
Seusai makan malam, Arsyad memanggil putra bungsunya. Arsyad merasa tidak enak dengan Leon dan Rere, karena ulah Arkan yang selalu berkata kasar pada Thalia, pun Annisa, dia juga sangat marah pada putra bungsunya itu. Pasalnya, mereka berdua tidak pernah mengajari hal seperti itu pada anaknya. Seperti Dio, meski dulu tidak suka dengan Rania, dai tidak pernah menampakkan rasa kesalnya pada Rania di hadapan Arsyad dan Annisa, juga dengan orang tua Rania.
“Sejak kapan kamu menjadi arogan seperti itu!” ucap Arsyad dengan penuh kemarahan pada wajahnya, yang membuat Arkan menunduk takut.
“Abah, Arkan tidak suka sama Thalia. Dia juga kasar, mana bisa Arkan hanya diam. Dia juga yang mulai, dia yang mencari gara-gara dulu sama Arkan. Seperti tidak punya mata saja, ada orang di depannya di tabrak. Untung ponsel Arkan tidak apa-apa, coba kalau sampai rusak,” jawab Arkan.
“Tapi tidak seperti itu juga, nak. Thalia wanita, dia juga belum kenal kehidupan di sini. Seharusnya kamu tidak usah semarah itu, Nak,” ujar Annisa.
“Kamu seperti tidak punya sopan santun saja,” imbuh Arsyad.
“Dia yang mulai, abah.” Arkan terus membela dirinya.
“Abah tidak mau tahu, jika nanti kamu bertemu dengan Thalia, kamu harus meminta maaf padanya,”ucap Arsyad.
Arkan hanya diam saja. Seperti itulah Arkan, ika ia sudah tidak suka dengan seseorang, pasti dia acuh dan ketus kalau bicara dengan orangnya.
“Iya nanti Arkan minta maaf.” Arkan menjawabnya dan langsung pergi ke kamarnya meninggalkan Abah dan bundanya.
Arsyad duduk di samping istrinya dengan mengusap kasar wajahnya. Dia tidak menyangka Arkan akan seperti itu. Yang Arsyad tahu, anak bungsunya tidak sekeras itu, tapi semakin tahu dunia luar, dia semakin susah di nasihati.
“Arkan sekarang semakin susah di nasihati, Bun,” ucap Arsyad.
“Abah, menasihati anak, tidak perlu sekeras tadi. Bunda tahu Arkan, wajar dia sekarang seperti itu, anak remaja seusia Arkan masih mencari jati dirinya, Abah,” ujar Annisa.
“Tapi, Dio, Raffi, juga tidak seperti itu. Mereka masih bisa mendengarkan kita, Bunda. Mereka mudah sekali kita nasihati, sedangkan Arkan. Dari tadi sore abah bilang, jangan sampai malam, kita mau makan malam, malah dia tidak mau mendengarkan kata abah. Dia pulang, langsung ke restoran, dan hanya memakai baju santai seperti itu. Abah tidak habis pikir, dia seperti itu sekarang.”
“Namanya anak kan beda-beda, Abah. Ya, bunda juga kesal dengan dia. Akhir-akhir ini, di juga sering pulang terlambat, alasannya inilah, itulah. Kita harus pelan-pelan menasihati dia, Abah. Jangan pakai emosi, yang ada ya seperti tadi, menjawab juga sambil pergi ke kamar,” ujar Annisa.
“Entahlah, abah lelah. Besok, kalau dia masih seperti itu, abah harus bicara lagi baik-baik dengan Arkan.”
Arsyad sebenarnya tidak enak hati dengan Thalia. Padahal menurut Arsyad, Thalia gadis yang sopan sekali, di bandingkan dengan Tita, adiknya. Thalia lebih dewasa dan sepertinya dia gadis yang pandai. Namun, memang dia pendiam dan pemalu sekali. Tapi, sekali ada yang mulai duluan menyakiti hatinya, dia berani angkat bicara, seperti tadi dengan Arkan. Kalau Arkan tidak mulai keras, mungkin Thalia akan jauh lebih sopan sekali.
“Thalia cantik ya, bun?”
“Iya, tapi cantik Tita, Abah.”
“Ya, kalau sekilas memang cantik Tita, karena dia terbantu oleh make up. Berbeda dengan Thalia. Dia lebih natural dan fresh wajahnya, walau tanpa make up.”
“Iya juga sih, Bah. Heran sama Rere, anaknya gak ada yang mirip sama dia, semua anaknya mirip Leon.”
