
Malam harinya, semua berkumpul di ruang tengah seusai makan malam. Dari tadi Shifa terlihat melepas rindunya bersama Leon, ya dia bergelayut manja dengan Leon, seperti rindunya terobati setelah lama tak melihat pamannya itu. Dulu memang Shifa sangat tidak suka dengan Leon, tapi setelah dia tau, Leon tulus dan tudka memaksa bundanya lagi, Shifa semakin dekat dengan Leon.
Arsyad merasa sedikit tidak enak hati melihat Shifa yang begitu dekat dengan Leon. Ya, Shifa juga dekat dengan dirinya, namun tak secia saat dengan Leon. Mungkin saja, saat ini Shifa senang karena Leon menjanjikan sesuatu pada dirinya. Entah apa yang di janjikan Leon pada Shifa. Malam ini Naura dan Rayhan juga di rumah Arsyad. Mereka juga berkumpul bersama di ruang keluarga.
"Leon kamu di sini masih lama, kan?"tanya Naura.
"Aku tidak akan lama di sini, kalau lama, bagaimana dengan pekerjaanku di sana, Ra. Oh ya, bibi sehat?"
"Sehat, main ke sana, mamah sangat menunggu kedatanganmu dari kemarin,"
"Oke, besok aku ke sana, apa paman Yo pulang ke sini?"tanya Leon.
"Papah baru saja berangkat ke Jerman kemarin, Le. Oh iya, kamu dulu sekolah di sini sampai kelasa berapa, Le?"
"Kelas 2 SMP, dan kelas 3 nya kan pindah, Ra," jawab Leon.
"Kamu dulu SMP nya di sini, Leon?"tanya Annisa
"Iya, dulu aku sekelas sama Naura kelas 1 nya," jawab Leon.
"Iya, kan Ra, dulu kita satu kelas waktu kelas 1 nya?"tanya Leon pada Naura.
"Iya, bener, kita dulu kelas 1 sekelas. Kamu masih ingat cewek yang sering kamu goda, yang masih kelas 5 SD dulu, gila kamu suka sekali godain cewek di bawah umur." Naura ingat waktu dulu dia SMP Leon sering sekali menggoda salah satu cewek yang masih kelas 5 SD, di sekolah dasar depan SMP nya.
"Kamu masih ingat saja, aku saja sudah lupa, eh tapi aku punya fotonya dia lho, Ra. Aku dulu curi foto-fotonya dia, waktu aku bawa kamera jaman dulu ke sekolah, pas perpisahan kakak kelas," ucap Leon.
"Masa sih? Masih ada fotonya?"tanya Naura.
"Gak tau, ada sih albumnya, tapi aku lupa naruhnya," jawab Leon.
"SMP kamu kan yang sekarang SMP Najwa dan Shifa kan, sayang?"tanya Rayhan.
"Ehh…iya..ya..,"jawab Naura.
"Berarti kita seumuran ya, Le?"tanya Rayhan.
"Iya, juga ya, sudah tua ya aku?" Leon bertanya pada diri sendiri sambil tertawa.
"Makanya nikah dong, kan udah tua," sahut Alvin.
"Al, apaan sih, mau nikah bagaimana, aku tidak ada pacar. Lagian kamu, nyuruh-nyurh, kaya kamu saja udah nikah," tukas Leon.
"Kalian dari mau berangkat sampai sekarang masih saja berdebat," lerai Diki.
"Oh, ya, Pak Rico, Arsyad, Annisa, besok siang saya, Alvin, Zidane, dan Leon akan ke rumah saya, ya memang kedatangan saya ke sini, juga untuk merenov rumah saya yang ada di sini, selain mengantar Leon," ucap Diki.
"Aku kira Pak Diki akan di sini selama beberapa hari," jawab Rico
"Iya paman, paman di sini saja, kan rumah paman juga sedang di renov," imbuh Arsyad.
"Terima kasih, Nak Arsyad, paman tidak bisa, jadi selama paman merenov rumah, paman akan tinggal di sini, dan tadi, paman sudah menyuruh penjaga rumah paman untuk membereskan kamar agar besok sudah bisa kami tempati,"ucap Diki.
"Yah, paman, Nisa kira paman akan di sini lama,"ucap Annisa
"Memang paman akan lama tinggal di sini, tapi di rumah paman,"
"Lalu kamu akan ikut paman, Le?" tanya Arsyad.
