
Hubungan persaudaraan itu bagaikan jalanan, kadang jalannya mulus, kadang juga menikung dengan sangat tajam.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Sudah satu Minggu Vino belum bangun dari tidurnya, dia mengalami koma karena disebabkan oleh pendarahan di pembuluh otaknya. Shita masih setia menemani Vino yang belum sadarkan diri. Dan Rico juga setia menemani putrinya itu. Shita selalu mengajak cerita Vino, walau dia hanya merespon dengan gerakan jarinya atau air matanya.
"Sampai kapanpun aku akan menunggu kakak sadar. Aku mencintaimu, suamiku." Shita mencium kening suaminya yang masih tertidur pulas.
Andrew sangat kebingungan karena perusahaan Vino mengalami penurunan. Semua karyawan sudah melakukan yang terbaik, dan hasilnya nihil. Andrew menyerah, dan akhirnya dia menghubungi Lesy dan menjelaskan semuanya pada Lesy, kejadian Vino kecelakaan dan semua nya Andrew ceritakan. Hingga Lesy kembali lagi ke Indonesia hanya untuk membantu Andrew mengurus perusahaan Vino. Dan tanpa menemui Vino. Padahal dalam hati kecil Lesy, ingin sekali menemui Vino, tapi kali ini dia benar-benar menepiskan rasa ingin bertemunya pada Vino. Dia kembali ke Indonesia hanya untuk membantu Anderew menyelesaikan masalah yang ada di perusahaan Vino.
Lesy sudah berada di Bandara, dan Andrew menjemput Lesy agar segera ke kantor.
"Maaf jalanan macet sekali, jadi lama."ucap Andrew.
"Tidak apa-apa. Kita langsung ke kantor?"tanya Lesy
"Apa kamu mau menjenguk Vino dulu?" Andrew balik bertanya pada Lesy.
"Aku datang untuk membantumu, bukan menjenguk Vino dan menambah masalah. Oke."ucap Lesy.
"Bagus, itu baru namanya seorang yang profesional. Kita makan siang dulu. Kamu belum makan?"tanya Andrew.
"Belum, baik kita makan siang dulu."ucap Lesy.
Sebenarnya Lesy ingin sekali melihat keadaan Vino. Namun, dia tidak mau merusak suasana dan menambah masalah, dia tetap pada pendiriannya, datang ke Indonesia untuk membantu Andrew saja.
Seusai makan siang, Andrew bersama Lesy langsung menuju ke kantor, mereka langsung menjalankan tugasnya masing-masing untuk menyelesaikan masalah di kantor Vino agar cepat selesai.
"Andrew, ini perlu tanda tangan Vino untuk surat ini."ucap Lesy.
"Sebenarnya , perusahaan ini, sudah menjadi milik Shita, bukan Vino lagi."ucapnya.
"Ya sudah panggil Shita kemari, kita butuh dia, dan agar dia tau juga masalah di dalam perusahaan suaminya."ucapnya.
"Andrew, kamu membuat masalah saja, Shita kan papahnya pengusaha, kenapa kamu malah menyuruhku untuk menyelesaikan semua ini. Kenapa tidak dengan papahnya Shita. Aku tidak mau, Vino mati konyol karena dia terus-menerus merasa bersalah dengan istrinya. Kamu mau itu terjadi pada Vino?"ucap Lesy.
"Iya….iya…aku tidak mau, Vino sudah ak anggap seperti kakakku sendiri."ucap Andrew
"Lalu? Apa tujuan kamu memanggil aku ke sini, hah?"tanya Lesy dengan nada yang agak tinggi.
"Lesy, baiklah, aku jelaskan semuanya, maaf, aku minta maaf sudah menyita waktumu untuk datang dan kembali di sini. Ini semua demi perusahaan Vino. Demi itu, Lesy."ucap Andrew dengan gugup.
"Yakin?"tanya Lesy yang membuat Andrew bingung menjawabnya lagi. Andrew hanya terdiam saja dengan menatap Lesy.
"Tidak mau menjawab? Ayo antarkan aku ke Bandara lagi, aku akan segera kembali Ke Paris."ucap Lesy.
"Apa tidak besok saja?"tanya Andrew.
"Semua sudah selesai, ini semua masalahnya dengan Shita, bukan dengan aku, Andrew, jadi buat apa aku lama-lama di sini. Mau menambah masalah lagi? Ayo buruan antar aku Ke Bandara lagi."pinta Lesy dengan memaksa.
Andrew menuruti Lesy dan mengantar dia kembali ke Bandara. Di dalam perjalanan mereka hanya terdiam. Lesy dari tadi menatap Andrew yang masih menyimpan kata-katanya untuk diungkapkan.
"Lesy."panggil Andrew.
"Hmmm.."jawab Lesy.
"Apa kamu tidak bisa membuka hati lagi untuk pria lain?"tanya Andrew.
"Maksudmu?" Lesy balik bertanya pada Andrew.