“Kalau ikut Rere nanti wajah bule tapi hidungnya ikut Rere,” ucap Arsyad dengan tersenyum.
“Iya juga sih, tapi Rere mancung lho hidungnya,” ujar Annisa.
“Iya, tapi tetap saja kalah sama anak-anaknya.”
Annisa dan Arsyad masih bercerita di ruang tengah. Banyak yang mereka ceritakan. Memang mereka berdua memiliki kebiasaan seperti itu. harus ada waktu untuk bertukar pikir dan bertukar cerita, meski hanya 15 menit sebelum ia tidur.
^^^
Arkan masih merasa kesal dengan abahnya yang seolah-olah menyalahkan dirinya saat kejadian tadi. Padahal dia tidak bermaksud menyinggu atau berbicara kasar pada Thalia. Itu semua karena akan dari awal sudah tidak ingin ikut dengan acara makan malam yang menggagalkan kencan dia dengan Lily.
Raffi masuk ke dalam kamar Arkan. Dia tahu kalau adiknya sedang kesal dengan bunda dan abahnya. Dari awal Arkan memang sudah tidak ingin ikut makan malam, jadi Raffi tahu adiknya sampai berkata seperti itu karena apa.
“Hei, kamu masih kesal dengan Abah?” tanya Raffi yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Arkan.
“Kak Raffi, kenapa masuk gak ketok pintu dulu, sih? Gak Kak Raffi, gak Kak Dio, kalau masuk asal nylonong,” ucapnya dengan kesal.
“Kamu kenapa sih? Bisa seperti tadi? Apa salah Thalia coba? Dia Cuma tidak sengaja menyenggol kamu, kan?”
“Kak, dari rumah, aku sudah gak ingin ikut makan malam, bunda sama abah memaksa aku. Dah gitu, sampai sana malah ketemu sama cewek nyebelin.”
“Apa salahnya sih, ikut? Ini kan tidak setiap hari Arkan?”
“Aku malam ini sebenarnya mau jalan sama Lily, kak. Dan, kakak tahu? Ini kencanku yang pertama,” ucap Arkan.
“Anak kecil dah tau kencan kamu. Kamu masih sekolah, boleh mengenal cewek, tapi jang terlalu menggunakan cinta yang bodoh. Kamu masih kelas 1 SMA saja sudah berani ajak cewek kencan. Kakak hanya tidak ingin kamu terjerumus ke pergaulan yang tidak baik, Arkan,” tutur Raffi.
“Kak, Arkan tidak berduaan sama Lily. Arkan pergi dengan teman-teman yang lainnya.”
“Tapi setidaknya kamu jangan bersikap seperti tadi, Arkan. Kamu sama Lily kan bertemu hampir setiap hari, sedangkan dengan sahabat bunda? Mereka hanya ingin mengajak berkumpul, dan itu juga jarang sekali mereka kumpul, seharusnya kamu menghargai mereka.”
__ADS_1
“Iya, kak. Maafkan Arkan, memang Arkan tadi salah.”
“Kamu harusnya minta maaf sama Thalia. Kakak dengar dia bakal kuliah di sini, atau mau SMA di sini.”
“Masa sih, kak?”
“Iya, sebelum kamu datang, kan kakak ngobrol sama Thalia dan Tita. Kalau Tita tidak mau di sini. Kalau Thalia maunya tinggal di sini menemani Kakek dan Neneknya. Itu kalau jadi dan di bolehin papahnya, kata dia.”
“Ya sudah, nanti kalau bertemu lagi Arkan minta maaf sama Thalia. Habisnya dia juga judes sekali, sudah menabrak, asal pergi saja gak minta maaf.”
“Sudah, jangan terlalu benci atau tidak suka sama sesuatu. Karena apa yang kamu benci bisa jadi itu baik bagimu, dan apa yang menurut kamu baik, bisa jadi itu yang buruk buat kamu.”
“Iya, Arkan tahu itu, Kak.”
“Makanya jangan benci sama Thalia. Awas nanti kalau jatuh cinta.”
“Kak, aku mencintai Lily.”
“Hei, hati bisa berbolak-balik. Kamu harus hati-hati itu, jangan sampai termakan omongan sendiri.”
“Kakak sama saja nyebelinnya.”
“Sudah kakak mau tidur.”
Raffi kembali ke kamarnya setelah menasihati adiknya. Baru saja keluar dari kamar Arkan, ponsel dia berdering. Raffi mengambil ponselnya dan melihat siapa yang meneleponnya. Nama Alina muncul di layar ponselnya. Dia langsung mengangkat teleponnya.
