
Rania masih belum bisa memejamkan matanya. Dia melihat Dio yang meringkuk di sofa seperti kedinginan, akhirnya dia mengambilkan selimut di dalam lemari. Rania berjalan mendekati Dio yang tidur di sofa kamarnya. Dia menyelimuti tubuh Dio. Rania memegang telapak kaki Dio yang sudah dingin sekali. Rania berjongkok di depan Dio, dia memerhatikan wajah Dio yang memang menurut Rania tampan, dan tidak berubah dari dulu.
"Aku mencintaimu, Dio. Sangat mencintaimu. Tapi, maafkan aku Dio, aku tetap memilih untuk bercerai dari kamu, meskipun kamu tadi bicara ingin sekali belajar mencintaiku, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Karena aku tahu, ketika kamu masih belajar mencintaiku dan jika Najwa kembali, kamu pasti akan kembali pada Najwa lagi. Itu akan menyakitkan aku, Dio. Aku tahu cinta kamu untuk Najwa melebihi apa pun, aku tahu itu. Sama dengan rasa cinta ini untuk kamu, juga melebihi dari apa pun, walaupun nantinya kita berpisah, aku akan selalu mencintaimu Dio, rasa ini masih sama, seperti saat pertama aku menjatuhkan hati ini padamu," ucap Rania lirih di depan Dio yang sudah tertidur lelap menurut dirinya. Padahal Dio belum juga tertidur.
Rania beranjak dari depan Dio, tapi langkahnya terhenti karena Dio menarik tangan Rania.
"Kamu mencintaiku, Rania?" tanya Dio.
"Dio, ka--kamu ... kamu belum tidur?" tanya Rania.
"Ya, aku mendengar semua apa yang kamu katakan tadi, kenapa belum tidur? Duduklah di sampingku," ucap Dio dengan lembut dan menarik tubuh Rania untuk duduk di sampingnya.
Rania mendudukkan dirinya di samping Dio, dia menundukkan kepalanya, karena dia malu pada Dio, telah mengungkapkan isi hatinya yang sangat dalam, dan berkata mencintai Dio. Setelah menikah dengan Dio, Rania memang jarang mengungkapkan rasa cintanya di depan Dio, dan baru kali ini dia berani mengatakan di depan Dio, itu pun Rania tahunya kalau Dio sudah terlelap tidur.
"Ran," panggil Dio dengan lembut.
"Iya, Dio," jawab Rania.
"Kamu yakin akan berpisah?" tanya Dio.
"Iya, aku yakin," jawab Rania.
"Lalu perasaanmu yang baru saja kamu ungkapkan?" tanya Dio lagi.
"Lupakan itu, Dio. Aku sudah biasa memendam rasa itu, jadi aku akan baik-baik saja untuk itu," jawab Rania.
"Ran, kalau aku tidak mengabulkan kita bercerai?"
"Aku tetap akan memilih untuk berpisah, Dio. Bukankah kamu sudah berjanji juga akan mengabulkan permintaanku untuk berpisah?"
"Iya, tapi aku akan tetap belajar mencintaimu, Ran," ucap Dio.
"Itu urusan kamu, Dio, bukan urusan aku. Satu yang aku minta, kabulkan permintaan cerai ku," pinta Rania dengan suara parau.
"Iya, aku akan kabulkan. Aku juga minta satu syarat dengan kamu, sebagai ganti aku mengabulkan permintaan perpisahan ini," pinta Dio.
"Syarat apalagi, Dio?" tanya Rania.
"Selama 100 hari, aku akan di sini menemani ibu, walaupun aku nantinya bukan suami kamu lagi," jawab Dio.
"Iya, tapi jangan tidur di kamar ini, kalau kita sudah resmi bercerai," ucap Rania.
"Itu masalah gampang, aku ingin menjaga ibu dan kamu, terima kasih kalau kamu mengizinkan Rania," ucap Dio.
__ADS_1
"Iya, Dio." Rania menjawab sambil menyeka air mata yang jatuh.
"Jangan nangis, Ran." Dio menarik tubuh Rania dan menyandarkan kepalanya di dadanya. Tangis Rania semakin pecah saat Dio memperlakukan Rania seperti itu.
