
Semua keluarga sudah berkumpul di ruang tengah sehabis makan malam. Hanya Arsyad yang masih di kamarnya. Arsyad baru selesai mengaji. Dia meletakkan Al-Qur'an nya dan keluar dari kamarnya menuju ke ruang tengah untuk bergabung dengan yang lain. Arsyad masih terlihat memalik sarung dan baju koko nya. Dia duduk di samping ibunya yang sedang menikmati teh hijau.
"Ibu, dari kemarin Arsyad lihat ibu kok pucat, apa ibu sedang tak enak badan?"tanya Arsyad sambil memegang tangan ibunya.
"Ibu baik-baik saja nak."jawab Andini.
"Baik-baik saja apanya, dari kemarin ibu mengeluh sakit kepalanya. Ayolah bu periksa ke dokter."ucap Rico.
"Pah, ibu sudah tidak apa-apa kok. Sudah kalian jangan khawatir. Oh iya Syad, mumpung semua kumpul, ibu mau tanya kepadamu. Bagaimana dengan Almira? Apa kamu sudah dapat keputusannya, iya atau tidak. Kamu laki-laki nak. Jangan membuat seorang wanita terlalu lama menunggu. Nanti kalau Mira menerima lamaran laki-laki lain kamu menyesal."tanya Andini sambil memberi nasehat pada putra sulungnya.
"Besok Arsyad akan bertemu Mira ibu, nanti Arsyad akan bicara kepadanya."jawab Arsyad.
"Apa kamu sudah mantap dengan perasaanmu?"tanya Rico papahnya.
"Iya pah."jawab Arsyad.
Arsyil hanya diam mendengar percakapan Arsyad dengan ibu dan papahnya. Arsyil merasa sangat bersalah pada kakaknya, harusnya dia merelakan Annisa dengan kakaknya, jadi tak perlu memaksa kakaknya untuk menerima wanita lain yang tidak dia cintai.
"Maafkan aku kak. tapi, aku sangat mencintai Nisa. Bukan aku egois namun aku yang pertama mengenalnya. Dan, Annisa juga tak mencintai kakak. Semoga kakak menemukan wanita yang lebih baik dari Nisa kak."gumam Arsyil dalam hati.
Arsyad yang melihat adiknya sedang melamun dan menatap kosong ke sembarang arah, dia langsung menyenggol lengan adiknya.
"Ngelamun saja kamu Syil. Baru saja ketemu Mira, udah ngelamun saja."ucap Arsyad.
Arsyil mengernyitkan dahinya karena kakaknya menyebut Nisa dengan Mira.
"Mira? Sejak kapan aku menemui Kak Mira? Kakak mungkin tadi di antar Kak Mira. Iya kan?"ucap Arsyil sambil senyum menggoda kakaknya.
"Maksudku Nisa Arsyil."ucap Arsyad dengan wajah yang masam karena malu.
"Kenapa bisa salah sebut nama sih, kenapa dari tadi aku memikirkan Mira terus. Ahh...entahlah.."ucap Arsyad dalam hati.
"Kakak bertemu Kak Mira? Benarkah?"tanya Shita.
"Iya tadi, dia mengantar kakak kembali ke kantor. Kan mobil kakak di bawa Arsyil untuk mengantar Nisa ke toko buku."jelas Arsyad.
"Oh...gitu. Kak, kapan-kapan aku di antar ke rumah Kak Mira ya?"pinta Shita.
"Iya nanti kakak antar. Oh iya Syil, besok barangkali ada meeting dadakan atau dadakan menemui client kakak minta tolong kamu handle dulu sama Ray, kakak ada janji dengan Mira sehabis Dhuhur untuk pergi meninjau tempat untuk membuka taman baca. Dia mau membuka taman baca di daerah X dan ingin mengajak kakak melihat tempatnya bagaimana bagus apa tidak untuk di jadikan taman baca." jelas Arsyad.
"Kalian pergi berdua?"tanya Arsyil.
"Tidak lah, sama Pak Afif sopir pribadi Mira. Jadi, besok kamu berangkat dengan kakak pakai mobil, nanti biar mobilnya di bawa kamu pulang. Karena, Mira dan Pak Afif akan menjemput kakak di kantor."
