THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 87 "Maukah Menikah Denganku?" The Best Brother


__ADS_3

Sebuah mobil berhenti di halaman rumah Arsyad. Tiga orang lelaki dan satu wanita turun dari mobil tersebut. Ya, mereka adalah Akmal, Erlangga, Opa Wisnu, dan Nuri. Mereka sudah sampai di rumah Arsyad. Keluarga Arsyad menyambut kedatangan mereka.


Rico fokus dengan seseorang yang berada di samping Akmal. Arsyad dan Annisa pun demikian. Mereka saling menatap, karena mereka merasa kenal dengan seorang pria yang berada di samping Akmal.


“Pah, bukankah itu Dokter Andy?” tanya Arsyad pada Rico.


“Iya, itu Dokter Andy kan, pah?” imbuh Annisa.


“Iya, sepertinya Dokter Andy. Papah juga dari tadi memperhatikan pria yang berada di samping Akmal, Syad. Papah kira, papah yang sudah rabun pandangannya. Memang sudah sedikit tidak jelas, tapi memang benar itu Dokter Andy,” jawab Rico.


“Opa, itu Opa Wisnu, tapi memang beliau di rumah sakit di panggil Dokter Andy. Namanya Wisnu Andy Pratama,” sambung Fattah.


“Jadi benar dia Dokter Andy?” tanya Arsyad, Annisa dan Rico.


“Iya, opa,” jawab Fattah.


Ini benar-benar suatu kebetulan atau sudah ketetapan yang Tuhan berikan untuk menjadikan Najwa berjodoh dengan cucu Dokter Andy. Dokter yang dulu menangani Andini saat sakit.


“Assalamualaikum,” ucap Akmal dan keluarganya setelah sampai di depan teras rumah.


“Wa’alaikumussalam,” jawab Rico dan lainnya.


Rico memperhatikan lagi dan memperjelas pandangannya pada Dokter Andy, dan ternyata memang benar, itu adalah Dokter Andy.


“Pak Rico,” sapa Dokter Andy.


“Dokter Andy?” Rico langsung memeluk dokter Andy yang hampir setiap hari bertukar kabar lewat pesan singkat atau telepon.


“Ya Allah, kita tidak sengaja bertemu di sini,” ucap Dokter Andy.


“Ini Arsyad, bukan?” tanya Dokter Andy pada Arsyad.


“Iya, saya Arsyad. Dan, Najwa adalah putri saya, Dok,” jawab Arsyad.


“Masya Allah, jadi Najwa cucu Pak Rico? Gadis kecil yang dulu sering saya gendong, dan bermain boneka jari, lalu mendongeng bersama saya?” ucap Dokter Andy dengan tidak percaya.


“Iya, benar. Ya sudah silakan masuk, kita lanjutkan obrolan kita di dalam,” ucap Rico sambil mempersilakan mereka masuk ke dalam.


Semua masuk ke dalam dan berkumpul di ruang keluarga. ini adalah sebuah kebahagian yang tak ternilai harganya bagi Rico dan Dokter Andy. Mereka dulu berangan-angan, jika masih ada putra atau putri yang belum menikah, mereka berniat akan menjodohkan putra atau putri mereka. Namun, sayangnya, anak-anak Rico dan Dokter Andy kala itu sudah menikah semua dan sudah memiliki anak.


“Pak Rico, mimpi kita terwujud,” ucap Dokter Andy yang duduk di sisi Opa Rico.


“Iya, dulu Dokter selalu meminta Najwa untuk dijodohkan dengan cucu Dokter, tapi mana mungkin, seorang cucu Dokter hebat seperti Dokter Andy mau berbesanan dengan keluarga kami,” ucap Rico.


“Jangan seperti itu. rencana Allah memang indah, Pak Rico. Akhirnya Najwa di pertemukan dengan Kiki. Sungguh ini suatu kebahagiaan yang tak ternilai harganya,” ucap Opa Wisnu.


“Kita mau berbesanan, sudah jangan panggil saya Dokter terus. panggil namaku saja, atau aku kamu, kan jadi lebih akrab. Dan, untuk Arsyad dan Annisa, panggil saya paman, om, atau papah juga boleh,” ujar Opa Wisnu.


“Boleh, boleh,” ucap Rico.


“Arsyad, Annisa, ini Erlangga papahnya Akmal.” Opa Wisnu memperkenalkan Erlangga pada Arsyad. Arsyad menjabat tangan Erlangga yang akan menjadi besannya, begitu juga Annisa.


“Lalu, gadis cantik ini adalah sepupu Akmal, namanya Nuri.”


“Opa, Nuri sudah kenal. Ya kan, Om Arsyad, Tante Nisa,” ucap Nuri.


“Iya, sayang. Kamu bagaimana butiknya? Sukses sekarang kamu,” ucap Annisa.


“Ini berkat tante juga, dulu waktu kuliah, Nuri juga sering belajar sama tante di butik milik tante,” ucap Nuri.


“Mana Najwa cucuku yang cantik?” tanya Opa Wisnu.


