THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 88 "Belum Bisa Memaafkan"


__ADS_3

Bell istirahat berbunyi, Najwa segera keluar dari kelasnya dan memberanikan diri menemui Shifa di kelasnya. Shifa masih berada di kelasnya menyelesaikan catatan yang belum selesai.


Najwa mencoba mendekati Shifa yang sedang sibuk dengan catatannya.


"Fa, boleh aku duduk di sini?" tanya Najwa.


"Kak Najwa? Ada apa kakak ke kelas Shifa?" Shifa yang di buat kaget oleh kakak sepupunya yang tiba-tiba datang menghampirinya akhirnya mempersilakan kakaknya duduk di sebelahnya.


"Iya, boleh, silakan duduk," ucap Shifa.


"Terima kasih, Fa,"


"Fa, maafkan aku," ucap Najwa dengan mata berkaca-kaca.


"Emmm…iya, kak. Lupakan itu," ucap Shifa dengan berat.


Shifa memang masih sedikit kecewa dengan Najwa, Opa Rico, dan Tante Shita. Tapi, walau bagaimanapun mereka adalah saudara Shifa, mereka masih keluarga Shifa. Shifa sangat mengerti keadaan 4 bulan kemarin, di mana abahnya mengalami kecelakaan yang membuatnya koma.


"Abah sudah bangun dari komanya, Shifa," ucap Najwa.


"Lalu ab…emmm pakde gimana keadaannya?" Shifa mengurungkan niatnya memanggil Abah, karena kemarin Najwa melarangnya saat Shifa memanggil Abah. Shifa tetap menanyakan kabar Arsyad, walaupun dia sudah tau keadaan Arsyad bagaimana dari bundanya.


"Dia Abah kamu juga, Fa. Maafkan aku yang egois, aku tidak bisa merasakan apa yang kamu rasakan juga, Fa,"


"Harusnya kakam tau apa yang bunda rasakan, bunda sedang mengandung, Kak," ucap Shifa.


"Iya, aku salah, Fa. Aku egois tidak mau mendengar apa kata bunda, dan aku menyalahkan bunda waktu itu. Maafkan aku, Fa. Apa bunda mau memaafkan aku?"


"Tidak ada orang tua yang tidak mau memaafkan anaknya, kak. Aku sudah memaafkan kakak. Ya, meskipun hati ini masih sedikit kecewa, karena semua sudah membuang aku, Dio, dan terutama bunda yang sedang hamil," ucap Shifa.


"Apa aku bisa bertemu bunda?"tanya Najwa.


"Bunda tidak di rumah," jawab Shifa.


"Lalu? Di mana bunda?"tanya Najwa.


"Bunda sedang berada di suatu tempat, bunda ingin sendiri menangkan pikiran dan tidak mau ada yang mengganggu," jawab Shifa.


"Apa tidak bisa, kamu mempertemukan aku dengan bunda sebentar saja?" pinta Najwa.


"Aku bertemu bunda saja jarang, apalagi mempertemukan dengan Kak Najwa, sepertinya tidak mungkin bisa. Bunda saja belum mau bertemu emm…pakde,"


"Abah, Fa. Dia juga Abah kamu,"


"Ya, dia Abah ku juga, tapi kemarin ada yang melarang aku memanggil Pakde dengan sebutan Abah," ucap Shifa yang sedikit menyindir Najwa.


"Iya, aku melaranganya, memang aku kemarin melarangnya. Fa, aku mohon, aku ingin bertemu bunda," pinta Najwa.


"Nanti kalau sudah saatnya juga bertemu, kak," ucap Shifa.


Najwa dan Shifa mengobrol cukup lama. Ada perasaan lega pada diri Najwa yang mendapat maaf dari Shifa. Dan, sebenarnya Shifa masihbkecewa sekali dengan sikap Najwa yang kurang dewasa dan tidak pantas di sebut kakak. Shifa memang tau, karakter Najwa yang sedikit egois di hal apappun. Jadi dia tau, Najwa seperti apa. Ya, mungkin Shifa bisa memaafkan Najwa, tapi tidak tau dengan Shita dan Rico yang sikapnya terlalu keras dengan bundanya. Apalagi dia melihat dengan mata kepala sendiri bundanya di tampar oleh Shita dan di usir secara kasar.


"Apa aku harus menaruh dendam? Sedangkan Allah juga Maha Pengampun. Sebesar apapun dosa Hamba-Nya, Allah memberikan ampunan padanya. Dan, Kak Najwa, apa aku harus menolak dan tidak memaafkan Kak Najwa, saat dai dengan tulus meminta maaf padaku? Aku juga tidak mau egois. Walau hati ini masih sakit, aku harus bisa memaafkan Kak Najwa," gumam Shifa.


