THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 27 "Tatapan Sendu"


__ADS_3

Arsyad melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke kantornya. Annisa dari tadi diam, dia menyandarkan kepalanya dan melihat kearah jendela mobil di sampingnya, tatapannya kosong, matanya melihat ke sembarang arah, hingga dia terjingkat saat Arsyad menepuk bahunya.


"Jangan melamun terus, berapa kali aku bilang ke kamu, Nis. Kamu melamun terus kerjaannya," ucap Arsyad sambil menepuk bahu Annisa. Annisa terjingkat dan langsung menatap calon suaminya itu.


"Kakak mengagetkan saja,"ucapnya.


"Habis kamu melamun saja, masih memikirkan Arsyil?"tanya Arsyad.


"Kalau itu setiap hari, kak,"ucap Annisa.


"Kak,"panggil Annisa.


"Hmm." jawab Arsyad yang sedang fokus menyetir mobil.


"Gaun yang di pilihkan kakak tadi sepertinya sama dengan gaun pengantin Kak Mira dulu,"ucap Annisa.


"Masa sih?"tanya Arsyad.


"Iya, persis itu, kak. Kakak sengaja milih yang itu?"tanya Annisa.


"Tidak, kakak tidak tau kalau gaun itu mirip seperti gaun milik Almira, kakak hanya lihat bagus dan pas saja di pakai kamu, Nis,"ucap Arsyad.


"Oh, aku kira karena sama dengan gaun milik kak Mira, kakak milihnya yang itu,"ucap Annisa


"Tidak Annisa, kalau karena sama, ngapain kakak repot-repot beli untuk kamu, tidak memakai gaun Almira saja, iya, kan?"tanya Arsyad.


"Iya juga, sih."ucap Annisa.


"Gaun pernikahan kamu dan Arsyil bagus sekali ya, pantas kamu ingin memakainya lagi, sepertinya gaun yang seeperti milikmu itu jarang sekali,"ucap Arsyad.


"Iya memang bagus sekali, itu Arsyil yang pilih, dia yang pilih desainernya dan penjahitnya, aku hanya ikut saja bagaimana dan seperti apa yang Arsyil mau,"tutur Annisa.


"Dia memang sempurna sekali mencintaimu, Nis,"ucap Arsyad..


"Iya, memang dia seperti itu,"ucap Annisa.


"Sudah kak, jangan bilang seperti itu, aku jadi semakin mengingatnya,"ucap Annisa.


"Kak kalau kita menikah nanti akan tinggal di mana?"tanya Annisa.


"Terserah kamu saja inginnya di mana? Di rumah kamu? Di rumah aku? Atau di mana?" Arsyad bertanya balik pada Annisa.


"Kok malah jadi kakak yang tanya, sih,"ucap Annisa.


"Ya sudah nanti kita pikirkan lagi setelah menikah,"ucap Arsyad.


"Kalau di rumah ku, aku pasti akan semakin sedih setiap harinya, karena aku melalui hati-hari ku tak bersama Arsyil lagi, melainkan dengan Kak Arsyad, apa harus di rumah Kak Arsyad? Pastinya dia juga sama dengan apa yang aku rasakan, bukan aku melarangnya jika suami ku nanti mengingat Kak Mira, aku juga tak bisa sedetikpun tak mengingat Arsyil. Tapi keadaan sudah berubah, aku sudah menjadi istri kak Arsyad. Buka berarti tidak cinta harus melupakan kewajiban suami-istri, kita juga harus menghargai pasangan kita nanti. Ah…entahlah, nanti bagaimana aku tidak tahu,"gumam Annisa.


"Jika nanti tinggal di rumahku, kenangan bersama Almira akan selalu hadir, tinggal di rumah papah juga aku masih merasakan Almira selalu di dekatku, aplagu harus tinggal di rumah ku. Kalau di rumah Annisa, dia yang akan sedih setiap harinya. Kami menikah tidak dengan cinta, tidak ada rasa cinta sama sekali, bukan berarti kita jadi tidak menghargai pasangan kita nanti. Seperti tadi gaun Annisa, gaun itu memang mirip sekali dengan gaun Almira, tapi aku jawab tidak, aku hanya menghargai Annisa saja,"gumam Arsyad.


Arsyad sudah sampai di depan kantornya, dia memarkirkan mobilnya di samping mobil Reyhan. Arsyad mengajak Annisa turun dan masuk ke kantornya.


"Nis, ayo turun,"ajak Arsyad.


"Aku ikut masuk, nih?"tanya Annisa.


"Iya, lah, masa mau aku tinggal di sini,"ycoa Arsyad.


"Ada yang cemburu tidak?"tanya Annisa.


"Siapa yang cemburu?"tanya Arsyad.


