THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 46 "Hingga Fajar Terbenam"


__ADS_3

Arsyad masih merasakan pelukan erat istrinya. Dia menarik tubuh Annisa dari pelukannya, dan mencium bibir Annisa dalam-dalam. Annisa sangat menikmati apa yang suaminya lakukan. Hingg pintu ruangan Annisa terbuka karena Rere akan masuk dan berpamitan pulang.


"Nis, aku pul……"suara kerasnya terhenti saat melihat dua insan sedang menautkan bibirnya dengan penuh kenikmatan.


"Ah…Rere, ketuk pintu dulu, dong Re!"seru Annisa.


"Lagiyan, siapa yang nyuruh main sosor-sosoran di kantor,"tukas Rere. Arsyad dan Annisa memerah wajahnya karena malu.


"Iya, iya, kamu mau pulang, kan?"tanya Annisa.


"Iya, kamu buat aku iri saja, aku pulang, ya? Lanjutkan sana!"titah Rere sambil meninggalkan ruangan Annisa.


Annisa dan Arsyad tertawa bersama, mereka tidak menyangka, sedang berciuman kepergok Rere.


"Kamu sih, kak. Aku malu tau,"ucap Annisa dengan menenggelamkan wajahnya di dada Arsyad.


"Ayo pulang, sudah tidak apa-apa, kita kan suami istri,"ucap Arsyad


Mereka pulang dari kantor Annisa. Arsyad merasa ada yang berbeda dengan dirinya. Dia merasakan seperti awal menikah dengan Annisa. Dia merasa muda kembali walaupun dia masih belum bisa merasakan hasratnya pada Annisa.


Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, mereka bercada di dalam mobil. Arsyad sudah tidak mulai kaku lagi, dia lebih sering mengajak istrinya bercanda dari tadi. Annisa merasa hati suaminya sedikit melunak, dia berhasil membuat hati suaminya yang keras itu menjadi lembut, bahkan kata-katanya selalu membuat nyaman di hati Annisa.


"Nis, besok mau antar kakak ke dokter?"tanya Arsyad.


"Iya aku akan mengantar kakak, kakak jangan menyerah, ya. Pasti kakak bisa sembuh,"ucapnya sambil mengusap pipi suaminya.


"Iya, maafkan kakak, jika kakak sering menyentuhmu, tapi kakak belum bisa melakukannya,"ucap Arsyad.


"Kak, yang penting kamu sembuh. Apapun akan aku lakukan untuk kakak, sudah jangan sedih lagi." Annisa mencium tangan suaminya. Dia tau apa yang suaminya rasakan. Bahkan tadi saat berciuman terlalu dalam saja dia tidak bisa, tidak ada efek apapun yang muncul pada diri Arsyad


"Nis, mampir ke pantai, yuk,"ajak Arsyad.


"Mau apa?"tanya Annisa.


"Ya dudukan saja berdua, jarang kan kita jalan berdua, dan itu juga pernah satu kali saja saat kita ke kedai es krim,"ucap Arsyad.


"Baiklah, kita ke pantai,"ucap Annisa.


Mereka sampai di pantai, terlihat hamparan pasir dan deru ombok di sore hari menjadikan suasana tentram di hati mereka. Arsyad menggandeng tangan istrinya dan berjalan menuju sebuah bangku yang ada di depan pantai.


"Kita duduk di sana, yuk,"ajak Arsyad.


"Ayo." Annisa berjalan mendahului Arsyad, tapi tangan Arsyad menghentikan langkah Annisa.


"Jangan buru-buru jalannya, nanti kamu keseleo lagi,"ucap Arsyad.


Annisa terkekeh mendengar ucapan Arsyad, dai ingat saat dia cemburu pada Lintang, dia berjalan dengan cepat hingga terjatuh dan keseleo.


"Kakak masih ingat saja,"ucap Annisa sambil bergelayut manja di lengan Arsyad.


"Ingatlah, habis kamu lucu kalau cemburu,"ucap Arsyad.


