
Annisa merebahkan dirinya di samping Arsyad, dia langsung memeluk suaminya dengan erat. Rasa khawatir dengan Dio seketika hilang saat dia berada di pelukan suaminya dan mencium aroma wangi tubuh suaminya.
"Kak, aku takut saja, Dio tidak bisa mengendalikan diri,"ucapan itu terlontar dari mulut Annisa.
"Dio pasti tidak seperti itu, aku tau Dio, sudah ini urusan kakak, tidurlah, jangan menangis, semua akan baik-baik saja,"ucap Arsyad yang mencoba menenangkan istrinya.
"Iya, kak." Annisa menenggelamkan wajahnya di dada Arsyad. Dia merasakan nyaman sekali di pelukan suaminya, seakan beban pikirannya hilang.
"Entah mengapa, lelaki di sampingku ini bisa menenangkan hati ku yang gundah. Kak, apa aku sudah mulai mencintai, kakak?" Annisa bertanya-tanya dalam hatinya.
"Annisa, kamu selalu membuatku nyaman sekali, aku semakin takut kamu pergi dariku, apalagi Minggu depan Leon akan ke sini, aku takut kamu kembali dengannya saat keadaanku seperti ini, apa aku mulai mencintaimu, Annisa?" Arsyad memeluk erat istrinya dan batinnya mengeluarkan beberapa pertanyaan.
^^^^^^
Pagi hari seusai sholat subuh, Arsyad mencoba ke kamar Dio dengan membawa kotak surat milik Dio. Annisa ingin ikut ke kamar Dio dengan Arsyad. Namun, Arsyad mencegahnya, dan Annisa menurutinya.
"Kak, Annisa ikut,"pinta Annisa dengan manja.
"Tidak usah, biar kakak saja yang menasehatinya, kamu di sini saja, ya." Arsyad mengusap rambut istrinya dan mencium keningnya.
"Semua akan baik-baik saja, percayalah,"imbuh Arsyad.
"Iya, aku percaya." Annisa memeluk suaminya dengan erat, entah kenapa dia sangat ingin memeluk suaminya.
"Nis, kakak mau ke kamar Dio, sudah jangan meluk terus, nanti peluknya lagi,"ucap Arsyad sambil mengusap punggung Annisa dan kepala Annisa.
"Hmm…aku hanya ingin memeluk kakak." Annisa melepaskan pelukannya dan mencium bibir Arsyad.
Entah kenapa ada dorongan pada Arysyad untuk melakukannya lebih, tapi Arsyad menepiskan ke inginannya karena takut membuat Annisa kecewa lagi.
"Annisa, ini kakak mau menemui Dio, pasti dia cari ini, nanti kita lanjutkan lagi, ya," ucap Arsyad
Annisa merasa malu, demi apa dia ingin sekali bermanja dengan suaminya di pagi ini. Entah ada dorongan apa, membuat ia ingin sekali melakukannya, walaupun Annisa kadang di kecewakan dengan Arsyad yang sama sekali tidak memiliki hasrat.
"Iya, kak. Temui Dio, aku akan membantu Mba Lina memasak, mungkin Mba Lina sudah datang.
Mba Lina memang tidak menginap di rumah Arsyad, karena rumah Mba Lina jaraknya sangat dekat dengan rumah Arsyad. Hanya sekitar 100 meter saja jarak rumahnya dengan rumah Arsyad.
"Ya sudah kakak ke kamar Dio," ucap Arsyad.
Arsyad berjalan ke kamar Dio dengan membawa kotak surat milik Dio.
Sementara di dalam kamarnya, Dio sedang mencari sesuatu. Dia mencari kotak yang berisi surat-surat dari Rania dan dari teman cewek yang lainnya.
"Di mana kotak suratnya?"ucap Dio lirih,
"Terus balasan surat untuk Sheila? Dan surat dari Rania? Duh, kok tidak ada semua, sih, kotak nya juga gak ada," ucap Dio dengan gusar mencari kotak suratnya.
"Tok…tok…tok…" Arsyad mengetuk pintu kamar Dio.
"Nak, Abah boleh masuk?"tanya Arsyad.