"Ran, maafkan aku, 15 bulan aku sudah menyakiti hati kamu, menyiksa batin mu. Mungkin ini adalah hukuman untuk aku. Ya, berpisah dari kamu adalah suatu hukuman untukku. Aku sudah tidak memiliki wanita sehebat kamu lagi di sampingku nantinya. Wanita yang sabar, wanita yang selalu berdiri tegar saat aku menyakitinya dengan segala kekasaran ku, wanita yang kuat saat aku menggoreskan luka yang begitu dalam di hatinya. Maafkan aku, Ran. Bahagialah, jika perpisahan ini membuat kamu bahagia, aku rela. Kamu pasti mendapatkan laki-laki yang terbaik untuk hidupmu, bukan aku yang selalu membuat kamu sakit." Dio mencium kepala Rania yang masih di pelukannya. Rania mengeratkan pelukannya dan semakin terisak di pelukan Dio.
"Maafkan aku juga, Dio. Aku meminta berpisah, karena aku tidak mau memaksakan cinta, Dio. Aku ingin memiliki seorang suami yang mencintaiku apa adanya bukan karena terpaksa. Jangan kecewakan orang tuamu lagi, Dio. Kasihan Abah dan bunda, kamu dan Najwa saudara satu susuan, jadi sampai kapanpun kamu tidak bisa menikahi Najwa. Biarkan Najwa di luar sana memiliki laki-laki lain, jangan siksa hati Najwa lagi, ikhlaskan dia pergi. Aku tahu perasaan Najwa, hidup dia telah di rusak kamu, Dio. Kamu tahu, dia keluar rumah tidak membawa apa-apa, dia wanita, aku merasakan apa yang Najwa rasakan," ucap Rania yang masih berada di dalam pelukan Dio.
"Kamu tidak memikirkan hatimu? Kamu malah memikirkan Najwa yang menyakitimu. Bagaimana dengan hatimu sendiri, Ran? Kamu masih sempat memikirkan hati Najwa. Kamu melihatku di kamar dengan perempuan lain, yang tak lain adalah sahabat kamu sendiri, dan dengan keadaan seperti itu. Tapi, kamu masih mengkhawatirkan orang yang sudah menyakitimu, Ran," ucap Dio.
"Najwa sahabatku Dio. Aku memang sakit sekali melihat suamiku berkhianat. Tapi, aku juga menyadari, suamiku tidak mencintaiku, suamiku mencintai sahabatku. Tidak mungkin juga aku akan mengemis cintanya, itu lebih menyakitkan, kalau kamu bukan saudara satu susuan dengan Najwa, aku juga akan mengikhlaskan kamu menikahi Najwa, karena cinta tidak bisa di paksa, Dio," jelas Rania.
Dio meneteskan air matanya mendengar Rania berbicara sepertu itu. Dio meregangkan pelukan Rania, dia menatap wajah Rania dan menyeka air matanya. Dio mencium kening Rania, entah kenapa dia melihat wajah Rania membuat hatinya berdegup sangat kencang dan rasa sesal karena menyakiti Rania menusuk hatinya hingga sakit yang di rasakan Rania turut ia rasakan.
"Ya Allah, aku sudah menyia-nyiakan kamu, Ran. Wanita yang Tuhan sandingkan untuk aku. Aku kejam sekali, aku sangat kejam. Apa yang menutupi mata dan hatiku ini, sehingga aku tidak bisa melihat dan merasakan cintamu yang sungguh besar sekali, Ran. Andaikan saja waktu bisa ku ulangi lagi, aku tidak akan menyia-nyiakan wanita baik seperti kamu. Maafkan aku Rania, maafkan aku. Bahagialah bersama orang yang baik dan mencintaimu. Aku jahat Rania ... aku jahat sekali." Dio berkata seperti itu di depan Rania dengan berlinang air mata hingga sesegukkan.
Rania tidak bisa memungkiri hatinya yang masih sangat mencintai Dio. Dia merengkuh tubuh Dio. Memeluk Dio dan membiarkan Dio menangis di pelukannya. Rania seketika mengingat soal gugatan cerainya. Dia ingin mencabut semua gugatan cerainya, tapi hati yang masih sakit tidak bisa menerima itu. Dia tahu kondisi hati Dio juga masih labil, jadi dia tetap pada pendiriannya utuk bercerai dengan Dio.