__ADS_1
"Oke. Asik yang mau kencan" ucap Arsyil menggoda.
"Kencan itu berduaan, ini bertiga dan nanti di sana juga bertemu sahabatnya Mira juga."jelasArsyad.
"Kak, aku ingin ikut kakak dengan Kak Mira, boleh tidak?"tanya Shita.
"Boleh sekali. Tapi, kamu hubungi Mira dulu sana Ta."jawab Arsyad.
"Kakak saja sih."
"Kakak tidak punya nomor telfonnya Kak Mira, Shita.."
"Ihhh kakak, ya sudah aku share kontak Kak Mira ke Whatsapp kakak, nanti kakak yang bilang lho."
"Ya sudah cepat kirim nomornya."pinta Arsyad.
Shita mengirim kontak Mira pada Arsyad. Arsyad masuk ke kamar meninggalkna mereka untuk mengambil ponselnya. Terlihat pesan masuk dari Shita yang mengirimkan kontak Almira pada dirinya. Arsyad beganti pakaian untuk tidur dan setelah itu dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Arsyad mencoba menghubungi Almira walau sebenarnya dia sangat ragu dan malu untuk menghubungi Mira.
Berkali-kali dia mengetik pesan untuk Mira. Namun, dia menghapusnya lagi karena ragu untuk mengirimkannya. Akhirnya dia memberanikan diri untuk menelfon Mira. Panggilang terbuhung ke kontak Mira. Tapi, Mira tak mengangkatnya hingga 3 kali Arsyad mencoba menepfon Mira.
"Kenapa tidak diangkat? Apa karena nomor baru jadi tak mau mengangkat telfonku."ucap Arsyad lirih sambil memandangi layar ponselnya.
"Aku kirim pesan saja deh."ucapnya lirih sambil mengetik pesan singkat untuk Mira.
Begitu isi pesan dari Arsyad. Namun, sudah hampir 30 menit Mira tak membalasnya, bahkan belum ada tanda-tanda Mira membaca pesannya.
"Mungkin dia sudah tidur. Ya sudah lah besok aku tunggu saja kabar darinya, aku juga sudang sangat ngantuk sekali."gumamnya lirih.
Arsyad merebahkan tubuhnya untuk tidur. Tapi, fikirannya masih saja tertuju pada Mira.
"Mira, kenapa aku ingin sekali mengenal lebih jauh lagi tentangmu. Tapi, kenapa saat dekat denganmu aku merasa sangat gugup sekali, terlebih saat melihat tatapan matamu. Rasanya jantungku berdetak lebih kencang tidak seperti saat aku menatap mata Annisa."gumam Arsyad lirih.
Arsyad mencoba memejamkan matanya, dan tak menunggu waktu lama dia tertidur pulas sekali.
*****
♥Almira♥
Aku terbangun di sepertiga malam seperti biasanya. Mungkin, sudah terbiasa bangun jam segini jadi tanpa Alrm pun aku pastu bangun. Aku lihat ponselku sudah menunjukan pukul 02.30 pagi. Aku juga melihat notifikasi pesan masuk dari Whatsapp. Dan 3 kali panggilan tak terjawab. Aku buka siapa yang memanggil aku malam-malam dan itu nomor baru. Aku juga membuka pesan tersebut, ternyata sama dari nomor yang tadi menelfonku.
"Arsyad? Jadi dia yang menelfonku dan dia juga mengirim pesan kepadaku."ucapku kegirangan seperti mendapat undian.
__ADS_1
Entah kenapa hati ini rasanya senang melihat pesan dari Arsyad.
"Mira....jangan girang dulu, toh dia belum bisa menerimamu."lirihku dalam hati untuk meredakan rasa bahagia yang sempat memuncak.
"Jangan berlebihan Mira kalau bahagia."ucapku lirih.
Aku membaca pesan Arsyad lagi dan membalasnya.
[Wa'alaikumsalam Arsyad, maaf semalam aku sudah tidur. Iya ajak Shita juga, biar aku ada teman perempuan. Besok aku jemput kamu di kantor dengan Pak Afif, setelah itu kita jemput Shita di Caffenya. Sampaikan salamku untuk Shita dan juga Tante Andin dan Om Rico ya Syad.]