"Iya, aku juga ingin bertemu bibi, kalau aku kan paling 3 hari di sini, Syad," jawab Leon.
"Jadi besok paman tidak tidur di sini?"tanya Shifa.
"Iya, sayang, besok paman mau tidur di rumah mamah Tante Naura," jawab Leon.
"Yah….gak seru dong," ucap Dio.
"Kan masih bisa ke sini Dio, nanti paman main ke sini kok,"ucap Leon.
"Oke, janji ya sering ke sini,"ucap Shifa.
"Iya, sayang. Oh, iya besok sebagai gantinya paman tidak tidur di sini lagi, besok paman Antar kamu ke sekolah,"ucap Leon.
"Apa paman tau sekolah Shifa?"tanya Shifa.
"Tau, sayang, kan dulu sekolahan Shifa sekolahan paman juga," jawab Leon.
"Hei, kamu sudah berpuluh-puluh tahun tidak di sini, nanti bukannya sampai di sekolahan, malah ke panti asuhan," sahut Naura sambil bercanda.
"Kan mereka sama sopir, Ra. Aku tinggal ikut aja, memang aku lupa jalan di sini, semua sudah berubah, Ra. Kalau gak lupa aku gak ajak paman Diki, aku ke sini sendiri, siapa tau dapat jodoh di sini,"ucap Leon.
Mereka berkumpul hingga malam, dan hanya malam ini Leon dan lainnya menginap di rumah Arsyad. Karena mamahnya Naura juga menanti kedatangan Leon yang lama tak melihat Leon.
Semua kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat. Leon belum bisa memejamkan matanya, dia keluar dari kamar karena mendengar dengkuran keras dari Alvin yang sudah tertidur sangat pulas. Leon keluar dari kamarnya, dia menuruni anak tangga. Leon berjalan ke arah teras belakang rumah Arsyad. Sebelum itu, Leon membuat kopi di dapur, karena jam segini Mba Lina dan Mas Joko sudah di ruamhnya, jadi Leon membuat kopi sendiri.
Leon sedang menunggu air panas yang ia rebus mendidih, dia duduk di kursi yang ada di dapur. Tak lama kemudian Arsyad datang ke dapur untuk mengambil air putih. Arsyad sedikit kaget mendapati Leon yang ada di dapur. Arsyad mendekatinya dan menyapa Leon.
"Leon, kamu sedang apa?" tanya Arsyad.
"Mau buat kopi, aku belum bisa tidur, Syad," jawab Leon.
"Apa kamu biasa begadang?"
"Iya, aku sering begadang, Syad. Makanya jam segini belum bisa tidur," jawab Leon.
"Annisa sudah tidur?" tanya Leon.
"Belum, dia masih mengerjakan pekerjaan kantornya," jawab Arsyad.
"Kebiasaan sekali dia, aku kira setelah dia menikah, dia lebih fokus di rumah, apa dia masih bekerja?"
"Iya, Annisa masih bekerja di kantornya, dan tadi dia tidak berangkat, makanya Rere mengemail laporan pada Annisa, jadi Annisa sekarang sedang mengeceknya," jawab Arsyad.
"Dia memang benar-benar wanita karir, karir nya bagus, dan… ."
"Dan kamu menyukainya?"potong Arsyad.
"Ya, aku menyukainya, tapi itu dulu, Syad. Sekarang bahagia Annisa ada di tanganmu, aku tau dari tadi siang kamu cemburu, itu sangat wajar, Syad. Tenanglah, aku tidak akan merebutnya lagi, dia sudah ku anggap seperti adikku sendiri, tidak lebih dari itu, tidak usah takut aku merebutnya. Cinta sejati kamu adalah Annisa, bukankan dia cinta pertamamu?"
"Bagaimana kamu bisa tau, dia cinta pertamaku?" tanya Arsyad.
__ADS_1
"Ya tau, karena sebelum aku memutuskan aku tidak jadi menikah Annisa, aku mencari tau dulu siapa laki-laki yang menjadi masa lalunya. Dan, ternyata kamu juga termasuk salah satu laki-laki yang mencintai Annisa, karena dulu kamu tidak tau, Annisa adalah kekasih adik kandungmu," jelas Leon.