Arsyad gemas sekali melihat Annisa bicara seperti itu dan tersenyum manis. Mereka duduk di bangku yang berada di depan pantai. Arsyad menarik Annisa ke dalam dekapannya dan mencium puncak kepala Annisa.


"Kak, paman katanya mau ke sini,"ucap Annisa.


"Pamanmu? Papan Diki?"tanya Arsyad.


"Iya, beliau akan ke sini, dengan Zi, Al, Leon,"ucap Annisa


"Leon ikut?"tanya Arsyad dengan wajah yang tidak senang mendengar nama Leon.


"Iya, kan memang tujuannya mereka mengantar Leon, daripada Leon sendiri ke sininya, jadi mereka antar,"ucap Nisa.


"Dan, kalau di perbolehkan kakak, mereka akan menginap di rumah kita, kalau kakak keberatan, mereka akan aku suruh menginap di rumahku, dan sementara aku juga akan tinggal di sana dengan kakak,"imbuh Annisa.


"Ehm…biarkan mereka menginap di rumah kita, kan kamar juga banyak,"ucap Arsyad.


"Terimak kasih, kak. Aku juga meminta papah agar stay di ruamah kita, saat paman dan lainnya di rumah kita,"ucap Annisa.


"Baguslah, biar mereka ada yang menemani saat aku dan kamu sedang di kantor,"ucap Arsyad.


Arsyad diam sejenak, kenapa hatinya begitu tak enak mendengar nama Leon, dan akan berkunjung ke rumahnya.


"Leon, kenapa hati ini tidak enak sekali mendengar namanya? Aku belum mencintai Annisa, tapi rasanya sesak mendengar Leon akan berkunjung ke rumah, apalagi dia sangat mencintai Annisa, dan sampai sekarang saja dia belum bisa melupakan Annisa,"batin Arsyad.


Annisa memerhatikan Arsyad yang sedang diam dan sepertinya memikirkan sesuatu. Annisa tau, dia pasti sedang memikirkan Leon yang akan berkunjung ke rumahnya. Annisa sempat berpikir suaminya cemburu, tapi batin Annisa menolak, tidak mungkin seorang Arsyad cemburu dengan Annisa. Mencintai Annisa saja tidak, apalagi cemburu.


"Wajanhnya susah sekali di terjemahkan, apa dia cemburu atau tidak enak hati mendengar Leon akan ke sini? Ah, mana mungkin cemburu, mencintai aku saja tidak, masa iya cemburu,"gumam Annisa.


Mereka terdiam, hanya terdengar deru ombak dan semilirnya angin di pantai. Annisa melepas heelsnya dan menaruh di bawah bangku, lalu melingkis celananya dan setelah itu dia menarik tangan suaminya untuk mendekati pantai. Annisa ingin sekali bermain air laut di tepi pantai.


"Eh.. mau ke mana?"tanya Arsyad saat Annisa menarik tangannya.

__ADS_1


"Pengen mainan air laut, yuk,"ajak Annisa.


"Sebentar, kakak lepas sepatu kakak dulu sama jas kakak,"ucapnya.


Arsyad melepas sepatu dan melingkis celananya agar tidak terkena air laut. Dia juga melingkis lengan kemejanya.


"Ayo," ajak Arsyad dengan menggandeng istrinya.


Mereka bermain di tepi pantai, seperti layaknya sepasang kekasih yang sedang memadu cinta. Walaupun hati mereka masih belum tumbuh rasa cinta. Mereja berkejaran di tepi pantai, dan sesekali Annisa bermanja ingin di gendong Arsyad. Arsyad pun menurutinya, dia menggendong istrinya di belakang, bermain air laut hingga matahari terbenam. Mereka berdiri di tepi pantai, Arsyad merangkul pinggang istrinya, agar mereka saling berdekatan sambil melukis senja yang akan menghilang.


"Nis,"panggil Arsyad.


"Iya, kak,"jawab Annisa.


"Hingga matahari terbenam aku akan selalu berada di sisimu, jangan pergi dariku,"ucap Arsyad.