"Boleh, Abah, silahkan,"teriak Dio dati dalam.
Arsyad membuka pintu kamar Dio dan masuk ke dalam kamar Dio denagn satu tangan di bekalang punggungnya, menyembunyikan kota surat Dio.
"Abah ingin bicara dengan Dio, ada waktu, kan?"tanya Arsyad.
"Iya Abah,"jawab Dio.
Arsyad mendudukkan dirinya di ranjang Dio, Dio duduk di samping abahnya
"Ada apa, Abah?"tanya Dio.
"Nak, bagaimana di sekolah, apa menyenangkan?"tanya Arsyad.
"Iya, Dio senang di sekolah, teman-teman Dio juga baik,"ucapnya.
"Pasti banyak di sukai cewek, nih, anak abah," ucap Arsyad sambil mencubit pipi Dio.
"Ah, Abah.…wajar Dio manis cewek banyak yang suka,"ucap di dengan percaya diri.
"Kamu boleh suka sama cewek, asal ingat sekolah kamu, dan tau batasan suka sama cewek, Dio paham Abah bicara seperti ini?"tanya Arsyad.
"Iya, Abah, Dio paham. Dio memang sering dekat sama cewek, ceweknya saja yang deketin Dio, Dio biasa saja," ucap Dio.
"Mereka juga sering mengirim surat uum Dio, meminta Dio menjadi pacarnya, lucu, kan?"imbuh Dio.
"Tapi kamu sukanya Rania, kan?"tanya Arsyad.
"Ih…apaan sih, Abah, Rania sahabat Dio saja, Dio tidak suka,"ucap Dio.
"Sahabat tapi sering surat-suratan, iya?"tanya Arsyad dengan meledek anaknya
"Abah tau dari mana?"tanya Dio.
Arsyad memperlihatkan kotak surat milik Dio, dia memberikan pada Dio. Dio sangat terkejut kotak suratnya ada pada Abahnya. Dio tertunduk malu, karena pasti abahnua sudah membaca semua surat-surat yang ada di dalam kotak.
"Sesering ini kamu dan Rania mengirim surat?"tanya Arsyad. Dio hanya terdiam dan tertunduk, perasaannya takut dan malu menjadi satu.
"Nak, kamu boleh menyukai Rania, tapi kalau pacaran abah melarang, kamu masih terlalu dini untuk mengerti apa itu pacaran. Jangan sampai semua ini malah mengendorkan belajar kamu,"tutur Arsyad.
"Bah, Dio memang suka Rania, Dio tidak pacaran. Abah, Dio masih tetap fokus sekolah kok, kalau tidak fokus, tidak mungkin kalau setiap ulangan Dio mendapat nilai bagus. Apalagi Rania, dia pandai sekali Abah,"ucap Dio.
"Kamu boleh suka sama cewek, suka sama Rania, tapi harus tau batasannya, nak. Kalian masih remaja, masih panjang masa depan kalian, jangan sampai masa depan kalian hancur karena pacaran,"tutur Arsyad.
__ADS_1
"Iya, Abah. Dio tau batasan pacaran, tau harus bagaimana pacaran yang baik,"ucap Dio.
"Ingat pesan Abah, kamu harus fokus dengan sekolah," tegas Arsyad.
"Iya Abah, Dio akan fokus sekolah,"ucapnya.
"Abah akui, kamu memang mirip dengan ayahmu. Ayahmu juga hebat, dia laki-laki bertanggungjawab dan hanya mencintai bunda kamu saja, padahal banyak sekali wanita yang mendekati ayah kamu, dia selalu menjaga bunda kamu dari pacaran hingga mendjadi istrinya. Kamu juga harus lebih baik dari ayahmu,"tutur Arsyad.
"Jangan cemberut lagi, Abah hanya menasehati mu, agar kamu menjadi anak yang baik, membanggakan orang tua, khususnya bunda dan mendiang ayahmu. Jangan buat mereka kecewa." Arsyad menepuk bahu Dio.
"Iya, Dio janji Abah, Dio akan menjadi anak yang membanggakan untuk bunda, ayah dan Abah,"ucapnya.