__ADS_1
"Emmmm....maksudnya....A.…aku..maksudnya apa kamu tidak ingin memiliki seorang kekasih?"tanya Andrew gugup.
"Mau tanya seperti itu saja bingung dari tadi. Ya, aku memang masih mencintai Vino, tapi itu tidak mungkin aku miliki. Kalau masalah membuka hati untuk yang lain, aku sebenarnya sudah membukanya dan ya…. seperti itu."ucap Lesy dengan agak gugup.
"Seperti itu bagaimana?"tanya Andrew.
"Emmm…jangan bahas ini. Andrew, carikan aku hotel saja, aku akan pulang ke Paris besok. Papahku juga masih ada urusan kantor, dan mungkin dua atau tiga hari dia keluar kota."ucap Lesy.
"Papahmu? Bukankah kamu membenci papah tirimu?"
"Aku sekarang tinggal dengan papah kandungku."ucapnya.
Andrew mencarikan hotel untuk Lesy menginap, melepaskan rasa lelahnya. Andrew hanya mengantar Lesy sampai di Lobby hotel saja. Dan dia bilang pada Lesy, besok pagi-pagi sekali akan menjemputnya ke bandara.
Sebenarnya Andrew sudah lama mengendap rada suka pada Lesy, tapi dia tau, kalau seseorang yang Lesy cintai hanya Vino saja.
"Besok aku akan coba mengutarakan semua perasaanku pada Lesy, sebelum dia kembali ke Paris."gumam Andrew dalam hati.
*****
Keesokan harinya, Arsyil bersiap-siap akan ke kantor, dia sedang menikmati sarapan dengan Istrinya dan anak kembarnya yang ada di kereta dorongnya.
"Nda, hari ini aku berangkat sama Kak Arsyad pakai sepeda motor."ucap Arsyil.
"Kenapa pakai sepeda motor?"tanya Nisa.
"Ingin boncengan saja dengan Kak Arsyad."jawabnya.
"Oh…ya sudah, hati-hati, jangan ngebut."ucap Annisa.
"Siap bunda ratu yang cantik." Arsyil mengacak-acak rambut istrinya dan mencium keningnya.
"Hobinya kambuh lagi, tukang acak-acak rambut."ucap Annisa.
"Ya sudah, ayah berangkat ke kantor ya nda, hati-hati di rumah, kalau si kembar rewel gak usah masak, kan ada bibi." Arsyil pamit pada istrinya, Annisa mencium tangan suaminya lalu Arsyil mengecup keningnya.
"Anak ayah yang pintar, kalian jangan rewel ya, jangan merepotkan bunda. Ayah ke kantor dulu ya?"pamit Arsyil pada Dio dan Shifa. Arsyil mencium kedua bayinya.
"Iya Ayah, hati-hati, jangan ngebut-ngebut naik motornya."ucap Nisa yang menirukan suara anak kecil.
"Oke. Ya sudah nda, ayah berangkat dulu. Assalamualaikum." pamit Arsyil.
"Wa"alaikumsalam, hati-hati ayah."ucap Annisa, Arsyil hanya menjawab dengan acungan jempol nya dan tersenyum manis pada istrinya. Arsyil mengambil jaket dan memakainya, lalu mengambil tas kerja dan helmnya. Dia menghidupkan sepeda motornya dan melajukannya ke rumah Arsyad.
"Senyuman mu manis sekali, Arsyil. Itu yang membuat aku jatuh cinta setiap hari, semoga sehat selalu. Ya Allah lindungilah suamiku jika dia tidak berada di sisiku."gumam Annisa dalam hati sambil mengemasi piring dan gelas kotor, dan membawanya ke dapur.
Arsyil sudah sampai di halaman rumah Arsyad, mereka sudah janjian, kalau hari ini akan berangkat dengan berbonceng memakai sepeda motor. Itu semua karena mereka rindu berbonceng pakai sepeda motor. Arsyil masuk ke dalam ruang kakaknya, dia langsung nyelonong masuk seperti biasanya. Dan duduk di ruang tamu menunggu kakaknya Keluar dari kamarnya.
Arsyad masih di kamarnya mengambil tas dan jaketnya, dia pamit dengan istrinya kalau dia akan pergi ke kantor berbonceng dengan Arsyil. Mira hanya mengiyakan saja, karena mereka juga sering ke kantor dengan berbonceng, mungkin mereka kangen dengan itu.
"Mas, jangan lupa pakai masker."ucap Mira.
"Tentu dong sayang." Arsyad melebarkan senyumnya dan menarik pinggang Mira agar menghadap ke arah Arsyad.
"Cantik sekali istriku ini." Arsyad mengangkat dagu Mira dan mengecup bibir istrinya dengan lembut. Tak hanya mengecupnya, dia memberi ciuman yang amat dalam untuk Almira, dan Almira menikmatinya.
Almira melepas ciumannya karena merasa asupan oksigennya sudah habis.
