THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 113


__ADS_3

Shita sudah selesai memeriksakan kandungannya di rumah sakit. Kandungan Shita sangat sehat, dan janinnya juga berkembang dengan baik. Usia kandungan Shita sudah memasuki bulan ke-2. Sekarang mereka berada di depan ruang farmasi untuk mengambil obat. Shita duduk di sebelah suaminya dan menyandarkan kepalanya di bahu Vino.


"Kak, aku ikut ke kantor ya?"pinta Shita.


"Kamu tidak apa-apa kalau ikut ke kantor?"tanya Vino.


"Lebih baik istirahatlah di rumah."ujar Vino.


"Aku di rumah jenuh sekali, kak. Ibu hari ini ke rumah Nisa, papah ke kantor."ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Baiklah kalau kamu mau ikut, ikut saja." Vino memperbolehkan istrinya ikut ke kantor.


"Shita sekarang hamil, dia manja sekali dengan ku, aku bahagia, sangat bahagia. Tapi, maaf Shita, aku belum bisa mengatakan yang sejujurnya padamu."gumam Vino.


Vino duduk dan terdiam sambil menunggu petugas di ruang farmasi memanggilnya untuk mengambil obat. Ponsel Vino dari tadi ramai dengan motif WA maupun penggilan masuk, tapi dia mengabaikannya.


"Kenapa dia terus mengirim chat padaku, padahal aku masih dengan Shita."gumam Vino dalam hati. Shita melihat suaminya gelisah, dan lagi-lagi memandangi ponselnya.


"Kak, kenapa tidak di balas chatnya?"tanya Shita.


"Emm…ini sekretaris ku bilang ada jadwal meeting jam 2 nanti, sudah aku balas tapi masih saja mengirim chat dan menelfon."jelas Vino dengan berbohong.


"Ya sudah, sepertinya kamu sibuk sekali dengan pekerjaanmu, aku lebih baik ke cafe saja kak. Antarkan aku ke cafe ya setelah ini?"pinta Shita.


"Yakin kamu tidak jadi ikut?"tanya Vino.


"Iya, kamu kan sibuk, kak."ucpanya.


"Oke, nanti aku antar kamu ke cafe. Kamu hati-hati, jangan terlalu lelah."tutur Vino.


"Siap…! Suamiku sayang."ucap Shita dengan semangat.


"Ta, maafkan Kak Vino, mungkin belum saatnya kamu tau, aku tidak mau melukai hatimu sebenarnya. Tapi, ini kenyataannya. Maafkan aku Shita."gumam Vino dalam hatinya.


Vino dan Shita sudah selesai mengambil obat. Dia langsung keluar dari rumah sakit dan menuju tempat parkir. Mereka masuk ke dalam mobil, sebelum Vino ke kantornya dia mengantarkan Shita ke cafe terlebih dahulu. Shita turun dari mobilnya, dia berpamitan dengan suaminya untuk masuk ke dalam cafe. Setelah itu, Vino langsung melajukan mobilnya ke kantor. Namun, dia menepikan mobilnya untuk menelfon seseorang. Dia mencari kontak yang dia beri nama Lesy.


Panggilan terhubung, suara perempuan di balik ponsel Vino yang terdengar sedang menangis. Vino sangat panik mendengar suara wanita yang di telfonnya itu, dia langsung melajukan mobilnya dengan cepat menuju kediaman wanita yang bernama Lesy tadi.


"Kenapa kamu tidak mau dengar penjelasan ku, Lesy. Shita istriku, sampai kapanpun tak akan pernah aku melepas Shita, aku sangat mencintainya, Lesy. Tolong mengertilah."lirih Vino sambil mengemudikan mobilnya menuju rumah Lesy.


( P.O.V Vino dan Lesy )


Lesy, wanita yang sangat cantik, berbadan sexy, dia adalah teman masa kuliah Vino. Ya, mereka pernah dekat, namun sedikitpun Vino tak merespon perasaan Lesy. Sebenarnya, Vino hanya kagum pada Lesy, dia pandai, cantik, dan sexy. Lelaki mana yang tidak tergiur dengan wanita seperti Lesy. Vino dan Lesy memang sangat dekat sekali. Hingga suatu hari, sebelum Vino menikah dengan Shita mereka bertemu lagi di sebuah pertemuan antara relasi kerja Vino. Mereka bertemu dan bernostalgia bersama.


Vino melihat Lesy sangat berbeda, dia Wanita dengan karir yang cemerlang, tapi sayang, saat itu Vino sudah melamar Shita, gadis yang dia sukai sejak SMP yang merupakan adik dari sahabatnya. Shita yang mampu mengalihkan dunia Vino, gadis ayu, yang dia kagumi dari dulu, kini menjadi miliknya. Namun, entah mengapa Vino bisa terperangkap dalam nostalgianya itu bersama Lesy. Lesy yang saat itu masih sendiri, belum ada ikatan dengan pria lain, dia berusaha masuk ke tengah-tengah Vino dan Shita yang sebentar lagi akan menikah.


