
Habibi mencium kening Ainun setelah sholat. Malam ini mereka merasa lelah yang teramat sangat, setelah seharian mereka menjadi raja dan ratu di depan para tamu undangan. Ainun melepas mukenah nya. Dia tidak percaya malam ini di kamarnya ada seorang laki-laki yang akan menemani ia tidur di sepanjang hidupnya.
Habibi mengganti bajunya dengan piyama yang ia ambil tadi. Ainun masih memandangi suaminya yang sudah selesai berganti pakaian. Habibi duduk di samping Ainun yang masih memakai gaun putih dengan rambut yang di biarkan tergerai.
“Sayang, kamu tidak pakai piyamanya? Ini sudah aku ambilkan,” ucap Habibi.
“Iya, aku ganti sebentar,” ucapnya sambil menerima piyama yang Habibi ambilkan dan akan menuju ke kamar mandi.
“Kok ke kamar mandi? Tidak ganti di sini?” tanya Habibi.
“Di kamar mandi saja, sayang,” ucap Ainun.
“Kenapa?” ucap Habibi dengan membelai lembut pipi Ainun.
“Ehm...aku malu,” jawabnya.
“Sama suami sendiri kok malu? Kamu sudah jadi milikku, Ainun,” ucapnya. “Ya sudah, kalau kamu belum siap untuk ganti bau di sini, kamu boleh ganti di kamar mandi,” imbuh Habibi.
“Terima kasih,” ucap Ainun.
Habibi hanya menggelengkan kepalanya, dia tersenyum membayangkan raut wajah istrinya tadi saat berkata malu di depannya.
Ainun terdiam sejenak di kamar mandi sebelum mengganti bajunya. Dia tidak bisa membayangkan saat nanti ia disentuh oleh suaminya. Ainun memejamkan matanya, mengingat semua dosa di masa lalunya bersama Dio. Dia semakin takut, dirinya merasa kotor dan tidak pantas untuk Habibi yang terlampau sempurna untuk dirinya.
“Ya Allah, aku harus bagaimana jika Habibi menginginkannya? Aku takut, kenapa ingatan ini muncul lagi? Kenapa rasa takut ini hadir lagi? Aku harus bagaimana?” Ainun berkata lirih dengan menyeka air matanya yang jatuh membasahi pipi.
Ainun dengan segera mengganti bajunya. Dia tahu pasti suaminya menunggu dirinya di kamar. Setelah mengganti bajunya, dia merapikan rambutnya yang panjang. Ainun keluar dari kamar mandi. Benar, suaminya masih duduk di tepi ranjang menunggunya.
Kamar Ainun disulap menjadi serba putih, di sisi kanan kiri tempat tidurnya ada bunga lily yang masih segar. Semerbak wangi bunga melati dan kenanga benar-benar menyeruak ke dalam indera penciumannya. Kelopak bunga mawar bertaburan di tempat tidurnya.
Ainun duduk di sebelah Habibi. Dengan lembut Habibi mengusap kepala Ainun dan menyelipkan rambut Ainun ke belakang telinganya. Habibi mencium bibir Ainun dengan lembut, sangat lembut dan membuat Ainun hanyut dalam ciumannya.
Habibi mengecup kening Ainun ketika ia mendengar Ainun terisak, entah karena apa. Dia membawa Ainun dalam pelukannya. Ainun mengeratkan pelukannya pada Habibi.
“Aku tidak akan memintanya. Aku akan menunggu kamu siap, sayang,” ucap Habibi dengan mengecup puncak kepala Ainun.
“Maafkan aku, Habibi,” ucap Ainun di iringi isak tangisnya.
“Jangan meminta maaf. Melupakan semuanya butuh waktu lama, aku sadar itu. Yang terpenting, kamu sudah menemani ku setiap hari. Menemani aku saat tidur, mengisi hariku dengan indah, dan satu lagi, kamu milikku selamanya dan tak akan tergantikan, Ainun. Aku janji itu,” ucap Habibi.
“Meskipun sekarang aku belum siap untuk melakukannya?”
“Iya, sayang. Aku akan menunggu kamu siap, kapan pun itu, aku akan selalu menunggumu.”
“Janji?”
“Aku janji, Ainun. Dan, aku akan buktikan janjiku itu.”
“Terima kasih, Habibi.”
__ADS_1
“Ayo tidur, kamu pasti lelah, seharian sudah jadi ratuku dengan anggun dan cantik di pelaminan. Tidurlah, aku mencintaimu.” Habibi mengecup kening Ainun.