Raffi langsung mematikan ponselnya lagi setelah mendengar Alina bicara dengan menangis. Dia langsung mengambil kunci mobilnya dan bergegas menuju rumah Alina.
“Abah, bunda, Raffi keluar sebentar. Alina, dia dalam bahaya, mantan suaminya mengancam dia lagi. Sekarang mantan suaminya berada di rumah Alina,” pamit Raffi pada abah dan bundanya.
“Ajak Dio atau Fattah, kamu jangan sendirian, Nak,” ujar Arsyad.
“Raffi tidak enak dengan mereka, mereka istrinya sedang hamil semua. Kasihan kalau Rania atau Shifa di tinggal. Sudah, Raffi berngkat sendiri.” Raffi langsung keluar dari rumahnya. Dia megambil mobilnya yang sudah ada di garasi. Raffi langsung melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke rumah Alina.
Masih terngiang suara tangisan dan ketakutan Alina tadi saat meneleponnya. Dia benar-benar sangat ketakutan sekali. Raffi benar-benar pikirannya sudah macam-macam mengingat Alina yang tadi menelonnya sambil menangis.
Sesampainya di depan rumah Alina yang sederhana. Raffi melihat sebuah mobil yang parkir di halaman rumah Alina. Raffi menghentikan mobilnya, dan memarkirkan mobilnya di sebelah mobil tersebut, yang Raffi duga adalah mobil milik mantan suami Alina. Terlihat seorang laki-laki yang Raffi kenal sedang berada di depan pintu rumah Alina dan terus mengeto-ngetok pintu rumah Alina dengan harapan Alina membukakannya.
“Ini bukan urusan kamu!” jawabnya dengan nada kasar.
“Jelas ini urusan aku. Alina adalah calon istriku,” ucap Raffi dengan santai.
Gio hanya terdiam, dan setelah itu dia melanjutkan mengetuk pintu rumah Alina. Terdengar suara Alina yang menangis dan teriak menyuruh Gio pergi dari rumahnya.
“Lina...aku ingin bicara sebentar. Please... oke setelah itu aku pergi, aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi, aku mohon, buka pintunya, Lina.” Gio terus memohon pada Alina untuk membuka pintunya. Tapi, kali ini dia tidak menggunankan kekerasan, dia memintanya dengan penuh harap dan dengan baik.
“Gio, beri waktu Alina. Bisa kita bicara sebentar? Nanti aku akan bujuk Alina, kalau kamu mau bicara baik-baik dengan dia,” ucap Raffi.
“Aku mohon, bujuk dia, ada hal yang harus aku sampaikan,” ucap Gio.
“Jangan pernah kasar lagi dengan Alina, baru aku mengabulkan permintaanmu untuk berbicara dengan Alina.”
“Iya, aku akan turuti itu. Aku hanya ingin menyampaikan ini.” Gio memberikan map berwarna hijau bertuliskan sertifikat. Entah itu sertifikat rumah milik Alina atau siapa Raffi tidak tahu.
“Ini apa? Sertifikat?” tanya Raffi.
“Iya, aku ingin memberikan ini saja. Sebagai tanda minta maaf pada Alina. Sebenarnya, dulu aku tidak ingin meninggalkan Alina. Aku mencintainya, meski aku menikah dengan dia karena di jodohkan oleh orang tuaku yang tamak,” jawan Gio.
“Lalu? Apa hubungannya dengan sertifikat ini?” tanya Raffi.
“Aku ingin memberikan rumahku untuk Alina. Kalau tidak untuk dia untuk siapa lagi? setelah aku menceraikan Alina karena permintaan orang tuaku, aku menikah lagi. Dan, ternyata istriku adalah simpanan papahku. Aku menceraikannya, saat aku tahu, dia lebih memilih papahku daripada aku. Mungkin, aku laki-laki yang bodoh, selalu menjadi kacung oleh orang tuaku sendiri.”
“Aku lega Alina memiliki pria baik sepertimu, meski aku selalu mengancam kalian, tapi kalian selalu tenang menghadapi aku. Maafkan aku, sampaikan maafku pada Alina. Jangan paksa dia menemuiku kalau tidak mau.”
“Kalian harus bicara, apalagi masalah ini,” ucap Raffi sambil menunjukkan map yang ada di tangannya.
“Aku akan membujuk Alina.” Raffi beranjak dari tempat duduknya dan mengetuk pintu rumah Alina.
“Alin, ini aku Raffi, buka pintunya, sayang,” ucap Raffi.