Entah apa yang merasuki Vino saat itu, dia selalu merespon chat dari Lesy dan hingga sekarang mereka masih sangat dekat. Vino sering mengantar jemput Lesy untuk bekerja. Iya, Lesy bekerja di kantor cabang milik Vino yang sengaja ia sembunyikan dari keluarga istrinya. Dan diam-diam Vino akan menikahi Lesy, karena Shita tak kunjung hamil. Lesy sangat bahagia, akhirnya Vino membuka hatinya, walaupun dia tau, dia hanya menjadi yang ke dua untuk Vino. Tapi, Tuhan berkehendak lain, Shita telah hamil. Dan, kini Vino penuh kebimbangan. Di satu sisi, dia sudah nyaman bersama Lesy, dan di sisi lainnya dia sangat mencintai istrinya. Dia nyaman dengan Lesy, karena Lesy wanita yang sangat penyabar, mandiri dan sangat mengerti apa yang Vino mau.


Keluarga Lesy memang tinggal di Paris semua, dia ke Indonesia karena tugas dari kantornya, hingga bertemu dengan Vino kembali. Dia sengaja keluar dari kantornya dan pindah ke Indonesia untuk mengejar cinta Vino. Dan, pada akhirnya, dia bekerja di kantor cabang Vino, lalu Vino membelikan rumah khusus untuknya.


******


Vino berhenti di rumah Lesy, rumah yang sengaja Vino belikan untuk Lesy tinggal di Indonesia, Iya, Lesy lama tinggal di Luar Negeri. Dia membelikan rumah untuk Lesy yang letaknya jauh dari kota di mana Shita dan keluarganya berada. Vino langsung masuk ke dalam rumah Lesy yang tidak di kunci. Dia mendapati Lesy sedang duduk di sofa ruang tengahnya. Lesy melihat orang yang di cintainya datang, dia segera berlari dan menemuinya.


"Kenapa kamu lama sekali, Vin?"tanya Lesy.


"Maaf, aku habis mengantarkan Shita ke rumah sakit."jawabnya dengan wajah yang bingung tidak seperti biasanya. Iya, Vino sudah terbiasa di rumah Lesy, bahkan dia jarang di kantornya, dia bekerja di rumah Lesy atau di kantor cabang. Memang Shita tidak pernah bertanya bagaimana suaminya di kantor. Dia memang cuek sekali, karena dia sangat percaya dengan suaminya, dan tak pernah mencurigai apa yang suaminya lakukan. Dia begitu percaya dengan suaminya.


"Kenapa Shita?"tanya Lesy, Vino bingung harus menjawab apa, dia sudah berjanji akan menikahi Lesy dan akan mengenalkannya dengan Shita, karena bagaimanapun dia harus berbicara dengan Shita terlebih dahulu untuk menikahi Lesy.

__ADS_1


"Shita hamil."ucap Vino dengan nada datar. Lesy hanya terdiam mendengar kata-kata yang terucap dari mulut Vino.


"Lesy, aku akan tetap menik….."ucapan Vino terhenti, Lesy menyentuh bibir Vino dengan jari telunjuknya.


"Jangan lanjutkan kata-kata mu itu, aku sadar Vin, aku hanya duri dalam rumah tanggamu. Dan, aku malu pada diriku sendiri. Aku di sini, di sembunyikan oleh suami orang, dan akan di jadikan istri kedua olehmu. Bukankah itu suatu hal yang menjijikan sekali untuk ku sebagai perempuan, Vino? Aku egois Vin, sangat egois, memaksamu mencintaiku, yang saat itu kamu akan menikah dengan Shita, hingga sekarang. Vin, ini sudah keputusanku, mungkin ini terakhir kalinya aku di sini, dan terakhir bertemu denganmu. Hentikan sandiwara ini, Vin."ucap Lesy tanpa henti dengan meneteskan air mata.


"Lesy, aku tidak bermaksud mengusirmu dari sini dengan memberitahukan Shita hamil."ucap Vino.


"Tidak, aku tidak merasa diusir kamu, aku memang akan pergi dari sini, aku sudah mengurus semua kepindahanku ke Paris. Dan siang ini aku akan berangkat ke sana."ucapnya.


"Lalu, kenapa tadi kamu menangis, saat aku menelfon mu?"tanya Vino.


"Iya aku menangis, aku menangisi diriku sendiri yang sangat bodoh ini. Mencintai suami orang, menyandra suami orang untuk selalu menemaniku. Iya, hanya sebatas menemaniku saja, tidak melakukan apapun yang menjurus pada keintiman lelaki dan wanita. Tapi, tetap saja aku bersalah, Vin."ucap Lesy.


