
Enam bulan telah berlalu. Arsyad sudah semakin terbiasa menjalani hari-harinya tanpa putrinya lagi. Setelah ia menikahkan putrinya dengan seorang Dokter tampan, dia harus rela putrinya mengikuti suaminya ke negara lain.
Ya, sudah 6 bulan ini Najwa berada di Budapest. Dia harus kembali ke Budapest untuk menemani suaminya yang sedang bertugas di sana. Katanya, dia akan menetap di Budapest kurang lebih satu tahun lagi. setelah Habibi menyelesaikan tugasnya di sana, mereka akan kembali ke tanah kelahirannya.
Kini kebahagiaan keluarga Alfarizi sempurna sudah. Dio dan Rania bisa kembali bersatu, dan sekarang dia akan di karuniai anak kembar. Ya, janin yang ada di rahim Rania adalah janin kembar. Betapa bahagianya Arsyad dan Annisa akan memiliki cucu kembar sebentar lagi. Usia kandungan Rania kini memasuki bulan ke-7. Artinya sebentar lagi dia akan melahirkan anak kembar yang lucu-lucu.
Tidak hanya dari Rania dan Dio, kebahagian keluarga Alfarizi bertambah lagi dengan kepulangan Najwa. Dan, dia menikah dengan seorang Dokter yang selalu di harapkan Arsyad untuk menjadi menantunya. Tidak hanya Arsyad saja yang berharap dr.Akmal menjadi menantunya. Rico pun mengharapkan itu. Mengharapkan Najwa bersuami seorang Dokter tampan seperti Akmal.
Harapan dan impian mereka terwujud, Najwa dan Akmal akhirnya menikah setelah melalui lika-liku kehidupan yang membuat Najwa hancur. Hadirnya Akmal kembali, menjadi hidup baru untuk Najwa. Dengan kesabaran Akmal, Najwa akhirnya mau membuka hati untuknya, dan mau menikah dengannya.
Tidak sampai di situ, kabar bahagia juga mereka dapatkan dari Shifa dan Fattah. Tanpa di ketahui oleh Shifa, ternyata Shifa sedang mengandung. Ya, Shifa memang tidak terlalu berharap sekali, karena dia berkali-kali dikecewakan dengan benda pipih dan panjang yang di sebut testpack. Shifa sering dikecewakan dengan testpack. Jadi, saat dirasa ia sedang terlambat datang bulan, ia hanya berhati-hati menjaga pola makan dan tidak banyak beraktivitas terlalu berat.
Hingga Shifa enggan mengecek dia hamil atau tidak, karena dia selalu dikecewakan testpack. Dan, kemarin dia baru saja mengecek kehamilannya. Shifa sudah terlambat datang bulan selama 3 bulan. Dengan dipaksa suaminya, akhirnya dia mengecek kehamilannya. Setelah hampir dua tahun dia menikah, baru kali ini dia melihat dua garis di benda pipih itu. Kebahagiaan kembali menyelimuti keluarga Alfarizi saat itu. Fattah langsung mengajak ke dokter kandungan yang direkomendasikan oleh Dio. Ternyata kandungan Shifa sudah memasuki minggu ke-12. Ya, kurang lebih kandungan Shifa sudah masuk 3 bulan.
Hari ini semua sedang berkumpul di rumah Arsyad. Seperti biasa jika weekend semua berkumpul di rumah abahnya. Dio sekarang sudah mau makan nasi lagi. Mungkin masa ngidamnya sudah habis. Tapi, dia selalu kewalahan sendiri kalau saat malam istrinya tiba-tiba ingin sesuatu. Seperti semalam, dia ingin sekali makan bubur kacang hijau. Dio bingung setengah mati, tengah malam harus mencari bubur kacang hijau untuk istrinya yang tiba-tiba terbangun dan menginginkannya.
Dia terpaksa keluar bersama istrinya mencari apa yang di inginkan istrinya. Beruntung masih ada kedai es bubur kacang hijau yang masih buka hingga pukul 1 malam. Ya, seperti itulah jika istrinya ingin sesuatu di tengah malam. Dio tidak mengeluh dan dia selalu sabar dengan istrinya yang semakin manja dengannya. Dio menikmati semuanya, karena dia pikir, saat nanti tua, dia akan selalu mengingat hal konyol dan lucu saat dia berusaha memenuhi keinginan istrinya saat hamil.