"Wah, kamu sampai detail sekali, mencari tau tentang Annisa, Le,"
"Iya, karena aku mencintainya waktu itu, ya walaupun aku sangat mencintainya, aku tau perasaan Annisa hanya untuk mendiang suaminya," ucap Leon.
Mereka lama mengobrol dan tanpa terasa Arsyad semakin akrab dengan Leon, hingga dia lupa kalau tujuan dia ke dapur adalah mengambilkan air putih untuk Annisa. Leon mengobrol sambil membuat kopi untuk dia dan untuk Arsyad. Ya, sudah lama Arsyad tidak meminum kopi, akhirnya dia mau meminum kopi lagi, karena Leon sudah terlanjur membuatkan nya.
"Ini kopinya, Syad." Leon menaruh kopi di depan Arsyad yang ia buatkan untuknya.
"Sebenarnya aku tidak minum kopi sekarang, tapi ini sudah di buatkan, aku harus meminumnya,"ucap Arsyad.
"Bagaimana kalau kita ngopi di depan kolam renang?" ajak Arsyad.
"Boleh, sebentar aku ambil rokok ku, boleh kan aku merokok, mumpung anak-anak sudah tidur dan tidak ada Annisa juga," ucap Leon.
"Boleh, silakan,"
"Pantas saja Annisa tidak suka, dia memang sama sekali tidak suka dengan laki-laki yang merokok,"gumam Arsyad.
Mereka berjalan ke arah kolam renang, dan mengobrol di samping kolam renang sambil bermain catur. Mereka mulai akrab, dan mengobrol dengan santai soal bisnis. Arsyad merasa malu, karena dia menilai Leon yang tidak-tidak. Ya, karena merasa cemburu jadi dia menilai Leon tidak baik.
"Kamu tidak ada niatan bekerja sama dengan perusahaanku?" tanya Arsyad.
"Wah….ini adalah tawaran terhormat dari Alfarizi grup," jawab Leon.
"Jangan seperti itu, perusahaan kamu juga perusahaan terbesar di sana, dan kamu juga CEO termuda di sana,"ucap Arsyad.
"Muda apanya aku sudah tua, mungkin paling muda di sana, karena kebanyakan CEO di sana umurnya di atas aku, padahal di atas sedikit, tetap saja aku di juluki paling muda. Padahal umur kita kan hampir sama, hanya selisih 4 tahun saja," ucap Leon.
"Empat tahun itu selisihnnya banyak, sama dengan Annisa, kamu kok satu angkatan dengan Naura? Padahal kan Naura selisih sama aku 2 tahun, kamu jauh di bawah Naura masa SMP nya satu kelas dengan Naura?"
"Ya, karena umur 3 tahun aku sudah bisa membaca, dan umur 4 tahun aku sudah lancar menulis dan membacanya, jadi mamah mendaftarkan aku SD bareng dengan Naura, walau umurku kecil. Tujuannya sih biar ikutan belajar saja, gak naik kelas pun gak masalah, tapi aku selalu dapat peringkat 5 besar, ya sudah aku naik kelas terus, dan bareng deh seklolahnya sama Naura," jawab Leon.
"Oh…seperti itu, aku kira kamu benar seumuran Naura,"
"Tapi wajah tua aku kan, dengan Naura?" ucap Leon dengan bercanda.
"Iya tua sekali, seperti seumuran aku,"
"Kamu itu, Syad," tukas Leon.
Annisa dari tadi menunggu suaminya mengambil air putih, tapi suaminya tak kunjung datang ke kamarnya. Hingga Annisa selesai mengerjakan pekerjaan kantor, Arsyad tak kunjung datang ke kamarnya.
"Ini kak Arsyad ke mana sih? Kok lama sekali, ngambil air minum di dapur kok sampai setengah jam gini," ucap Annisa lirih sambil menata meja kerjanya.
Annisa akhirnya keluar menuju ke dapur, memastikan suaminya sedang apa di dapur, hingga lama sekali mengambil air minumnya. Dia berjalan cepat ke arah dapur, tapi yang Annisa dapati hanya Rayhan yang sedang membuat kopi.
"Kak Ray, Kakak lihat Kak Arsyad?"tanya Annisa.
