
Dio sudah sampai di hotel yang ia tuju untuk menginap. Pukul 4 sore Dio sampai di hotel. Dia langsung merebahkan dirinya di tempat tidur. Manik matanya menatap langit-langit kamar.
"Sepi sekali tidak ada orang yang cerewet dan galak. Eh … kenapa aku jadi memikirkannya? Tapi, memang sepi sekali," gumam Dio.
Dio mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Rania, memberitahukan kalau dirinya sudah sampai di kota tujuan.
"Ran, aku sudah sampai. Kamu sudah pulang dari kantor?" ~Dio.
Dio meletakkan ponselnya lagi menunggu balasan dari Rania. Sudah hampir 20 menit menunggu balasan dari Rania yang tak kunjung di balas, akhirnya Dio mengirim pesan lagi pada Rania.
"Ran, kok tidak balas?" ~Dio.
"Rania, kamu baik-baik saja di rumah? ~Dio.
"Ran, ya sudah aku mau mandi. Hati-hati di rumah, nanti kalau sudah senggang kamu balas." ~Dio
Dio membuang ke sembarang arah ponselnya di tempat tidur. Entah kenapa dia benar-benar memikirkan Rania saat ini. Mungkin karena terbiasa selalu bersama dalam satu rumah jadi wajar kalau merasa ada yang kurang.
Seusai mandi dan sholat Ashar, Dio membuka laptopnya untuk mengecek pekerjaannya. Dia sesekali melirik ponselnya yang ada di sampingnya. Belum ada balasan dari Rania sedikitpun. Akhirnya Dio melanjutkan bekerjanya lagi.
Saat sedang serius mengerjakan pekerjaannya, ponsel miliknya berdering. Dia buru-buru meraih ponselnya dan melihat siapa yang memanggil.
"Najwa? Aku kira Rania," ucap Dio dengan lirih dan dengan sedikit terpaksa mengangkatnya.
Entah kenapa balasan dari Rania saat ini Dio nantikan. Bahkan Najwa meneleponnya saja berat sekali untuk mengangkatnya.
"Hallo, Najwa," sapa Dio.
"Dio, kamu sudah sampai?" tanya Najwa.
"Sudah, tadi jam 4," jawab Dio.
"Kok tidak memberitahuku?"
"Maaf, aku lelah sekali, terus mandi, setelah itu aku langsung mengecek pekerjaanku," ucap Dio.
"Hmm … kamu pulang kapan?" tanya Najwa.
"Aku lima hari di sini. Nanti kalau aku pulang kita ketemu, Sayang," jawab Dio.
"Oke, ya sudah aku mau pergi dengan dokter Wulan," pamit Najwa.
"Kamu hati-hati, jaga kesehatan, sayang," ucap Dio..
"Oke,"
Dio mematikan ponselnya dan melihat chat yang ia kirim pada Rania. Hingga menjelang magrib Rania belum baca pesan dari dirinya.
"Ran, kamu di mana, sih? Masa belum pulang ngantor sudah mau Maghrib," gumam Dio.
Dio mengirim pesan lagi pada Rania. Entah kenapa dia benar-benar ingin tahu kabar Rania sekarang.
"Ran, kamu dari tadi ke mana? Kenapa belum balas chatku?" ~Dio.
Dio memandangi ponselnya. Dia sampai melupakan laptopnya yang menyala menampakkan file pekerjaannya.
"Dio, stop mikirin Rania, kamu kenapa, sih? Sampai tidak konsentrasi seperti ini karena Rania," gumam Dio.
Dengan kasar dia melempar ponselnya ke segala arah. Dia mematikan dan menutup laptopnya, lalu merebahkan dirinya menunggu waktu Maghrib tiba.
"Biasanya jam segini aku melihat Rania sedang duduk santai menghadap laptop di tempat yang begitu nyaman untuknya, yaitu di pojok teras belakang di dekat taman bunga. Ya, dia sering sekali melanjutkan pekerjaan kantornya di sana. Ah…Rania lagi," gumam Dio.
^^^
Selesai sholat Maghrib, Dio keluar dari kamarnya untuk makan malam. Dia meninggalkan ponselnya di kamar. Memang dari tadi dia tidak menyentuh ponselnya itu, karena Rania tidak kunjung membalas pesan darinya.
"Biasanya aku mendengar Rania mengaji kalau jam segini, tapi kali ini, aku tidak mendengarnya," gumam Dio.
Rania memang setiap habis sholat Maghrib dia tidak ketinggalan mengaji. Walau hanya beberapa halaman saja dia membaca Mushaf nya.
Dio sudah berada di dalam restoran. Dia memesan makan malamnya di sebuah restoran yang berada di dalam hotel. Dio menikmati makan malamnya. Rasanya dia tidak begitu selera dengan makanan di depannya, walaupun makanan di depannya makanan yang lezat semua.
"Masih enak masakan Rania," gumamnya sambil menyendokkan makanan ke mulutnya, karena sudah terlanjur di pesannya. Jadi mau tidak mau harus ia nikmati.
^^^
Rania baru selesai sholat Maghrib dan mengaji. Dari tadi Rania memang sibuk sekali di kantor. Di tambah dengan mendadak meeting dengan kliennya. Jadi dia pulang terlambat. Rania keluar dari kamarnya tanpa mengingat ponselnya. Dia memui ibunya yang sedang menata makan malam. Rania memeluk ibunya, karena selama 6 bulan itu, Rania jarang bertemu dengan ibu dan ayahnya.
Setelah seharian di temani sang ayah untuk ke kantor, bertemu klien, dan melepas rindu bersama ayahnya. Malam ini dia bergilir melepas rindu dengan ibunya. Rania mencium pipi ibunya yang sedang ia peluk erat.
"Nak, ibu sedang menyiapkan makan malam, kamu malah seperti ini," ucap Anna.
"Ibu, Rania kangen ibu, sudah lama tidak memeluk ibu seperti ibu," ucapnya manja.
"Kan sudah punya Dio yang di peluk setiap hari," ucap Anna.
"Ah … ibu, beda dong kalau Dio," ucapnya.
"Eh … aku kok lupa tanya dia sudah sampai apa belum? Ah … nanti lah setelah makan malam. Paling dia sedang sibuk sendiri, atau sibuk menelepon Najwa seperti biasanya. Tidak mungkin dia mengabari ku dulu. Aku mah apa, istri sah iya, di sentuh dan di cintai tidak," gumam Rania sambil duduk di samping ayahnya yang sudah keluar dari kamarnya.
Malam ini Rania makan malam dengan keluarganya, tanpa ada Dio. Rasanya sangat beda sekali. Biasanya dia yang selalu menyiapkan makanan untuk Dio, memasak, mengambilkan nasi. Kali ini berbeda, dia malah di layani oleh ayahnya bak ratu. Memang Reno seperti itu pada Rania. Karena Rania kalau makan malam susah sekali, dia jarang makan nasi kalau malam, hanya memainkan sayurnya saja dan setelah itu makan buah.
"Makan yang banyak, tidak usah diet. Kamu sudah kurus kok. Jaga pola makan boleh, tapi tetap makan nasi," ucap Reno.
__ADS_1
"Iya, ayah sayang," ucap Rania sambil mencium ayahnya.
Mereka makan malam bersama. Rania susah sekali menelan mankanannya. Karena dia mengingat Dio, dan belum memberi kabar pada Dio hari ini.
"Dia sudah makan belum, ya? Dia makan apa malam ini? Dan sedang apa? Nanti aku telepon dia saja lah. Eh … tapi aku tidak mau memulai dulu, aku takut mengganggu dia. Kali aja dia sedang chat atau telepon sama Najwa. Kalau aku telepon malah aku yang kena semprot," gumam Rania.
Seusai makan malam, Rania ke kamarnya dia mengambil ponsel dalam tasnya. Matanya membulat sempurna melihat pesan dari Dio banyak sekali. Senyuman Rania terurai melihat semua itu. Dia tidak menyangka dari jam 4 sore Dio sidah memberi kabar padanya.
"Dio chat sebanyak ini? Hingga tadi menjelang Maghrib dia juga masih menunggu aku membalasnya? Ah … Dio, tumben sekali kamu seperti ini? Rania, stop! Jangan kegeeran dulu, kali aja Dio sedang kesepian tidak ada kabar dari Najwa, jadi dengan kamu seperti ini. Jangan senang dulu Rania, nanti kamu sakit hati lagi," ucap Rania dengan lirih.
Rania membalas pesan dari Dio. Dengan senyum bahagia Rania membalas pesan dari Dio.
"Maaf Dio, aku tadi di kantor sibuk sekali, dan ada meeting mendadak dengan klien. Untung ayah mau mengantarku. Kamu sudah makan malam? Kamu juga hati-hati di situ. Jaga kesehatan dan pola makan." ~Rania.
Rania meletakan ponselnya di meja. Dia memandangi ponselnya yang dari tadi tidak menampakan adanya balasan dari Dio.
Sudah 25 menit Rania menunggu. Belum ada balasan dari Dio. Dia memberanikan diri menelepon Dio. Memang Rania tidak pernah menelepon Dio terlebih dahulu. Tapi, kalau chat dia berani chat lebih dahulu.
"Bismillah, semoga di angkat Dio teleponku," ucap Rania lirih.
Rania menelepon Dio, hingga 3 kali telepon dia tidak di angkat oleh Dio. Rasa kecewa kini menyelimuti dirinya.
"Apa sedang dengan Najwa?" Rania bergumam sambil membayangkan jika Dio di luar kota bersama Najwa.
"Apa aku harus menghubungi Raffi, memastikan Najwa di rumah atau tidak? Ah … iya aku hubungi dia saja," gumam Rania.
Rania menelepon Raffi. Panggilan terhubung dan Raffi langsung mengangkatnya.
"Hallo Rania, ada apa?" tanya Raffi di balik teleponnya.
"Kamu di mana, Raf?" tanya Rania.
"Aku sedang keluar dengan Kak Najwa, sedang mengantar Kak Najwa menemui Wulan," jawab Raffi.
"Oh, ya sudah lanjutkan dulu, aku mau bertanya soal perusahaan saja, nanti bisa sambung lagi," ucap Rania.
"Oke," jawab Raffi.
Rania menutup teleponnya. Ada perasaan lega, karena Raffi sedang bersama Najwa malam ini.
"Untung saja, tadi siang aku membahas perusahaan dengan Raffi. Jadi ada alasan aku meneleponnya mengenai perusahaan. Kalau Najwa dengan Raffi, ke mana Dio? Kok aku jadi seperti ini?" gumam Rania.
Rania merebahkan dirinya di tempat tidur, menunggu Dio yang belum kunjung membalas pesan darinya.
^^^
Dio baru saja kembali ke kamarnya setelah makan malam dan menikmati live musik di cafe. Dari pada jenuh dan bosan menunggu Rania membalas pesan darinya. Dio memilih melihta live musik di cafe. Hingga dia teringat Rania lewat sebuah lagu milik Dewa 19 yang berjudul "Lagu Cinta".
Dio mengambil ponselnya dia melihat beberapa panggilan terjawab dari Rania dan satu balasan pesan dari Rania. Dio mengurai senyumannya melihat pesan dari Rania. Hatinya sedikit lega, entah kenapa bisa seperti itu hatinya. Melihat pesan dari Rania, hatinya sangat lega sekali, seperti semua beban menghilang.
"Rania meneleponku? Ini sudah jam 9 malam, apa dia sudah tidur? Aku coba telepon balik saja, kali saja dia belum tidur," gumam Dio.