“Aku juga mencintaimu.” Ainun tidur di samping Habibi, menghadap Habibi dan mencium bibirnya. Habibi mengeratkan pelukannya pada Ainun.
Pelukan Habibi begitu menghangatkan dan memberikan kenyamanan pada Ainun. Tak butuh waktu lama, Ainun terlelap di pelukan Habibi. Habibi belum bisa memejamkan matanya. Dia melihat wajah Ainun yang begitu cantiknya saat tertidur.
“Aku tidak peduli, kapan kamu akan memberikannya padaku, Ainun. Aku tidak peduli itu. Yang terpenting bagiku, kamu sudah berada di dalam dekapanku, selalu ada di sisiku, karena kamu adalah napas ku. Aku beruntung memiliki wanita sepertimu, dalam hidupku. Love you more, honey.” Habibi mendaratkan ciuman kilasnya di bibir Ainun.
^^^
Sudah lebih dari setengah jam, Habibi belum bisa memejamkan matanya. Dia masih ingin memandangi wajah istrinya yang sangat cantik dengkuran halus sudah terdengar lirih di telinga Habibi. Habibi mengecup kening Ainun.
Habibi berniat keluar untuk mengambil minum karena ia merasa tenggorokannya sangat kering. Dia melihat jam dinding, baru pukul 10 malam, pantas saja dia belum begitu mengantuk, karena biasanya dia tidur hingga larut malam.
Dia keluar menuju dapur. Di ruang keluarga masih terdengar suara orang sedang bercanda gurau. Dia ingin melihat siapa yang berada di sana, tapi Habibi mengurungkan niatnya karena merasa sangat haus. Dia langsung pergi ke dapur untuk mengambil air putih.
Malam ini, dia masih berada di rumah Arsyad. Arsyad yang memintanya, karena seminggu lagi Habibi dan Ainun akan segera berangkat ke Budapest lagi. Jadi, Arsyad ingin menghabiskan waktu bersama putrinya dulu sebelum ia berpisah lama lagi dengan Ainun,
Habibi kembali ke kamar sesudah mengambil air putih. Dia mendengar suara opanya dan Nuri. Dia mendekati sumber suara. Iya, benar opa Wisnu dan Nuri masih berada di rumah Abahnya.
“Opa, Nuri, kok masih di sini?” tanya Habibi dengan berjalan ke arah opanya.
Semua masih belum tidur, hanya dirinya dan Ainun yang sudah berada di kamar dari tadi.
“Opa menginap di sini. Masih ingin bercerita sama Opa Rico. Kamu belum tidur?” tanya Opa Wisnu.
“Opa, bagaimana mau tidur. Pengantin baru, Opa. Tancap gas terus dong. Gaspoll...! iya kan, bro?” ledek Fattah.
“Sudah, aku mau ke kamar. Mau lanjutin,” ucap Habibi.
“Kan...mau lanjut dia,” ucap Nuri.
“Lanjut tidur lah, ngantuk.” Habibi meninggalkan semua orang yang sedang berkumpul di ruang tengah.
Habibi hanya menghindari pertanyaan-pertanyaan yang membuat dia bingung menjawabnya. Ya, seperti tadi Fattah, dia langsung berkata seperti itu. Wajar, semua pengantin baru pasti di candain seperti itu. Habibi menaruh gelas yang berisi air putih di meja. Dia merebahkan kembali tubuhnya di samping Ainun.
^^^
Satu minggu telah berlalu. Kini tiba waktunya Habibi dan Ainun untuk ke Budapest lagi. Sebenarnya Arsyad masih ingin Ainun berada di rumah. Tapi, ini sudah kewajiban Ainun untuk ikut suaminya bertugas di Budapest.
“Tidak terasa ya, Bunda. Hari ini Najwa akan ke Budapest lagi,” ucap Arsyad dengan memeluk Annisa dari belakang yang sedang bercermin.
“Abah, kan memang sudah kewajiban Najwa untuk ikut suaminya. Bunda juga dulu saat Shifa akan di bawa Fattah, bunda seakan tidak rela sekali, tapi bunda sadar, Shifa sudah jadi seorang istri, dan dia harus berbakti pada suaminya. Begitu juga dengan Najwa,” jelas Annisa.
“Iya, ya bunda. Rasanya dia baru pulang kemarin, tapi dia mau pergi lagi.”
“Abah, dia pergi bersama suaminya. Lelaki yang kemarin meminta Najwa dengan sebaik-baiknya pada abah. Abah jangan khawatir, bunda yakin Akmal akan menyayangi Najwa dengan tulus.”