Arsyad memeluk anaknya, dia memang khawatir dengan pergaulan Dio, apalagi dia sudah bisa menyukai cewek dan menyatakan cinta pada cewek. Namun, dia percaya, kalau Dio adalah anak yang baik, dia tau batasan-batasan dalam bergaul dengan cowok atau cewek di sekolahannya.
"Ya sudah, ini Abah kembalikan kotak suratnya, kamu mandi dan siap-siap ke sekolah." Arsyad memberikan kotak surat milik Dio, dan menyuruhnya siap-siap ke sekolah.
"Iya Abah, terima kasih, sudah menjadi abah yang baik untuk Dio dan Kak Shifa. Dio akan selalu ingat kata Abah, dan Dio tidak salah menitipkan bunda pada Abah. Dio minta, jaga bunda, sayangi bunda, jangan buat bunda menangis lagi. Karena ayah tidak pernah membuat bunda menangis,"ucap Dio.
"Itu pasti, sayang. Maafkan Abah, kemarin Abah sempat mendiami bunda, tapi kali ini Abah tidak akan mendiami bunda lagi, Abah akan selalu membuat bunda tersenyum dan bahagia, Abah janji,"ucap Arsyad.
"Dio pegang janji Abah, jika abah membuat bunda menangis lagi, Abah berhadapan dengan Dio,"ucap Dio.
"Siap! Abah akan pegang janji Abah, sudah sana mandi, Abah akan membatu bunda di dapaur,"ucap Arsyad.
"Gitu dong, harus mesra terus,"ucap Dio.
Arsyad keluar dari kamar Dio, dia langsung menuju dapur, karena dia tau, Annisa masih menyimpan kekhawatiran pada Dio masalah surat tadi.
Arsyad memeluk istrinya dari belakang yang sedang mengiris sayuran. Annisa terjingkat karena kaget ada seseorang yang langsung memeluknya.
"Kakak, mengagetkan sekali, kamu. Untung pisau ini tidak aku lempar ke arah kamu!"seru Annisa.
"Pumpung gak ada Mba Lina, aku ingin meluk kamu. Kamu masak sendiri?"tanya Arsyad.
"Tidak, tadi mba Lina sudah selesai memasak, aku mau membuatkan sandwich untuk kamu,"ucap Annisa.
"Lalu ke mana Mba Lina?"tanya Arsyad lagi.
"Masih belanja, semua sayuran tinggal sedikit," ucap Annisa yang masih sibuk dengan kegiatannya.
"Gimana Dio?"tanya Annisa.
"Dia, baik- baik saja. Tenang dia anak baik, dia tau bagaimana car berteman dengan perempuan, kamu tidak perlu khawatir," ucap Arsyad sambil mengusap kepala Annisa.
"Syukurlah, ya sudah kita sarapan, ini sandwich buat kakak, mau di bawa ke kantor, kan?"tanya Annisa.
"Iya dong, biar kerjanya tambah semangat,"ucap Arsyad sambil menarik hidung Annisa.
"Lalu, hari ini jadi ke dokter?"tanya Annisa.
"Jadi, nanti sebelum ke kantor kita ke dokter, kamu mau menemani?"tanya Arsyad.
Seperti biasa Arsyad memanggil anak-anaknya untuk sarapan, dan kali ini adalah giliran Dio yang di gendong Arsyad.
"Serius ini mau gendong? Kamu sudah punya pacar lho," bisik Arsyad sambil meledek putranya.
"Iya, dong, masa tidak. Ini kan jatahnya Dio di gendong abah," ucap Dio.
"Abah, Dio cuma berteman saja sama Rania,"ucapnya.
"Iya, iya, percaya. Ayo naik ke punggung Abah,"ucap Arsyad.
Arsyad memang sayang dengan anak-anaknya. Seperti itu kedekatan mereka saat bersama, sama saja dengan Annisa, di juga sangat dekat dengan anak-anaknya.
"Dio, kamu sudah besar di gendong terus,"ucap Annisa.
"Ah bunda, sekali aja kok,"ucap Dio.
"Sini peluk bunda." Annisa merentangkan tangannya untuk memeluk Dio.