"Jangan seperti ini. Nanti aku tahan kamu tidak usah ke kantor bagaimana?"ucap Mira dengan menggoda suaminya.
__ADS_1
"Kalau aku mau di tahan kamu supaya tidak ke kantor bagaimana?"tanya Arsyad.
"Ya bagaimana, ah…udah sana ke kantor saja. Nanti malam saja."ucap Mira dengan pipi yang memerah.
"Kamu itu lucu sekali sayang, ya sudah aku berangkat dulu, jaga diri di rumah baik-baik, kalau kamu tidak sempat memasak, biarlah bibi yang masak. Aku tidak mau kamu kelelahan."tutur Arsyad sambil membelai pipi istrinya.
Almira mencium tangan suaminya, dan Arsyad mencium kening Almira.
"Najwa cantik, jangan rewel ya, Abah kerja dulu. Najwa sama ummi di rumah baik-baik ya, jangan nakal sama ummi."ucap Arsyad sambil mencium Najwa dan menggendongnya.
"Iya Abah, kan Najwa anak pintar, gak nakal dan nurut sama ummi."ucap Mira dengan nada seperti anak kecil.
"Ya sudah yuk keluar, sepertinya Om ganteng mu sudah menunggu. Ummi pakai jilbabnya, kita keluar."ucap Arsyad sambil menggendong Najwa dan menunggu Mira memakai jilbabnya.
Arsyad dan Mira keluar dari kamarnya menuju ruang tamu. Arsyil sudah menunggunya di ruang tamu sambil membaca surat kabar hari ini.
"Sudah lama, Syil?"tanya Arsyad.
"Sekitar sepuluh menit yang lalu."jawab Arsyil.
"Sudah lumayan lama juga."ucap Arsyad.
"Ya seperti itu, eh…keponakan om yang cantik ini sudah bangun?" Arsyil bangun dari tempat duduknya dan mendekati Najwa yang sedang digendong Arsyad. Dia mencium Najwa, dan Najwa tersenyum lucu.
"Udah dong om, Najwa bangunnya lebih awal dari ayam berkokok ya."ucap Arsyad.
"Ya sudah kita berangkat. Najwa sama ummi ya, Abah berangkat ke kantor dulu." Arsyad memberikan Najwa pada Almira, tapi dia tidak mau lepas dari gendongan Arsyad.
"Ayo sama ummi, Abahnya mau kerja sayang, Najwa anak pintar nanti main lagi dengan Kak Alina dan Kak Naila ya. Ayo sini sama ummi." Almira merayu anaknya dan akhirnya Najwa mau ikut dengannya. Arsyad berpamitan dengan istri dan anaknya, dia mencium kedua bidadari dan peri kecilnya.
"Abah berangkat dulu ya, Assalamualaikum."ucap Arsyad
"Wa'alaikumsalam."jawab Mira
Arsyad dan Arsyil berangkat ke kantor menggunakan sepeda motor, Arsyad membonceng adiknya, Arsyil mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang dan hati-hati. Mereka menikmati perjalanan dengan sepeda motor menuju ke kantornya, merek juga tak lepas dari obrolan mereka saat berboncengan. Setelah sampai di kantor, mereka masuk ke dalam kantor dan berjalan beriringan. Dua pemilik perusahaan yang di juluki papah muda dan tampan berhasil membuat semua mata karyawan perempuan di kantor melebar sempurna. Semua karyawan mengucapkan salam untuk mereka.
Rico baru saja sampai di kantor, dia berjalan di belakang anak laki-laki nya yang dahulu masuk ke dalam kantor. Dia mendengar karyawan wanita bergosip ria membicarakan ke dua putranya.
"Pak Arsyad dan Pak Arsyil tampan sekali, istri mereka pasti bahagia memiliki suami seperti mereka."ucap salah satu karyawan di kantor Rico.
"Jangan ghibah, jelas mereka tampan, lihat sendiri papahnya."ucap Rico pada karyawan nya.
"Hehehe….Selamat pagi Pak Rico."ucap mereka dengan malu.
"Pagi….sudah lanjutkan pekerjaan kalian."ucap Rico yang langsung berlalu meninggalkan mereka.
Dia melihat kedua anak laki-lakinya yang masih berjalan beriringan, terlihat Arsyad merangkul adiknya dan sedang mengobrol lirih, tak tau apa yang mereka bicarakan.
"Mereka sangat kompak sekali, kedua anak lelakiku, walaupun kalian pernah terlibat dalam satu hati mencintai perempuan yang sama, tapi dia masih tetap menjaga tali persaudaraan yang kuat. Mereka saling menyayangi. Hubungan persaudaraan itu bagaikan jalanan, kadang jalannya mulus, kadang juga menikung dengan sangat tajam. Tetap seperti itu anak-anak ku, selalu menyayangi, walau berjuta badai kalian tempuh."gumam Rico dalam hati yang melihat anaknya saling menyayangi.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
♥️happy reading♥️