"Tidak, kakak baru saja masuk ke dapur untuk membuat kopi,"jawab Rayhan.
"Ehhh…ini gelas ku, kok di tinggal di sini? Terus ke mana Kak Arsyad nya?" Annisa melihat gelas miliknya yang sudah terisi penuh air putih. Dia meneguknya karena sudah benar-benar tidak bisa ia tahan lagi hausnya.
Annisa masih saja bingung ke mana suaminya, dia mengisi gelasnya lagi dengan air putih, dan kembali ke kamarnya dengan membawa gelas miliknya.
Annisa melihat pintu belakang menuju ke kolam renang terbuka, dia mengurungkan niatnya kembali ke kamar. Annisa berjalan menuju arah asap yang yang terlihat dari arah gazebo samping kolam renang. Annisa terus mengikuti dan mengendus bau asap itu.
"Seperti ada asap, ini baunya bau rokok, apa Leon sedang merokok di sini? Berani sekali dia mencemari rumah ku ini dengan asap rokok, uhuk….uhuk…." Annisa berkata lirih dengan terbatuk-batuk karena menghirup asap rokok.
"Kak Arsyad, Leon. Jadi kakak di sini? Pantas gelas ku ini masih ada di meja dapur. Kakak merokok? Kakak minum kopi lagi?" Annisa memberondong pertanyaan pada suaminya.
"Kakak tidak merokok, sayang. Iya, kakak minum kopi lagi, ini buat nemenin Leon saja,"jawab Arsyad.
"Leon, matikan rokoknya, kamu merokok lagi?" tukas Annisa.
"Iya, Nis, aku memang masih merokok," jawabnya.
"Mencemari rumahku saja kamu, Leon. Aku kira kamu sudah tidak merokok lagi." Annisa masih sebal dengan Leon. Apalagi melihat Arsyad minum kopi lagi.
"Kak, kamu kok minum kopi lagi, nanti kalau…."
"Kalau apa, sudah tidak apa-apa, lagian sakit ku kemarin juga bukan karena kopi, kok. Karena ya, kamu tau sendiri lah," ucap Arsyad dengan memotong kata-kata Annisa.
"Iya, deh iya, kalian sama saja, kalau aku bicara tidak mengindahkannya," ucap Annisa dengan kesal.
"Nis, lagian kakak kan baru kali ini minum kopi, kamu sudah selesai kerjaannya?"
"Sudah kak, kakak lama sekali, aku sampai kehausan," tukas Annisa.
Annisa merasa heran dengan suaminya, tadi siang dia sebel sama Leon, sekarang malah akrab sekali, main catur bersama, ngopi dan ngobrol bersama. Annisa sedikit lega, karena tidak sia-sia Leon jauh-jauh dari Berlin ke Indonesia untuk bertamu ke rumahnya dan di sambut oleh suaminya dengan ramah.
"Syukurlah, mereka berdua sudah mulai akrab, kalau saja masih saling diam, aku nya yang bingung sendiri, mau bicara dengan Leon aku gak enak sama Kak Arsyad. Mau bicara mesra di depan Leon dengan Kak Arsyad juga gak enak sama Leon," gumam Annisa sambil melihat tangan Leon yang mengambil kembali sebatang rokok.
"Eits….mau mencemari rumah saya lagi?" Annisa merebut rokok milik Leon dan membuangnya di tempat sampah.
"Aduh….Nis…..itu Rokok di sini tidak ada," tukas Leon.
"Biarin saja, salah sendiri mencemari lingkungan. Dah jangan merokok!"
"Syad, istrimu, ampun menyebalkan sekali dia,"
Arsyad tertawa melihat perlakuan Annisa pada Leon, yang membuang rokok milik Leon ke tong sampah. Annisa memang tidak suka sekali dengan laki-laki perokok. Annisa mengira Leon sudah tak merokok lagi, karena dia janji dulu tidak akan merokok lagi, tapi kenyataannya dia masih berkawan dengan rokoknya.
"Leon, janji mu mana? Dulu katanya mau berhenti merokok?"tanya Annisa.
"Ya, itu dulu, Nis, waktu……."
"Waktu kamu mengejar aku?"tukas Annisa.
"Emmm..ya aku menghargai kamu, kamu kan gak suka dengan laki-laki perokok, jadi aku gak merokok," jawab Leon.
