
Berlin
Dio merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia benar-benar ingin sekali menyudahi menyembunyikan hubungannya dengan Najwa. Dio semakin ingin menikahi Najwa, menjadikan Najwa satu-satunya milik dia. Tapi, bagaimana bisa dia menentang semua aral yang melintang di hadapan dirinya dan Najwa.
Dio sadar, Najwa adalah anak dari Pakde-nya, yang sekarang menjadi ayah sambungnya. Jadi dia akan sulit untuk menyatukan dirinya dengan Najwa dalam ikatan pernikahan. Berbeda jika Najwa anak dari Shita, adik dari Pakde-nya, mungkin akan lebih mudah untuk menikahi Najwa. Apalagi bundanya Dio dan abahnya Najwa menikah, sekarang sudah memiliki anak. Dio serba salah, dia ingin sekali menikahi Najwa tapi seperti itu kenyataannya.
Dio menepiskan segala pendapat orang atau teman dia. Dan, keputusannya adalah, dia akan menikahi Najwa. Saat pulang nanti, dia akan segera meminta restu pada abahnya.
"Aku tidak peduli, aku mencintai Najwa. Aku tau ini salah, aku akan tetap berusaha memperjuangkan cinta ini," gumam Dio.
Dio memandangi foto dirinya bersama Najwa saat dulu. Dia sedikit mengenang kisah cintanya dengan Najwa yang sangat lucu. Ya, semua ini karena Arkan, adik mereka. Arkan yang membuat mereka menjadi dekat dan sampai sekarang menjalin hubungan cinta yang mungkin sebagian orang bilang ini hubungan yang terlarang.
#FLASHBACK ON#
"Kak Najwa…! Hati-hati dong, kalau jalan!" Dio marah sekali dengan Najwa saat Najwa tak sengaja menyenggol tugas keseniannya. Najwa menyenggol lampion dari stik Es Krim yang di buat Dio hingga berantakan.
"Maaf Dio aku tidak sengaja, aku sedang bermain dengan Arkan," jawab Najwa dengan sedikit takut dan merasa sangat bersalah pada Dio.
Dio masih menajamkan pandangannya pada Najwa kala itu. Najwa dengan mata berkaca-kaca membereskan tugas Dio yang berserakan. Hingga tak sengaja air mata Najwa lepas dari sudut matanya dan menetes ke lantai. Karena Dio dari tadi masih saja berbicara kasar dan menyalahkan Najwa.
"Besok harus di kumpulkan, ini bagaiman, hah?" tukas Dio.
"Aku akan membantu memperbaiki nanti, Dio," ucap Najwa dengan lirih.
"Memperbaiki? Ini rusak semua! Apa yang harus di perbaiki, Kak Najwa!" seru Dio.
Arkan melihat Dio yang marah, dia takut bersembunyi di balik tubuh Najwa.
"Kamu boleh marah atau membentak ku, Dio! Tapi, jangan di depan Arkan!" Najwa sangat marah karena Arkan ketakutan dengan Dio yang marah kepada Najwa. Najwa meletakan reruntuhan tugas Dio di meja lagi, lalu membawa Arkan ke kamar.
Beruntung saat itu Annisa dan Arsyad sedang pergi, Raffi sedang di lapangan bermain bola, dan Shifa sedang kerja kelompok dengan teman-temannya.
"Ayo sayang, masuk ke dalam. Jangan takut lagi, oke. Kak Dio tidak marah dengan kamu, kok. Jangan menangis." Najwa menggendong Arkan ke kamarnya yang menangis karena takut dengan Dio.
"Kamu, sih! Kalau marah gak lihat-lihat!" tukas Najwa sebelum pergi ke kamarnya.
Dio hanya diam, melihat Arkan yang menangis di gendong oleh Najwa. Dia merasa bersalah sekali, dan merutuki dirinya sendiri karena sikap kasarnya tadi.
"Dio…! Kamu tempramen sekali, sekarang. Bodoh sekali! Maafkan Kak Dio, Arkan," gumam Dio.
Dio meninggalkan tugas nya yang berserakan di meja. Dia masuk ke kamar Najwa yang sedang memeluk Arkan sambil tiduran di tempat tidur Najwa.