Annisa mencium wajah Dio dengan bekali-kali, dia menarik hidung Dio yang mirip dengan hidung Arsyil.
"Dio, kamu sudah pacaran?"bisik Annisa.
"Tidak, Dio cuma berteman,"ucapnya.
"Bunda jangan khawatir, Dio akan tetap fokus pada sekolah, Dio cuma membalas surat mereka, nanti di sangka Dio sombong, bunda,"ucap nya.
"Dio harus membahagiakan bunda dulu, baru Dio serius dengan cewek, jangan sedih lagi, ya bunda?" Dio memeluk Annisa dan menciumnya
"Iya, bunda percaya, ayo duduklah, kita sarapan,"ucap Annisa.
"Kok Dio saja yang di peluk, Raffi tidak?"ucap Raffi.
"Raffi…..sini peluk bunda, jagoan bunda, atlet sepakbola nih, harus semangat ya, masih mau menjadi pemain bola, kan?"ucap Annisa. Raffi memeluk erat Annisa, dan mencium Annisa.
"Apa Raffi boleh, menjadi pemain bola?"tanya Raffi.
"Boleh dong, asal jangan lupakan sekolahmu,"ucap Annisa.
"Raffi ingin mengharumkan Indonesia, jika nanti Raffi jadi atlet sepakbola,"ucapnya.
"Makanya belajar yang giat, atlet juga harus pandai,"imbuh Arsyad.
"Sini peluk Abah." Arsyad memeluk Raffi dengan erat, dia anak laki-laki yang penurut sekali, sayang dengan Almira, apapun itu, saat Almira masih ada, dia selalu mengutamakan umminya. Walaupun dia terlihat cuek seperti Arsyad.
__ADS_1
"Tante, pakde, Rana ingin sekali menjadi MUA, seperti mamah, mamah jago menyulap orang menjadi cantik." Rana ikut antusias membahas cita-citanya.
"Wah, pantas nih suka sekalk kalau mainan make-up, kalau mau jadi MUA kamu juga harus pandai, oke,"ucap Annisa sambil mengusap kepala Rana.
"Kalau kak Farrel mau jadi, apa?"tanya Arsyad.
"Mau jadi pembisnis hebat seperti opa,papah dan pakde,"ucpanya.
"Hanya dia yang mau jadi penerus kita, Annisa,"ucap Arsyad.
"Ya, sama kayak kakak dan Arsyil. Kakak punya cita-cita jadi dosen, eh…akhirnya mengurus perusahaan. Arsyil juga, cita-cita jadi mekanik handal, eh…ujung-ujungnya ke perusahaan juga,"ucap Annisa.
"Memang jalannya seperti itu Annisa,"ucap Arsyad.
"Oh ya, kalau begitu Farrel harus belajar yang giat, biar seperti papah, papahmu pandai lho sekolahnya,"tutur Arsyad.
"Siap pakde!"ucpa Farrel dengan antusias.
Farrel dan Rana masih menginap di ruang Arsyad, karena Shita dan Vino belum pulang dari luar kota. Arsyad masih memeluk Raffi, dia bergelayut manja pada Arsyad dan mencium Arsyad berkali-kali.
"Abah, bunda, Raffi sayang kalian, Abah jangan buat bunda sedih lagi, ya?"ucap Raffi.
"Iya, Abah tidak akan membuat bunda sedih, sudah sarapan. Ini Najwa sama Shifa kok belum kelihatan?"tanya Arsyad.
"Papah juga, belum ke sini,"ucap Annisa.
"Itu sih, opa sama Kak Najwa dan Kak Shifa,"tunjuk Dio yang melihat Rico, Shifa dan Najwa dari arah ruang tamu.
"Papah, Shifa, Najwa, dari mana?"tanya Arsyad.
"Tadi dari luar, ini habis melihat tanaman Shifa dan Najwa,"ucap Rico.
"Ada tugas Abah, pelajaran IPA suruh menanam kecambah dan mengukurnya setiap hari, dan menanamnya itu di luar ruangan dan di dalam ruangan,"ucap Najwa.