“Sayang, anterin aku potong rambut, yuk?” pinta Rania.
“Eh, jangan di potong, aku gak suka rambut kamu pendek,” jawab Dio.
“Tuh, kan.... aku ingin rambutnya segitu, bagus, kan? Sepertinya cantik kalau aku rambutnya seperti itu.” Rania ingin sekali memiliki rambut sebahu seperti Dian Sastro Wardoyo di iklan Shampo yang terkenal itu. Entah kenapa dia ingin sekali memiliki rambut sebahu seperti Artis cantik itu.
“Enggak! aku gak setuju kamu potong pendek segitu.” Dio menolak permintaan istrinya.
Rania langsung ngambek dan melempar bantal yang sedang ia pegang ke wjah Dio.
“Nyebelin!” Rania pergi dari depan televisi lalu dia masuk ke dalam kamarnya.
“Ya Allah, ngambek lagi. Aku gak suka dia rambutnya pendek,” ucap Dio lirih.
Dio memijit keningnya. Dia tidak tahu, istrinya setiap hari semakin banyak maunya yang harus di turuti. Dio berusaha sabar dan menuruti apa yang istrinya mau. Tapi, kali ini dia benar-benar tidak setuju kalau istrinya ingin memendekkan rambutnya. Dia tidak suka kalau rambut panjang istrinya di potong hingga sebahu.
“Kenapa Rania?” tanya Arsyad yang tiba-tiba berada di belakang Dio.
“Biasa, Bah. Ada yang dia inginkan, tapi aku tidak menurutinya,” jawab Dio.
“Memang dia ingin apa sampai ngambek seperti itu? Sampai bantal di lempar ke wajahmu?” tanya Arsyad lagi.
“Turuti saja, selagi kamu mampu. Biasa, orang hamil itu hormonnya tidak stabil. Sering marah-marah dan ngambek tidak jelas, sering minta apapun yang sedang ada dalam pikirannya. Dia lihat sesuatu, tiba-tiba menginginkannya dan harus di turuti,” ujar Arsyad.
“Nah itu abah, tadi ada iklan Shampo tuh di TV. Ehh... dia ingin rambutnya seperti bintang iklannya. Pendek lagi rambutnya, sebahu saja. Aku gak suka abah, lihat Rania rambutnya pendek hanya sebahu saja. Ah...Dio gak suka abah,” ucap Dio dengan gusar, karena dia bimbang antara menuruti keinginan istrinya atau tidak.
Jika ia menurutinya, dia tidak akan melihat rambut panjang Rania yang indah dan cantik itu. Tapi, kalau dia tidak menurutinya, yang ada dia di suruh tidur di sofa, seperti kemarin saar Rania ingin makan gudeg Jogja tengah malam. Dan, alhasil paginya dia langsung ke Jogja sekalian mengajak liburan istrinya 2 hari.
“Turuti saja, kan nanti rambutnya akan panjang lagi, Nak. Ini moment berharga sekali, menuruti semua apa yang istrimu mau saat dia hamil,” tutur Arsyad.
“Iya, juga sih. Ya sudah deh, Dio ngalah. Huh...wanita memang tidak mau kalah.” Dio sebenarnya tidak lega mau melihat istrinya berambut pendek, tapi kata abahnya ini momen berharga untuknya, apalagi bisa menuruti apa yang istrinya inginkan.
“Nah, gitu dong. Sana ajak Rania ke Salon. Jangan buat dia ngambek. Sambil menunggu Shifa datang, kamu ke salon dulu,” ujar Arsyad.
“Iya, Abah. Terima kasih sarannya. Abah memang terbaik,” ucap Dio dengan memeluk Abahnya.
Dio berjalan ke kamarnya. Tapi, pintu kamarnya terkunci. Rania mengunci pintunya, karena dia marah dengan Dio.
“Yah, benar-benar ngambek nih. Pakai di kunci lagi pintunya,” ucap Dio lirih.
“Sayang, buka dong pintunya? Jangan ngambek gitu dong, kasihan adik bayinya,” ucap Dio di depan pintu.