"Dio, sudah jangan menangis. Aku sudah memaafkan mu, aku memaafkan mu, tapi maaf, aku tidak bisa kembali pada kamu lagi Dio, aku tetap ingin berpisah," ucap Rania dengan terisak juga sambil memeluk Dio.
"Iya, jika memang dengan berpisah itu yang terbaik untukmu, aku akan mengabulkan perpisahan ini," jawab Dio.
Dio melepas pelukan Rania, dia menangis dan menautkan keningnya pada kening Rania.
Dio mengusap air mata di pipi Rania dengan lembut, dia juga mengusap bibir Rania yang manis itu. Dio mendekatkan bibirnya pada bibir Rania. Rania memejamkan matanya dan terbawa suasana itu.
"Maaf Dio, jangan seperti ini. Jangan jatuhkan hatiku lagi, aku akan berusaha melupakan orang yang tidak mencintaiku. Kamu boleh memelukku, mencium keningku, tapi jangan bibir ini," ucap Rania.
"Kenapa? Aku masih suamimu." Dio berkata sambil mengusap lembut kepala Rania.
"Dio, aku tidak mau semakin sakit mencintaimu," ucap Rania.
"Dulu juga pernah dengan Yohan, kan?" tanya Dio dengan senyum penuh selidik.
"Dio, please, jangan ingatkan itu lagi. Kenapa kamu tahu dia mencium ku dulu? Aku benar-benar sakit kalau ingat itu. Aku tidak mau, dia memaksaku, aku takut sekali saat itu, aku diancam dia dan teman-temannya." Rania menangis dan semakin ketakutan mengingat itu.
"Kok kamu nangis gini?" tanya Dio.
"Dio, aku benci dia, aku takut kalau ingat itu. Aku selalu merasa bersalah pada diriku yang tidak bisa menjaga apa yang seharusnya tidak di sentuh oleh laki-laki lain, aku benci sekali kalau mengingat itu." Rania semakin menangis histeris saat mengingat kejadian itu. Kejadian yang membuat ia dingin dengan laki-laki karena Yohan melakukan hal yang tidak senonoh pada Rania.
"Tenangkan hatimu, Ran, sudah jangan menangis, nanti ibu dengar," ucap Dio.
"Maafkan aku Dio, seharusnya ciuman itu untuk kamu. Saat itu aku akan menemui mu, seperti biasa di taman belakang sekolah, apa kamu masih ingat, itu? Setiap pulang sekolah kita selalu bertemu di taman belakang sekolah dan saling bertukar surat?"
__ADS_1
"Iya aku ingat, dan saat aku melihat semua itu, aku pulang, aku kecewa, aku marah, kamu sudah mengkhianatimu, Rania." Dio berkata sambil mengingat kejadian dulu. Rasa marah dan sesak menghampiri Dio saat ini, seperti saat dulu Dio melihat Rania berciuman dengan Yohan di depan mata Dio.
"Aku membencimu saat itu, Ran. Aku menjauh dari kamu sejak kejadian itu, dan melupakan cinta untukmu, membuang cinta untukmu, hingga pada akhirnya aku menemukan kenyamanan dengan Najwa," ucap Dio.
"Jadi kamu melihatnya?" tanya Rania.
"Aku melihat semuanya, Rania. Dari awal Yohan mengajak kamu ke taman belakang, dan Yohan mencium bibir kamu, kamu seperti menikmati itu. Padahal kita saat itu baru saja jadian walau hanya lewat sebuah surat aku dan kamu mengungkapkan cinta. Aku kecewa, aku marah melihat semua itu," ucap Dio dengan napas yang terengah-engah karena marah saat mengingat itu.