Dio mencoba menelepon istrinya, tak menunggu waktu lama teleponnya langsung di angkat oleh Rania.
"Hallo Ran," ucap Dio menyapa Rania.
"Hallo, Assalamualaikum," jawab Rania.
"Wa'alaikumussalam, Rania. Tumben jam 9 belum tidur?" tanya Dio.
"Belum, lagi mengecek email dari Astrid," jawab Rania, dia berbohong sebenarnya dia menunggu balasan dari Dio.
"Oh, kamu tadi ke kantor sendiri?" tanya Dio.
"Kan aku bilang tadi dengan ayah, Dio. Ayah yang mengantar aku. Ayah menungguiku di kantor, hingga aku pulang dan menemui klien," jawab Rania.
"Memangnya ayah tidak ke kantor?" tanya Dio.
"Ayah sengaja sehari tidak ke kantor untuk menemaniku, Dio. Katanya kangen dengan aku," jawab Rania.
"Oh, seperti itu?"
"Iya, Dio."
Seketika mereka hening tidak ada percakapan. Rania bingung mau berkata apa lagi, begitupun Dio. Ingin rasanya Rania berkata "aku merindukanmu," tapi itu tidak mungkin
Yang ada mereka sama-sama diam.
"Ran, kamu masih di situ?" tanya Dio.
"Iya, masih. Ada apa, Dio?"
"Aku kira kamu hilang,"
"Kamu itu, kamu tadi dari mana kok aku telepon tidak di angkat?" tanya Rania.
"Aku tadi habis keluar makan malam, dan dari pada jenuh di kamar, aku nonton live music di cafe," jawab Dio.
"Aku kira ke mana,"
"Mau ke mana? Di sini aku sendiri, kamu sudah makan?" tanya Dio.
"Sudah, dari tadi. Kamu pulang kapan?"
__ADS_1
"Najwa ... belum ada satu hari aku di sini, kamu tanya aku pulang kapan? Apa kamu merindukanku?"
"Dio, maaf aku Rania, bukan Najwa,"
"Emm … Ran, maaf. Maafkan aku, bukan maksudku,"
"Aku tahu kamu merindukan Najwa. Sudah jangan bahas ini," ucap Rania dengan nada yang semakin lirih karena menahan sesak di dadanya.
Dio terdiam. Dia tidak tahu kenapa dia menyebut nama Najwa saat memanggil Rania.
Rania juga terdiam. Menahan tangisannya yang hampir saja jatuh dari pelupuk matanya. Rania mengembuskan napasnya dengan berat dan mulai mengajak Dio bicara lagi.
"Dio, kenapa diam?" tanya Rania dengan suara yang kembali ceria.
Rania menutupi kesedihannya. Dia tidak mau Dio marah karena dia diam. Rania tidak ingin kehilangan momen ini juga, di mana Dio mau meneleponnya terlebih dahulu saat di luar kota. Jadi, dia rela menutup kembali rasa sedihnya.
"Tidak apa-apa, Ran. Maaf soal tadi," ucap Dio.
"Dio, aku tahu, kamu juga merindukan Najwa. Karena aku tahu, Najwa sudah menjadi belahan jiwamu, Dio,"
"Ran, terima kasih," ucap Dio dengan lirih.
"Untuk?" tanya Rania.
"Terima kasih kamu sudah mengerti aku, kamu sudah bersabar menghadapi sikapku. Terima kasih untuk semuanya, Rania," ucap Dio.
"Sudah kamu kok jadi melow gitu, gak asik ah. Anggap saja aku temanmu, Dio. Jika kamu tidak mau menganggap aku sebagai istrimu. Cinta tidak bisa di paksakan. Seribu tahun kamu hidup bersamaku, kalau cintamu hanya untuk Najwa, aku bisa apa," ucap Rania.
"Ran, kamu kok bicara seperti itu?"