"Aku menyita waktumu untuk Shita, Vin. Itu salah besar, dan aku wanita yanga sangat berdosa sekali. Aku harap kamu mengerti dengan semua ini. Aku tau, perasaanmu kepadaku hanya sebatas rasa kasihan kepadaku."imbuh Lesy.


"Lesy, jujur kamu selalu membuat aku nyaman dalam segala hal, kamu mengerti apa yang aku mau, pemikiran kita selalu sejalan, karena itu aku tertarik padamu."ucap Vino.


"Itu hanya tertarik, Vino. Aku tau, kamu berkata mencintaiku, tapi hati kamu berat, kamu hanya mencintai Shita, kamu bilang Shita manja, tidak mengerti apa yang kamu mau, itu karena prinsip kamu dan dia berbeda, kamu satu prinsip dengan ku, kebiasaan kita sama, pekerjaan kita sama, sedang istrimu? Dia pemilik cafe, jelas beda pemikirannya. Sekarang aku bertanya padamu, jika aku meminta kamu menceraikan Shita dan menikahi aku, apa kamu mau melakukannya?"tanya Lesy. Vino hanya terdiam, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.


"Tidak bisa menjawab kan?"tukas Lesy.


"Vin, bisakah kamu mengantarkan ku ke bandara?"pinta Lesy.


"Lesy, kamu yakin?"tanya Vino.


"Yakin dan sangat yakin." Lesy beranjak dari tempat duduknya dan mengambil koper dan tas jinjing miliknya.


"Vin, terima kasih untuk semuanya."ucap Lesy, sebenarnya hati Lesy sangat sakit sekali, ingin rasanya menangis, tapi dia tidak bisa lagi mengeluarkan air matanya.


"Vin, bolehkan aku memelukmu?"tanya Lesy.


"Iya, kemarilah." Vino memeluk erat Lesy. Wanita yang selama ini dia sembunyikan di rumah yang cukup besar, yang ia beli memang untuk Lesy. Iya, walau sering bersama, Vino belum pernah menyentuhnya, bahkan memeluk Lesy pun dia tidak pernah, baru pertama kalinya dia memeluk Lesy.


"Iya, aku maafkan, sudah, kita memang hanya sebatas teman dari dulu dan partner kerja. Ini surat Resign ku, dan terima kasih sudah di beri kesempatan mengurus perusahaan mu di sini. Ayo antarkan aku ke bandara sekarang." Lesy melepas pelukan Vino dan memberikan surat pengunduran dirinya dari perusahaan Vino.


Lesy, walaupun dia sangat mencintai Vino, tapi dia tidak ingin melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri. Tidak seperti wanita lain, jika mencintai seseorang, apalagi dengan orang yang sudah beristri, pasti akan rela menyerahkan kehormatannya pada pria itu. Itu semua tidak berlaku bagi Lesy. Dia wanita yang sangat menjaga kehormatannya, bercinta sebelum menikah adalah hal yang menjijikan sekali menurut dirinya. Memeluk Vino pun, baru kali ini ia lakukan.


Mereka keluar rumah, dan masuk ke dalam mobilnya. Vino langsung melajukan mobilnya menuju Bandara. Seperti biasa mereka berbicara mengenai bisnis. Iya, itu mengapa Vino sangat tertarik pada Lesy, karena pemikiran mereka sama, sedangkan Shita, dia memang tidak tahu menahu tentang bisnis. Mungkin itu yang membuat Vino merasa tidak satu prinsip dengan Shita.


"Maafkan aku Vin, aku tidak mau merepotkan orang sebaik kamu, maaf, aku memaksamu untuk mencintaiku."gumam Lesy dalam hatinya.


Vino melepas kepergian Lesy, sebenarnya dalam hati Vino sangat lega sekali, beban dalam hidupnya, yang selama satu tahun terpendam, kini telah hilang. Vino melangkahkan kakinya untuk kembali ke kantornya seusai mengantar Lesy ke Bandara. Vino melihat jam di tangannya sudah menunjukan pukul dua siang. Dia segera menelfon sekretaris di kantornya, supaya, jika ada yang mencarinya, agar menunggunya, karena sedang meeting dengan klien.


*****


Di cafe, Shita mencoba menelfon Vino, tapi tidak di angkat oleh suaminya. Shita ingat, ini jam dua siang, Vino tadi bilang jam dua siang ada meeting dengan klien. Tapi, perasaan Shita berkata lain.


"Kenapa aku sangat memikirkan Kak Vino? Tidak biasanya aku seperti ini. Apa ini bawaan bayi yang ada di kandunganku, aku ingin selalu dekat dengan Kak Vino."gumam Shita dalam hati.