Alina membuka pintunya dan langsung memeluk Raffi. Dia benar-benar ketakutan, karena Gio sering mengancamnya.
__ADS_1
“Aku takut,” ucapnya dengan suara bergetar.
“Jangan takut, ada aku. Sekarang Gio mau bicara dengan kamu,” ucap Raffi.
“Lin, boleh kita bicara sebentar?” tanya Gio.
Alina melihat Raffi, maminta pendapat boleh atau tidak Gio mengajaknya berbicara. Raffi hanya menganggukkan kepalanya, dan mereka duduk di teras rumah Alina bersama.
“Lin, maafkan aku soal yang dulu,” ucap Gio.
“Lupakan itu, Gio. Aku sudah memaafkannya,” jawab Alina.
“Lin, terimalah ini, sebelum aku pergi jauh,” ucap Gio sambil memberikan map berwarna hijau.
“Apa ini?” tanya Alina.
“Ambil saja, itu sudah menjadi hakmu. Nanti ada notaris yang ke sini untuk mengurus pemindahan nama,” jawab Gio.
“Memang kamu mau ke mana?” tanya Alina.
“Setelah notaris ke sini, kamu akan tahu. Aku pamit, terima kasih, Alina,” ucap Gio.
“Dan, kamu. Jangan pernah sakiti Alina, jika kamu benar-benar mencintainya. Aku merestui kalian berdua untuk menikah, jangan di tunda lagi, menikahlah secepatnya,” ucap Gio pada Raffi.
Gio pergi dari rumah Alina setelah memberikan sertifikat pada Alina. Alina tidak mengerti Gio akan pergin jauh ke mana, dan kenapa harus menunggu notaris datang ke sini.
“Raf, ini aku harus gimana?” tanya Alina.
“Tunggu notaris ke sini saja, Lin, atau tunggu Gio lagi, barangkali dia akan ke sini lagi,” jawab Raffi.
“Ya sudah kamu istirahat, kamu jangan khawatir dan takut lagi. Kalau ada apa-apa, hubungi aku. Setelah masalah ini selesai, kita akan menikah,” ucap Raffi.
Raffi pamit dari rumah Alina. Seperti biasa sebelum dia meninggalkan rumah Alina, Raffi juga meninggalkan ciuman di kening Alina. Bagi Alina, Raffi adalah sosok pria dewasa. Walaupun umurnya jauh lebih muda dari dirinya. Memiliki Raffi adalah anugerah terindah dalam hidup Alina. Dia bukan hanya sekedar kekasih saja, tapi dia adalah teman untuk Alina.
^^^
Pukul 1 malam Rania terbangun dari tidurnya. Dia merasa sangat lapar sekali, dia menggoyang-goyangkan suaminya agar bangun dan menemani dia makan.
“Dio...bangun, ayo temani aku makan,” rengek Rania sambil membangunkan suaminya.
“Sayang, ada apa lagi?” tanya Dio dengan mengerjapkan matanya.
“Aku lapar...” jawabnya dengan manja.
“Mau makan apa? Ayo aku temani kamu makan,” ucap Dio.
“Aku mau makan nasi goreng, tapi kamu yang masak,” pinta Rania.
“Iya, iya, aku masakin. Mau nunggu di sini atau ikut ke dapur?” tanya Dio.
“Di sini saja,” jawab Rania.
“Oke, aku masakin nasi goreng spesial untuk Ibu Rania yang cantik,” ucap Dio sambil mengecup pipi istrinya.
“Yang enak ya, ayah Dio, masaknya?”
“Siap, ibu...”
Dengan sedikit rasa kantuknya Dio terpaksa memasakkan nasi goreng untuk istrinya. Dio melihat Fattah sedang di dapur membuat sandwich untuk istrinya, yang juga kelaparan di malam hari.
“Kak, lagi apa?” tanya Dio.
“Ini kakakmu kelaparan, minta sandwich,” jawab Fattah.
“Kamu mau apa?” tanya Fattah.
“Rania minta nasi goreng,” jawab Dio.
“Selamat memasak bapak Dio...” ucap Fattah dengan meninggalkam Dio di dapur.
Meskipun mengantuk dan lelah sekali pun, Dio tetap saja menuruti apa yang Rania inginkan. Bahkan dia rela mengajak Rania ke Jogja, demi ingin memakan gudek Jogja.
__ADS_1
“Benar kata abah, ini adalah momen berharga sekali, dan momen terindah, meski menyebalkan,” gumam Dio sambil menyiapkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng.