
"Nur, kenapa kamu tidak menjadi dokter seperti ibumu?" tanya Najwa pada Nuri yang sedang melihat foto-foto mendiang ibu dan ayahnya Nuri.
"Aku tidak mau, Najwa. Aku memiliki duniaku sendiri. Ya seperti inilah aku. Aku ingin menjadi desainer terkenal. Dan, sekarang aku sudah mendapatkannya. Tidak perlu mengikuti jejak orang tua untuk membuat bangga orang tua, Najwa. Aku bisa membuktikan pada mereka kalau aku bisa memperoleh jati diriku sendiri tidak dengan dunia kedokteran," jawab Nuri.
"Memang semua keluargamu Dokter?" tanya Najwa.
"Ya, opaku dokter, omaku seorang perawat, ayah dan ibuku seorang dokter, om ku juga dokter, lalu anak semata wayang om ku juga seorang dokter anak," jawab Nuri.
"Dokter anak?"
"Iya, Najwa. Kenapa kamu terkejut mendengar aku berbicara dokter anak?" tanya Nuri dengan penuh selidik.
"Tidak apa-apa, aku ingat temanku saja, dia seorang dokter anak juga. Namanya Wulan, dan sekarang aku kehilangan pekerjaan yang membuatku tertawa dan bahagia. Aku jarang ke rumah singgah untuk mendongeng dan menghibur anak-anak yang sakit dengan Wulan," jawab Najwa.
"Kamu masih suka mendongeng? Kebetulan Kiki sepupuku dia punya rumah sakit di sini, rumah sakit khusus untuk anak-anak. Kalau mau, aku kenalkan kamu dengan Kiki, pasti kamu suka dengan sepupuku, dia kocak, jomblo lagi," ucap Nuri dengan penuh semangat.
"Apa hubungannya kalau sepupumu jomblo, masa iya aku mau di kenalin sama cewek jomblo, ngarang kamu, Nur." Najwa berkata dengan tersenyum sambil menutup album foto keluarga Nuri.
"Huss … Kiki itu cowok, apa Kiki itu harus cewek, kamu itu. Kali aja kamu cocok dengan Kiki. Sudahlah kamu sudah 2 minggu di sini, lupakan Dio, oke?" Nuri berkata dengan menyimpulkan senyumannya. Dia juga berniat menjodohkan Najwa dengan sepupunya itu. Yang belum bisa melupakan gadis yang ia kenal secara tiba-tiba karena sudah 2 bulan gadis itu tidak menghubunginya lagi, setelah menolak saat ia mengungkapkan isi hatinya.
"Jangan bahas Dio, lagian siapa yang mau dengan wanita seperti aku, Nuri? Aku sudah kotor, tubuhku sudah terjamah laki-laki lain, mana mungkin laki-laki itu mau menerima apa adanya diriku, Nur," ucap Najwa.
"Hei, jangan bicara seperti itu, kamu masih perawan kan?" tanya Nuri, yang hanya di jawab Najwa dengan anggukannya saja.
"Sudah kita sama, aku juga masih perawan, karena ini adalah mahkota, jadi aku harus menjaganya. Jujur saja, aku berpacaran, ya seperti kamu, bahkan lebih, tapi aku masih perawan, Najwa." Nuri mengungkapkan apa yang sebenarnya sudah Nuri lalui selama berpacaran dengan pacarnya.
Memang pergaulan di luar negeri sangat ekstrim sekali untuk para remaja. Apalagi remaja yang labil dan suka coba-coba, pasti akan mudah terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif.
Najwa sejenak memikirkan Dio, yang gaya pacarannya hampir mirip dengan para remaja di luar negeri. Tak heran Dio lama hidup di Berlin, mungkin di sana teman-temannya juga seperti itu.
"Apa Dio di sana dengan wanita lain juga seperti itu, selama di Berlin?" dalam hati Najwa penuh tanda tanya tentang Dio.
"Hei, diam saja. Mikirin Dio lagi?" tanya Nuri.
"Tidak, heran saja, kamu ternyata seperti itu," jawab Najwa dengan senyuman yang masam.
"Kamu tau, kan? Di sini kebanyakan remaja sudah seperti itu, pergaulan di sini sangat ekstrim, Najwa. Beruntung aku masih bisa mengendalikan diriku, udah aku mau tidur, oh iya Najwa, besok kamu di butik sendirian dulu, ya? Aku mau menemui seseorang," ucap Nuri.
"Siapa?" tanya Najwa.