"Hmm..iya, aku kan masih di sisi kakak, tuh lihat, matahari sudah terbenam saja aku masih di sisi kakak, dan tidak pergi dari kakak, iya kan?"ucap Annisa.


Arsyad menyimpulkan senyumannya, dia menatap wajah Annisa yang manis.


"Iya, benar. Temani kakak, hingga fajar terbenam di hari akhir Kakak bersamamu,"ucap Arsyad.


Hati wanita mana yang tak bahagia, mendengar suaminya berkata seperti itu. Walaupun dirinya belum pernah tersentuh, belum pernah merasakan indahnya surga dunia bersama suaminya, dan belum di cintai suaminya, tapi ada rasa bahagia tersendiri di hati Annisa. Dia memang sudah merasa nyaman di dekat Arsyad, tapi dia tak tau, apa itu cinta? Atau hanya sekedar rasa nyaman saja.


"Kakak yakin? Ingin selalu bersamaku hingga akhir raga ini?"tanya Annisa.


"Iya, kakak yakin,"ucap Arsyad dengan meyakinkan Annisa.


"Temani aku juga hingga napas ini berakhir,"ucap Annisa.


"Itu pasti, tapi maaf, kakak belum bisa menyentuhmu, memberikan kewajiban kakak, dan kakak juga akan belajar mencintaimu, Annisa,"ucap Arsyad.


"Cinta bisa hadir dengan sendirinya, kak. Tak usah memakasakan kalau belum bisa. Nanti kalau sudah saatnya, cinta itu akan muncul, kak. Percayalah,"ucap Annisa.


"Aku akan menemani kakak untuk mengobati sakit kakak itu, jangan khawtir kakak pasti sembuh,"imbuh Annisa.


"Terima kasih, Annisa. Kakak banyak salah dengan kamu, meninggalkan kewajiban kakak padamu, dan tidak jujur mengenai sakit kakak ini,"ucap Arsyad.


"Sudah, aku tau, kakak waktu itu merasa bersalah dengan Kak Mira, aku juga awalnya seperti itu, tidak rela raga ini di sentuh pria lain. Namun, aku sadar, tidak selamanya aku hidup dengan masa laluku, karena di depan adalah masa depanku. Dan, Kakak adalah masa depanku,"ucap Annisa.


Arsyad menyandarkan kepala Annisa di bahunya. Dia melihat wajah istrinya yang sedang bersandar di bahunya dan mengecup keningnya.


"Dia manis sekali, tidak pernah berubah dari dulu, wajah manis dan ayunya, walaupun sudah memiliki dua anak, tapi masih saja terlihat muda. Dulu aku sangat mencintai wanita di sampingku ini, dan sekarang setelah menjadi istriku, rasa cinta ini sulit sekali tumbuh lagi. Ya Allah, sembuhkan lah sakitku, dan tumbuhkan rasa cintaku lagi untuk istriku,"batin Arsyad.


"Iya, ayo pulang." Arsyad menggandeng tangan Annisa, mereka mengambil sepatunya dan menentengnya membawa ke dalam mobil.


^^^^^


Sesampainya di rumah, Arsyad memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya. Mereka keluar dari mobilnya dan berjalan dengan menenteng sepatu mereka masing-masing karena kaki mereka kotor terkena pasir pantai. Rico melihat anak dan menantunya dari kejauhan bersama Dio dan Shifa. Arsyad dan Annisa nampak bahagia sekali, senyuman mereka terurai di setiap langkahnya menuju ke dalam rumah.


"Opa, tumben bunda dan abah akur? Biasanya selalu diem-dieman dan saling angkuh,"ucap Dio.


"Iya, biasanya berangkat kerja juga sendiri-sendiri, tidak pernah omong-omongan, sekarang mereka kelihatan bahagia,"imbuh Shifa.


"Itu tandanya ada kemajuan pada mereka,"ucap Rico.


"Iya opa, syukurlah, usaha kita menyatukan mereka tidak sia-sia,"ucap Shifa.


"Iya, mereka akhirnya bisa akur dan bahagia,"ucap Rico.