“Biar! Biar anakku tahu, kalau ayahnya jahat sama ibunya!” teriak Rania dari dalam.
“Ih...kok gitu? Buka dong, sayang. Iya...iya... kita ke salon, kamu boleh kok potong rambut. Buka pintunya, sayang.” Dio mencoba membujuk istrinya agar membuka pintunya.
Senyum merekah tampak di wajah Rania saat membukakan pintu kamarnya. Dia bahagia sekali mendengar Dio memperolehkan dirinya memendekkan rambutnya.
“Yakin boleh?” tanya Rania.
“Iya boleh, sayang,” jawab Dio dengan mencium kilas bibir Rania.
“Aku cantik kan? Kalau dipendekin rambutnya?” tanya Rania.
“Mau diapakan saja, kamu tetap cantik, sayang,” jawab Dio.
“Tadi kamu bilang tidak cantik, kalau rambutku pendek?”
“Kamu akan tetap cantik, percayalah.”
__ADS_1
“Jadi, kan? Ayo kita berangkat,” ajak Dio.
Dengan semangat Rania memakai pashminanya. Dia mengambil tas dan berjalan di samping Dio dengan bergelayut manja. Entah kenapa dia ingin sekali memotong rambutnya agar pendek. Rania setiap hari merasa gerah dengan rambut panjangnya. Mungkin karena perut dia mulai membesar. Berat badannya juga sekarang naik. Hingga dia merasa insecure saat sedang bermesraan dengan suaminya.
Dio melajukan mobilnya menuju ke salon langganan istrinya. Rania dari tadi menatap wajahnya di cermin yang ia bawa di tasnya. Dia melihat pipinya yang semakin chubby dan lingkar lengannya semakin besar.
“Sayang, aku gendut sekali sekarang,” ucap Rania.
“Wajar, sayang. Kamu kan sedang hamil. Apalagi ada dua nyawa di perut kamu,” jawab Dio.
“Nanti kalau setelah melahirkan aku tambah gendut lagi gimana?” tanya Rania.
“Ya tidak masalah, aku harus apa?”
“Kok kamu seperti itu jawabnya?”
“Iya, enggak masalah dong, sayang. Mau kamu gendut atau kurus, tidak akan mengurangi kecantikanmu di mataku,” ucap Dio.
“Tapi kan, suami pasti ingin tubuh istrinya seksi, cantik, dan mulus.”
“Kata siapa?”
“Kata aku. Eh...kata semua pria.”
“Aku gak bicara seperti itu. Mau kamu gendut, atau apalah, kamu tetap Raniaku. Kamu tetap cantik, kamu segalanya, mau bagaimana pun bentuk tubuh kamu nanti setelah melahirkan buah hati kita.”
“Tapi aku mau diet, kalau sudah selesai memberi ASI anak kita.”
“Iya, boleh. Tapi ingat, yang penting kamu sehat, selalu bahagia, dan satu lagi, kamu masih ada di sampingku. Aku tidak peduli mau kamu kurus, gendut, atau apalah, yang penting kamu sehat dan masih berada di sisiku, karena kamu satu-satunya wanita tercantik dan tersegalanya untukku.”
Rania memang sensitif sekali sekarang. Dia mudah sekali berubah moodnya. Seperti tadi yang tiba-tiba membicarakan badannya yang sekarang gemukan. Dio juga sekarang lebih hati-hati jika bicara, salah sedikit saja membuat Rania ngambek dan ujung-ujungnya dia di suruh tidur di sofa.
^^^^
“Abah, Arkan berangkat Futsal,” pamit Arkan.
“Hati-hati, jangan malam-malam pulangnya, kita akan makan malam di luar. Ada sahabat bunda datang dari Berlin, mereka mengundang kita makan malam di luar,” ucap Arsyad.
“Siap, Komandan!” ucap Arkan dengan memberikan hormat pada Arsyad.
“Hati-hati, jangan ngebut bawa motornya,” ucap Arsyad.
Annisa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat anak bungsunya yang sudah beranjak dewasa itu, yang setiap sore hobinya keluar rumah untu Futsal atau kumpul dengan teman-temannya. Annisa duduk di samping suaminya setelah selesai membuatkan kue lumpur untuk Shifa dan Rania.