"Dio, ketuk pintu dulu dong kalau mau masuk!" tukas Najwa.
"Maaf, Arkan masih nangis?" tanya Dio.
"Dia nangis sampai ketiduran, kamu sih!" ucap Najwa dengan sedikit marah.
Najwa beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil tugas kesenian dia yang sudah jadi. Ya, sekolah mereka sama. Najwa, Dio, Shifa, dan Raffi sekolah di SMA yang sama. Jadi tugas mereka sama.
"Nih, pakai punya aku saja, aku ngumpulinnya lusa, kok." Najwa memberikan tugas keseniannya pada Dio.
"Tidak usah nanti akan aku perbaiki," ucap Dio.
"Aku keluar, aku kira Arkan masih menangis." Dio meninggalkan kamar Najwa.
Dio kembali merangkai tugasnya yang sudah hancur itu. Dio semakin marah, karena tidak jadi-jadi tugasnya, apalagi sudah hampir sore.
"Arrggh … ini susah sekali! Najwa sih, gak hati-hati!" Dio terus menyalahkan Najwa sambil memperbaiki tugasnya.
"Iya aku yang salah, minggir aku bantu." Nawja memang dari tadi memerhatikan Dio yang gusar memperbaiki tugasnya.
Dio mendengus kesal menatap Najwa. Najwa menyuruh Dio menggeser duduknya. Mereka duduk berdampingan, Najwa dengan telaten merangkai tugas Dio lagi. Dia mengelem satu per satu dengan penuh kehati-hatian dan teliti. Dio sejenak memerhatikan Najwa yang sedang serius memperbaiki tugas Dio.
"Cantik sekali dia sekarang," gumam Dio.
__ADS_1
"Apa lihat-lihat," ucap Najwa yang membuat Dio jadi salah tingkah.
"Apaan sih, siapa yang lihatin, jangan kepedean kamu!" Dio mengelaknya, padahal dia memerhatikan Najwa, dan sampai detik ini juga, dia mencuri pandang pada Najwa.
"Ah, kenapa ini hati? Gak seperti biasanya dekat Kak Najwa begini?" gumam Dio.
"Apaan sih, Dio. Jangan melihat aku seperti itu, dong. Aku grogi, Dio. Duh…hatiku, kenapa seperti ini?" gumam Najwa yang dari tadi melirik Dio, dan Dio sedang memerhatikannya.
Najwa menoleh ke arah Dio, yang jaraknya semakin dekat, karena Dio memerhatikan Najwa sedang merangkai tugas Dio. Dan pada saat itu juga, Dio menoleh ke arah Najwa. Mereka saling bertatapan dengan jarak yang cukup dekat. Pandangan mereka menyiratkan sesuatu yang entah itu apa.
"Cup…" Dio tiba-tiba berani mencium bibir Najwa.
"Dio….!" Seru Najwa dengan mencubit lengan Dio.
"Aww….sakit, kak!" ucapnya sambil mengusap bekas yang di cubit Najwa.
"Kamu, apa-apaan, sih! Tidak sopan!" Demi apapun jantung Najwa terasa lepas dan terhempas jauh.
"Maaf kak," ucap Dio dengan menundukan kepalanya.
"Gak sopan kamu, Dio." Najwa beranjak dari tempat duduknya dan akan pergi dari samping Dio.
Namun, Dio memegangi tangan Najwa, dia mendudukkan Najwa lagi di sampingnya.
"Selesaikan dulu, dong. Tanggung jawab," ucap Dio.
"Kamu seperti itu," ucap Najwa dengan pipi memerah.
"Yah, merah pipinya," gumam Dio.
"Selesaikan, kak. Apa mau aku cium lagi?" ancam Dio.
"Iya, tapi jangan seperti itu, Dio," ucap Najwa dengan menunduk.
"Iya, maaf," ucap Dio.
"Kak Najwa cantik sekali, duh kenapa jantungku melonjak-lonjak seperti ini. Jangan Dio, dia saudaramu. Ah … bagaimana ini? Sedangkan dengan Rania, yang selalu bilang menyukaiku, aku tak merasakan apa-apa," gumam Dio.