"Seseorang yang special," jawab Nuri.
"Ya sudah, sana tidur. Aku belum ngantuk," ucap Najwa.
"Oke. Sudah, lupakan Dio, kamu berhak mendapatkan seorang laki-laki yang lebih baik dari Dio, Najwa," ujar Nuri.
"Iya, iya. Katanya mau di kenalin dengan sepupu kamu?"
"Jadi mau, nih? Oke besok kalau dia sudah tidak sibuk, nanti aku suruh dia ke sini,"
__ADS_1
"Oke, sana kamu tidur," titah Najwa.
Nuri masuk ke dalam kamarnya. Sementara Najwa masih diam di sofa dan memandangi ponselnya. Dia merindukan Abah dan opanya. Sangat merindukan sekali. Dia tidak punya foto abahnya atau opanya lagi di ponselnya. Karena dia memakai ponsel baru, tidak ada kontak keluarganya di ponsel barunya juga. Hanya ada aplikasi sosial media, tapi dia enggan membuka aplikasi itu. Dia belum siap melihat dan menghubungi keluarganya lagi. Dia tahu, yang menginginkan dia pulang hanya Raffi dan Arkan saja.
"Aku harus bisa melupakan sejenak tentang mereka. Aku tahu itu tidak mudah dan tidak akan pernah bisa. Mereka adalah keluargaku, jadi mana mungkin aku bisa melupakan mereka. Tidak, ini hanya untuk beberapa tahun ke depan saja, aku juga harus pulang, meski kepulangan ku nanti tidak di terima oleh mereka. Aku harus pulang nantinya," gumam Najwa.
Najwa membuka aplikasi sosial medianya. Iya, dia membuka Facebook, dan hanya satu orang yang ia tuju untuk bertukar kabar, yaitu Habibi atau dr. Akmal. Dia mencari akun Facebook dr. Akmal, beruntung dia berteman dalam Facebook. Dua bulan lamanya, dia tidak menghubungi Habibi. Itu semua karena Dio yang minta. Dio yang cemburu saat Habibi dan dirinya bertukar kabar. Dan, Najwa menuruti apa yang Dio minta, Dio meminta agar Najwa memblokir semua tentang Habibi. Beruntung akun Facebook milik Habibi belum ia blokir.
Banyak inbox dari Habibi. Selama dua bulan, dia tak henti-hentinya mengirim pesan setiap harinya. Ratusan pesan muncul dari Habibi. Najwa semakin merasa bersalah pada Habibi. Laki-laki yang tulus ia sia-siakan hanya karena suami orang. Memang sebelum Najwa memblokir semua kontak Habibi, Habibi mengungkapkan cinta pada Najwa. Namun, Najwa menolaknya karena dia lebih nyaman Habibi sebagai teman atau sahabatnya.
"Ainun, kamu di mana? Kenapa semua nomor kamu tidak aktif? Aku mengirim pesan pada Abah, tapi tidak ada balasan dari Abah, bunda, Raffi, atau Opa. Kamu sebenarnya kenapa, Ainun? Apa kamu marah denganku, karena soal kemarin itu?" ~Habibi.
"Ainun, kamu di mana? Oke, maafkan aku, aku tidak akan menganggap hubungan ini lebih, aku hanya ingin dekat denganmu, menjadi teman dan sahabatmu. Ainun, aku akan selalu menunggu kabar darimu." ~Habibi
Najwa meneteskan air matanya. Ternyata Habibi sangat merasa bersalah karena mengungkapkan isi hatinya pada dirinya. Penolakan dirinya malah membuat Habibi semakin merasa bersalah. Najwa membalas pesan Habibi.
"Habibi maaf, bukan maksud aku menjauh darimu. Aku sedang sibuk sekali selama dua bulan kemarin, karena aku ikut event desainer di luar kota. Jadi aku fokus ke situ. Bagaimana kabar kamu?" ~Ainun.
Najwa menunggu Habibi membalas pesannya. Dia membuka-buka foto-foto Habibi yang sedang berada di Budapest, tempat di mana ia tinggal sekarang. Ya, Najwa ikut dengan Nuri ke Budapest. Dia bekerja di butik Nuri, beruntung Nuri mau menampungnya.
Di rumah sebesar ini Nuri hanya hidup sendirian. Katanya opa, om, dan sepupunya itu juga berada di Budapest. Mereka semua dokter. Tapi, jarang ke rumah Nuri. Sepupu Nuri yang katanya seorang dokter juga dulu tinggal bersama di rumah Nuri. Namun, karena jarak antara rumah Nuri dan rumah sakit tempat di mana sepupunya bekerja jauh, jadi sepupunya lebih memilih membeli rumah yang dekat dengan rumah sakit di mana ia bekerja.