"Lalu di bedakan, mana yang pertumbuhannya cepat dan lambat, antara di luar ruangan dan di dalam ruangan, gitu kan?"tanya Arsyad.
"Iya Abah, kenapa yang ada di dalam ruangan cepat sekali pertumbuhannya?" tanya Shifa.
"Untuk tanaman yang diletakkan di tempat yang gelap pertumbuhan tanamannya sangat cepat selain itu tekstur dari batangnya sangat lemah dan cenderung warnanya pucat kekuningan, bukan? Hal ini disebabkan karena kerja hormon auksin tidak dihambat oleh sinar matahari. Sedangkan untuk tanaman yang diletakkan ditempat yang terang tingkat pertumbuhannya sedikit lebih lambat dibandingkan dengan tanaman yang diletakkan ditempat gelap, tetapi tekstur batangnya sangat kuat dan juga warnanya segar kehijauan, hal ini disebabkan karena kerja hormon auksin dihambat oleh sinar matahari,"jelas Arsyad.
"Hormon auksin itu apa, Abah?"tanya Shifa lagi.
"Auksin adalah zat hormon tumbuhan yang ditemukan pada ujung batang, akar, dan pembentukan bunga yang berfungsi sebagai pengatur pembesaran sel dan memicu pemanjangan sel di daerah belakang meristem ujung. Auksin berperan penting dalam pertumbuhan tumbuhan. Iya, kan Abah?"jelas Najwa dan bertanya pada abahnya.
"Iya, benar sekali, sudah kalian sarapan, sudah jam 6 lebih, nanti kamu terlambat,"ucap Arsyad.
^^^^^^
Seusai sarapan mereka berangkat sekolah dengan Pak Ali, sopir yang selalu setia pada mereka saat mereka akan pergi ke mana-mana.
"Kalian jangan nakal di sekolah,"ucap Arsyad.
"Iya, Abah,"ucap mereka
Rico, Arsyad, dan Annisa melihat mereka berangkat sekolah dari ruang tamu. Rico mengajak bicara pada Arsyad dan Annisa mengenai kotak surat milik Dio.
"Bagaiman, kalian sudah menasehati Dio?"tanya Rico.
"Sudah, papah tenang saja, aku tau Dio anak yang seperti apa, papah jangan khawatir, semua akan baik-baik saja,"ucap Arsyad.
"Papah hanya takut saja, pergaulan remaja sekarang sangat bebas, papah takut, walaupun Dio sekolah di sekolahan Islam, tapi tetap papah sangat khawatir, apalagi Dio di gandrungi teman perempuannya,"ucap Rico.
"Papah, tau Arsyil seperti apa? Dia sama seperti Dio, malah Arsyad melihat Dio lebih cuek, ketimbang Arsyil dulu, sudah papah jangan khawatir, kami selalu memantau Dio,"ucap Arsyad.
"Perasaa papah sama dengan Annisa. Annisa juga khawatir, tapi Annisa percaya, kalau Dio akan bisa mengendalikan dirinya, dan selama ini nilai-nilai belajarnya sangat baik,"ucap Annisa.
"Jadi papah jangan khawatir, papah jangan banyak pikiran, papah harus selalu sehat dan menemani kami. Papah satu-satunya orang tua kami,"imbuh Annisa.
"Iya, papah percaya pada kalian, kalian orang tua yang sangat luar biasa. Semoga kalian selalu bahagia,"ucap Rico.
"Aamiin, ya sudah Arsyad mandi dulu pah." Arsyad pamit ke dalam untuk mandi.
Annisa masih duduk di teras dengan Rico, mereka saling mengobrol dan bertukar pikiran bagaimana cara mendidik anak denga baik, seperti papah Rico yang berhasil mencetak dan mendidik anak-anaknya menjadi sosok yang hebat dan saling menyayangi keluarga.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
♥️happy reading♥️
Author kasih like dan vote nya ya. budayakan sebelum/sesudah baca like, oke....
__ADS_1
nanti kalau tembus 600 lebih atau biar 700 like deh,🤣 di part yang author up hari ini, akan kasih up banyak lagi,😁
jangan lupa berdoa sebelum baca ya?😁