“Arkan sudah dewasa ya, Bah? Sebentar lagi dia akan kuliah,” ucap Annisa.
“Iya, tidak terasa kita sudah semakin tua ya, Bun? Apalagi jika abah lihat Papah, beliau sudah semakin menua. Beruntung kami bisa merawat papah hingga usianya senja.”
“Kita juga mau memiliki cucu, dan sebentar lagi Raffi akan menikah dengan Alin.”
“Iya, tapi mereka ada-ada saja hambatannya, jika mau melangkah lebih jauh.”
“Memang ada apa lagi mereka?”tanya Annisa.
“Mantan suami Alina mendatangi rumah Alina. Meminta Alina kembali lagi, dan dia mengancam pada Raffi, jika dia mendekati Alina lagi, dia akan berbuat sesuatu, entah itu apa,” jawab Arsyad.
“Bunda tahu kan? Pemilik Hotel Y yang bintang lima itu?” tanya Arsyad.
“Iya tahu, itu Hotel milik keluarga Wiryawan, kan?”
“Nah, itu mantan suami Alina anak dari Wiryawan.”
“Dulu kan Wiryawan terkenal orang tidak baik, abah?”
“Memang, dia Rentenir. Dan, ibu Alina dulu tercekik hutang dengan dia. Jadi mau tidak mau, sebagai ganti untuk melunasi hutang ibunya, Alina di nikahkan dengan anaknya. Namun, mantan suami Alina menceraikan Alina setelah sebulan atau berapa bulan menikah. Setelah itu sudah, hutang keluarga Alina lunas. Itu yang abah tahu dari Alina.” Jelas Arsyad.
“Dia yang meninggalkan, tapi dia malah meminta Alina kembali? Untuk apa coba?” tanya Annisa.
“Mana Abah tahu. Ya, semoga saja masalah ini cepat selesai. Entah nanti bagaimana jadinya. Abah tetap ingin Raffi dengan Alina.
Alina memang masih merasa terancam. Karena mantan suaminya tiba-tiba datang ke rumahnya dan ingin mengajaknya kembali lagi. Setelah sekian lama, dan sudah betahun-tahun, mantan suami Alina kembali lagi. Dia meminta Alina kembali lagi.
Alina tidak mau mengulang sakitnya lagi, saat hidup dengan suaminya yang jahat menurutnya. Memang mantan suami Alina sering melakukan kekerasan fisik pada Alina.
Alina menceritakan semua pada Raffi, dan Raffi meminta saran dengan abahnya apa yang harus Raffi lakukan saat ini. Karena mantan suami Alina mengancam Raffi akan menghancurkan Raffi dan Alina dengan cara apapun.
Arsyad hanya bilang pada Raffi, kekerasan jangan dilawan dengan kekerasan. Dia boleh kasar, tapi kita jangan membalas dia dengan kekasaran. Dan, hingga sekarang Raffi menghadapi semua itu dengan tenang. Dia yakin, kalau manatan suami Alina hanya mengancam saja.
__ADS_1
^^^
Shifa sangat suka sekali dengan kue lumpur buatan bundanya. Dia lagi-lagi bolak balik mengambil kuenya. Saat dari dapur dia melihat abah dan bundanya masih duduk berdua dan mengobrol di ruang tengah. Shifa menghampiri bunda dan abahnya, karena dia ingin bertanya sesuatu pada bundanya.
“Bunda, apa benar Paman Leon sama Tante Rere akan ke sini?” tanya Shifa.
“Iya, Fa. Mereka mengajak kami semua makan malam di luar,” jawab Annisa yang masih duduk di ruang tengah bersama suaminya.
“Shifa diajak tidak?” tanya Shifa.
“Pasti dong. Kita semua akan makan malam bersama dengan Paman Leon, jawab Annisa.
“Aku ingin lihat Thalia sekarang seperti apa. Dulu dia lucu sekali waktu bayi, matanya bulat dan bola matanya yang unik berwarna perak. Sungguh lucu dan menggemaskan sekali dia, apalagi pipi chubbynya,” ucap Shifa.
“Dia sudah seumuran Arkan, Shifa. Adiknya juga sudah besar, sudah mau masuk SMP.”