"Dio, please … jangan memandang aku seperti itu. Jantungku benar-benar cepat sekali berdetak Dio. Hentikan menatapku seperti itu. Aku saudaramu, tidak sepantasnya kamu tadi mencium aku seperti itu," gumam Najwa.
Dio masih merasakan bibir Najwa yang tadi sengaja ia cium dengan ciuman kilas tapi mengena di hati. Dan, semenjak itu, Dio berani curhat dengan Najwa, yang akhirnya Dio dan Najwa sembunyi-sembunyi merajut kasih secara diam-diam.
#FLASHBACK OFF#
Dio mengurai senyumnya, mengingat semua itu, saat pertama menaruh hati pada Najwa dan saat itulah kisah cinta mereka bersemi hingga sekarang. Dio semakin mantap akan memperjuangkan cintanya dengan Najwa.
"Aku akan secepatnya menyelesaikan S3, Najwa. Meskipum semua menentang kita, aku akan memperjuangkan hubungan kita," gumam Dio.
Dio memejamkan matanya dengan membayangkan wajah Najwa yang semakin hari semakin terlihat dewasa dan cantik.
^^^^^
Najwa masih belum bisa memejamkan matanya. Dia benar-benar tidak tahu apa yang di rasakan malam ini. Dia takut, takut tidak bisa bersama Dio lagi. Dan ketakutan itu bertambah, saat kemarin mendengar percakapan Reno dan abahnya mengenai hubungan Dio dan Rania.
"Apa benar, abah akan menjodohkan Dio dan Rania? Kalau iya, aku bisa apa? Keputusan abah pasti tidak bisa di ganggu gugat," gumam Najwa.
Najwa malam ini benar-benar tidak bisa memejamkan matanya. Dia ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan sholat. Apalagi yang harus Najwa lakukan, selain mohon pada Allah agar bisa di satukan cintanya dengan dio. Walaupun itu cinta yang terlarang.
^^^^^
Keesokan harinya, Najwa terbangun dengan masih memakai mukenahnya. Iya, semalam dia tertidur di sajadahnya sambil menyandarkan kepalanya ke tempat tidur. Dia berdoa hingga tertidur dan terbangun karena abahnya mengetuk pintunya untuk sholat subuh berjamaah.
"Ya Allah, aku sampai ketiduran masih memakai mukenah," gumam Najwa.
"Najwa, bangun, nak. Abah tunggu di musholah," ucap Arsyad dari balik pintu kamar Najwa.
__ADS_1
"Iya Abah, sebentar," teriak Najwa dari dalam kamar.
Nakwa melepas mukenahnya dan mengambil air wudhu. Lalu dia mengambil mukenah yang bersih lagi dari dalam lemari. Ponsel Najwa berdering saat dia akan ke musholah untuk sholat subuh berjamaah dengan keluarganya. Najwa melihat siapa yang meneleponnya. Ternyata Dio yang menelepon Najwa. Padahal di sana Dio masih larut malam, tapi sudah menelepon Najwa.
"Hallo, ada apa, sayang?" tanya Najwa.
"Tidak ada apa-apa, kangen saja. Kamu sudah sholat?"
"Belum, ini sudah di tunggu Abah," jawab Najwa.
"Ya sudah sholat dulu, aku akan tidur," ucap Dio
"Selamat tidur, sayang. Mimpi indah." Najwa memberikan kecupan di balik teleponnya, begitupun Dio, dia juga membalasnya.
Dio mematikam ponselnya. Dio belum bisa tidur jika belum mendengar suara Najwa. Begitu juga Najwa. Najwa keluar dari kamarnya, dia menuju ke musholah karena sudah di tunggu abahnya.
"Lama sekali, Najwa..." ucap Arsyad.
"Maaf, Abah. Aku mengambil mukenah dulu tadi, karena yang 1 kotor," jawab Najwa.
^^^^^
Hari ini Raffi ke kantor bersama Abahnya. Ya, Raffi sekarang bekerja di kantor Arsyad. Mau siapa lagi yang akan meneruskan, kalau bukan Raffi. Sebenarnya Arsyad sudah melepas perusahaan itu pada Raffi dan Dio, tapi berhubung perusahaan Annisa tidak ada yang menangani, Dio akhirnya memilih meneruskan perusahaan peninggalan eyangnya itu. Dan, akhirnya Raffi dan Ozil putra Rayhan yang memegang perusahaan Alfarizi.