"Kalau udah gak sama aku merokok gitu?"
"Iya, Nis," jawabnya.
"Huh….dasar laki-laki," tukas Annisa.
"Sudah, sudah kalian ribut saja, kan kakak jadi menang." Arsyad akhirnya menang bertanding catur dengan Leon, setelah dia dua kali di kalahkan Leon.
__ADS_1
"Kamu sih Nis, padahal besok kalau suami mu kalah lagi mau traktir aku kopi di cafe miliknya," ucap Leon.
"Memang kakak kalah berapa kali?"tanya Annisa.
"Dua kali, Nis, maklum kakak tidak terlalu bisa main catur," jawab Arsyad.
"Jadi kali ini baru menang?"
"Iya, ternyata harus ada kamu sayang, biar kakak menang." Arsyad menarik tubuh Annisa agar duduk di sampingnya dan mencium pipinya.
"Cium terus….hmm…ada jomblo nih, Syad," tukas Leon.
"Mereka sudah biasa, Le, di kantor aja main sosor-sosoran terus," sahut Rayhan yang tiba-tiba ada di belakang mereka.
"Apaan sih, Rey, kamu pengen?"
"Ya gak gitu, Syad, kan di kantor, sudah mau pulang saja pakai pegang-pegangan dulu," ucap Rayhan.
"Kak, Ray, diam! Jangan di teruskan," tukas Annisa.
"Kamu sekarang galak ya, Nis, setelah menikah sama Arsyad," ucap Rayhan.
"Galak banget, Ray, rokok ku aja di buang tuh di tempat sampah, nyebelin gak,"ucap Leon.
Rayhan tertawa dengan menyuruh Leon menggeser duduknya, Rayhan duduk di samping Leon, mereka semua mengobrol hingga larut malam. Annisa dari tadi menguap berkali-kali, dia tidak enak ingin mengajak suaminya masuk ke dalam kamar, dan akhirnya Annisa masuk ke kamar terlebih dahulu.
"Kak, aku ngantuk sekali, aku tidur dulu, ya," pamit Annisa.
"Iya, sebentar lagi kakak menyusul mu, kakak masih ingin bicara dengan Leon dan Rayhan," ucap Arsyad.
"Oke, aku tidur dulu ya,"
Annisa masuk terlebih dulu ke dalam kamarnya, dia masih merasakan bau asap rokok di bajunya. Annisa segera mengganti bajunya dengan yang bersih dan segera membawa bajunya ke belakang dan memasukan ke mesin cuci.
^^^^^^^
Leon mendekati tong sampah untuk mencari rokoknya. Arsyad dan Rayhan menggeleng-geleng kan kepalanya melihat Leon mengorek-ngorek tong sampah mencari rokok.
"Le, sudah, gak usah di cari, berhentilah merokok, wanita di sini kebanyakan gak suka laki-laki perokok, tar kamu jadi bujang tua kalau merokok terus," seru Rayhan.
"Ah…kamu jangan nyumpahin aku dong, Ray,"
"Benar apa yang Rayhan katakan, kamu gak akan laku-laku kalau masih merokok," imbuh Arsyad.
"Tuh, kamu juga sama saja," tukas Leon.
"Sudah gak usah di cari, mending kamu nyari cewek saja," ucap Rayhan.
"Oke lah, mulai malam ini aku berhenti merokok!" seru Leon.
"Yakin?" tanya Arsyad meyakinkan,
"Yakinlah, kalian nyumpahin aku, sudah-sudah, mulai besok aku tak merokok lagi,"ucap Leon.
"Ya sudah, ayo istirahat, besok aku ke kantor, kalau kamu mau cari rokok kamu lagi silakan, biar nanti di temani mba-mba di sini," ucap Rayhan.
"Mba-mba siapa maksudmu?"tanya Leon.
"Mba-mba berambut panjang, pakai baju putih, dan….."
"Sialan, kamu Ray!" umpat Leon memotong kata-kata Rayhan.
"Sudah ayo masuk," ajak Leon yang sedikit takut.
Mereka masuk ke kamar masing-masing, Arsyad melihat istirnya sudah membaringkan dirinya di tempat tidur dengan membaca buku. Arsyad langsung ke kamar mandi membersihkan diri dan mengganti bajunya sebelum di tegur oleh istrinya karena bau asap rokok. Arsyad keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggangnya menutup bagian bawah tubuhnya. Annisa melihat suaminya seperti itu langsung lari mendekati dan memeluknya.
