kewajiban papah haris memberinya pada ibumu. Walaupun setelah itu hampir 3 bulan tidak melakukannya lagi, tapi papah selalu adil tidur bergantian dengan ibu dan mamah,"ungkap Rico.
"Dan saat mamahmu pergi, papah benar-benar kecewa, papah juga menginginkan bercerai dengan ibumu, tapi semakin kuat papah ingin bercerai, papah semakin mencintai ibu,"jelas Rico.
"Kamu masih mudah, kasihan Annisa jika kamu selalu seperti ini, kamu harus belajar mencintainya. Tidak usah mencintainya dulu, karena terbiasa berhubungan, kamu akan mendapatkan cinta, cinta itu akan mengalir dengan sendirinya. Tolong jangan kecewakan papah, dan jangan kecewakan mendiang istrimu, karena sikap kamu yang seperti ini,"tutur Rico.
Arsyad hanya terdiam, mencerna setiapnucapan dari Rico. Dia mendapat sedikit pencerahan dari papahnya. Tapi dia tidak tau, apakah ada sedikit hasrat untuk melakukannya dengan Annisa atau tidak.
"Apa benar aku harus konsultasi dengan dokter mengenai masalah ini? Apa kurangnya Annisa, dia cantik, aku akui, tubuh dia indah, wlalaupun sudah memiliki dua anak, tubuhnya terawat dan terjaga, tapi kenapa aku tidak bisa, melihat dia polos di depanku saja aku tak ada hasrat sedikitpun,"gumam Arsyad.
Rico melihat anaknya terdiam, dia tau Arsyad pasti memikirkan dirinya yang tidak bisa melakukannya dengan Annisa.
"Syad,"panggil Rico.
"Iya pah,"jawab Arsyad.
"Konsultasi pada dokter, atau ke psikiater, kamu terlalu jatuh ke dalam masa lalu, jadi bisa saja penyakit itu muncul karena itu,"ucap Rico.
__ADS_1
"Iya, nanti Arsyad akan konsultasi, pah,"ucap Arsyad.
^^^^^^^
Annisa sebenarnya dari tadi mendengar apa yang Rico dan Arsyad bicarakan. Dia mengurungkan niatnya untuk keluar dan berpamitan pada papah mertua dan suaminya untuk berangkat ke butik. Annisa tidak menyangka, suaminya seperti itu, tidak memiliki hasrat pada dirinya.
"Pantas saja, aku menggodanya saja, dia biasa saja, dan aku sering polos di depannya, dia hanya melihat saja, tidak ada respon sedikitpun,"gumam Annisa.
Annisa masih berpikir, kenapa nasib pernikahan keduanya seperti ini. Annisa selalu berharap, walau tak ada cinta sedikitpun di pernikahannya dia akan mendapat perlakuan layaknya seorang istri dari suaminya. Namun, kenyataannya berbeda. Arsyad sama sekali tidak mau menyentuh Annisa. Bahkan tidurpun terpisah.
"Apa yang harus aku lakukan, Ya Allah. Suamiku memiliki masalah seperti itu, dan mungkin masalah itu muncul karena dia terlalu larut di dalam masa lalunya, seperti yang papah tadi katakan. Haruskah aku egois untuk meminta pisah dengannya? Sedangkan suamiku mengalami masalah seperti itu,"gumam Annisa.
Ada rasa iba pada diri Annisa untuk suaminya, dia tak menyangka suaminya memilki masalah seperti itu. Mata Annisa berkaca-kaca mengingat apa yang barusan suaminya katakan.
"Apa aku bisa membantu menyembuhkannya?" Annisa bertanya dalam hatinya sendiri.
Annisa menyeka air matanya yang akan jatuh dari sudut matanya. Dia mencoba menyeka agar tak jatuh air matanya.
Annisa keluar dari ruang tamu, dia akan berpamitan pada papah mertuanya dan suaminya, karena harus ke butik.
"Pah, Kak, aku ke butik dulu, ya, hari ini rame sekali, kasihan pegawai ku. Vera juga belum bekerja lagi,"pamit Annisa.
"Kamu berangkat sendiri?"tanya Rico.
"Iya, pah,"jawab Annisa.
"Syad, antarkan istrimu, kamu bilang semalam dia demam. Annisa biar Arsyad mengantarmu, nak,"ucap Rico.