"Lintang,"jawab Annisa.


"Gak ada urusannya dengan dia, Annisa. Ayo, cepetan turun,"titah Arsyad.


"Iya, ini mau turun,"ucap Annisa sambil membuka pintu mobil.


Mereka turun dari mobil dan berjalan berjauhan, seperti biasa langkah Arsyad lebih cepat dari pada Annisa.


"Kakak!"teriak Annisa.


"Ada apa, gak usah teriak-teriak, aku dengar!"tukas Arsyad.


"Jangan cepat-cepat jalannya!"seru Annisa.


"Pakai heels lagi?"tanya Arsyad dengan memasukan kedua tangannya di saku celananya.


"Iya, kan tadi ke kantor, jadi pakai heels,"ucap Annisa.


"Besok lagi tidak usah pakai heels,"tukas Arsyad.


"Iya, iya, ayo masuk." Annisa sudah sampai di samping Arsyad, dia langsung reflek menggandeng tangan Arsyad.


"Nis, tanganmu,"ucap Arsyad yang sudah mulai risih dengan karyawan yang memandangnya.


"Ah, iya, maaf,"ucap Annisa


Annisa melepaskan tangan Arsyad yang ia pegang, tapi Arsyad menariknya kembali karena melihat Lintang yang keluar dari ruangannya.


"Tetap seperti ini," pinta Arsyad


"Iya, aku tau ada Lintang, kan?"tanya Annisa dengan mengembangkan senyumannya.


"Itu kamu tau,"ucapnya.


"Apa mau lebih mesra dari yang seprti ini?"tanya Annisa sedikit menggoda Arsyad.


"Gak usah macam-macam kamu, Nisa,"tukas Arsyad.


"Macam-macam sama calon suami tidak masalah, kan?" Annisa sengaja menggoda Arsyad.


"Nakal ya, kamu ternyata." Arsyad mencubit pelan lengan Annisa yang sedang ia gandeng.

__ADS_1


"Sakit tau,"ucap Annisa.


"Makanya jangan nakal,"tukas Arsyad.


Lintang melihat Annisa dan Arsyad bergandengan tangan, dia mesakan sesak sekali dadanya, hatinya hancur melihat orang yang ia cintai bersama calon istrinya.


"Pak Arsyad, harusnya aku tidak mencintainya, dan tidak terbawa perasaan denagn apa yang Pak Arsyad lakukan padaku,"gumam Lintang dalam hati.


Arsyad masuk ke ruangannya bersama Annisa, dia langsung menelepon Rayhan kalau dia sudah berada di ruangannya. Rayhan segera datang ke ruangan Arsyad, dia kaget karena mendapati Annisa duduk di sofa yang ada di ruangan Arsyad.


"Syad, lama sekali kamu perginya,"ucap Rayhan yang langsung masuk ke dalam ruangan Arsyad.


"Eh, ada Annisa, kalian habis jalan berdua?"tanya Rayhan


"Tidak kak, habis dari rumah ku,"ucap Annisa


"Kepo kamu, Ray. Sini mana yang harus aku tanda tangani,"ucapArsyad.


Rayhan memberikan beberapa dokumen yang harus segera Arsyad tanda tangani.


"Bukan aku kepo, kalian benar akan menikah minggu depan?"tanya Rayhan.


"Iya,"jawab merek bersama.


"Kalian yakin?"tanya Rayhan.


Merek berdua hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan Rayhan.


"Nis ditanya Ray, tuh. Gak kamu jawab?"tanya Arsyad.


"Kan tanya kamu juga, kak,"ucap Annisa.


"Jawab dong, Nis,"ucap Arsyad.


"Iya, yakin lah, kak. Masa tidak yakin,"ucap Annisa.


"Tuh dengar, kan?"tanya Arsyad pada Rayhan.


"Ya sudah kalau kalian yakin,"ucap Rayhan.


^^^^^


Satu minggu sudah berlalu, Annisa sudah memakai gaun pengantinnya dan dengan make up natural di wajahnya. Shita menemani Annisa di kamarnya, sambil menata make up miliknya. Shita yang tadi merias wajah Annisa, dia juga bisa merias layaknya MUA yang sudah terkenal.


"Nis, senyum dong."ucap Naura yang juga ada di situ. Annisa mencoba tersenyum walau berat hatinya.


"Nis, kakak tau kamu belum bisa menerima semua ini, tapi lihat, anak-anak kalian sangat bahagia sekali di hari ini,"ucap Shita.


"Iya, kak,"ucap Annisa.


Semua keluarga sudah berkumpul, paman Annisa yang menjadi wali juga sudah datang dari dua hari yang lalu. Paman Diki, Zidane dan Alvin juga sudah datang ke rumah Rico. Leon yang mendengar kabar Annisa akan menikah, dia juga ikut bahagia walau hatinya sakit. Leon tidak bisa ikut ke acara pernikahan Annisa yang sederhana ini. Karena dia sedang banyak pekerjaan. Leon janji suatu saat akan datang ke Indonesia untuk menemui Annisa dan Arsyad, memberikan ucapan selamat secara langsung pada Annisa.


Ponsel Annisa berdering, panggilan Video Call dari Leon terlihat di layar ponsel Annisa.


"Hai, Annisa, wow…kamu cantik sekali,"ucap Leon yang berada jauh di sana, terkagum melihat Annisa yang begitu cantik.


"Kamu bisa saja, Leon, bagaiamana kamu sehat?"tanya Annisa.


"Yah, seperti ini, mendengar sang pujaan hati akan menjadi milik orang, tapi tidak masalah, karena itu semua demi Shifa dan Dio. Mana anak-anak lucumu,itu?"tanya Leon.


"Mereka sedang di luar,"ucap Annisa.


"Oh, ya sudah. Annisa, selamat ya, semoga kalian bahagia, jangan sedih seperti itu, kamu mau menikah Annisa,"ucap Leon.


"Iya, kamu kenapa tidak ikut paman dan Zi ke sini?"tanya Annisa.


"Aku banyak pekerjaan, Annisa. Ya sudah, semoga kalian bahagia, nanti aku ke Indonesia untuk memberika selamat secara langsung pada kalian, jangan lupa bahagia, Annisa,"ucap Leon.


"Dan kamu juga jangan lupa bahagia, semoga cepat mendapat jodoh,"ucpa Annisa.


"Aamiin, salam buat semua, buat Shifa dan Dio,"ucap Leon.


"Leon, kamu tidak memberi salam padaku?"tanya Naura sambil merebut ponsel Annisa.


"Hai Naura, apa kabarnya, lama tidak bertemu,"ucap Leon.


"Seperti yang kau lihat, sudah sana cari wanita lain, move on dong dari Annisa,"ucap Naura.


"Iya, iya, mana paman Yohan?"tanya Leon.


"Sedang di depan sama Om Rico dan ayah, kamu kapan ke sini? Tengoklah saudaramu ini, Leon,"ucpa Naura.


"Iya nanti aku ke situ, ya sudah, aku masih banyak pekerjaan, sudah dulu, salam untuk semuanya,"ucap Leon.


"Oke, Bye…"ucap Naura.


Annisa mengakhiri video call bersama Leon, dia mengingat kebaikan Leon selama dia berada di sana, dan selama mengurus Zi di rumah sakit saat Zi kecelakaan. Memang Leon yang selalu sibuk mengantar jemput Annisa ke kantor atau ke rumah sakit saat itu.


"Nis, tadi siapa?"tanya Shita.


"Itu temanku yang ada di Berlin, rekan bisnis paman, ternyata dia juga saudara sepupu dengan Kak Naura,"ucap Annisa.


"Itu yang namanya Leon?"tanya Shita.


"Iya, kak,"jawab Annisa.


"Orang gagah seperti itu kamu tolak, Nis,"ucap Shita.


"Aku tidak suka kok,"ucap Annisa


"Berarti sama kamu Arsyad suka dong,"goda Shita.


"Apaan sih, kak,"ucap Annisa dengan wajah yang merona.

__ADS_1


"Tuh kan wajahnya merah merona,"ucap Shita.


"Kak, jangan gitu, ih." Annisa dibuat malu dengan Shita.


"Kakak yakin, suatu saat kalian bisa saling mencintai,"ucap Shita.


"Iya, pasti kalian bisa saling mencintai,"imbuh Naura.


Rachel yang baru datang bersama Lukman dia langsung masuk ke dalam kamar Annisa.


"Ih, cantik sekali kamu, Nis,"ucap Rachel.


"Cantik dong, siapa dulu MUA nya, Shita!"ucaap Shita dengan bangganya.


"Aku gak yakin ini Kak Shita yang merias wajah Annisa,"ucap Rachel.


"Tanya saja yang bersangkutan aku bukan yang meriasnya,"ucap Shita


"Benarkah, Nis? Ini kak Shita yang merias wajahmu?"tanya Rachel pada Annisa yang tidak percaya.


"Iya, Chel, ini Kak Shita yang merias wajahku,"ucap Annisa.


"Wah…belajar dari mana kamu, kak, bisa merias wajah Annisa secantik ini,"ucap Rachel.


"Bisa dong, sudah lama kakak belajar make up dengan seseorang,"ucapnya.


"Dengan siapa?"tanya Naura.


"Kalian ingat Lesy?"tanya Annisa.