Aku membalas pesan Arsyad seperti itu. Sungguh dadaku menjadi deg-degan tak karuan melihat Arsyad mengirim pesan kepadaku. Aku juga mengirim pesan kepada Naila sahabatku satu-satunya, agar besok menemui ku di sana juga. Setelah aku mengirim pesan pada Naila, aku letakkan kembali ponselku dan aku langsung beranjak pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan setelah itu aku langsung mengerjakan sholat sunnah dua rakaat dan sholat tahajud.
Ini memang sudah kebiasaanku sejak aku kecil, dari SD aku sudah mondok di ponpes pakdeku, jadi sudah terbiasa sampai setua ini aku melakukan ritual malam dan berinteraksi dengan Sang Pencipta. Karena, hanya kepadanyalah aku meminta apa yang aku inginkan, termasuk meminta agar dibukakan pintu hati Arsyad agar dia bisa menerima wanita lain selain Annisa untuk menjadi pendamping hidupnya. Iya, aku memang sangat berharap dia menjadi imamku. Tapi, itu semua tergantung Allah, jika memang berjodoh maka Allah akan mempermudahkan jalan kami. Jika tidak, tolong kuatkan hati ini unuk menerima takdirNya. Aku mulai melakukan sholat dan setelah itu seperti biasa aku Berdzikir dan memgaji hingga menjelang waktu subuh.
*****
♥Arsyad♥
Seperi biasa aku melakukan Sholat malam di sepertiga malamku. Allah memang sangat baik, selalu mempermudahkan jalanku. Itu mengapa aku selalu bangun di sepertiga malamku untuk curhat dengan Allah tentang kemelut hatiku. Apalagi saat ini, hatiku sangat ragu untuk menerima Mira. Aku terus meminta pada Sang Pemilik Cinta yang Haqiqi. Iya, dengan mencintai Allah aku percaya aku bisa membuka hatiku kembali untuk menerima wanita lain selain Annisa. Almira, iya nama itu yang selalu kusebut dalam do'aku di sepertiga malamku.
Aku selalu meminta agar hati ini bisa menerimanya. Menerima dia sebagai calon makmum ku dunia dan akhirat. Aku selalu meminta pada Allah agar dipermudah jalannya untuk menerima Mira. Mira pilihan kedua orang tuaku dan semoga dia juga pilihan yang terbaik dari Allah. Aku sudah selesai sholat, berdzikir dan mengaji. Sambil menunggu Adzan Subuh berkumandang, aku meraih ponselku. Karena, aku mengingat semalam aku mengirimkan pesan pada Almira. Semoga saja dia membalasnya. Iya benar dia membalasnya. Betapa bahagia hatiku ini melihat pesan masuk dari Almira.
"Alhamdulillah akhirnya Mira membalsnya. Kenapa degub jantungku makin kencang menerima pesan dari Mira. Padahal waktu menerima pesan dari Annisa dulu aku tak merasakan hal seperti ini. Kali ini benar-benar aku merasakan getaran dalam hatiku saat membuka isi pesan dari Mira."ucapku lirih.
Aku membalas pesan dari Almira
[Iya Mira tak apa-apa. Okey nanti aku bilang pada Shita dan aku sampaikan salam mu untuk Shita dan juga ibu dan papah.]
Aku membalas pesan Mira seperti itu. Rasanya senang sekali dan sangat bahagia sekali. Aku terus memandangi poselku yang masih menampilkan pesan dari Mira hingga Adzan Subuh di kumandangkan. Aku keluar dari kamarku seperti biasa aku membangunkan Arsyil dan Shita untuk sholat subuh berjamaah. Juga membangunkan Papah dan Ibu. Kami semua memang seperti itu setiap subuh, siapa yang duluan terbangun pasti membangunkan yang lain untuk melakukan sholat shubuh berjamaah.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♥happy reading♥
maaf sekali kalu author kurang amanah untuk up. dan hanya bisa ngasih 1 bab saja. ini saja ngetik naskah sambil merem. kan ajaib.....mata susah sekali buat melek...ngantuk sekali. hehehe.