"Betapa bodoh dan hinanya aku, menjilat ludah sendiri. Aku egois, sangat egois dengan mereka yang selalu baik padaku. Aku tega menggores luka di hati mereka, dihati Dio dan Shifa, yang telebih di hati bunda. Aku sudah menyakiti hati bunda. Padahal sedikitpun bunda tak pernah menyakitiku. Bunda selalu mengalah, bunda ke Berlin juga karena ummi cemburu dengan bunda dulu. Betapa bodohnya aku mengusir orang sebaik bunda. Orang yang bisa merubah hidup Abah memjadi berwarna lagi setelah ummi pergi. Dan sekarang, aku tidak melihat kebahagian dalam hidup Abah lagi. Aku egois sekali, Ya Allah," gumam Najwa.


Najwa dan Shifa hanya terdiam tak salin bicara setelah apa yang mereka bicarakan selesai. Mereka masih sama-sama bergelut dengan perasaan di hati mereka. Hingga bel masuk tiba mereka masih saling terdiam.


"Kak Najwa balik ke kelas ya, Fa?" pamit Najwa.


"Iya, kak," jawab Shifa.


"Terima kasih ya, Fa. Kamu sudah mau bicara dengan aku dan memaafkan aku," ucap Najwa.


"Iya kak, sama-sama. Bukankah sesama manusia harus saling memaafkan?"


"Iya Fa." Najwa memeluk Shifa sebelum keluar dari kelas Shifa. Shifa juga membalas pelukan Najwa saat itu.

__ADS_1


Sudah 4 bulan lamanya mereka saling diam, dan kali ini, hubungan mereka sudah sedikit membaik.


"Yeeay…..kalian sudah gak saling diam, balik ke kelas sini lagi dong, Najwa." Semua teman-teman di kelas Shifa bahagia melihat dua saudara sudah saling akur kembali.


"Emm…nanti kalau boleh pindah, aku pindah lagi," ucap Najwa.


"Ya sudah aku kembali ke kelas," pamit Najwa.


^^^^^


Sepulang sekolah, Rico menjemput Najwa di sekolahannya setelah menjemput Raffi. Rico melihat Dio sudah berada di sekolahan Shifa. Seperti biasa, Dio menunggu Shifa pulang sekolah. Dio bersama Alvin saat itu. Namun, Alvin pergi sebentar ke mini market untuk membeli sesuatu.


"Opa, itu Dio, kan?" Raffi menunjukkan Dio yang sedang duduk di halte sekolah.


"Iya, itu Dio," jawab Rico.


"Ayo opa ke sana," ajak Raffi.


Rico menuruti kata Raffi. Ya, sebenarnya Rico merindukan Arsyil kecilnya. Dio memang seperti Arsyil, tidak ada bedanya.


Rico berjalan ke arah Dio dan duduk di sampingnya. Dio hanya diam pada opa nya itu, tidak menyapanya sama sekali, hingga Rico bertanya dia baru menjawabnya. Dia ingat pesan bundanya, tidak boleh dendam dengan opanya. Tapi, hatinya berkata lain, melihat opanya, dia ingat semua apa yang opanya lakukan pada bundanya.


"Kamu menunggu Shifa?" tanya Rico.


"Iya," jawab Dio singkat.


"Bagaiman kabarmu?"


"Yang opa lihat?"


"Kamu marah dengan opa?"


"Tidak usah bertanya seperti itu, opa juga bisa menyimpulkannya," ucap Dio tanpa melihat opanya.


"Maafkan opa,"


"Bundaku bagaimana?" tanya Rico.


"Bunda, baik-baik saja," jawab Dio.


"Apa opa boleh menemuinya?" tanya Rico.


"Bunda tidak di sini," jawab Dio.


"Maafkan opa, opa waktu itu….."


"Tidak usah minta maaf pada Dio. Minta maaf sama bunda. Opa seharusnya tau, itu semua kecelakaan. Dan apa opa, tahu? Bunda sangat menderita, hari-hari bunda di penuhi dengan isakan tangis, apalagi bunda sedang hamil." Dio memotong ucapan opanya.


Rico hanya terdiam mendengar penuturan cucunya yang sangat kecewa padanya. Dia merasa sudah menjadi orang tua dan opa yang egois saat ini. Menghancurkan kebahagiaan anak dan cucunya.


"Dio kecewa opa, tapi Dio sadar, opa adalah opa Dio, ayah dari ayahnya Dio. Dio tidak habis pikir opa seperti itu dengan bunda. Opa mengusir bunda di saat bunda membutuhkan Abah, dan Abah juga membutuhkan bunda,"gumam Dio.


"Opa macam apa aku ini, sudah menorehkan luka pada hati cucu-cucuku, anakku, dan menantuku. Iya, benar kata Arsyad, aku papah yang egois. Aku mengerti apa apa yang dio rasakan saat ini, dia memang kecewa padaku. Tapi , aku yakin dia akan memaafkan ku suatu saat nanti," gumam Rico.