"Pah, Annisa bisa sendiri,"ucapnya.
"Aku antar, tunggu sebentar, kakak mandi dan ganti baju dulu, jangan menolak, tunggulah dengan papah di sini,"titah Arsyad.
"Baiklah,"ucap Annisa.
Annisa duduk di samping Rico, mereka kembali membicarakan masalah pernikahan Annisa dan Arsyad. Rico memohon pada Annisa, untuk tidak meninggalkan Arsyad di saat dia seperti ini, karena dia juga membutuhkan Annisa untuk terbebas dari masalahnya itu, dan bergerak dari masa lalunya.
"Pah, maaf. Annisa tadi tidak sengaja mendengar percakapan papah dan Kak Arsyad, apa benar Kak Arsyad seperti itu?"tanya Annisa.
"Ya, seperti yang kamu dengar tadi, Nis,"ucap Rico.
"Apa yang harus Nisa lakukan pah?"ucap Annisa.
"Papah minta, beradalah di samping Arsyad, jangan pergi dari sisinya. Papah yakin suatu saat Arsyad bisa mengerti kamu dan bisa menerima kamu,"tutur Rico.
"Iya, pah. Annisa akan tetap berada di samping Kak Arsyad,"ucap Annisa.
Annisa mengembuskan napasnya dengan kasar, dia tak tau harus bagaimana. Memang jalan satu-satunya adalah dia tetap berada di samping suaminya dan membantu suaminya terbebas dari masalah itu.
"Semoga Kak Arsyad bisa sembuh, pah,"ucap Annisa.
"Iya, Nis,"jawab Rico.
Tak lama kemudian Arsyad keluar dari dalam, dia sudah bersiap untuk mengantar Annisa ke butik. Arsyad terlihat lebih fresh, mengenakan kaos yang lumayan ketat dengan celana jeans.
"Sudah siap, Nis?"tanya Arsyad.
"Iya, kakak sudah, ayo berangkat,"ajak Annisa.
"Ayo." Arsyad berpamitan dengan Rico, begitu juga Annisa.
"Kalian hati-hati, biar anak-anak di sini dengan papah,"ucap Rico.
"Iya, pah, kami berangkat dulu,"pamit Arsyad.
Arsyad dan Annisa berjalan beriringan menuju ke mobil. Arsyad membukakan pintu mobilnya dan menyuruh Annisa masuk ke dalam. Arsyad mengemudikan mobilnya menuju ke butik Annisa. Mereka hanya terdiam di dalam mobil, tidak ada kata sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.
"Kak,"
"Nis,"
Mereka menyapa bersama dan saling memandang. Mereka menyunggingkan senyuman bersama. Baru kali ini Annisa melihat suaminya tersenyum seperti itu.
"Ada apa?"tanya Arsyad.
"Gak apa-apa, kakak mengantar aku apa kakak tidak sibuk?"tanya Annisa.
"Tidak, ini hari Minggu, kakak Free,"ucap Arsyad.
"Tumben, biasanya Minggu juga kakak pergi, ke rumah kak Mira mungkin, ini tidak ke sana?"tanya Annisa.
"Tidak, aku ingin menemani kamu di butik sampai kamu pulang,"ucap Arsyad.
"Kasihan papah di rumah sendirian, lebih baik kakak mengantar Nisa saja, setelah itu kakak pulang, nanti aku pulang pakai taxi,"ucap Nisa.
"Papah sama anak-anak, aku akan temani kamu, jangan membantah," ucap Arsyad.
"Ya sudah, terserah kakak saja, aku nurut,"ucap Annisa.
"Gitu dong, istri itu nurut suami,"
__ADS_1
"Jadi kakak tidak bisa memberikan kewajiban kakak juga aku harus nurut? Dan tidak menegur kakak? Kak, mau sampai kapan kita seperti ini? Maaf aku bertanya seperti ini, aku istri kakak,"ungkap Nisa pad Arsyad.
Arsyad hanya terdiam mendengar pertanyaan Annisa, dia masih berpikir, bagaimana caranya memberitahu Annisa tentang apa yang sedang ia alami sekarang.
"Kak,"panggil Annisa.