“Sebentar biar saya panggilkan,” ucap Annisa.


“Tante aku ikut,” pinta Nuri.

__ADS_1


Nuri masuk ke dalam bersama Annisa memanggil Najwa di kamarnya. Memang saat menyambut keluarga Akmal, Najwa tidak ikut, karena dia sedang bersiap-siap di kamar bersama Rania, Shifa, dan Rana.


Nuri dan Annisa masuk ke dalam kamar Najwa. Najwa terlihat cantik dengan balutan gaun yang Akmal pilihkan kemarin di butik Annisa. Sebenarnya dia tidak ingin ke butik Annisa lagi, karena akan mengingat kenangan bersama Dio. Tapi, dia memberanikan diri untuk ke sana. Dan, karena Akmal di sisinya, dia berani ke butik Annisa.


“Cantiknya anak bunda,” ucap Annisa di ambang pintu kamar Najwa.


“Bunda... bagus kan gaunnya?” tanya Najwa.


“Bagus, cantik sekali,” jawab Annisa.


“Cieee... yang mau di lamar Kiki. Beruntung sekali Kiki punya calon istri seperti kamu,” ucap Nuri.


“Kamu bisa saja, Nur,” ucap Najwa.


“Sudah ayo keluar, ada yang mau bunda kenalkan sama kamu,” ucap Annisa.


“Najwa mau dikenalkan dengan siapa, bunda?” tanya Najwa yang bingung. Dia sepertinya sudah mengenal semua keluarga Akmal, tapi bundanya bilang mau mengenalkan dengan seseorang.


“Sudah, ayo keluar. Bunda mau mengenalkan kamu sama Dokter Andy. Lebih ganteng dari Kiki. Kamu harus kenal dengan dia,” ucap Nuri.


“Ini ada apa sih? Kok ada dokter Andy juga?” tanya Najwa dengan bingung.


“Makanya ayo keluar,” ajak Annisa.


Najwa keluar dari kamarnya dengan diapait Nuri dan Annisa. najwa masih bingung siapa Dokter Andy itu. Mungkin jika diceritakan tentang dulu siapa Dokter Andy.


Najwa sudah berada di tengah-tengah keluarga dirinya dan keluarga Akmal. Tapi, dia tidak menemukan orang lain selain Opa Wisnu, Papah Elang, Akmal, dan Nuri. Dia masih bertanya-tanya siapa Dokter Andy, dan di mana orangnya.


“Sayang sini duduk di samping abah.” Arsyad menyuruh Najwa duduk di sampingnya.


Najwa duduk di tengah-tengah abah dan bundanya. Akmal duduk berhadapan dengan Najwa, di apit oleh papah dan opanya.


“Cucu opa cantik sekali,” ucap Opa Wisnu.


“Kalau tidak cantik, Kiki tidak akan mau, pah,” ujar  Elang.


Memang Akmal kalau dengan keluarganya di panggil Kiki. Panggilan itu sudah seperti panggilan sayang di keluarganya dari kecil. Setelah dia sekolah dia di panggil teman-temannya Akmal. Lalu, setelah bertemu dengan Najwa, dia mengenalkan dirinya dengan nama belakangnya, yaitu Habibi. Karena saat awal bertemu, Najwa mengenalkan dirinya pada Akmal dengan nama depanny, yaitu Ainun.


“Najwa, kamu masih ingat dengan Dokter Andy?” tanya Opa Rico.


“Dokter Andy?” tanya Najwa.


“Iya, dokter yang dulu menangani Oma Andin saat Oma sakit,” jawab Rico.


“Yang dulu sering mengajak Najwa main, dan mendongeng dengan boneka-boneka jari,” imbuh Opa Wisnu.


“Iya, ingat, apa beliau ada di sini, opa?” tanya Najwa.


“Iya, ini Dokter Andy,” ucap Opa Wisnu yang mengatakan dirinya adalah Dokter Andy.


Najwa tidak percaya kalau Opa Wisnu adalah Dokter Andy. Dokter yang baik, yang dulu merawat oma nya saat sedang sakit. Dan, Dokter Andy sering bermain dengan dirinya. Karena dia yang sering berada di rumah Rico saat dulu Andini sakit.


“Jadi, Opa?” pertanyaan Najwa terhenti.


“Iya, Opa adalah Opa Dokter yang sering mengajak kamu bermain dulu, sayang,” ucap Opa Wisnu.


“Opa tidak menyangka, kamu adalah Najwa kecil yang lucu, menggemaskan, dan cantik. Sekarang, impian opa terkabul, kamu akan menjadi istri Kiki. Karena, dulu Opa sempat meminta kamu pada Opa Rico untuk opa jodohkan dengan Kiki. Tapi, Opa Rico bilang, kamu masih kecil, dan opa mu sangat merendah, begitulah opamu. Dan, hari ini opa benar-benar bahagia, Najwa. Kiki menemukan perempuan yang baik seperti kamu. Kami tidak memandang masa lalu kamu, karena setiap manusia pasti memiliki masa lalu,” jelas Opa Wisnu.