"Memang seperti itu kan, Dio? Cinta memang tidak bisa di paksakan,"
"Mungkin saja, Ran. Apa kamu pernah jatuh cinta, Ran?" tanya Dio yang membuat Rania sejenak terdiam.
"Setiap manusia pernah merasakan jatuh cinta, Dio," jawab Rania.
"Dengan siapa? Apa kamu masih mencintainya?" tanya itu lagi.
"Kamu tanya apa sih?"
"Ya tanya seperti itu, jawab dong,"
"Sudah jangan bahas-bahas cinta. Aku tidak punya cinta," ucap Rania.
Rania semakin bingung dengan pertanyaan-pertanyaan Dio. Dia lebih memilih mengakhiri panggilannya, daripada membahas soal cinta yang ujungnya menyakiti hatinya sendiri.
"Dio, sudah mau jam 10, aku ngantuk," ucap Rania.
"Jawab dulu peranyaanku,"
"Yang mana Dio,"
"Itu tadi, kamu pernah jatuh cinta dengan siapa, dan apa masih mencintai orang itu?" tanya Dio lagi.
"Aku kan bilang, Dio. Aku tidak punya cinta, Dio," jawab Rania.
"Bohong. Katanya kamu teman aku, jujur dong sama temannya,"
"Oke, aku hanya memiliki cinta untuk seseorang yang berharga dalam hidupku, Dio. Yaitu orang tuaku," jawab Rania.
"Selain itu?" tanya Dio.
"Tidak ada. Karena menicntai tanpa di cantai itu sakit, Dio. Jadi aku akan mencintai orang yang mencintaiku juga," jawab Rania.
"Apa kamu mencintai suamimu?" Pertanya Dio membuat Rania membisu. Dia tidak menyangka Dio akan menanyakan.
Dengan menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan pelan, Rania menjawab dengan tegas dan santai.
"Suami ku mencintai wanita lain, mana mungkin aku mencintainya. Aku akan mencintainya jika dia mencintaiku," jawab Rania.
"Apa kamu tidak mencoba meraih hati suamimu?"
"Tidak, karena sampai kapan pun dia tidak bisa mencintaiku. Bukan begitu, suamiku?" ucap Rania.
Dio terdiam mencerna kata-kata Rania. Padahal bukan ini jawaban yang ia inginkan dari Rania. Yang dia inginkan adalah, Rania mau jujur dengannya soal perasaan Rania pada dirinya.
"Kenapa diam? Bukan begitu kan, Dio?" tanya Rania.
"Ehmmm … Ran, aku … emmm … udah dulu, ya Ran. Aku mau istirahat," ucap Dio.
"Oke, selamat istirahat, Dio. Assalamualaikum,"
"Wa'alaikumusalam,"
Dio mengakhiri teleponnya dengan Rania. Dia tidak menyangka Rania akan menjawab seperti itu dengan tegas dan jelas. Buknnya kebaperan atau bagaimana, Rania malah menjawab dengan santai dan sesuai kenyataan bahwa Dio tidak mencintainya.
"Ran, kamu bohong, kamu masih mencintai aku, kan? Ran, setegar itukah hati kamu? Hingga berbohong pada perasaanmu sendiri? Dan kamu masih bisa berbicara dengan tegas tanpa ada rasa berat dalam ucapanmu? Maafkan aku Ran," gumam Dio.
Dio masih memikirkan Rania yang membohongi hatinya. Jelas-jelas Rania mencintainya, tapi dia begitu pandai menyembunyikan perasaannya pada Dio.
Rania mennatap langit-langit kamarnya. Dia tidak menyangka Dio akan bertanya seperti tadi. Memang ingin sekali Rania meraih cinta itu kembali. Tapi, rasanya begitu mustahil sekali untuk mendapat cinta Dio kembali.
"Aku mencintaimu, Dio. Sampai aku menutup mata di kemuadian hari," gumam Rania sambil memejamkan matanya.
__ADS_1