"Iya, Nis." Arsyad memandang wajah Annisa yang sedang menatap ke luar dengan tatapan kosong.
"Kamu manggil kakak tapi diam, ada apa Annisa?"tanya Arsyad.
"Maaf kak, aku tadi mendengar percakapan kakak, apa benar kakak mengalami hal itu?"tanya Annisa
"Kamu mendengarnya?"tanya Arsyad yang setengah tidak percaya.
"Iya, apa karena itu kakak tidak bisa menyentuhku? Dan, apa kakak tidak ingin menghilangkan semua itu, lalu memperbaiki hubungan ini?"tanya Annisa.
"Aku tidak tau, Nis. Kenapa aku bisa seperti ini,"ucap Arsyad.
"Berhentilah meratapi masa lalu, kak. Hidup kakak ke depan, bukan ke belakang, maaf bukan Annisa menggurui kakak, dan bukan karena Annisa menuntut hak Annisa untuk mendapatkan apa yang di rasakan seorang istri,"tutur Annisa.
"Lalu kakak harus bagaimana, Annisa?" tanya Arsyad.
"Apa kakak ingin memperbaikinya?"tanya Annisa.
"Iya, kakak akan berusaha memperbaikinya,"jawab Arsyad.
"Apa kamu mau membantunya, Annisa? Atau kamu tetap pada pendirianmu, untuk berpisah dengan kakak?"tanya Arsyad.
"Kalau kakak ingin memperbaikinya apa salahnya aku membantu kakak, suami aku sendiri. Kecuali kalau kakak tetap ingin seperti itu dan ingin hidup dengan masa lalu kaka, aku lebih memilih berpisah dengan kakak,"ucap Annisa.
"Kamu yakin akan membantu kakak?"tanya Arsyad sekali lagi.
"Iya, kak. Annisa akan membantu kakak, tapi kakak juga harus sedikit demi sedikit move on dari masa lalu kakak. Annisa tidak menyuruh kakak melupakan. Setidaknya, kakak bisa menutup masa lalu kakak di ruang hati kakak yang paling dalam. Kakak pasti bisa kok, kasihan kak Mira juga kalau kakak seperti ini, menyiksa diri kakak,"tutur Annisa.
"Iya, Nis. Kakak akan berusaha, bantu kakak, ya,"pinta Arsyad.
"Iya, itu pasti, kak." Annisa menggenggam tangan Arsyad untuk meyakinkan suaminya.
"Kakak pasti bisa, bisa melalui ini, percayalah,"ucap Annisa.
"Iya, terima kasih, Annisa." Arsyad mempererat genggaman tangan Annisa.
"Sama-sama,"ucap Annisa.
Mereka sudah sampai di depan butik Annisa. Annisa dan Arsyad segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam butik Annisa. Annisa masuk ke dalam ruangannya untuk menaaruh tasnya dan melihat laporan keuangan butik selama tiga hari. Arsyad duduk di sofa depan meja kerja Annisa. Dia memerhatikan Annisa yang sedang serius dengan pekerjaannya.
Arsyad mendekati Annisa yang sedang sibuk, ia menarik kursi agar duduk di samping Annisa. Dia ingin tahu, apa yang sedang di kerjakan istrinya.
"Masih sibuk?"tanya Arsyad.
"Lumayan,"jawab Annisa.
"Mau aku buatkan kopi atau coklat?" Arsyad menawari kopi atau coklat untuk Annisa.
"Ehmm…boleh, kakak mau membuatkan?"tanya Annisa.
"Dengam senang hati,"ucap Arsyad.
"Mau coklat atau kopi?"tanya Arsyad sekali lagi.
"Coklat,"jawab Annisa.
"Oke, tunggu sebentar,"ucap Arsyad.
Annisa menganggukan kepalanya. Arsyad pergi ke pantry untuk membuatkan coklat panas untuk Annisa dan untuk dirinya. Annisa akan mecoba membantu suaminya menghadapi maslahanya. Entah itu akan berhasil atau tidak.
"Perjalanan baru kita akan segera di mulai, kak. Aku harap kakak bisa menerima pernikahan ini,"gumam Annisa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
♥️happy reading♥️
maaf baru bisa up, ini saja sedikit, aku lagi sibuk sekali. maaf ya kakak-kakak semua...🙏😊
__ADS_1