Annisa dan Arsyad tidak tau kalau sedang di perhatikan oleh papahnya dan anak-anaknya. Mereka saling bercanda hingga terdengar gelak tawa Annisa dan Arsyad di telinga Rico, Dio, dan Shifa.


"Cie…bahagia sekali, kalian,"ucap mereka bersama pada Annisa dan Arsyad.


"Ih, gak boleh ada orang bahagia?"tanya Arsyad


"Ya, tumben saja kalian akur,"ucap Dio.


"Memang tiap hari gak akur?"tanya Annisa.


"Ya, seperti itu,"ucap Dio.


"Kalian dari mana, sepatunya kok di tenteng gitu?"tanya Rico.


"Kita dari pantai, pah,"ucap Arsyad dan Annisa.


"Pantas saja sampai jam segini baru pulang, sana mandi, terus makan malam, tadi Mba Lina sudah masakin buat makan malam,"ucap Rico.


"Lalu Mba Lina kemana?"tanya Arsyad.


"Dia kembali ke rumah, ada kerabatnya berkunjung ke rumahnya,"ucap Rico.


"Ya sudah kami mandi dulu, pah,"pamit Annisa dan Arsyad.

__ADS_1


Arsyad dan Annisa masuk ke dalam kamarnya, mereka membersihkan dirinya dan setelah itu mereka sholat bersama. Seusai sholat, Annisa merebahkan dirinya di tempat tidur, dia merasakan lelah sekali, karena pekerjaan dinkantor sangat banyak, dan tadi harus ke pantai bermain bersama Arsyad. Annisa berpikir, dia seperti muda lagi, dulu saat dengan Arsyil dia tidak seperti itu. Tadi dia sangat manja sekali dengan Arsyad, dan bahkan dia ingin di gendong Arsyad dan berjalan di tepi pantai.


Arsyad melihat istrinya sedang membaringkan tubuhnya di ranjang, dia juga ikut membaringkan dirinya di samping Annisa. Dan tanpa aba-aba dia langsung memeluk Annisa dan menghujani ciuman di pipi Annisa.


"Ih, kakak apaan, sih,"ucap Annisa manja.


"Pengen mencium kamu saja. Makan yuk, kakak lapar,"ajak Arsyad.


"Sebentar aku lelah sekali kak,"ucap Annisa.


"Sini aku pijat kakinya." Arsyad memijat kaki Annisa dengan telaten.


"Ini tidak keseleo lagi, kan?"tanya Arsyad dengan bercanda.


"Awww….itu sakit kakak,"ucap Annisa, padahal dia pura-pura sakit.


"Maaf, apa aku terlalu keras memijatnya? Sakit?"tanya Arsyad yang agak katakutan melihat mata Annisa berkaca-kaca karena kesakitan


"Iya sakit,"ucap nya lirih.


"Maaf, kakak gak tau kalau ini sakit,"ucapnya dengan agak takut.


"Sakit, tau kak. Tapi Annisa bohong, jangan gitu ih wajahnya." Annisa menggoda suaminya karena suaminya merasa telah membuat sakit kakinya.


"Dasar, suka ya ngerjain orang, kakak takut kalau kakimu sakit benera, tau. Nyebelin kamu." Arsyad menggelitiki telapak kaki Annisa hingga Annisa terjingkat karena merasa geli.


"Kakak, udah ih, geli tau,"ucap Annisa sambil menahan geli di telapak kakinya.


"Makanya jangan bohong." Arsyad menindih tubuh Annisa dan mencium pipi Annisa.


Ciuman mereka menjadi semakin dalam, hingga tangan Arsyad sudah berani menjamah setiap inci tubuh Annisa. Begitupun Annisa, tangan dia juga tidak diam, dia terus menyentuh bagian sensitif suaminya.


Sudah hampir 15 menit mereka melakukan aktivitas itu, tapi hasilnya selalu mengecewakan Arsyad. Dia kembali frustasi karena dirinya masih belum bisa melakukan apa yang seharusnya ia lakuka pada istrinya.