Tak lama kemudian terlihat Najwa dan Shifa keluar dari sekolahannya. Najwa melihat opanya sedang duduk di halte bersama Raffi dan Dio. Tapi, wajah Dio terlihat masih sangat marah dengan opanya.


"Kak, itu Dio dengan opa?" tanya Shifa.


"Iya, Fa. Aku malu dengan Dio. Aku sudah kasar dengan dia," ucap Najwa yang ragu-ragu untuk melangkah ke arah Dio dan opanya.


"Sudah kita ke sana saja," ajak Shifa.


Najwa dan Shifa mendekati opanya dengan Dio yang sama-sama sedang terdiam. Entah itu diam karena apa, Shifa dan Najwa tidak tahu.


"Opa," panggil Najwa.


"Kamu sudah pulang?" tanya Rico.

__ADS_1


"Iya, opa," jawab Najwa.


Shifa hanya terdiam tidak menyapa opanya. Dia masih sedikit kecewa dan takut untuk menyapa opanya.


"Shifa, kamu……"


"Ayo kak kita pulang," ajak Dio dengan memotong perkataan Rico yang sedang bertanya dengan Shifa dan menarik tangan Shifa untuk segera pulang.


"Kak Najwa, Opa, Raffi, Shifa pamit pulang," ucap Shifa.


Dio hanya diam dan tidak berpamitan dengan opa maupun Najwa dan Raffi. Shifa merasa kesal dengan saudaranya itu yang menarik tangannya hingga merasakan sakit di pergelangan tangannya.


Mobil Alvin sudah terlihat lagi, Dio dan Shifa berjalan ke arah mobil Alvin yang parkir tidak jauh dari sekolahan shifa. Alvin sebenarnya sudah melihat Rico bersama dengan Dio dari tadi. Tapi, dia tidak mau ikut campur dengan masalah mereka.


"Dio! Ini sakit!" pekik Shifa yang merasakan sakit di pergelangan tangannya.


"Masuk!" titah Dio pada kakaknya dengan sedikit kasar.


Dio juga masuk ke dalam mobil Alvin dengan marah. Entah marah dengan diri sendiri yang tidak bisa menerima permintaan maaf dari opanya, atau marah dengan Shifa yang sudah akrab dengan Najwa.


"Dio, kamu kenapa, sih?" tanya Shifa dengan mengusap pergelangan tangannya yang sakit.


"Kamu sama Najwa kenapa bersama?" tanya Dio.


"Dia tadi minta maaf dengan Shifa," ucap Shifa.


"Kamu memaafkannya?" tanya Dio


"Ya, seperti itu, Tuhan saja maha pengampun, masa aku tidak bisa memaafkan?"ucap Shifa.


"Jangan menjadi orang lemah, kamu tidak ingat sikap Najwa?"


"Iya, ingat, tapi apa salahnya kita memaafkan, Dio, dia juga saudara kita,"ucap Shifa.


"Iya, tau, dia saudara kita. Tapi….."


"Tapi, apa? Mereka sudah menyakiti bunda? Menyakiti kita? Iya memang mereka sangat menyakiti kita, Dio," celah Shifa.


"Sudah terserah kamu, Kak," tukas Dio.


"Opa tadi bilang apa dengan kamu?"tanya Shifa.


"Opa minta maaf," jawab Dio


"Lalu, kamu?"


"Aku bilang opa salah minta maaf, harusnya minta maaf dengan bunda," jawab Dio.


"Bener-bener ya, kamu, apa susahnya memaafkan opa," tukas Shifa.


"Opa terlalu menyakiti hatiku, kak. Aku belum bisa memaafkannya," ucap Dio.


Alvin dari tadi mendengarkan perdebatan saudara kembar itu. Dia mencoba menengahi perdebatan mereka yang semakin memanas.


"Kalian sudah, jangan berdebat. Shifa, memaafkan orang juga butuh waktu, apalagi luka yang di torehkan orang itu sungguh dalam di hati kita," ujar Alvin.


"Denger tuh!" tukas Dio.


"Iya, paman, Al. Shifa tahu, tapi apa salahnya kita memaafkan?"ujar Shifa.


"Ya, kalau Shifa sudah bisa memaafkan ya itu lebih baik. Kalau Dio belum bisa, ya sudah. Mungkin Dio masih mengatur waktu yang tepat untuk memaafkan," ucap Alvin.


"Sudah kalian jangan berdebat lag," tutur Alvin.


Mereka terdiam saat Alvin melerainya untuk tidak berdebat lagi. Alvin juga sangat kecewa dengan Rico, karena sudah menyakiti hati saudara sepupunya dan juga keponakannya.


"Pak Rico tidak bisa mengontrol emosinya. Jadi beginilah, karena emosinya menjadi Boomerang dalam hidupnya. Hingga cucunya sakit hati sekali," gumam Alvin.

__ADS_1


__ADS_2