“Wah, dia pasti jadi gadis cantik sekali.”
“Pastinya. Tante Rerenya cantik, dan Paman Leonnya juga....”
“Juga tampan?” tukas Arsyad.
“Cie...abah cemburu. Ah sudah, Shifa mau ke dalam. Abahnya lagi cemburu. Hayo...bunda, abah cemburu tuh.”
“Abahmu yang bilang, bukan bunda. Salah sendiri di bawa ke hati,” ucap Annisa.
Shifa hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat bunda dan abahnya seperti anak remaja yang sedang di landa cemburu.
“Cie...mau ketemu Leon,” ledek Arsyad, tapi dengan hati yang sedikit cemburu.
“Iya dong, kenapa memang? Kamu juga sering ketemu Lintang,” jawab Annisa.
“Kan aku ketemu dia sama kamu. Kamu mau menemui Alvin. Lintang sekarang jadi sepupu kamu malah di cemburuin!”
“Gak usah ngegas dong, Abah... Leon juga kan menikah dengan sahabatku, lalu apa yang di cemburuin dari Leon?”
“Kamu bilang dia tampan,” jawab Arsyad dengan lirih.
“Yang bilang kan abah, bukan bunda,”
“Kalau abah gak menukasnya juga bunda mau bilang tampan, kan?”
“Tidak,”
“Bohong,”
“Ya sudah kalau tidak percaya,”
Annisa kesal dengan suaminya. Pasti kalau sudah berbicara soal Leon jadi salah paham seperti ini.
“Ya sudah, kita batalin makan malam dengan Rere,” ucap Annisa dan langsung meninggalkan Arsyad ke dalam.
Arsyad menyusul istrinya yang sudah masuk ke dalam kamar dan sedang duduk di tepi ranjang. Dia duduk di samping istrinya dan mencium tangannya.
“Maafkan abah, jangan cemberut dong, masa gini. Kita mau punya cucu lho,” ucap Arsyad dengan merayu istrinya.
“Lagian abah gitu, sih.”
“Ya sudah, maafkan abah. Abah gak akan cemburu lagi.”
“Abah, lagian apa gunanya sih, selalu uring-uringan kalau bahas Leon. Kemarin saat Rere pulang dan ingin mengajak kita makan malam abah menolak, karena abah cemburu lagi. Apanya coba yang di cemburuin? Aku milik abah, sudah paten, tidak akan berpindah ke lain hati, abah.”
“Habisnya, Leon kalau menatap kamu seperti itu. makanya pas mereka ajak kita makan malam setelah bertemu di rumah, abah menolaknya. Abah tidak mau istri abah di lihat lelaki dan cara menatapnya seperti itu.”
“Ya Allah, Abah... Sampai kapan abah mau cemburu seperti itu. kalau Leon masih menginginkan bunda, pasti dia tidak akan menikahi Rere, abah.”
“Sudah, jangan bahas ini. Abah jangan cemburuan gitu ih. Kalau abah ngobrol sama Lintang agak lama juga bunda tidak apa-apa. Karena bunda tahu, dia kan jadi sepupu Bunda, dia istri Alvin.”
“Iya, maafkan Abah, sayang.” Arsyad mencium Annisa dan memeluknya.
Ya seperti itu mereka, kadang masalah sepele saja menjadi kericuhan sebentar. Tapi, mereka langsung menyadari dan langsung baikan lagi. seperti sekarang, adanya sedikit kericuhan malah menjadi mereka semakin erat. Seperti tangan Arsyad yang mulai mengeratkan pelukannya pada Annisa.
“Abah, tangannya....” tangan Arsyad sudah berhasil melepaskan pengait penutup dada Annisa.
“Sebentar saja, please...” pinta Arsyad dengan membuka satu persatu kancing baju Annisa.
“Iya, deh iya.”
__ADS_1
Annisa hanya bisa pasrah saat suaminya sudah menginginkannya. Memang setiap seusai mereka berdebat, ujung-ujungnya terjadi pergumulan hebat di atas ranjang. Seperti kali ini. tangan Arsyad sudah melucuti semua penutup tubuh istrinya hingga polos. Dan, yang terjadi adalah pergumulan di atas ranjang berkali-kali.