"Raf, antar abah menemui Om Reno dulu," pinta Arsyad.
"Mau apa, Abah?" tanya Raffi.
"Biasa, urusan bisnis," jawab Arsyad.
"Bisnis apa mau jodohin Rania sama Dio?" tanya Raffi lagi.
"Ya seperti itu, cocokan, Rania sama Dio?"
"Ya, gak tau, Abah. Menurut Raffi, jangan main jodoh-jodohan, Bah, kasihan barangkali Dio atau Rania punya pasangan masing-masing," tutur Raffi.
"Belum, siapa pacar Dio? Dan siapa pacar Rania. Mereka saling suka, Raffi, sejak dulu," ujar Arsyad.
"Abah salah, Dio memoliki kekasih, kekasihnya putri Abah sendiri, Abah tega mau menyakiti anak perempuan kesayangan Abah?" ucapan itu hanya bersarang di dalam hati Raffi saja. Dia tidak bisa mengatakan langsung pada Abahnya.
"Ya, mungkin saja mereka sudah sama-sama punya pasangan sekarang, Abah. Itu kan dulu, mereka masih cinta monyet," ujar Raffi.
"Ah, sudah, mereka cocok, lagian Om Reno juga setuju, kok,"ucap Arsyad.
"Ya sudah, terserah Abah,"
"Kok sepertinya kamu yang agak sewot? Apa kamu suka Rania?" tanya Arsyad sambil meledek anak laki-lakinha itu.
"Bukan tipeku, abah," ucap Raffi.
"Lalu tipemu?"tanya Arsyad.
"Ada deh, udah jangan bahas perempuan, bikin pusing saja. Ini jadi, kan? Ke kantor Om Reno?" tanya Raffi dengan mengalihkan pembicaraan.
"Iya, jadi," jawab Arsyad.
Raffi membayangkan wajah Rania saja geli. Dia permpuan manja, sangat manja sekali. Maklum dia anak satu-satunya Reno. Jadi dia manja sekali, apa yanh dia inginkan pasti harus dituruti.
"Aku suka Rania? Haduh, Dio saja geli dan berpaling mencintai kakakku. Maaf abah, aku menyukai wanita yang lebih dewasa dari aku. Ya, aku menyukai Kak Alina," gumam Raffi
Alina, dia adalah wanita yang menjaga taman baca Almira, mendiang umminya Raffi dan Najwa. Istri pertama Arsyad. Ya, anak kecil yang dulu dekat sekali dengan Almira. Alina dan Naila. Hingga sekarang Alina masih mengabdi di taman baca Almira. Tentu saja dia menjadi partner kerja Shifa di taman baca Almira. Alina belum menikah hingga sekarang, sedangkan Naila, dia sepupu Alina, dia sudah menikah dan sekarang dia ikut suaminya di luar kota.
Raffi tak memandang usia Alina. Ya, dia lebih dewasa kurang lebih 10 tahun dari dirinya. Bagi Raffi Alina adalah wanita yang bisa meneduhkan hatinya. Tapi Alina sadar, dia itu siapa. Dia hanya sebatas pegawai di taman baca peninggalan umminya Raffi. Setelah ayah dan ibunya meninggal, Alina hidup sebatang kara dan bersandar pada taman baca Almira.
"Kak Alin, entah mengapa aku bisa menjatuhkan hati ini pada kakak, padahal dulu kakak sering mengajak aku bermain waktu aku kecil. Kecantikan kakak dari dulu tidak pernah berubah. Ah … tuh kan, mikir Kak Alin lagi," gumam Raffi.
__ADS_1
Raffi hanya mengantar abahnhya ke kantor Reno saja. Setelah itu, dia berangkat ke kantor sendiri. Pikiran Raffi tak lepas dari Alina, dia setiap hari pasti ke rumah umminya pura-pura menemui Shifa dan pura-pura mencari buku.
"Kak Naila, kamu benar-benar mengalihkan duniaku. Benar kata Dio, kalau cinta itu buta, tidak memandang dia sudah tua atau masih muda. Sama halnya dengan Dio dan Kak Najwa, mereka juga tak memandang kalau mereka adalah saudara sepupu," gumam Raffi.