"Iya, Lesy yang dulu suka dengan Kak Vino?"tanya Rachel.


"Yups, betul sekali, dia sekarang jadi MUA setelah menikah dengan Andrew, aku belajar dengan dia, karena dia juga membuka kelas MUA, tapi sekarang dia di Singapura, sudah satu bulan sepertinya,"jelas Shita.


"Oh, sudah tidak mengejar Kak Vino, kan?"tanya Rachel.


"Tidak lah, dia juga sudah punya anak, tapi masih kecil anaknya,"ucap Shita.


Mereka asik mengobrol dengan menghibur Annisa yang hatinya gundah, mereka juga tahu, apa yang di rasakan Annisa saat ini.


"Hari ini, aku akan menjadi istri seseorang lagi, menjadi istri kakak dari almarhum suamiku, aku akan mencoba menjadi istri yang baik untuk Kak Arsyad, walau hati ini tidak mencintainya,"gumam Annisa.


^^^^^


Di kamar, Arsyad di temani dengan Rayhan, Vino dan Lukman. Arsyad dari tadi hanya diam saja, entah apa yang ada di pikirannya, dia merasa sesak di dadanya.


"Maafkan aku Mira, hari ini aku akan menikah lagi, semoga kamu bahagia di surga karena aku sudah mengabulkan permintaanmu, sayang,"gumam Arsyad.


"Syad, kenapa diam, semangat dong, mau kawin lagi kok, akhirnya kesampaian kan menikah dengan Annisa, tuh doa kamu yang dulu terkabul, kan?"ucap Rayhan.


"Akhirnya menikah dengan mahasiswanya kamu,"imbuh Vino.


"Kalian apaan, sih,"ucap Arsyad.


"Belajar mencintai Annisa dong, Syad, kan dulu kamu bisa mencintai Annisa. Masa iya sekarang tidak bisa,"ucap Rayhan.


"Nanti juga seiring berjalannya waktu kalian bisa saling mencintai, kok,"ujar Lukman.


"Iya, Luk. Aku masih sangat mencintai Almira,"ucap Arsyad.


"Simpan cinta untuk Almira di paling hatimu yang dalam, Syad. Ingat kamu punya tanggung jawab baru, jangan sampai kamu menjadi suami yang durhaka, yang menjadikan istrimu nanti juga ikut durhaka kepadamu,"tutur Lukman.


"Terima kasih, kamu memang yang terbaik." Arsyad menepuk bahu Lukman.


Mereka memang sangat akrab sekali saat dulu kuliah di Kairo, Lukman satu-satunya teman dia waktu di Kairo.


"Syad, pesanku, jangan pernah kamu membanding-bandingkan Almira dengan Annisa, karena setiap manusia itu berbeda, kamu harus bisa melakukannya, aku yakin, kamu pasti bisa. Hati memang sakit, tapi berpikirlah lebih realistis lagi. Kamu punya pikiran, punya otak, jadi saat hati sakit, jangan paksa otak kamu untuk menyakiti. Cinta memang memakai hati. Tapi, tanpa pikiran, tanpa otak cinta tidak akan pernah indah. Seperti aku dan Rachel. Dulu aku sangat mencintai Almira, tapi aku yakin, Rachel lebih baik dari Almira, dan buktinya, aku bisa merelakan Mira memilih kamu, dan aku bisa mencintai Rachel hingga sekarang, dan dia menjadi pelabuhan hatiku,"jelas Lukman.


"Iya, akan aku coba,"ucap Arsyad.


"Jagan hanya di coba, lakukanlah,"imbuh Reyhan.


"Syad, kamu pasti bisa, jangan terlalu larut dalam masa lalu, kasihan Mira yang sudah tenang di sana, kasihan Arsyil juga, jika melihat kamu memperlakukan Annisa tidak seperti memperlakukan layaknya seorang istri,"tutur Vino.


"Iya, Vin. Aku akan berusaha menerima pernikahan ini, dengan atau tanpa cinta, karena cinta kami sudah untuk mereka, mereka adalah anak-anakku dan anak-anak Annisa."ucap Arsyad.


Rico masuk ke dalam kamar Arsyad, memanggil Arsyad untuk keluar karena penghulu sudah menunggu di depan.


"Syad, penghulu sudah datang, ayo keluar,"ajak Rico.


"Iya, pah,"ucap Arsyad.


"Duh, kenapa jadi tak beraturan gini detak jantungku,"gumam Arsyad.


Arsya keluar bersama Ray, Vino dan Lukman, bersamaan dengan Annisa yang keluar dari kamarnya. Mereka saling menatap. Arsyad melihat calon istrinya menatap dengan tatapan sendu. Arsyad mengerti bagaimana perasaan Annisa saat ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


♥️happy reading♥️


__ADS_2