THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 21 "Keputusan Dio" The Best Brother


__ADS_3

Hati Najwa runtuh, mendengar penuturan dari Dio. Tapi, dia menanggapinya dengan sabar dan tegar. Dia tersenyum menatap manik mata Dio yang menatap dia dalam-dalam.


"Jika itu yang terbaik, lakukanlah. Kita tidak bisa menikah, Dio. Ini saatnya kita membahagiakan orang tua kita. Dan, tepis kan ego kita, Dio," ucap Najwa dengan tenang, walau hatinya tidak baik-baik saja.


"Iya, Najwa. Tapi, ada satu yang harus kamu tahu. Aku masih sangat mencintaimu," ucap Dio.


"Ya, aku juga tidak bisa bohong, aku masih sangat mencintaimu juga. Tapi, keadaan ini tidak bisa menyatukan cinta kita dalam ikatan suci, yaitu pernikahan," jelas Najwa.


"Ya sudah, sana keluar, ada Habibi di sana, kamu juga sudah di tunggu opa. Aku mau ganti baju dulu," titah Najwa.


"Kamu cocok dengan Habibi, kenapa tidak dengan dia saja," ucap Dio.


"Dengan Habibi? Jangan ngarang, sudah jangan bahas ini." Najwa berkata sambil masuk ke dalam kamarnya.


Dio melangkahkan kakinya, menuju ruang makan. Terlihat mereka sudah berkumpul bersama di ruang makan. Hanya Najwa saja yang belum keluar dari kamarnya.


Najwa masuk ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Air mata Najwa tidak henti-hentinya menerobos keluar dari pelupuk matanya. Dia harus menerima keadaan kalau besok Dio akan melamar Rania.


"Aku harus ikhlas, ini semua demi kebaikan keluarga. Aku tidak boleh lemah seperti ini karena cinta." Najwa berkata lirih dengan memakai jilbabnya yang baru saja dia ambi dari lemari.


Najwa keluar dari kamarnya. Dia bergabung di ruang makan untuk makan siang.


"Lama sekali dandannya," ucap Dio.


"Siapa yang dandan, cuma ganti baju. Baju yang dari rumah sakit bau obat," jawab Najwa.


"Kan dandan buat Om Dokter," ucap Dio dengan mengurai senyumnya.


"Lah, ngapain dandan, sudah aku mau makan, ih … ada cumi asam manis." Najwa mau mengambilnya, tapi Habibi mencegahnya.


"Kamu belum boleh makan yang asam dan pedas. Ini pedas, Ainun. Pakai sayur saja, ya? Ini sayur sop nya gak pedas, kok. Kamu juga harus makan yang lunak-lunak dulu," tutur Habibi.


"Masa mau makan makanan rumah sakit terus, Dok?" Najwa sedikit kesal karena Habibi mengatur pola makannya.


"Bukan seperti itu, itu supaya kamu cepat sembuh, perut kamu sudah tidak beres, jangan tambah merusaknya. Bila perlu, kamu harus menjaga pola makan kamu mulai dari sekarang, Ainun." Habibi mengambilkan sayur sop ucapnya.


"Hmm ... iya deh, iya," jawab Najwa dengan sedikit kesal.


"Turuti saja, nanti kalau sembuh minta Mba Lina buatin asinan yang pedas nampol," celah Dio.


"Pasti dong," jawab Najwa.

__ADS_1


"Bandel kamu," tukas Habibi.


"Masa iya, tidak makan sambal. Bagai sayur tanpa garam, Habibi," ucap Najwa.


"Akhirnya kamu manggil namaku juga, Ainun," ucap Habibi.


"Sudah, kemarikan piring ku, aku lapar," pinta Najwa.


"Mau aku suapi?" Habibi menyendokan nasi dan mengarahkan ke depan mulut Najwa.


"Aku bisa sendiri!" tukas Najwa dengan kesal.


Najwa memang duduk di antara Dio dan Habibi. Entah kenapa hanya kursi itu yang kosong.


"Ya sudah, makan yang benar, jangan makan sambal dulu. Kalau saja aku besok tidak ke luar negeri. Setiap hari aku ke sini memantau pola makan mu, Ainun," ucap Habibi.


"Tidak usah lebay, lah. Aku bisa atur sendiri," ucap Najwa.


"Kalian berdua, berdebat saja. Tidak di rumah, di rumah sakit, ribut saja," ucap Arsyad.


Najwa memandang Habibi, begitu juga Habibi. Mereka saling melempar senyum. Najwa melanjutkan makannya. Memang Najwa suka sekali dengan makanan pedas. Berkali-kali dia sering kambuh sakit perutnya, tapi dia tetap saja tidak mau meninggalkan makanan pedas itu.