“Sudah, sekarang kangen-kangenannya nanti lagi. Dan, kita fokus dengan kedatangan kami ke sini,” ujar Erlangga.


“Pak Arsyad, maksud kedatangan kami ke sini untuk meneruskan niat baik kami yang ingin melamar putri Pak Arsyad yang bernama Ainun Najwa Salsabila untuk Putra semata wayang saya, Rafqi Akmal Habibi. Dan, dengan penuh harap, Pak Arsyad dapat mengabulkan niat baik kami ini.” Erlangga menyampaikan niat baiknya pada keluarga Arsyad.


“Terima kasih, Pak Erlangga. Saya dan keluarga, menerima niat baik Pak Erlangga, tapi semua keputusan biar Najwa yang memutuskannya,” ucap Arsyad.


“Dan, untuk Akmal, apa benar-benar sudah siap lahir dan bathin untuk menikahi putri saya, jika putri saya menerima niat baik Nak Akmal yang akan melamarnya,” imbuh Arsyad.

__ADS_1


“Bismillahirrahmanirrahim. Abah, dengan niat baik, Akmal datang dengan orang tua Akmal untuk melamar putri abah, yaitu Najwa. Dan, Akmal siap lahir dan bathin untuk menikahi Najwa, jika Najwa menerima lamran ini,” ucap Akmal dengan penuh keseriusan.


“Bagaimana, nak?” tanya Arsyad pada Najwa.


“Bismillahirrahmanirrahim. Iya, Najwa bersedia dan menerimanya,” jawab Najwa tanpa ragu.


“Alhamdulillah...” Semua yang mendengar kaputusan Najwa mengucapkan syukur.


“Jadi kamu mau jadi istri aku? Kamu menerima lamaranku?” tanya Akmal.


“Iya, Akmal,” ucap Najwa.


“Serius?” tanya Akmal lagi, dan hanya di jawab anggukan kepala Najwa dengan senyumana manis.


“Alhamdulillah,” ucap Akmal dengan memeluk papah dan Opanya.


“Ainun,” panggil Habibi.


“Iya,” jawabnya.


“Boleh lihat jari kamu?” tanya Habibi.


“Untuk?”


“Coba lihat,” pinta Habibi lagi, dan Ainun menjulurkan tangannya.


“Aku sematkan cincin ini, sebagai tanda kamu sudah mau menerima lamaranku,” ucap Habibi dengan menyematkan cincin di jari manis Ainun.


“Maukah menikah denganku setelah ini?” tanya Habibi.


“Iya,” jawab Najwa dengan senyum merekah di wajahnya.


Arsayd memeluk putrinya dan mencium keningnya, begitu juga Annisa dan Rico. Semua memberi selamat pada Najwa. Acara yang sudah di impi-impikan Habibi dan Ainun telah berjalan lancar. Dan, semua keluarga sudah memutuskan tanggal pernikahan mereka. Dua minggu lagi mereka akan menikah, semua di percepat, karena tugas Habibi di budapest belum selesai.


Setelah semua menikmati jamuan yang sudah di siapkan keluarga Arsyad, mereka berkumpul lagi di ruang keluarga. Habibi mengajak Ainun duduk di teras depan.


“Tidak ku sangka, seorang Ainun bisa dandan macam ini,” ledek Habibi yang duduk di samping Ainun dan memandangi wajah cantiknya.


“Ih, apaan sih! Jangan lihatin terus,” ucap Ainun dengan manja.


“Kamu cantik sayang,” ucap Habibi.


“Jangan merayu, memang dari kecil aku sudah cantik,” jawab Ainun.


“Suka sekali kalau kamu sudah mulai jutek gini.” Habibi mencubit pipi Ainun.


“Mau menikah denganku?” tanya Habibi lagi.


“Gak mau,” jawab Ainun.


“Kok gitu? Tadi katanya mau?”


“Gak mau lama-lama,” ucapnya dengan menyandarkan kepalanya di bahu Habibi.


“Hiduplah bersamaku, aku janji akan selalu membuat kamu bahagia,” ucap Habibi.


“Habibi, maafkan aku,” ucap Ainun.


“Untuk apa?” tanya Habibi.


“Aku bukan wanita yang sempurna, dan aku sudah....”


“Aku tidak peduli, jangan ingat itu lagi, aku mohon, kamu akan jadi milikku selamanya, seburuk apapun masa lalu kamu. Aku akan tetap mencintaimu dan akan selalu berada di sampingmu, hingga akhir hidupku,” ucap Habibi dengan tegas dan penuh keyakinan.


“Aku janji, Ainun. Dan, aku akan membuktikan janjiku padamu,” imbuh Habibi.

__ADS_1


Ainun memeluk Habibi dan menenggelamkan wajahnya di dada Habibi. Ainun tidak menyangka, dia menemukan sosok lelaki yang benar-benar mencintai, menyayangi dengan tulus, dan menerima dirinya apa adanya.


__ADS_2