Najwa ingin memberitahukan dirinya ada di Budapest juga pada Habibi, tapi ini belum saatnya dia memberitahukan dirinya ada di sini bersama temannya. Karena, Habibi akan curiga kenapa Najwa bisa berada di Budapest. Ponsel Najwa berdering, ada notifikasi pesan di facebooknya. Siapa lagi kalau bukan dari Habibi. Dia membuka dan membaca pesan dari Habibi.
"Syukur Alhamdulillah, kamu mau balas pesanku lagi, Ainun. Bagaimana kabar kamu, aku kira kamu marah denganku, Ainun. Kamu tahu? Aku di sini kerja tidak ada semangat dan tidak bisa konsentrasi. Dan, sudah 4 hari ini aku cuti. Kamu sedang apa, Ainun?" ~Habibi.
Najwa tersenyum melihat pesan dari Habibi. Najwa tidak menyangka Habibi akan seperti itu. Tidak mendapat kabar darinya membuat tidak semangat dan tidak konsentrasi dalam bekerja. Ainun membalas lagi pesan dari Habibi.
"Aku sedang memikirkan kamu, Ainun. Iya aku cuti karena butuh refreshing saja. Dan karena kamu juga, aku tidak semangat kerja. Rasanya ingin aku kembali ke Indonesia, tapi tidak bisa, pekerjaanku benar-benar banyak di sini." ~Habibi.
"Gombal lagi, dasar tukang gombal. Jangan seperti itu, harus profesional dong kalau bekerja. Kan aku sudah memberi kabar lagi." ~Ainun.
"Aku gombal hanya dengan kamu, Ainun. Tapi sayang, orang yang aku gombalin mencintai laki-laki lain. Aku mohon, jangan pergi lagi, Ainun." ~Habibi.
"Aku tidak ke mana-mana, aku masih di rumah, mau pergi ke mana lagi, Habibi?" ~Ainun.
Mereka saling bertukar kabar hingga larut malam. Habibi meleburkan rindunya hingga ia lupa waktu dan lupa akan sakitnya. Habibi memang sedang sakit selama 4 hari itu. Tapi setelah mendapat kabar dari Najwa rasa sakit itu serasa hilang dari tubuhnya.
Najwa dan Habibi mengakhiri berbalas pesan lewat Facebook. Najwa tidak memberitahukan Habibi kalau dia berada di Budapest.
^^^
Pagi hari, Najwa bersiap untuk ke butik, dia harus berangkat sendiri ke butik ke butik karena Nuri akan menemui seseorang dulu. Najwa di antar sopir pribadi Nuri ke butik. Hari-hari Najwa selalu sepi, hatinya masih sakit saat mengingat dirinya di usir oleh abahnya. Tapi, itu tidak membuat Najwa membenci Abah dan lainnya. Dia sadar, dia memang salah, masih melanjutkan hubungannya dengan Dio waktu itu.
Najwa berusaha melupakan semua yang terjadi kemarin. Dia ingin fokus dengan karirnya. Dia juga ingin melupakan Dio, cinta untuk Dio memang begitu sulit ia lupakan, karena Dio adalah cinta pertama Najwa. Dio yang pertama menanam benih cinta pada hati Najwa, hingga ia sulit melupakan Dio dan membuang semua rasa cinta untuk Dio.
"Aku pasti bisa melupakan Dio. Aku berhak bahagia tanpa Dio, dan tanpa keluargaku yang tidak menginginkan aku," gumam Najwa.
^^^
__ADS_1
Malam hai di rumah Anna. Dio dan Rania duduk di depan Anna untuk menyelesaikan masalah kenapa mereka bisa bercerai. Kemarin belum sempat Anna menanyakan itu pada Rania. Karena Rania lelah pulang dari luar kota. Anna tahu, jika putrinya lelah soal pekerjaan, dia tidak ingin mengganggu atau menambah beban pada putrinya. Dan, akhirnya malam berikutnya Anna baru mencari waktu yang tepat untuk membicarakan soal perceraian Rania dan Dio.
"Kenapa kamu sembunyikan ini dari ibu, Rania!" tanya Anna pada Rania dengan nada sedikit tinggi.
"Ibu, maafin Rania. Rania menyembunyikan ini karena Rania tidak mau membebani pikiran ibu," jawab Rania.