"Kenapa kamu tidak meminta penjelasan padaku? Kalau kamu mencintai aku, kamu harusnya tahu aku di paksa Yohan saat itu, aku takut, aku berharap kamu datang saat itu, Dio. Aku berharap kamu memberi pelajaran pada Yohan saat itu. Tapi, setelah itu, kamu malah mendiamkan ku, kamu acuh denganku hingga sekarang. Padahal saat itu, aku menunggu kamu di taman belakang hingga selepas Ashar aku di sana. Kamu tidak datang juga, dan keesokan harinya kamu tidak menyapaku. Kamu membenciku, kamu selalu berkata kasar denganku." Rania berkata dengan sesegukan karena menangis mengingat kejadian yang menyakitkan itu.
"Maafkan aku, Ran. Maafkan aku, aku tidak tahu kalau kejadiannya seperti itu. Aku tidak tahu Rania. Karena aku memang selalu cemburu jika kamu dekat dengan laki-laki lain saat itu. Aku marah sekali saat itu. Dan, hingga sekarang aku marah sekali kalau mengingat itu" ucap Dio.
"Apa itu yang membuat kamu marah, dan tidak mencintaiku lagi?" tanya Rania.
"Iya, Ran. Maafkan aku," ucap Dio.
"Aku sekarang sudah tahu, apa penyebab kamu membenciku, Dio. Itu semua karena Yohan. Tapi, semua sudah terlambat, kita akan berpisah, dan aku tahu, cinta kamu bukan untuk aku sekarang," ucap Rania.
"Kita belum terlambat, Ran. Kita masih bisa kembali lagi, aku akan menebus semua kesalahanku, aku akan belajar mencintaimu lagi, menumbuhkan cinta untuk kamu yang sudah mati," ucap Dio.
"Maaf Dio, aku tidak bisa memaksa seseorang mencintaiku lagi. Meski kita tidak bersama, kita masih tetap bisa menjadi teman, aku masih menganggap bunda dan Abah adalah orang tuaku. Maaf aku tetap melanjutkan perceraian ini." Rania tetap pada pendiriannya. Dia tetap ingin berpisah dari Dio, meski cintanya pada Dio masih melekat erat dalam hatinya.
"Kalau itu sudah keputusan kamu, aku bisa apa. Sekali lagi, maafkan aku, Ran. Semoga kelak kamu bahagia mendapat pengganti ku," ucap Dio.
"Kamu juga, ingat pesanku, jangan kembali pada Najwa, karena itu akan menyakiti hati Najwa, Dio. Kasihan dia, biar dia hidup bahagia dan tenang dengan caranya. Jangan usik hati Najwa lagi, jangan menggoreskan luka terlalu dalam pada hati Najwa. Dia hanya tertutup oleh cintamu, Dio. Hingga dia seperti itu. Aku tidak menyangka wanita seperti Najwa bisa melakukan itu dengan kamu," ucap Rania.
"Aku belum melakukannya, Ran. Dia masih suci," ucap Dio.
"Tapi tetap saja, tubuhnya sudah kamu nikmati," ucap Rania dengan menundukkan kepalanya karena merasakan sakit di dadanya saat mengingat Dio dan Najwa saat di villa.
"Sudah jangan ingat itu. Sudah jam 2 pagi, tidurlah. Dari tadi kita mengobrol. Sana tidur," titah Dio.
"Kita bukan mengobrol lagi, tapi meluruskan masalah yang sudah terlambat untuk di bicarakan, Dio," jawab Rania.
"Ya, seperti itulah, sudah sana tidur," titah Dio lagi.
"Iya, aku mau tidur, kamu juga tidur, Dio," ucap Rania.
"Oke, selamat tidur." Dio mencium kening Rania, dan Rania kembali ke tempat tidurnya.
Dio merebahkan tubuhnya di sofa. Dia sudah tahu, apa yang Rania lakukan dengan Yohan waktu dulu adalah karen Rania terpaksa dan di ancam oleh Yohan.
"Andaikan dulu aku tidak egois, aku pasti sudah hidup bahagia dengan Rania. Mungkin aku sudah memiliki anak yang lucu dengan Rania. Bodohnya aku, aku selalu egois, dan sekarang sudah terlambat. Memang penyesalan selalu datang di akhir kisah," gumam Dio.
__ADS_1
"Walau cintaku pada Dio sungguh besar, masih kalah dengan rasa cinta Dio untuk Najwa. Jadi, tidak ada gunanya aku mempertahankan pernikahan ini," gumam Rania sambil memejamkan matanya.