
"Ran, sudah jangan nangis, ayah pasti baik-baik saja," ucap Dio dengan mengusap kepala Rania.
Rania hanya diam dan terus menangis tak menghiraukan apa yang sedang di katakan Dio. Dia tidak tahu harus bagaimana. Ayahnya sedang sakit keras dan sekarang sedang kritis di dalam ruang ICU. Pembengkakan jantung yang di derita Reno membuat Reno sekarang mengalami kritis di dalam ICU.
Mereka sudah sampai di depan rumah sakit. Rania masih saja menangis. Dio hanya diam saja melihat istrinya yang dari tadi menangis. Dio memarkirkan mobilnya. Rania menghapus air matanya.
"Dio, jangan bicara soal masalah kita pada ibu atau ayah nanti, dan jangan bilang kalau kita akan bercerai," ucap Rania sebelum turun dari mobil.
"Aku tidak ingin kita bercerai, Rania. Meski aku masih sangat mencintai Najwa," ucap Dio.
"Tidak usah membawa Najwa. Kamu masih mencintai Najwa atau tidak, aku tetap akan mengurus perceraian ini, Dio," ucap Rania sambil turun dari mobilnya.
Rania menemui ibunya yang masih menangis di depan ruang ICU. Sedari pagi Reno belum juga sadar. Alat penunjang kehidupan menempel di badan Reno.
"Ibu," panggil Rania dengan suara parau.
Anna langsung memeluk putrinya dan menangis di.pelukan Rania. Sungguh hati Rania benar-benar hancur saat ini. Baru saja melihat suami yang di cintainya bersama sahabatnya berada di dalam kamar dengan kondisi polos, hanya tertutup oleh selimut saja. Sekarang, melihat laki-laki yang sayangi dan laki-laki yang menjadi cinta pertamanya sedang berjuang melawan sakit yang menyerangnya.
"Bagaimana ayah, Bu?" tanya Dio.
"Ya seperti yang kamu lihat, ayah hanya terbaring seperti itu dari tadi pagi," jawab Anna.
"Dio, malam ini boleh aku di sini menemani ibu?" tanya Rania.
"Iya, boleh, aku juga akan menemani ibu di sini," jawab Dio.
"Kalau kamu sibuk, kamu pulang saja, Dio. Biar aku yang menemani ibu. Kamu pulang saja," ucap Rania.
"Tidak aku akan di sini, Ran," ucap Dio.
Rania hanya diam saja, tak menghiraukan Dio berbicara. Dia menyandarkan dirinya di bahu ibunya. Dia merasakan apa yang sedang ibunya rasakan saat ini. Begitupun dia, hari ini dia menanggung beban hati karena suaminya.
"Ya Allah, inikah cobaanku? Di saat aku akan memutuskan berpisah dengan Dio, ayah seperti ini. Aku harus bisa, aku harus bisa melepaskan Dio. Apapun yang terjadi, aku harus bisa melupakan cinta yang menyakitkan ini," gumam Rania.
^^^^
Sudah lima hari setelah kejadian memalukan Dio dan Najwa, kini Rania masih setia menemani ibunya menunggui ayahnya yang tak kunjung membuka matanya. Bahkan keadaannya semakin memburuk. Dio juga selalu menemani Rania, tidak peduli Rania selalu mengusirnya, dia selalu setia berada di samping Rania selama lima hari.
__ADS_1
"Ibu, makan, ya? Ibu dari kemarin belum makan," bujuk Dio.
"Ibu tidak lapar Dio," jawab Anna.
"Kasihan ayah, kalau ibu seperti ini," imbuh Dio.
Anna tidak mengindahkan kata-kata menantunya itu. Dia terus menangis melihat suaminya yang sedang terbaring lemah. Memang saat itu Anna hanya bersama Dio saja, karena Rania sedang pulang ke rumah untuk ganti baju dan membawakan baju ganti untuk ibunya.
"Kamu tahu, Nak? Ibu dulu sama sekali tidak mencintai ayahnya Rania. Bukan hanya ibu saja, ayah Rania juga tidak mencintai ibu. Kami hidup satu atap, tapi tidak memiliki perasaan apa pun. Hampir satu tahun kami hanya tegur sapa saja, tidak seperti pengantin baru yang menikmati masa-masa indah setelah menikah. Namun, kami menyadari, karena kami saling membutuhkan, dan sejak itu, ibu benar-benar tahu yang namanya cinta sejati. Ibu takut, takut ayah pergi, ibu dengan siapa jika ayah pergi, Dio." Anna menceritakan awal pernikahannya dengan Reno dulu pada Dio.
Memang Anna dan Reno menikah tanpa ada rasa cinta. Mereka di jodohkan, Reno yang masih mencintai Naila saat itu dan Anna yang masih mencintai mantan pacarnya yang telah menikah dengan wanita lain.
"Dio, kamu mencintai Rania? Pernikahan kalian baik-baik saja, kan?" tanya Anna.
"Baik Bu, dan aku mencintai Rania," jawab Dio.
"Maafkan aku ibu, aku belum menyentuh Rania sama sekali, aku belum bisa mencintai Rania lagi, selama ini aku menyakiti Rania, ibu," gumam Dio dengan hati yang sakti mendengar Anna berbicara seperti itu.
"Dio, kalau kamu tidak mencintai Rania, jangan sakiti dia. Kembalikan Rania pada ibu. Jagan siksa hati Rania. Ibu tahu rasanya menikah di jodohkan seperti apa. Kalian menikah sudah 15 bulan, tapi kalian belum memiliki anak. Dio, ibu tidak mau, kalian tersiksa karena perjodohan, kalau kamu benar tidak mencintai putriku, kembalikan pada ibu, biar ibu yang merawatnya lagi. Ibu sudah tua, ibu tahu umur ibu sudah tidak lama lagi," ucap Anna yang merasakan sepertinya rumah tangga Dio dan Rania sedang tidak baik-baik saja.
"Ibu jangan bicara seperti itu, Dio mencintai Rania, ibu," ucap Dio.
"Maafkan Rania, ibu. Rania akan bercerai dengan Dio. Rania akan merawat ibu dan ayah," gumam Rania.
Rania masuk ke dalam ruang perawatan Reno setelah Dio dan ibunya selesai bicara. Rania mendekati ibunya dan merangkul ibunya.
"Kamu lama sekali, nNak?" tanya Anna.
"Iya, tadi Rania sekalian membereskan rumah dan bertemu klien sebentar," jawab Rania.
"Maafkan Rania, Ibu. Rania bohong, Rania baru saja menemui pengacara untuk mengurus perceraian Rania dengan Dio," gumam Rania.
"Ibu makan dulu, ya? Ini Rania bawakan nasi rames kesukaan ibu, ayo Rania suapi." Rania mengajak ibunya untuk makan.
"Ibu tidak lapar, Ran," jawab Anna.
"Ibu harus makan, walau hanya beberapa suap saja," imbuh Dio.
__ADS_1
"Ayo keluar dulu, biar Dio di sini menjaga ayah," ajak Rania.
Anna akhirnya mau makan dengan di suapi Rania. Rania juga ikut makan bersama ibunya. Padahal Rania juga tidak ingin makan, itu semua karena agar ibunya mau makan, jadi Rania harus makan juga.
Dio menemani Reno yang masih terbaring dan menutup matanya. Sudah lima hari Reno kritis dan belum sadar. Dio menatap ayahnya. Rasa sesal menghampiri Dio kala ini. Dia ingat pesan terakhir sebelum Reno sakit-sakitan. Pesan itu hampir sama dengan ucapan Anna tadi.
"Ayah, maafkan Dio. Dio sudah menyia-nyiakan putri Abah. Tapi Dio janji, Dio akan mencintai Rania kembali, Dio akan belajar mencintai Rania lagi. Ayah harus sembuh, kasihan ibu," ucap Dio lirih.
Dio keluar dari ruang perawatan Reno. Dia menghampiri Rania yang sedang duduk sendirian, karena ibunya sedang ke toilet untuk ganti baju. Rania menatap ke sembarang arah dengan tatapan kosong.
"Ran," panggil Dio sambil duduk di samping Dio.
"Hmmm…" jawab Rania hanya bergumam.
"Oh iya, Dio. Aku sudah mendaftarkan perceraian kita. Tadi aku sudah menyewa pengacara untuk mengurus perceraian kita. Aku mohon, kamu harus bersikap bijak saat nanti menghadiri sidang cerai," ucap Rania.
"Apa tidak bisa di tunda, Ran. Lihat ayah sedang seperti ini," ucap Dio.
"Aku tidak ingin mengulur waktu Dio. Dan tolong, jangan bilang ibu dan ayah soal perceraian ini. Juga soal hubungan kamu dengan Najwa," ucap Rania.
"Ran, kita selesaikan dulu masalah ini dengan kepala dingin," pinta Dio.
"Ini sudah selesai Dio, jangan menambah sakit pada hidupku lagi. Sudah cukup aku memendam cinta ini sendirian, Dio. Lima belas bulan, aku menjadi seorang istri, tapi istri yang tidak di cintai oleh suaminya, dan tidak pernah di sentuh sama sekali," ucap Rania.
"Ran, aku mohon, beri aku kesempatan lagi," pinta Dio lagi.
"Cukup Dio, aku tidak mau menanggung luka lagi. Satu pintaku sebelum kita berpisah, jangan sakiti Najwa lagi. Dia sudah cukup menderita. Dan kamu tahu, dia tidak tahu di mana sekarang," ucap Rania.
"Aku tahu itu. Aku akan belajar melupakan dia, dan mencintai kamu, Ran," ucap Dio.
"Itu ucapan yang sama, yang sering kamu ucapkan padaku, Dio. Tapi, kenyataannya, kamu dan Najwa bermain di belakangku lagi."
"Dio, mulai hari ini, aku sudah tidak tinggal di rumah kamu lagi, tadi aku sudah menyuruh bibi, menyiapkan semua barang-barangku dan nanti ada orang yang mengambil. Untuk sementara, aku akan tinggal di apartemenku, Dio, selama pengadilan belum memutuskan perceraian kita.Dan, aku minta, saat kita di butuhkan ibu, kita kembali berpura-pura lagi, agar terlihat baik-baik saja di depan ibu," ucap Rania.
Dio terdiam sejenak mendengar pernyataan Rania tersebut. Sungguh Dio tidak ingin berpisah dengan Rania. Tapi, Rania yang meminta, dan itu semua karena ulah dirinya yang memulai, dirinya yang menyakiti batin Rania selama 15 bulan.
"Ran, jika memang kita akan berpisah, aku terima Rania. Namun, jika kamu adalah tulang rusukku, kita akan kembali lagi, Ran. Aku sungguh menyesal, menyia-nyiakan wanita sebaik kamu, Rania," gumam Dio dengan menatap wajah Rania yang sendu dan dari tadi menghindari tatapan dari Dio.
__ADS_1
"Sungguh aku tidak bisa Dio. Berapa kali kamu menyakitiku, aku akan tetap mencintaimu seumur hidupku. Tapi, aku tidak mau, memaksakan cinta, memaksakan kamu untuk mencintaiku." Rania bergumam dengan memejamkan matanya.