THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 3 "Tamat" The Best Brother


__ADS_3

Malam ini, Annisa terlihat sibuk menyiapkan makanan di meja makan. Malam ini Annisa masak begitu banyak, karena keluarga Reno akan makan malam di sini. Tentunya dengan Rania. Rania baru saja pulang dari Singapura. Dia di sana meneruskan perusahaan Reno. Jadi mau tidak mau Rania tinggal di sana setelah selesai mencapai gelas Masternya.


"Bunda, kok bunda masak banyak sekali?" tanya Najwa yang kala itu juga membantu memasak bersama Shifa.


"Mau kedatangan calon menantu bunda, kak," jawab Shifa.


"Maksudnya? Fattah?" tanya Najwa lagi.


"Bukan, Rania, dia baru saja pulang dari Singapura. Dan, katanya sih, Om Reno dan Abah akan menjodohkan mereka Dio sama Rania, ya gak bunda?" tanya Shifa.


Demi apa, hati Najwa bagai tergores sembilu beratus-ratus kali. Dia ingin sekali mengeluarkan air matanya, tapi dia berusaha tegar dengan keadaan ini. Dan Najwa memberanikan diri membahas ini.


"Benarkah, bunda?" tanya Najwa.


"Kata abah sih seperti itu, tidak tahu nanti. Kalau Rania sudah punya kekasih, dan Dio juga sudah punya, mereka akan membatalkan perjodohan ini. Kalau misal belum semua ya di lanjut," jawab Annisa.


"Kalau salah satu sudah ada yang punya, Dio atau Rania sudah punya kekasih bagaimana?" tanya Najwa lagi.


"Iya, bunda. Bagaimana kalau Dio sudah memiliki kekasih? Kalau Rania sih, jelas belum. Dia selalu setia menunggu Dio. Tidak pernah menyerah sekali Rania. Salut aku," ucap Shifa.


"Ya, kita lihat saja nanti. Sudah ini urusan abah dengan Om Reno. Kamu sudah mencuci ikannya, Shifa?" tanya Annisa.


"Sudah, bunda," jawab Shifa.


Najwa masih mengiris sayuran dengan memikirkan hatinya yang masih terasa sakit sekali. Dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa pada bundanya. Menentang keputusan abahnya juga sia-sia saja.


"Ya Allah, bagaimana ini? Aku harus siap dari sekarang. Siap melihat Dio dimiliki wanita lain. Aku harus bagaimana? Haruskah aku memaksakan keadaan dan membujuk Abah? Sepertinya tidak mungkin juga," gumam Najwa.


"Awww…. Sakit!" pekik Najwa karena jarinya tergores pisau tajam.


"Najwa…! Kamu kenapa? Hati-hati dong." Annisa mengambil pisau yang dipegang Najwa. Dia membantu Najwa mencuci lukanya.


"Diobati dulu, sana. Kamu kenapa sih, nak? Kok sampai tergores seperti ini? Ini dalam lho lukanya." Annisa tidak berhenti-hentinya bicara dengan Najwa karena panik dengan luka Najwa yang dalam tergores pisau.


"Iya, Najwa akan obati dulu. Sudah, najwa tidak apa-apa bunda. Najwa mau mengobati ini di kamar bunda." Najwa pamit pergi ke kamarnya dan sebelum itu dia mengambil obat di kotak obat.


Najwa duduk di depan meja riasnya. Dia membuka obat dan mengoleskan ke jarinya yang terkena pisau. Dia tidak merasakan sakit pada jarinya. Karena sakit pada jarinya sudah tertutup oleh luka di hatinya yang sangat dalam.


"Ini belum ada apa-apanya di bandingkan sakit di hatiku. Dio, apa ini detik-detik kisah kita akan berakhir? Sungguh aku tidak yakin Dio, hubungan kita akan bersatu. Aku tidak yakin itu." Najwa meneteskan air matanya. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.


Ponsel Najwa berdering, dia segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang meneleponnya. Dio, iya dia menelepon Najwa via video call. Najwa mengunci pintu kamarnya dulu, dan setelah itu mengangkat telepon Dio.


"Najwa, mata kamu sembab sekali, sayang?" Dio langsung bicara seperti itu saat melihat wajah orang yang ia sayangi.


"Hmm..aku baru bangun tidur," jawab Najwa berbohong.


"Kamu bohong, coba Katakana sejujurnya padaku, ada apa?" tanya Dio.

__ADS_1


Dio tahu, kalau kekasihnya itu menyembunyikan sesuatu dari dirinya.


"Dio, aku baru bangun tidur. Makanya mataku seperti ini" ucap Najwa.


"Jujur atau aku matikan teleponnya!" tukas Dio.


"Dio, kamu kenapa, sih? Aku tidak bohong, Dio," ucap Najwa mencoba baik-baik saja.


"Gak kamu berbohong, kamu pasti berbohong menyembunyikan sesuatu," ucap Dio yang terus menyuruh Najwa jujur.


"Jariku sakit, terkena pisau,"ucap nya sambil menunjukan jarinya yang masih ada sisa darah yang terlihat.