"Sayang, jangan menggoda kakak, kamu sedang datang bulan,"ucap Arsyad yang masih saja diam di peluakan istrinya tanpa balas memeluknya.
"Kakak, aku ingin meluk saja, tidak menggoda mu, terima kasih, kakak sudah mengerti aku,"ucap Annisa sambil mengecup pipi suaminya.
"Iya lah, kalau kakak gak ganti baju, nanti di suruh tidur di luar," ucap Arsyad.
"Ya seperti itu, kamu jangan ngerokok lho, sebel aku lihat laki-laki perokok, untung saja besok Leon tinggal di rumah mamahnya kak Naura," ucap Annisa.
"Aku jadi tau, kenapa kamu tidak mau menikah dengan Leon, karena dia merokok, kan?" ucap Arsyad.
"Bukan itu saja,"
"Lalu apalagi?" tanya Arsyad.
"Kakak tau kan, di sana kehidupannya bagaimana, masa aku habis memiliki suami seperti Arsyil mau memiliki suami macam Leon, kan tidak balance , kak,"ucap Annisa.
"Tidak balance gimana? jelas Leon lebih kaya raya, lebih tampan, badan lebih oke, dan idaman perempuan sekali, itu," ujar Arsyad.
"Kalau masalah itu, memang tiada tanding, kak. Ini bukan masalah fisik, dan harta, ini adalah masalah keimanan untuk menjadi seorang suami. Aku tidak butuh suami kaya dan rupawan. Aku butuh suami yang seiman, dan tentunya bisa membimbing aku dan anak-anakku ke Surga-Nya," jelas Annisa.
"Masa dari dapat Arsyil yang begitu sempurna lahir dan batin, aku harus dapat Leon, yang hanya terlihat sempurna dalam fisik dan dompet saja, itu bukan type Annisa, kak," imbuh Annisa.
"Lalu kenapa kamu mau dengan kakak? dan tidak menolak saat semua menyuruh kamu menikah dengan kakak?" tanya Arsyad.
Annisa masih berada di depan suaminya dan merangkul kan tangannya di bahu Arsyad. Annisa mencium kilas bibir Arsyad dan menjawab pertanyaan Arsyad.
"Kakak, yang pertama kenapa Annisa memilih kakak, karena kakak adalah amanah dari mendiang istri kakak yang Sholehah, dan amanah dari mendiang suamiku, yang ke dua, restu papah, dan yang ke tiga, restu dari anak-anak dan keluarga lainnya. Lalu yang paling utama, kamu calon imam dunia-akhirat, kak," jawab Annisa.
"Masa iya, aku akan menikah dengan laki-laki seperti Leon, dulu cara dia mendapatkan aku saja, dengan cara yang licik, masa aku mau menikah dengan laki-laki seperti itu? Dia juga suka dunia malam, merokok lagi. Kakak tau kan, pergaulan di luar negeri itu bebas?"ucap Annisa.
"Iya, sayang, kakak tau, terima kasih, kamu sudah memilih kakak, dan sudah mengembalikan cinta sejati kakak, Love You." Arsyad mencium lembut bibir Annisa, Annisa membalasnya dengan lembut.
"Love You too, dosen tampanku." Annisa menautkan bibirnya lagi di bibir suaminya hingga ciuman mereka semakin dalam.
"Ya sudah, jangan cemberut terus, kakak mau pakai baju kakak dan bawa baju ini ke belakang dulu,"
"Iya, jangan lama-lama, kak,"
"Iya, istriku sayang,"
Annisa menunggu suaminya masuk ke dalam kamar, entah kenapa sekarang kalau tidak ada suaminya dia susah sekali untuk memejamkan matanya. Arsyad terlihat masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya setelah menaruh baju kotornya di belakang. Dia langsung merangkak naik ke ranjang dan tidur di samping istrinya. Annisa langsung memeluk erat suaminya dan menenggelamkan wajahnya di bawah ketiak suaminya.
"Tidurlah, mimpi indah sayang." Arsyad mengusap kepala Annisa dan mencium kepala Annisa.
__ADS_1