"Kak, sudah kakak jangan seperti itu, hentikan menyakiti diri kakak, Annisa akan sabar menunggu kakak sembuh. Kakak pasti sembuh, besok kita ke dokter, dan satu yang harus kakak ingat, mintalah pada Allah. Dia yang maha menyembuhkan segala penyakit, sudah hentinkan tangan kakak memukul dinding," Annisa mencoba meredakan emosi suaminya. Arsyad benar-benar frustasi hingga reflek tangannya memukul dinding.


Annisa mengobati luka di tangan Arsyad, luka lebam di harinya akibat memukul dinding kamar. Dia mengoles salep untuk lebam dengan hati-hati. Annisa melihat wajah Arsyad yang terlihat frustasi dan marah pada dirinya sendiri. Annisa memegang wajah Arsyad dan menghadapkannya dengan wajahnya.


"Kakak, kakak yang sabar, jangan seperti itu, kakak pasti bisa sembuh." Annisa membawa Arsyad ke dalam pelukannya, Annisa menenangkan suaminya di pelukannya, dia mengusap kepala suaminya yang berada di dadanya.


"Kakak tidak berguna, Annisa. Tidak ada gunanya kakak menjadi suami, tidak bisa sedikitpun kakak memberikan kebahagiaan untuk kamu,"ucap Arsyad dengan suara parau.


"Jagan berkata seperti itu, kakak. Annisa akan sabar, pasti kakak sembuh. Jika kakak semangat untuk sembuh, Allah akan memudahkan jalan kakak untuk sembuh. Karena sakit kakak ini bukan bawaan sejak dulu, ini semua karena rasa bersalah kakak dengan masa lalu kakak. Sudah, jangan menangis lagi, aku sayang kakak, aku akan selalu berada di samping kakak, apapun yang akan terjadi nanti, percayalah,"ucap Annisa.


"Terima kasih, Annisa. Jangan sesekali meninggalkan aku, tetaplah di sisiku, aku sangat membutuhkanmu, aku janji akan membuatmu bahagia denagn caraku,"ucap Arsyad.


"Iya, kakak. Annisa akan selalu berada di samping kakak. Hapus air mata kakak, jangan menangis lagi, katanya kakak lapar, kita makan, yuk?"ajak Annisa.


"Iya sebentar,"jawab Arsyad yang masih belum beranjak dari pelukan Annisa.


"Ayo, keluar. Annisa juga lapar, kak. Cuci muka dulu, kak," titah Annisa.


Arsyad beranjak ke kamar mandi dan mencuci muka agar tidka kelihatan sembab. Annisa masih merasakan apa yang tadi Arsyad lakukan. Sentuhan Arsyad masih terasa di bagian tubuh Annisa, dan tanda kepimilikan yang di buat Arsyad juga terlihat di dada Annisa.


"Haruskah seperti ini. Aku hanya merasakan tanpa menyalurkan hasrat ini? Ya Allah sembuhkan lah suamiku, angkat penyakitnya, hanya engkau yang mampu menyembuhkan segala penyakit, ampuni dosa suamiku yang sengaja meninggalkan kewajibannya untuk ku, karena aku ikhlas, dengan perbuatan suamiku kemarin,"batin Annisa.


Rasanya sakit sekali, sesak sekali dada Annisa saat dia harus melakukannya dengan Arsyad dan hanya di sentuh saja, tidak sampai pada pelepasan. Tapi semua itu dia lakukan demi kesembuhan suaminya. Annisa hanya bisa menahannya hingga suaminya benar-benar sembuh.


.


.


.


.


.


.


.


.


♥️happy reading♥️


jangan lupa like nya ya, biar semangat up-nya ini, nanti author up nya banyakin deh, vote nya juga ya...


budayakan like setelah/sebelum membaca sayangkuh....😘😘😘😘


maaf author dari kemaren banyak maunya sama kalian, kalian juga mau kan, author up-nya maksimal?


author udah rajin up lho dari kemarin, tapi kalian jarang like, kan author syedih...🥺🥺🥺🥺

__ADS_1


__ADS_2