"Abah, opa, dan bunda. Habibi pamit, besok Habibi mau ke Budapest. Do'akan Habibi, semoga Habibi bisa bertemu lagi dengan semua yang ada di sini," ucap Habibi.


"Kamu hati-hati. Jaga kesehatan, semoga kamu bisa menjadi kebanggaan untuk papah dan opa kamu, Nak," ucap Arsyad.


"Iya Abah, itu pasti," jawab Habibi.


"Abah, jaga Ainun untuk Habibi. Semoga Allah mempertemukan Habibi lagi dengan Ainun."


"Abah akan selalu menjaganya. Tapi, abah tidak janji, kamu bisa berjodoh dengan Najwa."


"Kalau itu, biar Allah yang mengatur, Abah."


Habibi pamit untuk pulang, dia mendekati Najwa yang berdiri di samping Dio.


"Aku pamit, jaga kesehatan, jaga pola makan, dan jangan bandel. Nanti urusan rumah sakit, Wulan akan menghubungimu. Ingat pesanku," ucap Habibi berpamitan dengan Najwa.


"Iya, aku ingat," jawab Najwa.


"Apa coba?" tanya Habibi.

__ADS_1


"Kamu seperti cewek, ya? Cerewet sekali. Iya, aku gak makan pedas, gak bandel, akan jaga pola makan, itu, kan?" ucap Najwa dengan kesal.


"Satu lagi," imbuh Habibi.


"Apa?" tanya Najwa.


"Jaga hati kamu, selagi hatimu kosong, karena aku menunggumu. Tapi, kalau hatimu sudah terisi pria lain. Aku hanya bisa berdoa, semoga aku lah yang akan menjadi pendamping mu kelak, Najwa," ucap Habibi.


"Hmm … kamu itu, iya, Insya Allah," ucap Najwa.


Habibi berpamitan, dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Dia melambaikan tangannya pada semua keluarga Najwa. Semua kembali masuk ke dalam rumah, setelah melihat Habibi pulang dari rumahnya.


"Abah, bunda, opa, dan semuanya. Dio mau bicara sebentar," ucap Dio.


"Mau bicara apa, Dio?" tanya Arsyad.


"Kita duduk dulu di sini, ini penting, Abah," ucap Dio.


Semua duduk di kursi ruang tamu. Mereka penasaran apa yang akan di katakan Dio. Namun, tidak untuk Najwa, dia tahu apa yang akan Dio bicarakan.


"Abah, apa saat Dio masih di Berlin, Abah membicarakan soal perjodohan aku dengan Rania?" tanya Dio.


"Emm ... i--iya. Tapi, Abah tahu kamu pasti tidak mau, jadi abah dan Om Reno tidak melanjutkan," jawab Arsyad.


"Sekarang Dio setuju, Dio tadi menemui Om Reno, dan Dio bilang pada Om Reno, besok malam Dio akan ke sana dengan semua abah, bunda, opa, dan lainnya," ucap Dio.


"Dio, pernikahan hal yang sakral, bukan main-main. Abah tahu kamu tidak mencintai Rania," ujar Arsyad.


"Ini keputusan Dio, Abah. Dan, setelah menikah, Dio akan tinggal dengan Rania di rumah sendiri. Dio membeli rumah yang tidak jauh dari kantor Dio dan Rania, jadi tolong, Abah bahas ini lagi dengan Om Reno, dan tentukan tanggal pernikahan Dio, secepat mungkin," ucap Dio.


Semau memandang ke arah Najwa. Najwa terlihat baik-baik saja di mata mereka. Tapi, hatinya bergemuruh, hancur berkeping-keping.


"Kuatkan aku, Ya Allah. Ini yang terbaik, aku percaya itu," gumam Najwa.


"Baik, nanti akan Abah bicarakan dengan Om Reno, saat besok malam kita ke sana," jawab Arsyad.


Dio hanya menganggukkan kepalanya. Hati Dio juga sama sakitnya dengan Najwa. Tapi, ini jalan satu-satunya agar Dio bisa melupakan Najwa. Meski sakit sekali.


"Maafkan aku, Najwa. Aku harus seperti ini. Jujur aku tidak kuat. Tapi, ini semua demi kebaikan kita, dan kenyataannya kita tidak bisa bersatu," gumam Dio.


Arsyad melihat putrinya yang dari tadi hanya diam saja dengan tenang. Namun, sorot matanya menunjukan kalau dia sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2