"Lalu kenapa ibu menyembunyikan ini pada Rania?" Rania memberikan hasil pemeriksaan ibunya yang tidak sengaja ia lihat di lemari ibunya saat menata baju milik ibunya.
"Ibu jahat! Ibu tidak sayang Rania!" Rania memeluk ibunya dan menangis histeris karena tahu ibunya sakit keras.
"Tuhan tidak adil, kenapa orang yang Rania sayang selalu di beri cobaan seperti ini. Ibu, Rania mohon, ibu harus melanjutkan pengobatan ibu. Rania akan temani." Rania memohon pada ibunya agar mau berobat lagi ke Singapura.
"Lalu siapa yang akan mengurus perusahaan kamu dan ayahmu, nak?" tanya Anna.
"Ada Evan, ada Dio. Aku ingin ibu sembuh, oke." Rania tetap meminta ibunya untuk melanjutkan pengobatannya.
"Dio, aku mohon, titip perusahaan papah. Dan perusahaanku biar Astrid dan orang kepercayaanku lainnya yang menghandle, aku akan tetap pantau, dan aku akan sempatkan pulang. Dio, aku mohon, ini demi ibu." Rania memohon pada Dio juga agar dia mau menghandle perusahaan ayahnya.
"Apa pun akan aku lakukan demi ibu, agar sembuh. Ibu harus berobat. Jangan khawatir perusahaan ayah dan perusahaan Rania. Ibu harus sembuh. Hanya ibu yang Rania punya." Dio membujuk Anna agar mau berobat lagi.
"Dio, Rania. Ibu mau berobat, tapi ada syaratnya," ucap Anna.
"Apa syaratnya, ibu," jawab mereka.
"Kalian rujuk," jawab Anna.
"Ibu, Rania tidak bisa. Ibu jangan paksa Rania. Rania mohon dengan ibu. Rania tidak bisa meneruskan rumah tangga Rania dengan Dio," ucap Rania.
"Ibu, meski Dio bukan suami Rania lagi, ibu tetap ibu Dio. Ibu harus sembuh," ucap Dio.
Anna mempertimbangkan permintaan Dio dan Rania. Dan, akhirnya Anna mau untuk melanjutkan pengobatannya. Rania merasa lega, setidaknya, jika ini adalah hari-hari akhir ibunya, dia bisa menemaninya. Rania tidak menyangka akan seperti ini. Selama ibunya di Singapura, dia tidak tahu kalau ibunya sedang berobat. Ayahnya selalu bilang kalau di Singapura mereka membangun bisnisnya lagi, bukan berobat.
^^^
Rania segera mengurus perusahaan ayahnya yang akan di pegang Dio. Meskipun mereka bercerai, tapi bagi Rania Dio adalah partner bekerja yang baik. Rania menjelaskan tentang perusahaan ayahnya pada Dio. Dio memahami apa yang di jelaskan oleh Rania.
"Ran, kalau kamu di sana, jangan lupa kasih kabar ibu setiap hari padaku," pinta Dio.
"Itu pasti Dio," jawab Rania dengan membuka-buka dokumen penting.
"Ran, jaga diri kamu di sana, jaga ibu, maaf aku tidak bisa ikut menemani kamu di sana," ucap Dio.
"Iya, Dio. Jangan khawatir. Aku sudah biasa hidup di sana, Dio. Aku titip perusahaan Dio. Dan, aku juga minta tolong, untuk selalu cek perusahaan aku juga. Aku tidak yakin kalau perusahaanku di pegang Evan, itu semua karena Abah dan opa yang bilang," ucap Rania.
"Oke, aku akan handle perusahaan mu juga. Kamu baik-baik di sana. Kapan akan berangkat?" tanya Dio.
"Lusa aku berangkat Dio," jawab Rania.
Sebenarnya Rania berat sekali meninggalkan perusahaannya, tapi demi ibunya, dia rela meninggalkan sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Bagi Rania, tidak ada kebahagiaan yang lain selain bahagia dan membahagiakan orang tuanya.
__ADS_1
"Mungkin ini saatnya aku mengabdikan diriku pada orang tuaku lagi. Karena aku bukan haknya Dio lagi, aku sudah bercerai dari Dio, dan ini saatnya aku membahagiakan orang tuaku satu-satunya, di sisa-sisa hidupnya yang mungkin tidak lama lagi karena sakit yang ibu derita. Meski aku ingin ibu sembuh dan menemani hari-hariku lagi," gumam Rania.