"Ya ampun, kenapa bisa jari kamu terkena pisau, sayang. Itu dalam seklai lukanya. Jadi, kamu menangis karena jari itu?" tanya Dio. Najwa hanya menganggukkan kepalanya dengan raut wajah yang manja.


"Jangan seperti itu wajahnya, sayang," ucapnya.


"Kenapa?" tanya Najwa


"Aku jadi pingin nyium kamu. Kamu tahu, sayang? Aku selalu ingat waktu pertama cium kamu," ucap Dio.


"Kamu nyebelin, sudah marah-marah, buat kesal orang, pakai cium-cium," ucap Najwa dengan kesal kalau ingat itu.


"Itu kan hadiahnya, karena kamu sudah nyelesein tugasku dulu." Dio memandangi wajah kekasihnya dari layar ponselnya itu.


"Aku kangen, nanti kalau pulang kita touring berdua saja, ya?" pinta Dio.


"Nanti aku pulang, kita touring aku janji. Aku mau bawa kamu ke suatu tempat. Yang di sana hanya ada kita berdua,"ucap Dio.


"Ngawur, mau apa coba berduaan?"


"Mau berduaan, lah. Biar romantis."


"Bisa romantis juga?"


"Bisa, hanya dengan Najwa aku bisa seperti ini,"


"Lalu dengan Rania?"tanya Najwa.


"Sudah tamat!" ucap Dio.


"Jadi kamu sudah pernah dengan Rania?" tanya Najwa.


"Tidak, dia saja yang kegeeran, tidak ada wanita lain selain Rania, kah? Kok kamu sensi sekali dengan Rania?" tanya Dio.


"Kan kamu dekatnya cuma sama Rania," jawab Najwa.


"Ngarang, ada lagi lah, banyak, tapi hanya kamu yang memenangkan hatiku, sayang," ucap Dio.

__ADS_1


"Gombal kamu, sudah, ah. Aku mau mandi, sudah sore sekali," ucap Najwa.


"Aku ikut," pinta Dio dengan manja.


"Apaan sih, ngawur kamu," tukas Najwa.


"Ya sudah mandi dulu, jangan nangis lagi. Kamu cengeng sekali, sayang," titah Dio.


"Aku nangis gara-gara kamu, Dio," ucap Najwa.


"Kok gara-gara aku?" tanya Dio.


"Iya, soalnya aku sedang pegang pisau pikirannya ke kamu," jawab Najwa dengan senyum manisnya.


"Pinter, ya kamu? Sudah mandi dulu, aku mau istirahat dulu, sayang. Love you,"


"Love you too."


Dio mengakhiri panggilan video callnya. Najwa sedikit mereda sakit di hatinya. Dio memang obat baginya, saat dia sedih dan tidak tahu harus ke mana menepiskan rasa sedihnya itu, dia segera menghubungi Dio, di jam berapapun.


"Aku hanya ingin bahagia dengan caraku Dio, andaikata kamu menikah dengan Rania. Bahagiaku, adalah melihat kamu bahagia. Dan bahagiaku adalah mencintaimu dalam diam, enatah sampai kapan, dan kapan aku mendapat pengganti kamu, aku tidak tahu itu. Karena yang aku tahu, aku hanya mencintaimu. Dan aku percaya, aku bisa hidup dengan cintamu, meski tidak dengan ragamu," gumam Najwa.


Najwa mengurungkan niatnya untuk mandi. Dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan menatap foto Dio. Kerinduan ya semakin menggerogoti hatinya. Ingin rasanya Najwa ke sana menyusul kekasihnya itu. Najwa yang kala itu sedang melamun, dia di kagetkan oleh pesan masuk di ponselnya. Najwa melihatnya, dan ternyata itu dari Dio. Najwa tersenyum dan membukanya.


"Najwa, kita kabur yuk, kalau Abah dan Bunda tidak merestui kita? Aku tidak mau menikah dengan wanita lain selain kamu. Jika sampai terjadi, aku tidak akan menyentuhnya, dan tidak akan mencintainya." ~Dio.


Najwa tersenyum melihat pesan Dio. Dia seakan tahu apa yang ada di pikiran Najwa, dan apa yang sedang Najwa takutkan sekarang ini.


"Hus…apa kamu berani kabur? Membawa aku pergi?" ~Najwa.


"Iya lah, berani, jika itu terjadi, aku pastikan akan seperti itu." ~Dio.


"Jangan ngayal, seperti tidak tahu Abah dan opa saja, kamu. Kita berdoa saja, semoga di mudahkan jalan kita, sayang. Sudah katanya mau istirahat?" ~Najwa.


"Masih kangen kamu. Pengen meluk kamu." ~Dio.


"Tuh, peluk guling." ~Najwa.


"Jangan ngarang kamu. Ya sudah aku tidur dulu. Nanti 3 jam lagi bangunin aku ya, sayang." ~Dio.


"Oke, sayang. Love you." ~Najwa.


"Love you too." ~Dio.


Najwa senyum-senyum sendiri, dia merasa ikatan batinnya dengan Dio sangat kuat sekali.


"Kenapa saat aku merasakan seperti ini, kamu juga seperti merasakannya, Dio? Aku tidak tau Dio, yang aku tau aku selalu mencintaimu, apapun yang terjadi nanti," gumam Najwa.

__ADS_1


__ADS_2