Dia sebenarnya ingin sekali menelfon kantor Vino, tapi dia mengurungkan niatnya untuk menelfon kantor Vino. Dia mengerjakan kembali laporan keuangan cafenya, agar cepat selesai. Sebenernya dia sangat ingin dekat dengan suaminya selalu. Tapi apalah daya, Vino sangat sibuk, dan dia pun sibuk.


"Kenapa hati aku tidak tenang."ucap Shita dengan suara lirih.


"Ah…hanya perasaanku saja, ayo Shita semangat. Jangan manja seperti ini."ucap Shita menyemangati dirinya sendiri.


Tak lama kemudian, Shita mendengar ketukan pintu ruangannya. Dia membukakan pintunya dan ternyata seseorang yang ia rindukan hadir di depannya. Iya, sehabis mengantar Lesy ke Bandara, Vino langsung menuju cafe Shita. Entah kenapa, dia sangat merindukan istrinya yang manja.


"Kak Vino…!"seru Shita, dia langsung memeluk erat suaminya.

__ADS_1


"Aku kangen."ucap nya manja pada suaminya.


"Aku juga, makanya aku langsung ke sini. Maaf aku tidak mengangkat telfonmu, aku sengaja. Kamu sudah makan?"tanya Vino.


"Belum."ucap Shita sambil menggelengkan kepalanya.


"Ayo makan dulu, aku juga belum makan."ajak Vino.


"Ayo, aku ingin makan makanan seafood."ucap Shita.


"Oke, ayo kita cari seafood." Vino mengajak Shita makan siang di luar. Shita mengambil tasnya lalu berjalan di samping Vino, dan Vino menggenggam erat tangan Shita.


"Benar kata Lesy, aku memang sangat mencintai Shita, dia memang manja, tapi dia sangat mandiri, aku terlalu bodoh yang sangat berharap untuk memilki wanita yang sempurna dan satu pemikiran denganku. Memang pernikahan menyatukan dua insan yang berbeda. Berbeda jenis, karakter dan pikiran. Maafkan aku Shita. Aku sangat berdosa sekali, aku akan perbaiki semuanya."gumam Vino dalam hati.


*****


Andini masih berada di rumah Annisa, dia melihat menantunya masih saja sibuk dengan pekerjaannya. Andini mendekati Annisa yang sedang duduk memandang laptop dari tadi. Dia memang sedang meneliti file yang dikirim sekretaris nya via email. Annisa sangat antusias dalam bekerja.


"Annisa, jangan terlalu lelah, kasihan cucu kembar Oma, nak."ucap Andini sambil duduk di samping menantunya.


"Sebentar lagi, ibu."ucap Annisa


"Dari tadi sebentar lagi terus…"ucap Andini sambil meletakan air putih untuk menantunya.


"Minumlah, kamu harus banyak minum air putih."tutur Andini.


"Ibu, terima kasih, udah perhatian dengan Nisa." Nisa menutup laptopnya, dia meneguk habis air putih yang di ambilkan Andini.


"Iya, sama-sama, oh iya, ibu lupa memberitahu padamu, Kak Shita, dia sedang hamil, tadi pagi dia baru saja melakukan tes urine, dan hasilnya positif."ucap Andini dengan bahagia.


"Benarkah, aku ikut senang, akhirnya Kak Shita hamil." Annisa bahagia sekali, kakak iparnya sudah hamil.


"Nak, kamu jangan terlalu lelah bekerja, kasihan anakmu, biar Arsyil yang bekerja."tutur Andini.


"Ibu, kalau bukan Nisa siapa lagi? Arsyil juga kerja di perusahaan papah Rico. Ya Annisa harus membatu di perusahaan Alm. Papah, Bu."jelas Annisa.


"Iya boleh membantu, tapi ingat kondisi kamu sekarang, kamu sedang hamil tua, sayang."


"Iya, Bu Nisa mengerti. Ibu jangan khawatir, Nisa baik-baik saja." Nisa memeluk ibu mertuanya. Andini memang memanjakan menantunya, entah itu Mira atau Nisa. Andini sudah memasak untuk makan siang, Andini mengajak Annisa untuk makan siang bersama.


Nisa sangat bahagia, memiliki mertua yang baik sekali seperti Andini dan Rico. Mereka sudah seperti orang tua Nisa sendiri. Rico juga sangat menyayangi Nisa dan Almira.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


♥️happy reading♥️


maaf, author baru mengulik kehidupan rumah tangga Shita dan Vino yang sebenarnya terjadi. Begitulah Vino. ya memang begitu adanya. Dan semoga kalian suka dengan Bab ini. Yang kemarin minta Visual Dedek Najwa dan lainnya, di mohon sabar ya, Author sedang mencari Visual yang pas.😁


__ADS_2