“Iya bunda.”
__ADS_1
“Sudah jangan sedih, abah siap-siap, gih. Ini sudah hampir jam 3, abah mau mengantar Najwa ke Bandara, kan?”
“Iya, ini abah mau siap-siap.”
Sore ini Najwa dan Akmal akan berangkat ke Budapest. Setelah Opa, Nuri, dan papahnya berangkat tiga hari yang lalu, kini Akmal dan Najwa akan menyusulnya ke sana.
Memang masih banyak sekali tugas Akmal di sana. Mungkin sekitar satu tahun lagi dia baru bisa kembali ke Indonesia lagi. Akmal sebenarnya masih ingin di sini. Dia ingin sekali hidup di Indonesia, karena semua kenangan bersama mamahnya ada di sini.
“Sayang, kamu sudah siap?” tanya Ainun.
“Ehm..sudah,” jawab Habibi setengah terjingkat, karena dia masih memikirkan sesuatu.
“Kamu kenapa? Kok kelihatannya mau ke Budapest enggak semangat gitu?” tanya Ainun.”
“Aku sebenarnya masih ingin di sini. Aku ingin hidup di sini, sayang. Kenangan bersama mamah banyak sekali di sini, sayang,” ucap Habibi.
“Ini demi tugas, sayang. Aku sebenarnya masih ingin di sini bersama abah, opa, dan bunda. Tapi, aku istrimu. Aku harus selalu ikut ke mana pun kamu pergi, dan selalu mendukung kamu.” Ainun mencium tangan Habibi.
“Terima kasih, sayang.” Habibi memeluk Ainun dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ainun.
Habibi beruntung sekali memiliki istri seperti Ainun. Meski belum mendapatkan haknya, tapi dia sudah mendapatkan seorang istri yang sempurna dan setia, selalu mendampinginya, ke mana pun dia pergi.
Arsyad duduk di ruang tamu bersama Akmal sebelum berangkat ke Bandara. Arsyad dari tadi memberi nasihat pada menantunya. Dia sebenarnya masih belum ingin melepas Najwa jauh. Setelah satu tahun tidak bertemu, dan baru bertemu belum ada sebulan, dia sekarang akan berpisah lagi dengan putrinya.
“Nak, abah titip Najwa.”
“Iya, abah.”
“Jangan sedikitpun kamu menyakiti dan melukai hati anak perempuanku. Jaga dia, sayangi dia, seperti abah menyayanginya tulus dan tanpa pamrih.”
“Itu pasti abah. Akmal akan menjaga Najwa, menyayangi, dan mencintai Najwa dengan tulus. Seperti abah menyayanginya. Akmal janji itu.”
“Buktikan, dan tepati janjimu, Nak. Jika suatu saat kamu berpikir akan meninggalkan Najwa, entah itu kamu akan menduakan nya, entah kamu menyakitinya. Pulangkan Najwa pada abah, abah akan menerimanya. Abah tidak akan rela, putri abah satu-satunya di sakiti laki-laki.”
“Itu tidak akan pernah terjadi, Abah.”
“Abah pegang janji kamu, Akmal.”
^^^
Mereka sudah berada di bandara. Setelah tadi menangis haru saat keluarganya melepas kepergiannya, Najwa masih merasakan kesedihan di hatinya. Dia ingat dengan semua nasihat opa dan abahnya, juga bundanya. Habibi tahu, istrinya masih sedih karena harus segera berpisah dengan semua keluarganya. Mereka sudah berada di dalam pesawat. Habibi masih memperhatikan istirnya yang masih tampak murung.
“Jangan menangis, aku jadi merasa bersalah membawamu pergi kalau kamu seperti ini, sayang.” Habibi mengusap lembut wajah Ainun.
“Aku tidak menangis, hanya sedih saja. Opa dan abah sudah semakin menua. Aku harus jauh dari mereka. Tapi, aku sadar, aku memiliki kamu yang begitu berarti dalam hidupku. Meski aku belum memberikan....”
“Jangan di teruskan. Sudah, aku tidak peduli itu. aku hanya ingin kamu selalu berada di sisiku, menemani hariku.”
Betapa bahagianya Ainun memiliki suami seperti Habibi yang bisa mengerti dirinya. Dia tetap akan berusaha memberanikan dirinya untuk disentuh suaminya. Tidak selamanya dia akan terus seperti ini.
__ADS_1
“Aku harus bisa. Aku harus berani jika Habibi memintanya. Mungkin sekarang Habibi masih sabar, tidak tahu, esok atau lusa.” Ainun berkata dalam hati.